Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
93. Tapi aku penasaran


__ADS_3

Pagi hari Diana bangun dalam pelukan Andrew. Keinginannya untuk menemani Lia dirumah sakit batal karena baik Andrew maupun Jason memaksanya untuk pulang. Kali ini kedua pria itu seakan begitu kompak. Mereka sepakat dan sekata menyuruhnya untuk beristirahat di rumah dan menyerahkan Lia pada pengawasan ahli. Sementara Jason berjanji untuk menjaga Lia.


Sempat keraguan muncul dalam diri Diana, meninggalkan Lia pada pengawasan Jason yang baru dia kenal. Tetapi ketika Briant datang, Diana mulai bisa bernafas lega. Doa tentunya lebih percaya pada Briant daripada Jason.


Diana beranjak keluar dari pelukan Andrew dan melihat jam di dinding masih menunjukan pukul lima pagi. Masih terlalu pagi untuk menghubungi Briant menanyakan kabar Lia.


Matanya tidak dapat dia pejamkan lagi. Diana keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Lampu ruangan masih menyala, beberapa pelayan yang mulai bekerja mereka mengangguk hormat kepada Diana. Wanita itu tersenyum membalas mereka.


Dia berjalan menuju halaman samping hendak meluruskan tubuhnya di sofa didekat kolam renang sambil menikmati udara pagi. Baru saja dia merebahkan tubuhnya. Butler Jhon sudah datang dengan segelas susu hangat.


"Terimakasih." Diana menegak susu hangat di tangannya habis.


"Hari ini akan ada pelayan khusus untuk menyiapkan segala keperluan nyonya dan memperhatikan kehamilan anda."


"Terimakasih Butler. Kau sudah bekerja dengan keras."


Butler tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaan nona Lia?" tanya Butler Jhon.


"Dia sudah sadar tapi masih lemah. Apakah ada perkembangan dengan hasil lab?"


"Belum nyonya." Butler Jhon masih merahasiakan tentang tertangkapnya Sandra dini hari tadi. Dia merasa harus melapor terlebih dahulu kepada Andrew. Butler Jhon khawatir apabila berita ini akan berpengaruh buruk pada kesehatan nyonya muda nya.


"Jangan lupa berikan padaku hasil test itu. Oh ya apa kau mengamati wanita itu?" tanya Diana dengan antusias.


"Tentu saja nyonya. Sandra dia masih dalam pengamatan. Anda sebaiknya beristirahat lagi nyonya." Butler membungkuk hormat sambil berjalan menjauh membiarkan Diana beristirahat.


Sebelumnya dia sudah meminta pada kepala keamanan untuk merahasiakan ditangkapnya Sandra dari Diana. Dia berjanji akan memberi tahu Andrew langsung ketika dia bangun. Bahkan para pelayan tidak ada yang tahu mengenai penangkapan Sandra, meskipun mereka bertanya-tanya kenapa butler Jhon memerintahkan untuk memberesi pakaian Sandra.


Tanpa disadari Diana terlelap kembali di sofa taman. Udara pagi yang semilir menyejukan membawanya kembali ke alam mimpi. Nanny lewat dan melihat Diana yang tertidur segera mengambil selimut tipis dan menutup tubuh ibu dari anak asuhnya.


*****************


Matahari mulai naik dan sinarnya menerpa sebagian wajah Diana. Wanita itu mengerjapkan matanya terbangun dari tidur.


Dia segera turun dari sofa dekat kolam renang dan bergegas masuk ke dalam rumah, sudah hampir kesiangan untuk mempersiapkan sarapan pagi bersama Andrew dan Conrad.


Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Conrad pasti sudah berangkat ke sekolah. Saat hendak mencari Andrew, Diana melihat sosoknya berjalan bergegas dengan butler Jhon menuju rumah keamanan.


Melihat raut wajah Andrew yang tegang membuat dirinya bertanya-tanya apa yang terjadi. Meskipun begitu dia mengurungkan niat nya untuk mengikuti mereka dan berbalik menuju ke dapur.


Di dapur Diana menemukan cheft yang bernama Paul.


"Paul, apakah kau melihat Sandra?"


"Tidak nyonya." jawab Paul.


Seorang pelayan lain yang kebetulan berada disana mendengar pertanyaan Diana kepada Paul.


"Sedari tadi kami tidak menemukan Sandra, nyonya. Memang tidak biasanya. Tetapi butler Jhon memerintahkan kami untuk membenahi pakaian Sandra." lapor pelayan wanita tersebut.


Diana mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Nyonya silahkan sarapan dulu." Paul menyodorkan sepiring omlet dengan potongan beef bacon juga potato wedges.


Diana menikmati makanan tersebut dengan tidak fokus, sekedar memasukan protein kedalam tubuhnya untuk kebutuhan bayi dalam kandungan. Pikirannya melayang saat dia melihat Andrew pergi menuju rumah keamanan dengan wajah tegang.


Tanpa menghabiskan makanannya Diana bergegas menuju rumah keamanan. Dia mengingat bagaimana sebelumnya dia berpesan pada Butler Jhon untuk mengawasi Sandra.


Saat tiba disana dirumah keamanan, para pengawal tidak ada yang berani menghalangi langkah Diana untuk masuk ke dalam. Didalam Diana melihat melalui kaca besar menembus ke ruang interogasi disana tampak Andrew sedang duduk dengan wajah tegang dihadapan seorang wanita yang berlutut dan menangis terisak-isak.


"Sandra." Suara Diana tercekat. Jantungnya berdebar. Dia menoleh kearah butler Jhon dan kepala pengawal mencari jawaban.


Dari pandangan mereka dia dapat menebak kalau kecurigaannya ternyata benar. Insting ibu hamil memang lebih peka.


"Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu. Aku akan mengirimu ke penjara." ucap Andrew dengan dingin.


"Maafkan saya tuan. Saya punya anak yang masih sekolah dan ibu yang sudah tua. Ampuni saya tuan." wanita itu memelas memohon ampun sambil meletakan kedua tangannya diatas kepala dan mencium tanah memohon pengampunan.


Diana hendak masuk kedalam, tetapi butler Jhon mencegahnya.


"Nyonya biarkan tuan Andrew menyelesaikannya."


"Butler, benarkah dia sengaja meracuni Lia?" tanya Diana dengan menahan emosi.


Butler Jhon dan kepala pengawal hanya diam. Mereka takut mengatakan kebenaran akan membuat nyonya mereka menjadi terguncang dan berpengaruh pada kehamilannya yang masih ditahap awal.


"Tapi kenapa, apa salah Lia?" suara Diana yang setengah memekik terdengar ke dalam ruangan yang tidak tertutup rapat.


Wajah Andrew menegang. Sedangkan wanita dihadapannya memekik, "Nyonya tolong saya. Saya tidak bersalah. Saya dijebak. Maafkan saya nyonyaaaa." teriak Sandra didalam.


"Tidak nyonya, jangan terpengaruh. Percayakan pada tuan." Butler Jhon memberanikan diri menyentuh tangan Diana.


Setiap orang pasti punya alasan.


"Baiklah. Aku akan pergi dari sini. Dan aku perlu penjelasan untuk semuanya." Diana pergi meninggalkan ruang interogasi.


*********************


Diana menanti Andrew di ruang tamu. Cukup lama hampir lebih dari empat puluh menit. Dia membolak balik lembaran majalah ibu dan bayi tanpa dapat fokus.


Keinginannya untuk tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Sandra jauh lebih besar daripada kewajibannya untuk ke rumah sakit.


"Lia, bagaimana keadaanmu?" akhirnya Diana memutuskan untuk menghubungi Lia terlebih dahulu.


"Aku sudah jauh lebih baik. Tapi kak, cepat kemari ya. Lalat buah ini perlu dibungkam."


"Bersikaplah ramah kepadanya. Dia yang mengangkat, membawa dan menjagamu di rumah sakit."


"Ahhhh pokoknya cepat kemari."


"Baik. Baik."


Diana tersenyum, adiknya nampak baik-baik saja. Meskipun suaranya masih lemah nampak kalau energinya mulai terisi.


Saat itu, Andrew sudah datang.

__ADS_1


"Andrew, apa yang terjadi. Bagaimana dengan Sandra. Kau akan membawanya ke polisi? Apakah itu perlu?" Diana memberondong dengan berbagai pertanyaan saat Andrew bahkan bekum mendekat.


"Aku lapar." ucap Andrew tanpa menghiraukan pertanyaan Diana. Dia berjalan melalui Diana sambil langsung menggandeng tangannya.


Mereka berjalan menuju ruang makan. Diana membiarkan Andrew menyantap makan siang nya tanpa bertanya sedikit pun. Dengan sabar dia menanti pria itu menyelesaikan makanannya.


"Tidak kusangka kau masih mempunyao kesabaran menungguku." Andrew terkekeh menatap wajah Diana yang tertekuk menahan kesal karena Andrew sengaja makan dengam lambat.


"Jangan kau khawatirkan tentang pelayan itu. Kau tidak usah khawatir."


"Apakah benar, dia yang sengaja memasukan obat yang membuat Lia sakit?"


Andrew mengangguk.


"Tapi kenapa? Bahkan Lia belum sempat bertemu dengannya. Apakah..." Diana terdiam sesaat.


"Apakah minuman itu seharusnya untukku?" tanya nya dengan bergidik.


Andrew memandang Diana lembut dan menyentuh tangan wanita dihadapannya.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Sekarang berkonsentrasilah pada hal yang baik saja. Apakah kau mau membuat bayi kita stress?"


Diana terdiam. Memang benar perkataan Andrew tapi rasa penasarannya juga kuat.


"Tapi aku penasaran." rajuknya.


"Wanita itu tidak sengaja memasukan obat pencahar ke dalam minuman. Dan saat ini sebagai hukuman aku mengeluarkannya dari rumah ini dan mempekerjakan dia ke bagian lain."


"Ooo. Aku harus meminta maaf kepadanya karena telah berprasangka buruk kepadanya."


"Dia sudah pergi. Kau tidak perlu merasa kasihan kepadanya. Aku tidak menyukai dia karena tidak menaruh hormat kepadamu."


Lanjut Andrew dengan tegas.


Diana diam dia akhirnya menurut.


"Ayo kita melihat Lia di rumah sakit agar kau lebih tenang."


"Mandi dulu ya."


"Tentu saja." Andrew mengangkat Diana dalam gendongannya.


"Andrew turunkan aku semakin berat." ujar Diana dengan risih.


"Kau harus menambah protein dalam tubuhmu. Badanmu masih ringan seperti dulu."


"Jangan meledeku. Kau tahu aku tidak berhenti mengunyah." Memang semenjak mengetahui kehamilannya bukannya muntah apabila mual, dia justru memakan sesuatu untuk menghilangkan rasa mual.


" Tapi kau masih ringan." Andrew terkekeh sambil tetap membawa Diana dalam gendongannya menaiki tangga dan membawa mereka kedalam kamar mandi utama.


Β 


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


Β 


__ADS_2