Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Barter


__ADS_3

Suatu sore di halaman belakang mansion. Ke lima anak-anak Diana sedang asyik bermain. Arche asyik bermain bola dengan Anna dan Aaron. Francesca bermain biola dan Adel belajar melukis. Diana duduk santai sambil membaca novel.


Para pelayan bisa bersantai sendiri di area taman yang membatasi rumah utama dan rumah pekerja. Sedangkan yang menemani anak-anak sekarang seperti biasa Matilda dan Maria. Mereka pun sudah menyiapkan camilan untuk keluarga bahagia ini.


Setelah lelah bermain, Aaron duduk di sini Diana. Remaja berusia empat belas tahun ini mengusap keringatnya, mengambil segelas juice semangka. Setelah habis memimum juice tersebut, Aaron merapat pada Diana.


"Mom... Velina itu siapa?"


Diana menghentikan membaca novel dan menatap Aaron.


"Aaron sudah lupa?"


Aaron mengernyitkan keningnya.


"Kayanya pernah ketemu ya mom. Nama nya tidak asing."


"Sewaktu kecil, ketika mommy masih mengandung si kembar, kita beberapa kali bermain di panti asuhan. Velina tinggal disana. Dia adalah anak pengurus panti. Tuan dan Nyonya Ron."


"Oooo.." Aaron mengangguk tanda paham.


"Apakah dia akan menginap di sini lagi, mom?"


"Tentu saja. Momny sudah meminta pada tuan dan nyonya Ron untuk mengizinkan Velina menginap di rumah kita setiap hari sabtu."


"Jadi... besuk kita akan mengajak Velina di Riverview Squere?" Aaron bersemangat.


"Tentu saja."


"Apakah Velina bisa bermain musik?"


"Untuk itu momny tidak tahu. Bagaimana jika kau bertanya sendiri padanya?"


"Baiklah mom."


Aaron kembali duduk tegak berselonjor.


Anna menghampiri Adel.


"Adel, gambar mu makin bagus ya, andai aku memiliki setengah kehebatanmu ah tidak seperempat saja sudah cukup. Jadi aku tidak pusing dengan tugas menggambar di sekolah." ujar Anna dengan penuh kekaguman.


"Adel malah iri dengan Anna."


"Iri? Sama Anna? Hahhahah... ada-ada saja Adel ini."


"Beneran. Lihat Anna tiap hari sekolah dengan bebas. Lari-lari kesana kemari, main bola, karate, velajar musik. Semua kau lakukan. Temen Anna juga banyak kan. Adel tidak punya teman." keluh Adel lirih.


"Adel. Maafkan Anna ya..."


Anna tidak menyangka jika aktifitas kesehariannya menjadi sorotan Adelaide. Adel yang selalu tenang dan tersenyum, ternyata memiliki pemikiran seperti itu. Anna baru menyadari perasaan Adel.


"Tidak apa-apa... Adel mengerti kog. Ini kan memang keadaan Adel yang kurang sehat, bukan salah Anna." ujar nya dengan senyum tulus.


"Bagaimana kalau lain kali, Anna ajak teman akrab Anna bermain dan belajar bersama di Mansion?" usul Anna dengan berbinar.


"Benarkah? Apakah teman Anna cantik dan lincah seperti mu?" tanya Adelaide dengan mata berbinar.


"Hehe.... Anna gak punya teman akrab wanita. Shawn dan Gio." Anna terkekeh.


"Eh.. kirain perempuan."

__ADS_1


"Males, bawel, genit, ceriwis. Kalaupun ada yang baik sama Anna itu juga karena Archie dan Kak Aaron." sahut Anna kesal.


"Kok gitu?"


"Minta dicomblangin sama mereka?"


"Trus?"


"Ya sogokan nya Anna ambil saja. Kan sering Anna bagikan dengan Adel. Urusan lain ya terserah Kak Aaron dan Archie."


"Ooo... yang cookie dan coklat itu?"


"Benar!" Anna mengacungkan kedua jempol. Mereka tertawa bersama.


"Lagi ngomongin apa, kok kaya nya seru banget?" tanya Diana yang mulai tertarik dengan tawa kedua putri nya.


"Mom, bolehkan kedua teman Anna belajar disini?" tanya Anna langsung.


"Boleh saja. Asal mereka minta ijin dulu dengan orang tua mereka."


"Ah.... pasri boleh. Shawn kan anaknya tante Grisella." ujar Anna.


"Ooo si Shawn?"


"Satunya Mathew. Annak nya tante Yoona kan?"


Diana mengangguk. Shawn sebenarnya berusia setahun diatas Anna. Tapi, karena bandel dia tidak naik kelas selama setahun. Sedangkan Mathew, dia lebih muda sekitar enam bulan dari Anna. Diana tidak menyangka jika mereka akan begitu akrab. Apalagi semenjak kelahiran mereka, Diana jarang berkumpul dan bergosip dengan teman-temannya.


"Baiklah. Mereka boleh kemari, kapan saja kalian mau."


"Horeee.." Anna dan Adel bersorak gembira.


"Mau tahu saja!!!" teriak Anna dan Adel bersamaan.


"Test telinga saja." sahut Aaron kegi.


****


Aaron masuk ke ruang musik. Entah kenapa dia teringat Velina. Gadis yang tiga tahun lebih muda dari dirinya. ingatannya kembali ke masa kecil ketika dia bermain dengan Velina yang baru belajar berjalan. Ingatan itu samar-samar saja. Dan dia tidak menyangka anak kecil itu sudah bertumbuh menjadi gadis yang manis.


"Frances, kamu apakah masih mengingat saat kita kecil ke panti asuhan?"


Frances menghentikan kegiatannya membersihkan biola.


"Memang kenapa?"


"Aku penasaran, bagaimana keadaan panti asuhan tempat Velina tinggal." ujar Aaron dengan kaki di lipat.


Francesca terdiam, dia mencoba mengingat kejadian di masa lalu.


"Seingatku... disana banyak anak. Satu kamar ada banyak tempat tidur tingkat berjajar." kenang Francesca.


"Apa hanya perempuan saja disana?" Aaron masih penasaran.


"Kayanya lelaki dan perempuan ada disana. Aku lupa. Coba cek pesta ulang tahunmu. Seperti nya ada foto dengan mereka disana."


Aaron segera beranjak menuju ke ruang perpustaakan. Francesca menatap Aaron heran. Ada apa pula tiba-tiba dia menanyakan hal itu. Tiba-tiba saja, seklebatan ingatan masa lalu muncul, dia seperti melihat seorang anak kecil memeluk boneka usang dengan wajah ketakutan.


Francesca menggelengka kepalanya. Dia heran kenapa tiba-tiba bayangan itu muncul. Karena penasaran, Francesca memilih mengikuti Aaron ke ruang perpustakaan. Frances penasaran dengan raut wajah yang dia ingat itu.

__ADS_1


"Aaron, ketemu album fotonya?"


Francesca melihat Aaron baru saja menggapai sebuah album foto.


"Ini baru cek album ini. Hahaha ternyata foto bayi ku ada disini. Jelek sekali dirimu." Aaron meninggalkan album foto itu terbuka dan mulai mengambil salah satu album lainnya.


Francesca mengamati foto album yang tertulis namanya. Dia mengamati satu persatu foto disana. Hanya ada sedikit foto dirinya. Dua foto bayi dan Tiga foto kanak-kanak dengan memeluk boneka. Frances terus mengamati boneka tersebut. Dia masih mengira-ngira jika wajah di foto itu dan anak tersebut mirip dengan seseorang yang muncul dari pikiriannya. Tapi, pikiran Frances masih kacau.


"Ini diaaaa. Ino pasti dirimu, di kuncir dua dengan senyum paling lebar." Tunjuk Aaron.


Frances melihat foto dirinya di album ulang tahun Aaron. Dia tampak ceria dan gemuk. Berbeda dengan foto album masa kecil nya. Tetapi, Frances lupa untuk berpikir lebih jauh, karena perhatiannya terganggu dengan Aaron.


"Lihat Frances, ini kan baby Velina?"


Frances melihat foto anak kecil yang ditunjuj oleh Aaron.


"Iya kayanya. Itu kalian bergandengan. Lihat ini, kalian berdua masih bermain lagi. Duh... Aaron gemes deh aku lihat pipi gendutmu." ujar Frances greget.


Dan gadis itu menyalurkan rasa gregetnya dengam mencubit pipi Aaon.


"Oi sakit tahu." Aaron hendak membalas cubitan Frances, tapi gadis itu lebih cepat menangkis.


"Tidak rugi juga belajar bela diri." Frances terkekeh.


"Segitu saja sudah senang." Aaron kembali membuka setiap album foto dan memperhatikan foto Velina. Sedari kecil gadis itu sudah terlihat kecantikannya.


"Kenapa tiba-tiba kamu memperhatikan Velina?" celetuk Frances tiba-tiba.


"Ga apa -apa." sahut Aaron.


"Suka yaaa...." goda Francesca.


"Apaan sih. Masih kecil gak bileh suka-sukaan."


"Cieee..cieee... Masih kecilllll tapi plototin terus foto itu. Lihat apa yang aku punya." Francesca menunjukan Foto di handphone miliknya.


"Coba lihat!"


"Heitss gak bolehhh. Penasaran kannnn..." Francesca menyembunyikan foto Velina yang dia ambil ketika gadis itu menginap.


"Gak mau kasih ya sudah. Besuk juga anaknya datang." ujar Aaron mencibir.


"Benerannn gak pingin lihat sekarang?" ledek Francesca.


"Huh! Minta dibayar apa?" tanya Aaron kesal.


"Temani aku tambil di Riverview besuk. Satu foto satu penampilan." Francesca melancarkan barter nya dengan cerdas. Sangat sulit meminta Aaron untuk tampil bersamanya. Jadi ini kesempatan bagus bagi Francesca.


"Kalau aku menolak?"


"Aku hapus foto cantik ini."


"Huh! Baiklah Kau menang."


Ting! Ting! Ting!


Aaron mendelik. Dua puluh foto masuk ke handphone nya.


"Francesss!!!! Kau memang menyebalkan!"

__ADS_1


__ADS_2