
Andrew meletakan Diana di atas tempat tidur dengan bersandar pada kepala ranjang. Dia memberikan segelas madu hangat yang diberikan butler Jhon dan membantu wanita itu untuk meminumnya.
"Aku hanya ingin bahagia denganmu dan keluarga ini. Salahkah keinginanku? Kenapa selalu saja ada halangan." ucap Diana dalam isak tangisannya.
"Berhentilah menangis. Bukankah yang terpenting aku ada disini bersamamu?"
Diana memandang wajah Andrew dengan senyum sedih. Dia meletakan tangan kanannya diatas tangan Andrew yang menggenggam tangan kirinya.
"Terimakasih kau selalu berada disisiku dan tidak terpengaruh dengan ucapan mereka."
"Aku percaya padamu. Itu yang terpenting. Apapun yang mereka lakukan aku tidak perduli asal kau disisiku." Kecup Andrew hangat dikening Diana.
Mereka saling berpelukan hingga ibu hamil itu tertidur. Andrew masih saja memeluk Diana dalam tidurnya. Dia merasa bersalah dengan segala kejadian yang menimpa wanita ini. Akar permasalahan yang disebabkan oleh dirinya. Seandainya dia lebih tegas dari awal, mungkin semua tidak akan sejauh ini.
Perasaan bersalah Andrew bukan saja dengan apa yang terjadi barusan. Tetapi karena dirinya sempat meragukan kesetian Diana. Hari itu ketika berulangkali Rachel mengatakan dirinya mandul. Kata-kata yang sudah Rachel tanamkan sejak bertahun-tahun membuatnya kembali ragu. Belum lagi foto-foto sama seperti yang ditunjukan oleh Eva. Pria yang sama yang datang ke mansionnya dan mengaku ayah dari bayinya. Dia tahu Pria itu telah mengejar Diana selama bertahun-tahun.
Wanita luar biasa yang dimilikinya ini mampu membuat pria lain bersedia mengakui bayi ini sebagaibanak mereka. Sedangkan dirinya sempat meragukan. Pria bodoh!
Keraguan itu sempat membakar hatinya. Ketakutan kalau Diana benar-benar berselingkuh dan memanfaatkan dirinya seperti kata-kata Rachel. Apalagi Briant sempat menyembunyikan kenyataan kehamilan Diana.
Beruntung dia memiliki sepupu, sahabat dan assisten yang mengenal dirinya luar dalam.
Briant menyarankan dirinya berkonsultasi dengan dokter Michael. Hasil test itu membuktikan bahwa dirinya tidak mandul.
Hal itu membuatnya lega sekaligus merasa bersalah kepada Diana. Apalagi kalimat tajam dari dokter Michael, " seberapa banyak uangmu dihabiskan wanita itu sehingga kau meragukannya, presedir bodoh!"
"Kalau kau masih meragukannya, kau bisa melakukan test dna." ucap dr Michael dengan sinis.
Dia yang angkuh bahkan tidak mampu menyangkal perkataan dr.Michael.
"Masih beruntung Tuhan memberimu kesempatan memiliki wanita baik disisimu setelah panjangnya kelakuan bejat yang telah kau lakukan. Apalagi dengan anugerah bayi dalam kandungannya. Kau harus nya malu. Bukan dia yang tidak pantas untukmu. Tapi kau yang tidak pantas untuknya." Kata-kata itu masih terngiang dibenaknya setiap hari.
"Kau harus menjaga berlian itu dengan kasih sayang seumur hidupmu." Nasihat terakhir dr.Michael sebelum Andrew keluar dari ruang prakteknya.
Keyakinan itu semakin kuat dan membuat kebencian akan Rachel semakin membesar, ketika Sandra dengan jujur bercerita kalau Rachel selama ini mengubah isi vitamin yang dia konsumsi agar dirinya tidak bisa memiliki keturunan. Karena dengan memiliki keturunan akan membuat Andrew mininggalkan Rachel yang mandul setelah dulu ia menggugurkan kandungannya.
Apoteker yang menjual vitamin itu pun sudah mengakui dan siap bersaksi di pengadilan.
Memang benar Tuhan mengirim malaikat ini untuk Andrew. Dan, Andrew tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya dengan meragukan wanita ini. Andrew memeluk erat Diana dalam pelukannya. Benar, wanita itu adalah anugerah, dan bayi yang dikandungnya merupakan pengampunan dari sikap bejatnya selama ini.
__ADS_1
Dua setengah tahun proses perceraian berlangsung tanpa mencapai titik temu.
Andrew sudah jenuh. Ancaman akan video itu pun masih tidak membuat Rachel takut. Seakan-akan dia tidak perduli dengan kehancuran keluarganya.
Pertarungan masih berlanjut hingga menguras energi dan pikiran. Mungkin tidak akan ada habisnya hingga salah satu kehabisan darah.
*****************
"Sialan pria bodoh itu telah gagal!" Rachel melontarkan banyak kalimat sumpah serapah dari mulutnya setelah mendapatkan laporan dari Eva.
Eva saat ini sedang duduk sebagai sekutu yang tidak dianggap menerima hembusan asap rokok dari Rachel yang kesal.
Dia mengeluarkan sebatang rokok lagi dari kotak berlapis emas delapan belas karat. Rokok berbentuk langsing itu mulai dia tempelkan dibibir merah nya dan dia sulut. Menghisap dalam-dalam sebelum menghembuskan asapnya ke wajah Eva lagi.
Dentungan musik di rumah Maredith yang diubah layaknya ruang club itu tidak menggoda seleranya. Pikirannya hanya tertuju dengan berbagai cara yang dapat dia lakukan untuk membuat Andrew melepaskan wanita itu.
Pertarungan belum selesai sampai Rachel menjadi pemenangnya. Sejak kecil dia diajarkan untuk menjadi ambitius tidak pernah kalah tidak akan pernah menerima kekalahan. Apapun dan bagaimanpun caranya dia harus menang!
"Ayo bersenang-senang cantik jauhkan kerisauan yang membuat wajah mu menjadi jelek ." ucap seorang pria yang masih muda.
"Apa kau mampu membuatku senang? tampan." ucap Rachel dengan dingin.
Eva hanya menelan ludah melihat adegan panas dihadapannya. Pemuda tampan dengan otot-otot tubuh yang sempurna. Pandangan Eva bergerilya mencari bagian. Ketika dilihatnya seorang pemuda lain tampak sedang bersantai, dia merapikan rambut memastikan diposisi sempurna dan menghampiri pemuda itu dengan memamerkan jejeran gigi putih indahnya.
**************
"Siapa dia kucing liar? Kau mencelakainya?"
Kalau bukan karena Lia adalah adik Diana yang memintanya untuk mengangkut pria tak dikenal dengan tubuh babak belur, Jason tentunya malas mengotori jok mobilny dengan keringat dan darah pria yang tak dikenalnya itu.
"Sudah nyetir jangan banyak bicara. Lihat jalan sana." ucap Lia dengan ketus.
"Memangnya aku supirmu, hey!" ujar Jason ketus sambil mengerem mendadak membuat suara berdecit yang keras dan membuat tubuh Lia terbentur di belakang jok Jason. Sementara Jason yang lemah hanya diam saja ketika tubuhnya terguncang. Untung saja Lia sudah memasangkan seatbelt
"Aduh! Kau ingin membunuhku?" gerutu Lia kesal.
"Mungkin saja." Jason membiarkan kendaraannya dalam posisi diam.
"Ada apa, mobil mewahmu mogok?" tanya Lia polos tanpa perasaan.
__ADS_1
"Dasar kucing cerewet kau menghinaku." dengus Jason kesal.
"Ayo cepatlah, ada orang sekarat di mobilmu." desak Lia gemas.
"Bukan aku yang membuatnya begitu, kenapa aku yang harus repot?" sahut Jason cuek sambil merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan melipat tangangan di belakang kepala.
Lia melihatnya dengan kesal. Kalau saja dia tidak butuh bantuan pria ini, akan dia maki habis-habisan lalat buah ini, bila perlu akan mengerok kulit pria ini agar semuanya merah.
Tapi dia melapangkan hatinya. Dia tersenyum manis (akting) dan berkata, "pria ini teman kakakku, kau tidak ingin tahu apa yang membuat dia babak belur begini?"
"Apa yang membuat dia seperti itu?" Jason memandang Lia dari kaca spion.
Umpan dimakan! Sorak hati Lia.
"Ayo jalankan mobilmu antar dia kerumah sakit. Nanti aku ceritakan." dengan suara lembut Lia berbicara (akting).
Jason mulai menjalankan mobilnya dan meluncur ke rumah sakit.
Kena kau! Dasar pria mesum, pakai nama kakak langsung jalan.
Gerutu Lia dalam hati.
πππππππππππππππππππ
Hallo pembacaaaa....
Author sedih nich... viewersnya banyakkk sampai ribuan, tapi sayang kenapa yang like cuma puluhan yaaa.
Pleaseee, baca novel ini gratis lohhh... hehhehe... sumbangi like kalian saja yaaaa.
Yang lupa like scroll ke atas ya dan like tiap episode, pleaseeπππ
Biar makin semangat.
Buat yang nge Vote makasih banyakkkkkk yaaa.
Sebagai ucapan terimakasih, Tiga orang dengan vote terbanyak akan mendapatkan souvenir cantik yaaaa.
Trimakasih
__ADS_1