
Hari Valentine tiba. Setiap insan di dunia ini, merayakan dengan sukacita. Setiap pasangan akan memberikan hadiah untuk orang yang mereka cintai. Bukan saja pasangan, tetapi juga antara aanak kepada orang tuanya. Sesama sahabat dan juga antara murid dan guru. Lantunan musik cita mengalun disetiap sudut kota. Rangkaian bunga dan coklelat habis terjual dimana -mana.
"Aaron ini untuk mu." seorang gadis memberikan sebuah bingkisan untuk Aaron.
"Apa ini?" tanya Aaron seakan tidak mengerti.
"Kau lihat saja sendiri." gadis itu kemudian pergi dengan malu-malu.
Aaron tersenyum lebar, kemudian Meletakan bingkisan itu kedalam backpack yang dia kenakan dengan menyanggah pada satu lengan saja. Tak lama seorang anak perempuan lain lagi datang dengan sebuah bingkisan untuk Aaron. Bukan hanya satu, tetapi beberapa wanita mulai bergiliran datang membawakan sebuah bingkisan untuk Aaron, hingga tidak muat lagi dalam tas backpak yang ada di punggungnya.
Tangan Aaron sudah penuh dan dia masih tetap menyungging senyuman menerima bingkisan dari anak-anak wanita dari setiap kelas. Tak lama Francesca dan Doni menghampiri Aaron.
"Kan... sudah aku bilang bawa tas extra hari ini. Tapi kau selalu saja lupa." gerutu Francesca.
"Hehehe kan ada kakak." sahut Aaron tersenyum simpul.
"Kalau saja ada perlunya, kau panggil aku kakak." sahut Francesca.
"Halahhh, nanti kan juga dapat bagian." sahut Aaron. Dia kemudian memasukan bingkisan valentine yang diberikan oleh anak-anak gadis ke dalam kantong tas yang dibawakan oleh Francesca.
"Sini, Doni bantu bawa." ujar Doni yang semakin akrab dengan Aaron semenjak kecelakaan di taman kanak-kanak.
"Terimakasih Doni."
Baru saja mereka melangkah pergi. Gerombolan Fans dari Aaron club datang mengerubungi remaja tampan itu. Aaron yang selalu percaya diri dan senang menjadi pusat perhatian, tampak tenang saja menghadapi para fans nya. Satu persatu, dia dengan sabar melayani mereka yang hendak memberikan bingkisan juga berfoto.
Setelah menunggu lebih dari empa puluh lima menit, akhirnya sesi foto memfoto sudah selesai. Aaron melambaikan tangannya dengan senyuman juga kerdipan mata pada para fans. Otomatis saja anak-anak gadis itu semakin histeris.
"Aaronnnn i love youuu.." teriak mereka dengan histeris. Remaja tampan yang cerdas dan jago berolah raga, bahkan memiliki suara yang indah itu, tampak semakin percayaa diri. Sangat sulit menemukan celah kelemahannya. Kecuali para saudaranya yang tahu, jika Aaron sangat manca pada ibu nya dan takut dengan hampir semua binatang.
"Kenapa kamu tidak menjadi model saja?" ujar Francesca yang sudah kesal menunggu.
"Mommy kan selalu melarangku ikut pemotretan." ujar Aaron.
Sebenarnya Aaron sering dilirik okeh berbagai macam agency, karena followers instagramnya banyak sekali bahkan melebihi model remaja yang sudah terkenal. Banyak model pakaian mendunia yang mengajaknya bekerja sama. Tetapi Diana selalu melarang. Karena Diana ingin Aaron fokus pada sekolah saja.
"Takut kamu makin besar kepala jika makin terkenal, bisa gak kuat itu leher menyanggahnya." ujar Francesca sambil tertawa cekikikan.
"Huh!" Aaron mendengus kemudian ikut tertawa, membayangkan tokoh kartun ratu jahat dalam film Anna in the wonderland.
"Berapa banyak coklat yang kamu dapat, Don?" tanya Aaron pada teman akrabnya.
"Baru nungguin bagian dari kamu." sahut Donny.
"Pilih saja mana yang kamu mau. " ujar Aaron.
Saat ini backpack Aaron dipenuhi dengan bingkisan kecil beraneka ragam coklat dan cookies, yang tentu saja di selipin dengan berbagai macam kartu ucapan perasaan. Setiap tahun hal itu terjadi. Dan disaat Aaron masuk ke sekolah menegah, semakin banyak bingkisan yang dia dapatkan. Francesca yang mengetahu hal itu menjadi hafal, jika setiap valentinw dia harus membawa tas extra.
"Jangan pilih disini! Nanti saja, ambil di mobil!" Francesca menepis tangan Doni. Tas yang dipegang Francesca sudah dipenuhi oleh bingkisan, begitu juga yang dibawa oleh Doni.
"Iya. Iya. Galak banget sih." ujar Doni dengan menggosok tangannya yang tidak sakit.
Mereka masuk kedalam mobil. Sambil menunggu Archie dan Anna, Aaron membiarkan Doni memilih bingkisan yang dia sukai.
"Eits, jangan yang ini." Aaron mengambil kotak coklat berbentuk hati dari tangan Doni.
"Ini pesanan khusus." ujar Aaron penuh rahasia.
"Ya dah yang ini saja." Doni mengambil kotak berbentuk persegi yang besar.
"Kartu nya jangan diambil." Teriak Francesca.
Setiap tahun, Francecs memiliki kebiasaan menyimpan semua kartu ucapan dalam sebuah kotak. Menyusunnya dengan rapi. Francesca bilang, ini suatu saat akan menjadi kenangan yang lucu untuk Aaron.
"Nih. Makasih ya Aaron. Daaa," Doni yang sudah mendapatkan coklat yang dia inginkan, melambaikan tangan dan keluar dari mobil.
Tak lama Anna dan Archie masuk dalam mobil.
"Waaahhh... apakah tahun ini kau mendapat lebih banyak Coklat?" tanya Anna dengan gembira, dia mulai memilih coklat dalam tas tersebut.
"Belum dihitung, Kayanya sih iya." jawab Francesca yang selalu menjadi perantara urusan Aaron fans club.
__ADS_1
"Archie dapat berapa?" tanya Francesca.
"Sedikit." Archie memperlihatkan beberapa bingkisan di dalam tas punggung nya.
"Aaron dulu waktu masih grade empat juga tidak mendapatkan sebanyak itu." kata Francesca dengan tersenyum.
"Makanya, wajah itu tersenyum sedikit. Jangan lempeng saja." kata Aaron.
"Biarin. Memang dari sana nya, kaya ini." sahut Archie cuek.
"Terserah dah."
"Coklat saja dimasalahin. Pingin coklat tinggal beli saja yang disuka." Celotehan Archie membuat Aaron mendengus kesal. Aaron dan Archie memang bertolak belakang. Aaron yang selalu penuh senyuman dan kharisma. Sedangkan Archie dia berwajah dingin dan sukar tersenyum.
Sesampainya di Mansion.
Adelaide sudah menanti mereka di ruang tengah. Hari ini dia begitu bersemangat sekali, ingin menghitung banyaknya coklat yang diperoleh oleh Aaron dan Archie. Dia sangat senang membaca setiap ucapan yang ditulis oleh anak-anakk tersebut dan menertawakan bersama saudara-saudaranya.
Tanpa melepaskan pakaian seragam, Mereka mulai melakukan rutinitas tahunan. Buah potobg dan lemon tea telah tersedia. Archie yang enggan bergabung, Juga terpaksa duduk diam setelah Anna menatapnya tajam.
"Oo.. Aaron, wajahmu yang setampan bulan... Wakkakakakakakkakaka... " Adel tertawa terbahak-bahak.
"Bukannya bulan itu banyak bercaknya yaaa., hahahhaha" semua nya semakin tertawa mendengar celoteh Adel.
"Ini juga lucu. Aaron, hatiku selalu berdebar jika melihatmu. Hahhaha... Jadi jika tidak melihat Aaron, tidak berdebar jantungnya, mayat hidup dong." Francesca membaca bagian kartu ditangannya.
"Aaron, aku mau menjadi pacarmu yang keberapapun. Hahaha hahaha, merana sekali sih nasib cewek satu ini." Anna tak mau kalah membaca tulisan tangan salah satu Anak.
"Ini lebih keran. Aaron kau matahariku. Cahaya hidupku. Wuihhhh... Gak takut gosong dia ya dekat-dekat dengan Aaron." celetuk Adelaide.
Mereka menghitung terdapat seratus satu coklat yang diperoleh oleh Aaron. Setelah Francesca, Adel dan Anna memilih yang mereka sukai, maka sisa coklat akan dibagikan merata kepada para pelayan di mansion. Dan tentu saja mereka semua sangat gembira mendapatkan coklat dan cookies berkualitas.
"Archie coba lihat dong punya mu." Anna menarik backpack milik Archie.
Archie membiarkan Anna mengambil tas nya dan mengeluarkan isi didalam. Hanya sepuluh buah kotak Coklat. Tetapi semuanya berhiaskan mewah dan kotak besar.
"Wow!!!! mewah sekaliiii. Aku mau satu." ujar Anna.
"Cuittt cuitttt, Archie punya pengagum uhuyyyyy." Sorak ke empat saudaranya.
Diana yang baru datang menghadiri pertemuan dengan Andrew, bergabung dengan ke lima anaknya.
Dan dia terpukau dengan banyaknya coklat yang bertaburan.
"Wow, luar biasa sekali. Ini pemberian Valentine dari para gadis?" tanya Diana sambil duduk diantara Anna dan Adelide. Di manca negara Valentine seringkali digunakan sebagai kesempatan untuk menyatakan perasaan kasih seorang kepada yang mereka sukai berupa coklat atau pun hadiah. Karena mereka tinggal di barat, dimana wanita sudah cukup berani menyatakan perasaan pada pria, itu sebabnya Aaron dan Archie mendapatkan hadiah valentine.
"Iya mom. Aaron dapat Seratus satu coklat dan cookies, besar dan kecil. Sedangkan Aaron dapat sepuluh tapi besar-besar." lapor Francesca.
"Wow! Aaron dan archie anak mommy hebat. Keren habis." Ujar Diana kagum.
"Kalau daddy dapat berapa dulu?" tanya Aaron serius.
"Ah, banyak sekali. Lupa sudah." ujar Andrew sambil berdehem.
"Daddy dapat lima puluh waktu garade 11." seru Diana.
"Ah, lebih ah.. seratus lebih." ujar Andrew tidak mau terima.
"Yeaaa.... kan dulu Daddy bilang, dapat lima puluh. Malu ya kalah sama Aaron.." Goda Diana.
"Enngak ah... Itu cuka kira-kira saja kok." sahut Andrew masih tidak mau terima.
"Aku yakin, jika sekarang aku kuliah, maka aku akan mendapatkan lebih dari seratus." celetuk Andrew dengan sombong.
"Ah... Gitu ya! Jadi mau kukaih lagi? Biar dikejar banyak anak gadis?!" tanya Diana dengan penekanan pada setiap katanya.
"Bukann... bukan begitu maksudku."
"Benarkan begitu tadi kata daddy, ya anak-anak?" Diana meminta bantuan anak-anaknya.
"Iya daddy ini! Masa gak mau kalah sama Aaron sih. Daddy itu sudah dapat hadiah terbesar, yaitu mommy. Jangan nakal-nakal ya. Nanti sama mommy gak boleh bubuk di kamar lagi, nangis." Conrad yang baru datang langsung menegur ayahnya yang masih gagah dan semakin tampan itu.
__ADS_1
"Hehehehe... iya sayang. Kau hadiah terindah dalam hidupku." Andrew memeluk bahu Diana yang duduk di sofa, dari belakang.
"Cieeeee... cieeee... daddy yaaaa... masih genittt sama mommy... cieee... cieeee...." Anna menggoda ayah dan ibu nya.
"Mommy.. daddy... We Love You." seru Adelaide sambil memeluk Diana.
"We love both of you." kelima anak lainnya mulai memeluk Andrew dan Diana.
"Mommy dan daddy sayang kalian semua. Kami bangga punya anak yang luar biasa seperti kalian." Diana meneteskan air mata, terharu dengan kasih sayang ke enam anaknya. Anak-anak yang luar biasa dan hidup berdampingan dengan rukun.
"Maaf. Mengganggu kalian. Ada kiriman bunga." Butler Jhon hadir ditengah-tengah kelaurga bahagia tersebut.
"Kiriman apa?" tanya Aaron yang masih berharap ada kejutan untuk dirinya.
Beberapa pelayan datang dengan membawa buket bunga.
"Ini untuk nyonya Diana." Satu buket besar bunga lily dengan tiga warna mawar dengan sebuah kotak kado.
"Ini untuk nona Francesca." Satu buket mawar merah muda dan sebuah kotak kado.
"Ini untuk nona Adelaide." Satu buket mawar putih dengan sebuah kotak kado.
"Ini untuk nona Anna." satu buket mawar merah dengan sebuah kotak kado.
"Dan ini, untuk tuan muda Conrad, tuan muda Aaron dan tuan muda Archie." butler Jhon memberikan bingkisan terakhir.
"Wow... Ini pasti dari daddy. Terimakasih daddy." Anna langsing memeluk ayahnya dengan manja. Gadis ini lebih dekat dengan Andrew dan Aaron. Dia lebih suka dekat dengan pria, karena menurut ya pria itu lebih simple dan tidak berbelit.
Mereka membuka kado dari Andrew. Semua mendapatkan jam tangan dengan model yang sama. Wanita sama dengan wanita. Pria sama dengan pria.
Dan mereka semua sudah menghujani Andrew dengan ciuaman kasih sayang.
Andrew merasa bahagia sekali dengan hujan pelukan dan ciukan yang dia miliki. Masa tuanya jadi lebih indah berkat ke enam anak, yang selalu penuh kejutan.
"Kalian semua beristirahat dan mandi dulu, nanti malam kita akan dinner bersama." kata Diana yang dipatuhi dengan bubar teraturnya anak-anak.
Andrew menghampiri Conrad dan menepuk bahu anak sulungnya.
"Kau tidak ada acara sendiri diluar?"
"Tidak ada dad." sahut Conrad.
"Ini valentine, tidak ada acara dengan teman specialmu?" tanya Andrew heran.
"Gak ada, dad." sahut Conrad dengan yakin.
"Ah.. sudah lah. Nanti malam kita akan merayakan valentine dengan semua pelayan."
"Oket dad."
Conrad menutup kamarnya. Dalam pikiran Conrad kali ini bergelanyut dua wajah yang berbeda.
Sementara itu, terdengar ketukan di kamar Aaron.
"Psst... psttt...tuan muda..."
ceklek! Aaron membuka pintu kamar nya dan mendapati Cheft Paul. Aaron langsung membuka kamarnya lebar-lebar dan membiarkan cheft Paul masuk.
"Gimana tuan muda, bagian saya.. anda tidak lupa kan?" bisiknya dengan hati-hati.
"Tenang saja, ini aku simoankan yang special untukmu." Aaron memberikan sepuah coklat berbentuk Hati yang sangat besar dan pita merah muda. Tak lupa Aaron juga mengambil setangkai mawar merah milik Anna dan menyelipkan di dalam box cokelat tersebut.
"Wowww... ini keren sekali. Luar biasa. Matilda pasti menyukainya.
"Sudah sana berikan padanya."
"Tentu saja. Terimakasih tuan muda. Anda membuat hari saya akan semakin indah." ujar Paul dengan bahagia.
Setelelah keluar dari kamar Aaron, Cheft Paul melihat Matilda masih sibuk di taman belakang mempersiapkan makan malam bersama.
satu meja panjang besar untuk sepuluh orang. Andrew, Diana dan keenam anaknya ditambah Kakek Arthur dan butler Jhon akan duduk bersama.
__ADS_1
Sedangkan meja pelayan dan pengawal sudah berderetan banyak. Malam ini akan dilalui dengan makan malam bersama dan performance para pelayan yang akan bernyanyi, menari dan bermain musik. Lampu-lampu sudah dipersiapkan untuk mengiasi taman belakang. Keluarga ini memang sangat luar biasa dalam menghargai pekerja nya. Semua karena nyonya muda yang baik hati. Dia tidak berubah, meskipun harta bergelimang di depan mata.
Sementara Cheft Paul meletakan coklat dengan hati-hati di dalam lemari. Dia ingin sekali memberi kejutan pada Matilda saat malam tiba nanti, saat semua sudah selesai berpesta. Cheft Paul ingin membuat Matilda terkesan.