
"Lihat dia mengerti minuman ini." tunjuk Lia kepada Jason ketika Briant tanpa banyak komentar menegak minuman yang diberikan oleh Lia.
"Apa juga hebatnya cuma tau minuman itu." sahut Jason dengan kesal.
Tentu saja dia merasa kesal, karena dirinya adalah pewaris kerajaan bisnis minyak dan batu bara harus di bandingkan dengan Briant yang hanya merupakan tangan kanan Andrew, bagi Jason itu tidak setara. Apalagi yang membandingkan bukanlah wanita konglomerat ataupun politikus, tapi hanya seorang anak gadis lulusan sekolah hukum, dan parahnya lahi hal yang dia bandingkan hanyalah sebuah kaleng minuman dengam harga beberapa dolar saja.
"Itu artinya meskipun dia menjabat posisi penting, dia tidak pernah lupa menengok kebawah." puji Lia sambil menepuk lengan Briant.
Briant hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Lia. Dia bisa melihat Jason yang merasa jengkel.
"Sudah! Terlalu lama di tempat ini aku bisa jadi kucing liar." kata Jason yang kemudian berdiri dan melangkah pergi
"Hei! Jangan ganggu kakak ku." teriak Lia.
"Tenang saja aku hanya akan mengganggu Andrew." sahut Jason tanpa membalikan badannya.
"Ada apa dengan kalian, kenapa harus bersikap kasar padanya?" Briant tampak heran dengan sikap Lia yang tampak berbeda dengan Jason.
"Tidak apa-apa hanya sebel saja setiap melihat dirinya." Lia membereskan ponselnya dan menyimpan earphone kedalam dompet kain kecil kemudian meletakan kedalam tas nya.
"Bother Briant apakah tinggal di mansion brother Andrew juga?" tanya Lia sambil menatap Briant yang kembali sibuk dengan smartphone nya.
"Sesekali saja."
"Apakah rumah brother jauh?"
"Ada di pusat kota."
"Dekat dengan kantor pusat?"
Briant hanya mengangguk. Lia ingin bertanya lagi tapi mengurubgkan niat nya karena Briant tampak lebih memperdulikan pesan-pesan di ponselnya daripada pembicaraan mereka. Sesekali kening Briant berkerut membuat Lia menjadi gemas ingin mengusapnya.
"Lia." suara Diana memanggil dirinya.
"Loh, kakak kenapa disini?" Lia menatap dengan heran.
"Kok heran, kakak habis usg."
"Loh, bukannya tadi di kamar..."
"Dikamar kenapa?" kali ini Andrew yang bertanya.
"Enggak... enggak apa-apa, hehehe." Lia terkekeh sendiri.
"Apa kakak bertemu dengan Jason?"
"Jason?"
__ADS_1
"Apa yang dilakukan orang itu disini?!" tanya Andrew dengan nada tidak suka.
Lia mengangkat bahu sambil bergumam sendiri, "artinya mereka belum bertemu. Lalu kemana perginya lalat buah itu?"
Andrew segera mendorong kursi roda Diana kembali ke kamar pasien. Sebetulnya Diana menolak menggunakan kursi roda tapi Andrew memaksa dan dia mengancam akan menggendong Diana apabila wanita itu menolak. Akhirnya dengan terpaksa Diana menuruti, membuat dia merasa benar-benar seperti orang sakit parah.
Sesampai nya di dalam kamar, Andrew tampak berang melihat Jason dengan tenangnya duduk di sofa dan asyik menonton acara televisi.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Ketika mendengar suara Andrew dengan tenangnya jason menurunkan kakinya dari sofa dan meletakan remote tivi.
"Kau sudah datang? Aku sudah menunggu lama." ucap Jason dengan langsung memandang Diana tidak menghiraukan Andrew.
"Kenapa dia bisa masuk, aku harus menghukum pengawal di depan, tidak becus!" Langakah Andrew terhenti ketika Diana memegang lengannya dan menggelengkan kepala. Wanita ini tidak ingin ada keributan hanya untuk hal yang sepele. Apalagi baginya Jason bukanlah orang yang jahat.
"Kau selalu seperti ini, terlalu baik." Andrew mengecup rambut Diana seraya milirik tajam kepada Jason seakan-akan mengatakan, wanita ini milikku!
Jason tampak tidak perduli dia hanya menyeringai tipis melihat perbuatan Andrew. Dia tetap maju dan berlutut dihadapan Diana.
"Bagaimana bayi kita, apa dia baik-baik saja?"
"Jason jangan berbicara yang tidak-tidak atau aku tidak akan berteman denganmu lagi!" kali ini Diana bersikap tegas menanggapi ucapan Jason yang sudah melampaui batas baginya. Andrew menarik mundur kursi roda Diana menjauh dari Jason.
"Okey, baiklah. Bagaimana dengan bayi mu? Kau sudah bisa melihat jenis kelaminnya?" tanya Jason dengan antusias.
"Bayi kalian. Ingat Jason kau tau bayi ini milik Andrew juga, jadi kau harus mengucapkan bayi kalian." Diana kembali memperingatkan Jason dengan tegas tentang status bayi yang dia kandung.
"Bayi kami baik-baik saja. Dia bayi laki-laki." ucap Diana dengan mata berbinar sambil memandang Andrew. Andrew kembali menunduk dan memberinya kecupan-kecupan lembut di bibir.
Jason merasa jengah dia berdehem.
"Ah, lalat buah bisa sakit tenggorokan juga ternyata." Lia yang baru saja menyusul kedalam langsung mengkomentari Jason.
Jason hanya melirik sekilas pada Lia yang masuk bersama Briant.
"Kau pulang hari ini kan?" tanya Jason kembali pada Diana.
"Iya. Aku akan pulang bersama Andrew." jawab Diana dengan mantap.
"Kau yakin akan pulang bersama nya?"
Diana mengangguk mantap dengan pertanyaan Jason.
"Kau tahu lebih berbahaya untuk tinggal bersama dia." Jason tampaknya masih berusaha mempengaruhi pilihan Diana.
"Tenang saja ada aku yang menjaga kakakku." Lia menyela pembicaraan mereka.
__ADS_1
Jason masih tidak memperdulikan Lia. Pandangannya masih menatap pada Diana yang sedang membereskan nakas dibantu Andrew.
"Aku akan mengantar mu kembali." Jason kembali menawarkan bantuan
"Tidak perlu Jason, Andrew ada disini. Kami akan pulang bersama." Diana menolak dengan lembut.
Jason diam. Dia hanya menatap kepasangan di hadapannya tanpa expresi.
"Belajar merelakan ya lalat buah, berbesar hatilah." bisik Lia dibelakang punggung Jason. Jason akhirnya hanya melengos dan keluar dari ruangan tanpa permisi.
"Kau terlalu baik pada semua orang, sayang. Mereka bisa menyalah artikan kebaikanmu." protes Andrew setelah Jason pergi.
"Aku tidak ingin menambah musuh, Andrew. Lebih baik memiliki banyak teman yang saling mendukung." jawab Diana lembut.
"Kau harus selalu tegas menghadapi setiap orang agar mereka tidak memanfaatkanmu, kakak ipar." Briant ikut unjuk bicara.
"Kalian tau kakak ku dari dulu ya begini baik banget. Ingat brother kau harus menjaga dan mencintai dia seumur hidupmu." Lia memeluk Diana dengan pandangan mata tajam ke arah Andrew.
"Iya bodyguard kecil, aku paham." jawab Andrew pada Lia.
"Sudah ayo kita pergi dari sini. Aku rindu suasana kamar dan aroma rumah." Ajak Diana sambil menenteng tas Hermes nya.
Briant segera membuka pintu dan memerintahkan pada pengawal untuk membawa barang-barang.
Rombongan mereka berjalan menuju ke loby dan sebagian pengawal menuju basement untuk mengambil mobil.
Diana menolak menggunakan kursi roda dan melarang Andrew menggendongnya. Dia berjalan sambil memeluk lengan Andrew. Tampak kebahagiaan di raut wajah mereka masing-masing. Sementara Lia sesekali mencuri pandang pada Briant.
Sesampainya di Lobby mereka melihat Jason sedang termenung di lobby rumah sakit. Diana hendak menyapa tapi dilarang oleh Andrew.
Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah mereka tepat ditengah-tengah Lobby.
"Suamiku, aku rindu padamu." seorang wanita dengan suara yang menahan isak tangis berbicara sambil memeluk erat Andrew dari belakang.
"Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu."
ππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
__ADS_1
Terimakasih.
Salam sayang π