
Hari ini adalah pertandingan basket di sekolah Aaron. Antara kelas delapan A dan delapan B. Kelas delapan A tentu saja Aaron yang menjadi ketua tim. Sedangkan kelas delapan B, yang menjadi ketua tim adalah Jeremy. Jeremy selalu bersaing dengan Aaron untuk memperebutkan posisi ketua tim basket sekolah. Sayangnya Jeremy selalu saja kalah dari Aaron.
Saat ini tim chealeder sudah menari dengan bersemangat. Sorakan dari dua kelas yang bertanding, juga yel-yel untuk kedua tim sudah memenuhi lapangan basket yang semakin terasa pengap.
Pertandingan berlangsung dengan seru. Aaron mendrible bolanya dan hampir saja di rebut oleh Jeremy. Dengan mengandalkan permainan tim, Aaron mengoper bola nya kearah Doni, hingga Doni yang berada paling dekat dengan nett, berhasil memasukan bola. Nilai bertambah untuk tim Aaron.
Jeremy mendengus kesal. Pasalnya dia sudah bertaruh dengan Aaron. Tepatnya Jeremy yang mengajak Aaron bertaruh. Siapa yang menang, berhak mengajak Clarisa berkencan. Jeremy ingin membuktikan pada Clarissa jika dia lebih unggul dari Aaron.
Clarissa adalah tim chealeder. Dia gadis yang cantik dengan rambut Coklat keemasan. Tinggi langsing dan selalu bersikap anggun, juga percaya diri. Clarissa memang primadona. Dia selalu berusaha mencari perhatian Aaron. Tapi sayang Aaron suka bersikap baik pada semua gadis, tidak ada yang special untuk Aaron. Mommy bilang, masih kecil waktunya punya banyak teman dan menggali ilmu.
Pertandingan babak terakhir. Angka sama-sama menunjukan seratus lima puluh empat poin. Waktu hanya tinggal beberapa detik lagi. Bola basket sedang berada di tangan Jeremy. Jeremy yang berambisi menggiring bola sendirian menuju ke ring lawan. Dia tidak mengoper bola. Karena yang dia inginkan adalah mencetak angka terakhir.
Berkali-kali Jeremy melirik ke arah ring, dan di saat lengah Aaron merebut bola. mendriblenya sekali dan mengarahkan lemparan ke arah Doni. Doni dengan gesit menangkap, kemudian memasukan bola ke dalam ring. Akhirnya tim Aaron mencetak kemenangan.
Seluruh tim bersorak gembira, kemenangan hebat karena kerjasama tim. Pemain cadangan pun berlari menuju ke lapangan dan mengelukan Aaron juga Doni. Cheerleader menari dan bersorak untuk tim yang menang.
Sementara Jeremy dengan kesal melayangkan tinju ke udara. Anggota tim menepuk punggung Jeremy, agar pria itu menerima kenyataan. Mereka mengajak Jeremy untul menyalami tim Aaron. Dengan kecewa Jeremy melirik ke arah Clarisa.
Jeremy menyalami Aaron.
"Selamat. Kamu menang. Kau bisa mengencani Clarissa. Aku akan mundur," ujar Jeremy dengan wajah kecewa.
"Eh, tunggu dulu. Sejak kapan aku bilang mau mengencani Clarissa?" tanya Aaron sambil mengelap keringat.
"Bukannya kita tadi sudah sepakat?" ujar Jeremy dengan heran.
"Itu kan kau yang buat kesepakatan sendiri."
"Lalu?" Jeremy mengernyitkan keningnya.
"Lalu, ya aku tidak berkencan dengan Clarissa. Ajak saja dia. Hatiku masih pure." ujar Aaron dengan acuh. Dia meninggalkan Jeremy yang masih terpaku menatap Aaron. Remaja tampan buah hati Andrew dan Diana itu kembali kearah tim nya dan bersorak gembira. Mereka segera menuju ke kantin, Karena Aaron menjanjikan mentraktir sekaleng coca-cola.
Usainya pertandingan basket berarti usai pula jam pelajaran sekolah. Aaron masih dengan kaos olah raga, berjalan menuju ke mobil. Dia melangkah cepat bersamaan dengan Doni. Aaron berusaha menghindari gadis-gadis yang pasti akan menyapa dirinya sepanjang jalan. Hari ini terlalu melelahkan bagi Aaron untuk menjawab sapaan setiap gadis.
Setelah Francesca masuk ke dalam mobil, mereka segera pulang. Anna dan Archie tampaknya sudah lelah dan tertidur di dalam mobil. Sementara Francesca tiada hentinya protes, karena Aaron tidak mau melepas kaos olah raganya dan menyimpan dalam kantong. Aroma keringat memenuhi mobil ber ac. Dan dengan sengaja Aaron mengibaskan ketiak nya pada Francesca.
"Aaronnnn!!!!!! Juorokkkkk!!!!!!" teriak Francesca. Tapi teriakan Francesca tidak membuat Aaron berhenti menggoda. Dan parahnya, Anna dan Archie masih terlelap.
Sesampai nya di rumah. Aaron langsung saja masuk ke ruang makan, tanpa melepas sepatunya. Dia mencuci tangan dan langsung duduk di meja makan mencomot puding yang tampaknya baru saja dipotong oleh Diana.
"Mommy mana, bibi Matilda?" tanya Aaron dengan mulut penuh.
"Di dapur, sedang buat kue." jawab Matilda.
"Oooo."
"Kenapa, mau ikutan buat kue juga?" Matilda menuangkan lemon tea ke dalam tiga gelas kosong. Tak lama setelah berganti pakaian Francesca dan Anna bergabung dengan Aaron memakan kudapan di meja makan.
__ADS_1
"Ih, ganteng-ganteng jorok! Ganti baju dulu kenapa, bauk lagi!" gerutu Anna.
"Biarin. Kan aroma dan rasanya sama kaya ice lemon tea. Kecut-kecut enak." Jawab Aaron asal.
"Yeahhhh....kalau ice lemon tea itu kecut segar kalau kamu itu kecut apek!" sahut Francesca kesal dengam kejorokan Aaron.
"Biarin. Yang penting ganteng." Aaron menghabiskan suapan terakhir dari puding nya.
"Mana Archie dan Adel?" tanya nya heran karena tidak melihat kedua adiknya bergabung.
"Lagi sama mommy di dapur." jawab Anna.
Anna duduk dengan santai sambil menikmati pudding.
"Heran. Yang cowok ini Archie apa kamu sih?" sindir Aaron pada Anna.
"Emang kenapa?" tanya Anna heran.
"Belajar masak sono sama mommy, bukannya main bola dan karate terus." kata Aaron ketus.
"Biarin. Tukang masak kita juga Cheft Paul cowok. Malah bibi Matilda gak bisa masak." sahut Anna tidak perduli.
"Dibilangin. Gak nemu suami nanti kamu. Belajar musik sana sama Francesca."
"Ihhhh kak Aaron bawelll. Jadi cowok itu jangan banyak omong. Nanti cewek-cewek pada ilfillll. Cowok apa cewek kok bawep banget sih." balas Anna dengan gemas.
"Biar Bawel begini yang ngantri panjangggg." sahut Aaron sombong sambil berjalan menuju ke dapur.
"Aaron, kok gak ganti baju dulu?" tanya Diana yang melihat anaknya masih berpakaian olah raga.
"Bentar lagi sekalian mandi. Nanggung ah. Eh, Archie ayo main bola jangan buat kue saja. Kaya cewek saja!" goda Aaron.
"Tuan muda, saya cowok juga loh." ujar Cheft Paul perlahan tapi penuh penekanan. Aaron menoleh pada cheft Paul, dan tampaknya aura-aura dendam masih ada disana.
"Eh, Cheft masih ada disini toh. Kalau cheft Paul kan beda. Memang keren dari sono nya. Tanpa cheft Paul asupan gizi ku akan berkurang." Aaron menyanjung Cheft Paul. Pria gemuk itu pun tersenyum-senyum sendiri.
"Dih, Archie kamu ahli sekali. Malah bagusan cetakanmu daripada Adel." ujar Aaron yang mengamati mereka membentuk pastel.
"Kak Aaron, daripada ngomong saja. Sini duduk. Asyik loh membuat ini." ujar Adel dengam lembut.
"Adel sayang, maaf ya. Kakak mu ini takut menyangi Cheft Paul jika terjun ke dapur." jawab Aaron dengan sombong.
"Yeahhh. Buktikan dulu kemampuanmu." celetuk Archie.
"Ogah ah!" Aaron berbalik dan tanpa dia sadari, Aaron menabrak seorang gadis kecil yang baru saja membawa tepung dari gudang. Tepung yang ada di baskom itu bertebaran, mengenai wajah gadis kecil tersebut. Dan sebagian lagi mengenai badan Aaron.
Aaron hendak menjerit kesal. Karena kotoran tepung tersebut. Tapi melihat gadis itu terduduk di lantai dengan tubuh penuh tepung. Aaron menjadi kasihan. Dia mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Aaron! Apa yang kau lakukan." teriak Diana yang langsung menghpiro gadis kecil itu.
"Kau tidak apa-apa Velina?" tanya Diana merasa kasihan pada gadis yang dari kepala, wajah dan tubuhnya penuh tepung.
"Tidak apa-apa tante." ujar Velina sambil tetap tersenyum. Gadis itu mengusap wajahnya yang belepotan tepung.
"Dasar biang kerok. Lihat kak Velina sampai putih semua." teriak Archie kesal.
"Ma... maaf. Aku tidak sengaja." ujar Aaron menyesal.
"Mommy... uhuk... uhukkk." Velina mendesah sambil memegangi dada dan menutup hidungnya.
Taburan tepung yang mengudara itu, tampak nya terhirup oleh Adelaide. Gadis itu menjadi terbatuk-batuk dengan gelisah.
"Oh Adel. Tenang nak. Jack, tolong angkat Adel ke kamar. Maria, bawa velina membersihkan diri. Aaron jangan buat kekacauan lagi." Diana mengikuti Jack yang membawa Adel ke kamar.
"Tuh kan, dasar biang kerok!" ujar Archie ketus.
"Aku kan enggak sengaja. Eh, siapa anak gadis tadi?" tanya Aaron penasaran.
"Velina." sahut Archie.
"Kok kaya pernah tahu ya. Velina... Velina.. Hmmm. Dimana ya aku tahu nama itu." Aaron berpikir keras.
"Banyak kali cewek yang namanya Velina." ujar Archie.
Aaron masih berpikir. Dia menggelengkan kepalanya. Seingat Aaron, tidak ada yang bernama Velina di sekolahnya. Nama itu lebih terkesan Asia. Sementara Aaron masih berpikir. Dia tidak menyadari jika Archie sudah meletakan selembar kulit pastel di tangan Aaron. Mengisinya dengan isian dan menepuk tangan Aaron untuk membentuk lipatannya.
Aaron menurut dia membuat lipatan asal.
"Aku yakin pernah mengenal nama itu." ujar nya terus bergumam sambil terus mengisi adonan pastel dan melipat nya.
"Oo begitu. Cewek yang kamu suka kah?" tanya Archie. Archie menunduk, melihat pastel buatan Aaron. Dan dia terkejut dengan apa yang dilakukan Aaron.
"Heiiii!!!! Berhenti! Berhenti! Dasar pengacauuu!" teriak Archie kesal.
Aaron menghentikan gerakannya dan menatap Archie heran. Ada apa lagi adik kecil satu ini, berteriak dan memarahi dirinya lagi.
"Jangan melotot ke arahku! Lihat apa yang kau lakukan pada pastel mommy?!" protes Archie kesal.
"OMG! tuan Aaronnn. Kenapa jadi seperti ini?" Cheft Paul yang lebih shock lagi. Bukan saja Cheft Paul. Semua koki di dapur menahan tawa. Mereka memalingkan wajah, takut kena omelan Aaron.
Aaron Melihat hasil pekerjaannya dan membandingkan dengan pekerjaan archie. Sangat jauh berbeda. Archiie membuat pastel sangat rapi, lekukan-lekukannya terlihat rapi dan indah. Patut diacungkan jempol. Jika orang membelinya akan merasa puas.
Berbeda dengan milik Aaron. Dia meremas-remas adonan pastel yang sudah diisi di tengah-tengah. Sehingga tumisan wortel daging itu berhamburan tak menentu. Aaron meringis melihat hasil perbuatannya.
"He.. he.. Jangan khawatir. ini masih enak kok. Hehehe. Tinggal lakukan seperti ini." Aaron mengambil gumpalan yang dia buat. Membelahnya menjadi dua, kemudian meletakan di tengah-tengah kulit pastel yang belum terisi.
__ADS_1
"Nah, masih bisa dibentukan Archie. Sekarang tugasmu membuatnya indah." ujar Aaron sambil menyeringai lebar dan meninggalkan mereka.
"Hadehhhh... Gitu bilang takut menyayingi cheft Paul. Bilang saja memang tidak bisa!" gerutu Archie kesal.