
Sepeninggal Diana, Andrew melangkah menghampiri seorang wanita yang duduk dipojokan dan sedari tadi memperhatikan keberadaan mereka sambil sesekali mengambil foto .
Melihat Andrew yang mengahampiri nya wanita tersebut bukannya panik teapi malah tersenyum lebar .
"Akhirnya kau menyadari keberadaanku. Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu."
Wanita tersebut berbicara dengan antusia ketika Andrew datang menghampiri nya. Tanpa permisi Andrew duduk dihadapan wanita tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini?!" Bertanya dengan ketus.
"Ayolah sayang aku sedang lunch." Wanita itu menunjukan piring yang berisi ceasar salad yang masih tersisa setengah.
"Kau mengikutiku?" Andrew tidak percaya.
"Hahahhahaha bagaimana mungkin aku mengikutimu, kalau jadwal mu pun sudah susah aku dapatkan." Wanita itu mengelak.
"Oh ya?!" Andrew masih tidak percaya.
"Mungkin ini lah yang disebut sebagai jodoh?" Wanita itu mencondongkan dirinya kearah Andrew sesaat. Kemudian menyandarkan badannya kembali ke kursi.
"Kita bertemu lagi di tempat yang sama saat pertama kali kita saling mengenal." Wanita itu melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak pernah melupakan pertemuan kita bahkan kebersamaan kita. Aku merindukanmu. Biarkan aku kembali kepadamu." Wanita itu melanjutkan kembali kalimatnya.
"Heh! Bicaramu melantur." Andrew mulai kesal.
"Bagaimana tidak melantur, aku sudah mabuk, mabuk asmara mu." pandangan wanita itu sayu.
"Sudahlah hentikan basa-basi ini. Katakan untuk apa kau mengambil foto-foto ku."
"Foto? foto yang mana?"
"Tidak usah banyak alasan. Aku tau sedari tadi kau mengambil foto kami. "
"Kalau memang iya, kenapa kau tidak menghentikan ku sebelumnya?" Dengan nada sedikit menantang tapi tetap lembut.
"Aku masih menghargaimu dan tidak ingin membuat kau malu."
"Membuat aku malu? hahahhahahhaha atau kau yang takut menjadi malu didepan gadis itu?"
"Omong kosong!"
"Kau takut dia tahu siapa kau sebenarnya kan ?"
"Tutup mulutmu!"
"Kau bisa menutup mulutku dengan bibirmu sayang." wanita itu mengerling manja.
__ADS_1
"Kemari kan smarphone mu!"
"Nuat apa. Apakah nomorku sudah hilang dari handphone mu . Aku miscall ya sayang." wanita itu meneplhone nomor handphone Andrew. Suara dering hp berbunyi.
"Ngalantur kamu. Buat apa aku menyimpan nomormu."
" Ayolah sayang . Sudah lama sekali kita tidak bersenang- senang." Wanita tersebut masih mencoba merayu.
"Tetap ditempatmu!" Suara Andrew sedikit lantang ketika wanita tersebut hendak pindah duduk disamping andrew sehingga membuat beberapa pasang mata menoleh kearah mereka.
"Okey . okey. tidak perlu kasar. "
"Hapus foto-foto yang kau ambil tadi. "
"Aku tidak mengambil foto apa pun. "
"Sudahlah aku tidak perlu kasar kepadamu kan ditempat ini?!" Mata Andrew memandang tajam wanita dihadapannya. Membuat wanita tersebut sedikit merinding.
"Tidak disangka hanya karena wanita kampungan itu kau bersikap kasar padaku." Suara wanita tersebut terdengar seperti desisan kesal.
"Kau yang memulai."
"Kau! Kau bahkan takut dia mengetahui jati diri mu yang sebenarnya. Sedangkan bersamaku kau bisa bebas. Aku tidak perduli dengan jati diri mu. Aku hanya perlu kau." Wanita itu memandang Andrew tajam.
"Sudah hentikan omong kosong mu. Aku tidak takut dengan siapapun."
"Kalau kau tidak takut kenapa kau tidak menghampiriku ketika bersamanya? kenapa kau menuduhku mengambil foto-foto kalian?"
"Wanita sepertiku katamu. Kau mulai kasar Andrew. "
Suara wanita itu mulai terdengar kesal.
"Aku bisa saja tidak perlu menghampiri mu langsung. Aku bisa menyuruh Briant merampas handphonemu. Tapi aku masih berusaha bersikap baik padamu."
"Baik katamu? Kau bahkan sudah menghinaku ."
"Aku tidak punya waktu dengan omong kosong ini. Kau tinggal pilih berikan handphonemu padaku sekarang Atau aku biarkan Briant yang melakukannya."
Andrew memberikan pilihan dan wanita tersebut sesaat merasa bimbang. Membiarkan Andrew melihat kebohongannya atau membiarkan Briant yang bertindak. Membiarkan Briant yang bertindak akan lebih mengerikan. Tanpa basa - basi Briant bisa bertindak kasar atau bahkan menyuruh bodyguard untuk mencekalnya.
Dengan enggan disodorkannya handphone kepada Andrew . Andrew menerima dengan tersenyum sinis dan mulai melihat ke galery foto. Dengan sigap dia mulai menghapus foto-foto Andrew dengan Diana. Pindah ke Clouds dan mulai menghapus foto yang tersimpan disana.
"Katakan kepada siapa saja kau sudah mengirim foto- foto ini. " Andrew memandang wanita dihadapannya menyelidik.
"Kau tau pasti siapa yang lebih berhak melihat foto tersebut. "
"Dasar wanita gila. Kenapa tidak sekalian kau kirim foto mu dulu, hah ?!" Andrew geram.
__ADS_1
"Kau tahu aku bisa melakukannya. " mendesis tajam.
"Kau pun tahu aku tak akan perduli. "
"Lalu kenapa kau marah, kenapa kau bersikeras mengahapus semua foto mu dengan gadis itu! "
Wanita itu terdiam sesaat menatap Andrew yang juga menatapnya tajam, kehabisan kata-kata. Kemudian wanita itu menghela nafas dan menyandarkan punggung nya ke kursi.
"Heh!! Kau tidak takut. Tapi kau berusaha melindungi gadis itu. Kau lebih menguatirkan apa yang akan terjadi padanya. Hahahhahahahah. Hahahhahahahahah. Aku kalah telak dengan gadis itu hari ini. Tapi, semua belum berakhir. Kita lihat bagaimana dia akan meninggalkan mu ketika dia tau dirimu yang sesungguhnya."
wanita tersebut tergelak penuh percaya diri.
"Jangan coba-coba kau menyakiti wanitaku!" Nada suara Andrew mengancam.
"Wanitamu ? Hahhahahah kau bahkan mengatakan bahwa dia adalah wanita milikmu. Wanitamu aku seorang hanya aku, tidak ada yang lain . Kau boleh sepuasnya bermain dengan wanita lain. Tapi hanya aku wanita mu! Hanya aku!"
"Kau gila!"
"Kau tahu, aku bahkan tidak memerlukan hartamu! Aku memiliki hartaku sendiri! Tidak seperti mereka yang mendambakan hartamu!"
"Kau pikir wanitaku sama dengan wanita lain yang kau katakan. Dia tidak sebanding dengan siapapun bahkan dengan diri mu."
"Kau mulai tidak tahu diri Andrew! Bisa-bisanya kau membandingkan aku dengan gadis kampungan itu."
"Sudahlah, Meredirth hentikan celotehmu! Aku harap aku tidak akan bertemu denganmu lagi." Andrew meninggalkan wanita yang bernama Meridtih tanpa menunggu jawaban .
"Sialan! Berani-beraninya dia meninggalkanku seperti ini. Dia benar - benar menjatuhkan harga diri ku. Apa bagusnya wanita itu dibandingkan diriku. "
Meredith mencengkeram napkin yang ada dimeja keras.
"Akan aku hancurkan hidupmu wanita sialan. Kau sudah membuat Andrew menelantarkanku.Aku benci kepadamu. Benci!"
Mengambil handphone nya dan mulai mengetik pesan melalui wa kepada seseorang bernama Rachel, " Kau sudah lihat foto yang aku kirim? bahkan karena gadis itu Andrew menghina ku. "
Diam sesaat. Kemudian dia lanjut menuliskan pesan,
"Hubungan mereka kelihatannya berbeda dengan wanita lain. Kau harus menyelidiki nya dan hancurkan wanita itu. Aku akan membantumu sepupu. "
Enter.
Tersenyum puas dengan yang dia lakukan. Meredith mulai menyimpan barang-barangnya dan memanggil pelayan , menyelesaikan nota. Kemudian meninggalkan restaurant dan langsung menuju lift yang mengantarya ke lantai atas sebuah kamar executive dan mengetuk pintu.
Seorang Pria berjas rapi dan tampak Kaya membuka pintu.
"What take you so long?"
Meredirth mengalungkan tangannya ke leher pria tersebut.
__ADS_1
"Aku bertemu teman lama dibawah sebentar. Kau sudah merindukanku?"
"Tentu saja." Pria tersebut memeluk pinggang Meredith dan menutup pintu kamar dengan salah satu kaki nya.