Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Malam Jumat


__ADS_3

"Aaron tanya adik lagi padamu?" Tanya Andrew dengan mesra.


Saat ini mereka sudah masuk kedalam kamar setelah memastikan ketiga anak lucu dan cerdas itu sudah tidur.


"Apa dia juga bertanya padamu?" Tanya balik Diana. Saat ini Diana sudah di depan cermin sambil menghapus sisa kotoran di wajah dengan pembersih, kemudian dia melangkah ke kamar mandi bersiap mencuci muka dan menggosok gigi, terakhir adalah mencuci bagian kewanitaan.


"Iya. Dia terus bertanya. Apakah kau sudah memiliki tanda kehamilan?" tanya Andrew penuh harap sambil mengoleskan pasta gigi di sikat miliknya dan milik Diana.


Mendengar pertanyaan Andrew, Diana menggeleng lesu. Pasalnya memang dia tidak merasakan tanda-tanda itu. Dan Diana sudah merasa letih berharap. Sebelumnya selama sebulan ini hampir setiap hari dia melakukan test pack.


"Kalau begitu kita harus lebih rajin dong," seringai Andrew penuh kemenangan.


Diana mendelik sambil menggosok gigi. Ini saja hampir setiap hari dia melayani Andrew, minimal sekali dalam sehari. Kurang sering bagaimana. Bisa gak seret lagi ini.


"Jangan terlalu sering. Kualitas bibit nya jadi gak baik. Kita selingin ya. Sehari puasa begitu." Elak Diana yang meskipun sangat menikmati percintaan dengan Andrew. Tapi terkadang dia juga ingin mendapatkan jedah.


"Gak mau. Mana tahan aku jika di dekatmu begini." Tolak Andrew dengan manja.


"Hei...sudah lupa yaaaa... Dulu kan pernah enam bulan puasa, hayooo. Sekarang kan cuma sehari aja puasanya." Ujar Diana sambil mengelap wajahnya dengan handuk.


"Itu kan terpaksa. Kalau sekarang kan dipaksa." Andrew masih bersiteguh.


"Satu hari saja ya. Dua puluh empat jam."


"Kalau begitu 69 saja. Gimana?" Tawar Andrew dengan mesra sambil memeluk Diana dari belakang dan mulai mencium leher istrinya, sementara kedua tangan mulai menggerayangi dada Diana.


"Idihhhh. Mesum banget sih. Ditahan bibit nya jangan di cecerin terus, biar kualitasnya topcer." Diana melepaskan diri dari pelukan Andrew.


"Sayang jangan begitu dong. Tadi pagi aku sudah gak dapat jatah loh, " rengek Andrew seperti anak kecil.

__ADS_1


Pria itu masih terus mengekor pada Diana.


Dia berdiri dengan manja di belakang Diana yang sedang duduk di depan meja rias. Diana tampak mengacuhkan Andrew dan mulai mengoles krim malam di wajahnya.


"Sudah ah. Aku mau ganti baju terus tidur." tolak Diana lagi.


"Yakin gak mau?" Andrew menggoda.


" Iyaaa sudah ah." Diana berjalan ke arah closet dan menganti baju nya dengan piyama terutup. Andrew menjadi kecewa melihatnya. Diana kemudian naik ke atas tempat tidur dan buru-buru menyelimuti dirinya. Dia tak lupa mematikan lampu tidur juga. Diana tidak tahu apa yang di lakukan Andrew saat ini. Dia bahkan sudah mengenakan pakaian tidur tertutup.


Meskipun ada rasa penasaran dalam dirinya. Kenapa Andrew tidak naik keatas tempat tidur dan berbaring di sisinya? Walaupun tidak ingin bercinta, tapi bukan berarti Diana tidak ingin di peluk oleh tubuh kekar Andrew.


Dia ingin sekali membuka mata dan melihat apa yang dilakuka oleh Andrew. Hanya saja Diana merasa gengsi. Malu mengakui jika dia rindu pelukan suaminya, karena akan berujung dia terjebak pada keinginan dan gairah Andrew.


Dalam diam, indera penciumannya beraksi. Ada aroma wangi sensual tercium. Aroma ini masuk dengan lembut dalam rongga pernasan Diana sekakan-akan membelai jiwanya. Aroma Vanila yang manis dan sangat lembut.


Tak lama Alunan musik terdengar, sebuah instrumental music dari lagu berjudul,


Lagu ini terlalu sexy.


Diana membuka matanya dan menopang tubuhnya dengan kedua sikut. Dia terperangah dengan apa yang dilakukan Andrew. Pria ini mempunyai sejuta ide untuk mendapatkan keinginannya.


Pria itu berpakaian lengkap bagaikan seorang polisi dengan borgolnya. Dia bergoyang sensual mengikuti alunan musik. Tatapan matanya tajam terarah ke mata Diana.


Dengan gerakan sensual yang macho, Andrew membuang topi polisi kepada Diana dan jatuh tepat diatas dada wanita itu. Diana mengambil dan memakainya di kepala.


Selanjutnya Andrew melepaskan satu persatu kancing bajunya. God! sudah ratusan kali dia melihat dan menyentuh dada bidang itu, tapi tetap saja melihat dengan gerakan seperti itu, tatapan mata yang tajam, juga alunan musik dan aromatherapi vanila. Siapa yang tahan.


Dia menelan ludah dengan susah payah. Jangankan menelan ludah, bernafas saja terasa berat. Melihat tangan-tangan kekar itu melepaskan kancing baju nya satu persatu, Diana seakan tidak mampu mengerdipkan matanya.

__ADS_1


Andrew membuang baju nya ke arah Diana dan pakaian itu menutup wajahnya. Perlahan dia mencium aroma tubuh sang suami yang melekat pada pakaian itu. Diana segera menyingkirkan pakaian itu dari wajahnya, tak ingin ketinggalan gerakan lanjutan dari Andrew.


Dan Andrew mulai membuka sabuk, melepaskan dengan perlahan. Diana tidak dapat melepaskan pandangannya dari tangan yang memegang sabuk itu. Tangan Andrew melepaskan sabuk sekali hentak. Kemudian dia memukulkan ke udara dan melemparkan sabuk itu. Suara lecutan sabuk diudara serasa melecut gairah dalam diri Diana.


Saat ini adalah adegan yang lebih membuat sesak, ketika tangan kekar itu mulai membuka resleting. Menurunkan dengan perlahan dan God! Tidak sabar rasanya melihat resleting itu terlepas dan celana itu teronggok di lantai.


Nafas Diana tercekat ketika celana panjang Andrew terlepas dengan sempurna, menyisakan celana dalam berwarna hitam dan sedikit transparant. Naga berapi sudah menantang dengan sempurna siap menyemburkan api.


Andrew melangkah maju menaiki tempat tidur dan perlahan menaiki tubuh Diana. Merayap dengan sensual membuat wanita itu tercekat dan tergoda untuk menyentuhnya


Dengan lembut Andrew berbisik," Only you can set my hearth on fire. You are the only thing i wanna touch." ( Hanya kau yang menggelorakan hatiku. Hanya kau satu-satunya yang ingin ku sentuh)


Kalimat itu membuat dirinya melayang jauh. Bahkan ketika Andrew menarik kedua tangan Diana dan menyatukan dalam borgol, Diana hanya bisa diam.


Hari ini Andrew benar-benar menggoda. Dia melayani Diana dengan begitu sempurna. Bahkan wanita itu harus menelan ludahnya sendiri ketika mengatakan harus puasa malam ini.


Andrew dengan begitu lembut membuka satu persatu kancing piyama Diana. Melepaskan kaitan bra yang kebetulan berada di depan. Perlahan dia meniupkan udara di permukaan kulit dada Diana yang halus. Tiupan itu menjalar keperut.


Perlahan Aandrew melucuti celana pendek dan kain segitiga istrinya. Dia kembali meniup kan udara dengan lembut.


Andrew mulai bereaksi mencium setiap jengkal tubuh Diana, meraba dan meremas setiap bagian tubuh wanita yang mengerang dan mendesah. Diana harus melupakan keinginannya untuk meraba tubuh Andrew, karena tangannya sudah di borgol. Keinginan itu membuat nafsunya semakin bergelora.


Dengan lembut Andrew menyatukan diri mereka dan menatap wajah istrinya yang semakin cantik ketika, mendesah dan terpejam.


Andrew berbisik lembut lagi di telinga Diana, "puasanya batal ya, sekarang malam jumat."


Diana tidak bisa membantah karena detik selanjutnya Andrew sudah menautkan bibir mereka dan mulai menggerakan pinggul Diana.


Mereka saling mengerang dan mendesah. Malam ini menjadi malam yang panjang penuh gairah

__ADS_1


...💗💗💗💗💗💗...


__ADS_2