Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Mengerjai balik


__ADS_3

Matilda menangis dengan lebih terisak mendengar perkataan Aaron. Dia ingin menunjukan pada mereka semua, jika air matanya asli, bukan air mata buaya. Meskipun dirinya juga bingung apakah buaya punya air mata ya?


"Lihat! Anak kecil saja bisa melihat jika kau suka berpura-pura!" Hardik Andrew dengan keras.


Semua pelayan yang ada di sekitar sana, bahkan nanny Maria juga merasa kaget. Tidak biasanya tuan mereka marah-marah pada pelayan. Jika marah pada pengawal itu sudah hal biasa.


Mereka heran, seberapa besar kesalahan yang dilakukan oleh Matilda. Padahal wanita itu cukup rajin. Setiap hari dia bangun yang setengah empat pagi, menyediakan segala keperluan anak-anak, terkadang masih sempat membantu koki di dapur, meskipun berharap dapat mencomot beberapa cookies.


Matilda baru kembali ke kamar nya dan beristirahat setelah anak-anak tidur dengan lelap. Terkadang Aaron berceloteh hingga tengah malam, jam sebelas malam dan Matilda tetap menemani bocah itu. Sesekali Diana menggantikan tugas Matilda jika Andrew membawa pekerjaan pulang, hingga lembur di dalam ruang kerja.


Matilda yang mendengar hardikan Andrew, menjadi gemetaran. Dia pertama kali mendapatkan amarah yang begitu besar. Tapi yang lebih membuatnya sedih adalah ketika anak-anak yang disayangi nya tampak membenci dirinya.


"Bibi Matilda kok cengeng sih, Francesca gak suka. Lihat bibi Maria gak nangisan. Baik, harum lagi." Ujar Francesca membandingkan.


"Iya daddy, bibi Matilda suka ngentut. Baukkkkk kaya eek, hoekkk." Aaron si tukang iseng, semakin membuat Matilda sedih.


"Sudah tua kok nangisan sih," tambah Conrad.


"Aaron, Franvesca dan kau Conrad tidak boleh begitu. Jangan tidak hormat dengan orang tua. Kasihan dia." Diana menghampiri Aaron dan menggendong si kecil menjahui Matilda.


"Matilda, pergilah ke kamar mu." Ujar Diana yang merasa kasihan dengan keadaan Matilda.


"Sekalian bereskan pakaianmu, Jika mood anak-anakku tidak membaik, besuk kau harus angkat kaki dari mansion ini." Andrew berbicara dengan nada sinis.


"Hikkss... baik tuan. Hijksss... maafkan bibi ya Aaron, jangan marah sama bibi ya. Nanti kita main petak umpet lagi." Bujuk Matilda berharap Aaron tergoyahkan hatinya.


"Ndak Mau! Bibi kalau cari Aaron lama ketemu nya." Cibir Aaron dengan sinis.


"Hiksss...Aaron, Francesca, Conrad jangan usir bibi yaaaaa... hikkkssss," Matilda meninggalkan ruangan dengan sedih.


*


"Kenapa kamu marah begitu keras dengan Matilda. Kasihan dirinya. Seharusnya kau bisa menenangkan anak-anak, bukannya marah sedemikian rupa, mengikuti provokasi dari Mereka." Ujar Diana dengan marah pada Andrew.


"Bukan begitu sayang, ini cuma..." Perkataan Andrew terpotong dengan ucapan Diana.


"Sudah tidak usah banyak bicara. Aku tidak perduli apa pun alasanmu. Saat ini aku marah dan kecewa dengan sikapmu." Kata Diana tanpa mau memandang wajah Andrew.


"Jangan marah duluu.. dengarkan penjelasanku," ujar Andrew dengan memelas.


"Sudah cukup! Tidak usah sok merasa bersalah! Nanny Maria, bawa Francesca ke kamarnya. Conrad masuk ke kamar juga dan merenung. Aaron juga masuj di kamar dengan mommy. Tidak ada yang bermain lagi. Semua tidur!" Diana memberikan perintah dengan tegas. Malam ini pukul sembilan malam, biasanya jika hari jumat dan sabtu malam, anak-anak boleh bebas bermain hingga malam.


"Lalu aku gimana?" Tanya Andrew dengan lemas.


"Urus saja dirimu sendiri." Diana mengacuhkan Andrew.


"Yanggg.... please jangan tinggalkan aku sendiri."

__ADS_1


Andrew mengikuti Diana yang membawa Aaron ke kamarnya. Aaron memandang kedua orang tuanya dengan heran. Dia bingung kenapa sekarang jadi mommy dan daddy nya yang bertengkar. Di depan pintu kamar Aaron, Diana menutup pintu dengan rapat sebelum Andrew sempat masuk.


"Yangg... Dianaku sayanggg... pleaseee ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ujar Andrew dengan putus asa.


"Masuk kamarmu!" Sahut Diana dengan keras dari dalam kamar Aaron.


"Ayooo... aku menunggu mu kembali ke kamar sama-sama yaa. " kata Andrew dengan penuh harap.


"Malam ini aku akan tidur dengan Aaron." Sahut Diana.


"Loh, aku bagaimana?"


"Tidur saja sendiri kan sudah besar!"


"Yanggg... pleaseeee.... " teriak Andrew dari luar pintu.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Andrew menunggu hampir setengah jam, tapi pintu tetap tidak terbuka untuknya.


Akhirnya dengan gontai Andrew masuk ke dalam kamar Conrad.


"Mommy masih marah?" Tanya Conrad.


"He. Eh." Sahut Andrew lemas.


"Tabahkan hati mu daddy. " kata Conrad dengan prihatin.


"Yeeeeeaaa kan daddy yang setuju juga untuk merahasiakan dari mommy." Balas Conrad.


"Heh! Mau kompakan dengan kalian, sekarang malah daddy yang kena imbas." Keluh Andrew dengan menyesal.


"Minggir, daddy tidur disini." Andrew meminta Aaron menggeser tubuhnya.


"Aaahhhh tidak mau. Daddy bubuk di kamar daddy sendiri saja." Tolak Conrad.


"Gak mau. Ga ada mommy, jadi merasa sepi di sana." Tolak Andrew sambil berbaring di sisi Conrad.


"Ahhhhh daddy! Iiìiii sempit deh." Conrad kesal sekali karena badan besar Andrew sudah terbaring disisi nya.


"Daddyyyyy aku bukan mommy. Ihhhh geli tau!!!" Jerit Conrad ketika tangan Andrew memeluk nya.


"Maaf kebiasaan. Lagian apa salahnya daddy memeluk anak sendiri." Sahut Andrew tanpa merasa bersalah


"Kaya gini terus bisa-bisa jadi kaya teman momny, si Maya." Keluh Conrad dengan kesal.


"Cuma semalam saja. Jangan sampai kamu jadi kaya Maya ya, bisa daddy kurung kamu seumur hidup." geram Andrew kesal.


"Tapi Maya kan baik dan cakep." ujar Conrad cengegesan.

__ADS_1


"Bicara Maya lagi, daddy bungkus kamu dengan selimut." Geram Andrew dengan kesal.


Akhirnya kamar itu menjadi sunyi senyap. Conrad masih mengkerdipkan mata nya dengan kesal. Dia sulit tidur karena berkali-kali harus melepaskan diri dari pelukan Andrew.


"Mommy kok bisa tahan ya tidur sama daddy." Keluh Conrad dengan kesal.


Sementara itu di dalam kamar Aaron, Diana merebahkan diri dengan memeluk si kecil tukang iseng itu.


"Mommy, jangan malah sama daddy. Kasihan daddy. Daddy cuma pula-pula kok malah sama bibi Matilda." kata Aaron dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya mommy tau sayang. Aaron tidak perlu sedih ya. Mommy gak marah kok sama kalian." Dengan lembut Diana menenangkan Aaron.


"Mommy tidak malah sama daddy dan Alon?"


"Iya. "


"Mommy tidak bubuk sama daddy?"


"Mommy lagi kangen sama Aaron. Bolehkan mommy bubuk memeluk Aaron?"


"Iya boleh-boleh." Dengan senang Aaron masuk kedalam pelukan ibunya.


Diana tersenyum hangat dan menciumi pucuk kepala Aaron. Akhirnya dia merasa senang bisa mengerjai balik si Andrew. Dan juga setidaknya hari ini hukuman buat Andrew, karena membuat dirinya gagal puasa bercinta.


*


Sementara itu di dapur, tampak cheft Paul masih sibuk membuat kue tart. Dapur terasa sepi dan hanya dirinya yang sibuk sendiri.


Saat ini tampak dirinya sibuk menghias kue tart dengan menaburkan banyak m&m dan permen jelly.


Seorang pelayan masuk ke dapur dan merasa heran dengan aktifitas cheft Paul.


"Kenapa masih sibuk, cheft?"


"Iya pesanan Aaron mendadak ini."


"Apa Aaron ulang tahun besuk?" tanya nya yang heran karena tidak ada persiapan apapun dari para pelayan.


"Bukan, dia bilang minta dibikin kan kue, untuk merayakan kepergian Matilda." ujar Cheft Paul dengan sedih.


"Astaga! Jadi benaran gosip kalau Matilda di berhentikan?" Pelayan tersebut terperanjat.


"Begitulah." ujar Cheft Paul dengan sedih.


"Aku harus memberi tahu yang lain." pelayan itu dengan cepat pergi ke rumah belakang tepat para pelayan tinggal dan menyampaikan kabar tersebut. Akhirnya semua pelayan sibuk menenangkan Matilda yang menangis meraung-raung.


...😂😂😂😂😂😂😂😂😂...

__ADS_1


__ADS_2