
Halloooo readers, maaf baru up ya. Tolong sempatkan membaca edisi revisi ya. Banyak adegan-adegan baru. Semoga makin sayang sama Andrew dan Diana.
Salam.
πππππππππππππππππππ
"Kakak ipar tenanglah. Jangan kau perdulikan kata-kata wanita itu." Briant berusaha menenangkan Diana yang masih terisak.
Semua usaha tampaknya sia-sia. Gadis itu tetap duduk sambil memeluk kedua kakinya. Bahunya berguncang seiring dengan isak tangis yang tiada henti. Briant hanya dapat berdiri mematung dengan kedua tangan yang terkepal.
Awalnya dia mengira kalau Diana tidak jauh berbeda dengan wanita-wanita liar sekali pakai yang mengelilingi Andrew. Tapi kenyataannya bagaimana gadis ini mampu merubah sifat Andrew tanpa memanfaatkan kekayaaan, bagaimana dia merawat dan mendampingi serta bagaimana dia memberikan sebuah keluarga bagi Andrew membuat Briant mengakui dia sebagai kakak ipar dan berjanji akan segenap hati melindungi Diana.
Dia hanya dapat menahan geram saat ini. Kedatangannya terlambat. Briant menoleh dan kemudian menghampiri pengawal yang berdiri di dekat pintu. Dengan kesal dia melampiaskan amarahnya. Plak! Buk! Tamparan diwajah dan tinju di perut bersarang pada pengawal yang tampaknya telah siap menerima hukuman. Pengawal itu terhuyung kemudian jatuh berlutut. Dia menyeka darah yang mengalir di bibirnya.
Gerakan dari Diana membuat Briant menghentikan aksinya. Dia menoleh dan melihat bagaimana gadis itu berjalan dengan setengah terhuyung sambil mengguma mencari sesuatu.
"Kakak ipar, tenanglah. Apa yang kau cari?" tanya Briant yang segera menghampiri Diana.
"Dimana?" tanya Diana disela-sela isak tangisnya.
"Apa yang kau cari kakak ipar?"
"Dimana surat itu." tanya Diana sambil mencari keseluruh ruangan.
"Surat?"
"Dimana surat cerai itu?" dengan pandangan kabur oleh air mata dan pikiran yang kalut dia tidak dapat melihat surat yang dicarinya tergeletak diatas sofa.
"Untuk apa kakak ipar?" Briant memungut surat cerai yang ditinggalkan Rachel dan menyembunyikan dibalik punggungnya.
"Berikan padaku Briant." Diana nampaknya melihat bagaimana Briant berusaha menyembunyikan surat cerai itu.
"Untuk apa kakak?"
"Berikan padaku!!!" Diana berteriak histeris. Briant tersentak kaget mendengar kekuatan suara gadis tersebut.
Dia dengan terpaksa memberikan surat cerai yang sudah kumal tersebut kepada Diana. Diana menerima surat tersebut dengan tangan gemataran. Dia ingin sekali lagi memastikan isi surat tersebut.
Tangannya bergetar dan pandangan matanya mulai kabur karena banyaknya air mata yang mengalir. Dia baca lagi surat cerai itu berulang-ulang dengan dada yang sesak. Dia ingin memastikan kembali nama-nama yang tertera disurat itu.
Pintu terbuka. Andrew masuk dengan raut wajah tegang yang menghitam. Dia diam tercekat didekat pintu melihat bagaimana kekasih hatinya memegang sebuah surat sambil berlinangan air mata.
Tepat saat Andrew melangkah maju, Briant memberi isyarat kepada para pengawal untuk pindah ke dapur bersama dirinya. Briant berlalu sambil menepuk pundak Andrew. Kedua orang tersebut memerlukan waktu untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Diana sayang." suara Andrew lirih sambil tangannya merengkuh pundak Diana. Gadis itu menangis keras dalam pelukannya. Andrew memeluk dengan erat sambil menciumi rambut wanita yang sangat dia cintai itu. Sayang adegan itu tidak berlangsung lama karena Diana mendorongnya dengan keras dan mengacungkan surat yang dia genggam, "apa ini Andrew? Apa ini?"
Andrew terdiam. Dia memandang surat cerai ditangan Diana dengan mata nanar.
"Jangan diam andrewww!!! Katakan apa ini? Kenapa nama mu ada disini?" Diana berteriak histeris sambil menguncangkan surat ditangannya. Dia memandang Andrew dengan amarah yang bergejolak.
"Kenapa kau diam saja, hah!" Katakan! Katakan kalau ini semua bohong! Katakan ini adalah tipuan." Diana memukulkan surat cerai itu kedada Andrew.
__ADS_1
"Maafkan aku." ucap Andrew lirih.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" tanya Diana disela isak tangisnya yang pecah. Dia menjatuhkan dirinya disofa, lututnya terlalu lemah untuk berdiri lebih lama.
"Katakan kenapa kau membuatku menjadi wanita yang memalukan. Kenapa kau menghinaku dan menjadikanku wanita simpanan. Kenapa kau membiarkanku mengira kalau kau adalah milikku." suara Diana tidak lagi histeris. Dia menekan emosinya dan meluapkan semua pertanyaan yang menyesakan dadanya.
"Kau membuatku hidup dalam mimpi. Semuanya palsu. Palsu!" lanjut Diana disela-sela sesegukannya.
"Tidak sayang. Kau adalah wanitaku. Semua ini nyata. Aku adalah milikmu." ujar Andrew lembut berusaha meyakinkan Diana. Dia duduk disisi gadis yang amat sangat terguncang itu.
"Kau membuatku menjadi wanita ketiga Andrew! Aku wanita memalukan! Aku merebut suami orang! Aku penghancur rumah tangga!" Diana terisak sambil meremas rambut panjangnya.
"Tidak! Dengarkan aku sayang bukan seperti itu. Kau adalah satu-satunya wanita dalam hidupku. Kau tidak menghancurkan apapun. Kau yang membentuk diriku." Andrew berusaha menenangkan diri Diana dan dia kembali memeluk gadis itu dengan erat membenamkan wajah Diana di dadanya.
"Aku mohon lepaskan aku. Tinggalkan aku sendiri." suaranya serak. Tampak Diana tidak lagi mempunyai kekuatan untuk memberontak dan berteriak. Tubuhnya lemas, jiwanya masih tergoncang dengan kenyataan yang baru saja ia alami. Matanya sudah bengkak karena air mata yang tak bisa ia bendung lagi. Mengalir deras tanpa henti. Pikirannya kalut. Tubuh kecilnya menggigil menahan luapan emosi.
Dengan sisa kekuatannya, ia meronta dari pelukan Andrew. Dia berusaha mendorong tubuh Andrew yang memeluknya erat membuat nya menjauh. Jauh sejauh jauhnya.
Dia gigit dada Andrew yang bidang, terasa keras karena semua bagian tubuhnya adalah otot-otot yang terbentuk. Saat ini Diana marah pada dirinya sendiri karena bahkan dia masih tidak tega untuk melukai Andrew padahal pria ini sudah menipunya. Dia membohonginya dan menjadikannya pecundang.
"Maafkan aku gadis kecil, maafkan aku." suara Andrew terdengar serak. Dia membiarkan Diana menggigit dan memukul dadanya. Dia biarkan gadis itu meluapkan amarahnya.
"Penipu." lirih suara Diana yang masih marah. Tubuhnya sudah mulai lemas dan dia jatuh tertidur dengan air mata yang berlinang.
Andrew, memandang gadis dalam pelukannya. Dia mengusap air mata yang masih mengalir di wajah Diana dengan sapu tangan. Dia mencium Kening gadis itu penuh kasih sayang. Air mata menetes di pipi Andrew. Hatinya ikut merasa sakit dan sedih melihat bagaimana gadis yang dia cintai ini terguncang dan histeris.
Hal ini memang pasti akan terjadi. Hari ini lah hari yang selalu dia takuti. Dia takut melihat Diana menangis dan terguncang. Dia takut gadis ini akan meninggalkannya dan dirinya kembali hidup dalam kegelapan. Dia takut kehilangan cahaya hidupnya.
Tanpa dia ketahui, air mata Diana menetes lagi perlahan.Ternyata gadis itu tidak sepenuhnya terlelap. Otaknya masih berputar, batinnya masih menjerit, hanya raga nya yang sudah terlalu lelah.
Andrew kemudian mengangkat tubuh Diana menuju ke kamar. Dia baringkan gadis itu lalu melepaskan sepatu juga mengambil surat cerai yang mulai kumal.
Andrew menyelimuti tubuh Diana dan mengecup kening gadis itu. Kemudian dia melangkah menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Sesaat kemudian dia keluar mencari Briant.
Di bagian belakang condominiumnya dia melihat pengawal yang mendampingi Diana berlutut. Ada sisa darah kering di sudut bibirnya. Briant yang melihat kedatangan Andrew bertanya, "Bagaimana kau akan menghukum pengawal ini?"
Andrew memandang pengawal itu. Ingin rasanya dia meluapkan kekesalan harinya dengan menghajar pengawal itu sampai tidak dapat berjalan. Tapi dia tahu, Diana akan semakin membencinya jika mengetahui hal tersebut. Andrew diam sesaat dan kemudian bertanya, "siapa namamu?"
Pengawal tersebut dengan masih tertunduk menjawab, "Greg tuan."
"Kau tahu Greg, nyonya Diana adalah wanita yang sangat berharga bagiku. Dan kau tahu seberapa besar kebaikan hatinya?" tanya Andrew lagi.
"Iya tuan." Pengawal itu mengakui dengan segenap hatinya, kalau nyonya muda yang dipercayakan padanya memang berbeda dengan wanita konglomerat ataupun wanita sosialita lainnya yang sombong dan angkuh sekaligus semena-mena. Cara nyonya satu ini marah dan menghukumnya begitu unik.
"Sekarang kau harus berjanji untuk menjaganya dengan segenap jiwa ragamu."
"Iya tuan. Saya bersumpah akan lebih melindungi nyonya Diana dengan taruhan nyawa saya." sumpah pengawal yang bernama Greg tersebut.
Briant terkejut melihat bagaimana Andrew menangani pengawal tersebut. Andrew benar-benar berubah hanya karena cinta. Cih! Benarkah kekuatan cinta sebesar itu.
"Briant, urus Rachel dan buat surat cerai yang baru. Aku tidak akan memberinya sepeser pun. Dia sudah melebihi batas kesabaranku." kata-kata Andrew terdengar penuh amarah ketika menyebutkan nama Rachel.
__ADS_1
"Dan satu lagi. Nanny Maria pengasuh Conrad, dia memiliki informasi penting yang akan membuatmu terkejut. Apa yang dia katakan akan dapat membuat Rachel menandatangani surat cerai. Temui nanny dan selidiki kebenarannya." perintah Andrew.
Β
\\\\\\*
Β
Sementara itu didalam kamar. Diana tidak dapat sepenuhnya terlelap. Kata-kata Andrew yang mengatakan aku menicintaimu terngiang-ngiang ditelinganya. Kata-kata itu mungkin akan terdengar indah ketika mereka berada disuasana yang berbeda. Saat ini kalimat aku mencintaimu terdengar begitu menyakitkan hatinya. Palsu!
Dia jijik dengan dirinya sediri. Dia tahu bagaimana orang memandang wanita ketiga. Seberapa baik, anggun dan mulia seorang wanita ketiga, dia tak lebih dari seorang penghancur rumah tangga. Wanita yang pantas dihina dan dimaki. Wanita yang pantas diarak dijalan raya.
Perasaan itu menghantuinya. Apalagi ketika dia teringat kata-kata Rachel, "kembalilah kehabitatmu! Wanita simpanan! Wanita penghancur rumah tangga!" dia kembali terisak. Tubuhnya kembali terguncang. Air mata lagi-lagi mengalir dengan deras.
"Kakak kapan kau akan pulang?" Ingatannya melayang pada pesan wa dari Lia.
Diana kemudian sontak berdiri, keluar dari kamar mengambil tas nya yang tergeletak di meja ruang tamu, kemudian dia melangkah menuju pintu keluar dengan limbung dan pandangan yang kabur karena air mata.
"Mau kemana sayang?" Andrew yang baru keluar dari dapur terkejut melihat Diana mengenakan sepatunya dan hendak keluar dari condominium. Diana tidak menjawab, dengan tangan gemetar dia berusaha membuka pintu.
Andrew mengenggam pegangan tangannya dipintu dan memandang Diana dengan penuh rasa bersalah. Hatinya ikut hancur melihat keadaan gadis itu.
"Aku mau pulang." katanya lirih.
Andrew masih menggenggam tangan Diana.
"Kembalilah kekamar, kita akan kembali besuk." bujuk Andrew, melihat keadaan Diana yang rapuh seperti ini dia sangat kuatir.
"Lepaskan aku. Biarkan aku pulang. Aku mau pulang!" Diana kembali histeris. Suara Rachel dan Lia silih berganti bergaung dalam pikirannya membuat kepalanya sakit hingga akhirnya dia jatuh tak sadarkan diri. Sekian detik sebelum kesadarannya hilang, dia sempat mengatakan, "aku mau pulang."
Andrew segera menangkap tubuh Diana dan memeluk gadis itu.
"Brianttt!!!" teriaknya membahana mengejutkan setiap orang. Briant lari menghampiri dirinya dengan panik.
"Ada apa dengan dia Andrew? Ada apa dengan kakak ipar?"
"Siapkan mobil, aku akan membawanya pulang ke mansion." Andrew mengangkat tubuh Diana dalam pelukannya, dia membawa gadis itu keluar menuju lift ditemani pengawal yang menemaninya dari awal. Di depan pintu lift ia berpapasan dengan Grisella. Grisella terkejut melihat Andrew membopong Diana. Tapi ia tidak sempat mengatakan apapun karena pintu lift segera tertutup.
Dia merasa kuatir, ketika dilihatnya Briant muncul dari pintu condominium Diana dengan seorang pengawal lain yang wajahnya telah bengkak, dia semakin heran.
"Briant apa yang terjadi?" tanyanya panik.
Briant hanya memandangnya dan berlalu tanpa kata-kata.
ππππππππππππππππππππ
Hallooo guysss, maaf ya baru upload. Minggu lalu author masih fokus merevisi total bab-bab awal.
Mohon dibaca ulang ya, bab-bab yang direvisi total, mulai episode 9-20 semua adalah adegan baru.
Please beri comment kalian juga ya bagaimana pendapat kalian dengan bab tersebut.
__ADS_1
Terimakasih. Semoga kalian makin Cinta.