
"Bagaimana bayi itu bisa berada di panti asuhan? " Tanya Andrew saat pulang kerja.
Diana menceritakan apa yang dia ketahui tentang Velina dari pasangan Ron. Diana juga menceritakan mengenai wanita dengan sayatan pisau di perutnya, ketika membawa Velina sampai di rumah pasangan Ron.
Andrew mendengarkan semua hal itu dengan cermat. Dia mengamati expresi dari wajah Diana yang tampak begitu berseri ketika menceritakan bayi bernama Velina tersebut. Istrinya yang polos tanpa prasangka itu, bahkan tidak ingin mencari tahu siapa orang tua Velina sesungguhnya, dia hanya berpikir jika Velina adalah anak terlantar dari seorang imigran gelap.
"Jadi bagaimana, apakah boleh aku membawanya kemari?" Tanya Diana penuh harap.
Andrew menggelengkan kepalanya. Diana menatap sedih dan penuh tanda tanya pada suaminya. Andrew biasanya selalu berbelas kasih dan menuruti permintaan dirinya, tetapi tampak berbeda kali ini.
"Tapi kenapa? Anak itu begitu cantik dan dia memanggilku mama, artinya mommy. Hanya kepadaku dia seperti itu. Bukankah itu sangat menyentuh?" Tanya Diana dengan wajah berharap.
"Pergilah ke sana dan lihatlah anak itu. Dia begitu cantik dan menggemaskan. Kau akan langsung jatuh cinta padanya. " Diana masih mencoba merayu Andrew.
Andrew masih menggelengkan kepalanya, bersiteguh pada keputusannya.
"Tidak. Kita tidak akan mengadopsi siapapun lagi. " Ujar Andrew tegas.
Suami tampannya itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, Andrew berpikir keras. Dia merasa pernah melihat tanda tersebut. Tanda itu tampaknya adalah simbul suatu kelompok tertentu.
Semakin lama Andrew berpikir, dia masih tidak menemukan jawaban dimana simbol itu dia lihat. Tetapi hal yang mengusik hatinya adalah simbol naga memeluk pedang sambil menyemburkan api. Itu pertanda kekuasaan yang tinggi.
Andrew menolak Diana membawa Velina, karena sesungguhnya dia khawatir dengan keluarganya. Dia takut jika Velina keberadaan Velina di tengah keluarganya, akan membawa dampak buruk bagi anak dan istrinya. Keberadaan nya sangat misterius bagi Andrew, hingga cara bagaimana bayinitu terdampar di panti asuhan merupakan hal yang mencurigakan.
Andrew takut, jika membawa Velina tinggal bersama nya, maka akan membuat kelompok apapun yang mengincar bayi itu, ikut membahayakan keluarganya. Bagi Andrew keberadaan Velina lebih aman berada di panti asuhan, dimana banyak anak yang seusianya di sana.
Keluar dari kamar mandi, dirinya masih di todong dengan wajah Diana yang tampak memelas. Wanita hamil itu tampaknya pantang menyerah. Dia sambil mengusap perutnya memandang Andrew penuh harap. Andrew tahu trik itu, mengusap perut sambil memandang dengan wajah sendu, Diana ingin Andrew mengalah.
"Sudah tidak usah merayuku lagi. Keputusanku tetap tidak. Ingat sebentar lagi dirimu akan di sibukan dengan tiga bayi lagi. Belum lagi bayi nomor tiga kondisi tubuhnya kurang bagus. Akan lebih baik bayi Velina tetap di panti asuhan. Mereka lebih bisa memperhatikan dan merawatnya. Di rumah ini tangan mu sudah penuh. Bahkan aku khawatir kau tidak bisa membagi waktu antara ke enam anak dan diriku. " Ujar Andrew dengan tegas.
Perkataan Andrew menyurutkan keinginan Diana untuk membantah. Memang benar, dirinya saat ini akan segera melahirkan. Dan hal itu juga tidak dapat membuat dirinya perhatian dengan Velina. Diana harus mengakui, jika keinginannya terlalu gegabah. Beruntung sekali Andrew sangat bijaksana.
Diana berbaring miring sambil memeluk bantal, sementara tangannya membelai rambut-rambut halus yang tumbuh di wajah dan dagu Andrew. Mengusapnya dengam lembut dan berakhir di bibir Andrew.
__ADS_1
"Hentikan. Tindakan mu bisa menyulutkan bara dalam diriku. " Ujar Andrew ketus.
"Aku akan membantu memadamkannya, asal jangan lama-lama, tanganku pegal. " Ujar Diana sambil mengerdipkan matanya.
"Berhenti menggodaku. Kau tahu sudah berapa lama aku puasa. "
"Hahahaha, baru berapa hari yang lalu, tanganku terasa kebas karena mu. " Sahut Diana menggoda.
"Huh! Kau tahu sendiri berapa lama aku bertahan di dalam sana, jangan dibandingakan dengan tangan tentu saja kenikmatannya berbeda. Sudah! Jangan menggodaku. Aku masih harus berpuasa dua buan lagi. Oh My God. Jangan sampai hamil lagi setelah ini. "
Andrew membalikan tubuhnya memunggungi Diana. Semenjak istrinya hamil tua dengan perut super besar, Andrew berkali- kali menahan hasrat dirinya. Dia tidak ingin keinginannya, mengusik janin di perut Diana.
Brak..brakk...brakkk...
Suara pintu kamar di pukul dengan keras. Andrew langsung bangun dari tidurnya. Dia bergegas berjalan menuju ke pintu. Ketika di buka adalah hal yang membuatnya tertawa.
Di depannya adalah Aaron dengan piyama dan boneka harimau lucu kesayangannya. Francesca dengan menggendong boneka teddy bear, yang dia dapatkan pertama kali dari Andrew. Boneka baru pertama yang dia miliki saat itu, selalu menjadi boneka kesayangannya.
Kedua anak ini, menyeruak masuk tanpa permisi ataupun menyapa ayahnya. Mereka langsung menuju tempat tidur dan menempel pada Diana. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba kedua bocah itu bersikap super manja.
"Iya mommy, kami kangen mau tidur bersama mommy." ujar Aaron menambahkan.
"Tentu saja sayang. Kalian berbaringkah di sisi ini ya, mommy tidak bisa menegah dan tidur terlenatang." sahut Diana sambil menepuk sisi kasur tempat Andrew tadi berbaring.
"Iya mommy. Asal berada di dekat mommy." Aaron mengambil posisi di dalam, paling dekat dengan Diana.
"Kenapa kalian tidak tidur di kamar sendiri?" tanya Andrew yang melihat jatah tempat tidur nya menjadi semakin sempit.
"Duh, daddy jangan protes saja deh! Tiap hari juga daddy bubuk sama mommy, kita tidak pernah protes." sahut Aaron ketus.
"Iya daddy ini. Please dong mengalah sama anak sendiri, apa susahnya sih?" tambah Francesca.
Andrew hanya bisa bengong mendapat serangan bersamaan dari dua kurcaci kecil itu.
__ADS_1
"Iya dah. Daddy tidur di sini. Kita berempat saling berpelukan." ujar Andrew bagaikan iklan film kartun boneka.
"Mommy, nanti kalau ada adik bayi harus beri kesemparan pada Aaron dan Francesca buat tidur sama mommy yaaa." ujar Aaron yang paling takut kehilangan perhatian ibu nya.
"Tentu saja."
"Habis ini, Aaron tidak mau punya adik lagi. Aaron sudah harus berbagi mommy dengan banyak orang. Nanti perhatian mommy ke Aaron berkurang." tegas Aaron lagi.
"Nah, itu daddy setuju." sahut Andrew. Diana tertawa geli tidak disangaka Ayah dan Anak hari ini memiliki pemikiran yang sama.
"Iyaaa, mommy juga capek. Dengar ya daddy, tidak ada adik lagi. Jangan ajak mommy mencari adik lagi." skak matt dari Diana.
Andrew tidak dapat protes banyak. Perbincangan bisa menjadi tidak bermoral dihadapan anak-anak.
"I love You Mommy. I love You daddy. Good Nite." ucap Aaron dan Francesca bersamaan.
*****
Keesokan harinya di pagi hari, Matilda dan Maria masuk ke kamar Aaron dan Francesca. Masing-masing dari mereka akan membangunkan kedua anak kecil tersebut, membantunya mandi untuk ke sekolah.
Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui kamar tersebut kosong. Matilda keluar dari kamar Aaron dengan pucat pasi, begitu juga Maria saat keluar dari kamar Francesca.
"Hilang lagi, Alamakkkkk.... Gawattttt." ucap mereka serempak.
Dan Maria berlari kerarah rumah keamanan, Sedangkan Matilda berlari mencari Cheft Paul.
...ππππππππ...
Pecinta Lia dan Jason, jangan bingung yaaa..
Cover Novel 48 Months Agreement with CEO diganti oleh pihak NT.
Terlalu sexy mungkin foto Jason di cover π€£
__ADS_1