
Langkah Andrew yang hendak kembali ke ruangan dimana Diana dirawat, terhenti oleh sosok yang tidak ingin dia temui. Duri yang harus dicabut sampai keakar-akarnya.
"Lihat apa hasil perbuatanmu, suamiku meninggal dan anakku sekarat." cerca Isabella Doris ibu dari Rachel. Wanita itu matanya masih sembab, sedangkan Bertha yang ada disisinya hanya memandang Andrew dengan sorot mata penuh kebencian.
"Kau bahkan tidak sedetikpun meluangkan waktu untuk melihat Rachel yang sekarat karenamu!" suara nyonya Isabella mulai sedikit meninggi.
"Seharusnya aku tidak membiarkan Rachel menikahimu, seharusnya Bill tidak perlu membantu keluargamu dengan kebangkrutannya!" desis Isabella lagi dengan emosinya.
"Aku menyesal memiliki menantu sepertimu!" suara penuh emosi dari Isabella tiba-tiba melengking tinggi membuat lorong yang dipenuhi perawat dan pengunjung menoleh pada mereka.
Andrew tidak menghiraukan perkataan mereka. Dia sudah merasa malas berurusan apalagi beradu mulut dengan keluarga Rachel. Dia menoleh kedalam ruangan dimana Rachel terbaring penuh dengan alat bantu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Andrew pada perawat yang berada disisi Rachel.
"Sekarang kau baru bertanya keadaannya, huh!" Gerutu Isabella lagi
"Kau benar-benar pria tidak tahu malu lebih memperhatikan wanita simpanan yang menyakiti hati anakku."
Melihat adanya perselisihan, perawat tersebut memperingatkan kalau pasien dalam keadaan kritis perlu ketenangan, dia kemudian meninggalkan mereka yang masih saling bertatapan tajam penuh dengan kebencian.
Andrew menatap tajam pada Isabella. Dia tidak suka dengan istilah yang digunakan oleh wanita itu untuk Diana. Apa hak dia menilai Diana sedangkan apa yang diperbuat oleh keluarga mereka lebih hina dan kejam.
"Anakmu sudah menculik dan menyakiti wanita yang aku cintai. Dan hal itu belum aku perhitungkan!" balas Andrew dengan kesal.
"Belum lagi apa yang dilakukan oleh suamimu! Karena mereka berdua, Diana dan anakku menjadi korban."
"Dia pantas menerimanya karena dia perebut suami orang." Bertha buka suara menghina Diana.
"Lalu bagaimana dengan dirimu, apakah kau juga bukan wanita ketiga, berapa banyak pria yang menjadikanmu wanita simpanan, haruskan aku memberitahu suamimu?" gertak Andrew pada Bertha yang mana langsung membuatnya terdiam dan melengos kesal.
Andrew tersenyum sinis, sikap Bertha menunjukan bahwa hasil penyelidikan anak buahnya adalah benar. Bertha bukan saja berhubungan dengan ayah kandungnya tetapi juga melakukan hubungan tersembunyi dengan beberapa pria kaya dimana pria tersebut akhirnya akan berinvestasi pada bisnis keluarga Willingthon.
"Bertha tidak ada urusannya dengan masalahmu. Kenapa kau harus menghina dia." nyonya Isabella menghardik Andrew. Wanita tua itu berusaha membela anaknya.
"Maka jangan hina wanitaku!" balas Andrew tajam.
"Kau menantu tak tahu diuntung! Aku akan buat perhitungan dengan mu!" seru Bertha dengan marah.
"Aku yang akan terlebih dahulu membuat perhitungan dengan keluargamu atas penculikan, penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Meskipun suamimu sudah meninggal, pelaku utama percobaan pembunuhan terhadapku, Diana dan anakku proses hukum tetap akan terus berjalan!" balas Andrew dengan tegas dan tenang.
__ADS_1
"Itu hanya usaha pembelaan diri yang dilakukan oleh Bill." ucap Isabella buru-buru. Dengan keadaan keuangan perusahaan mereka yang sedang terguncang, akan bertambah berat jika kasus ini sampai pada pengadilan dan harga saham mereka akan jatuh drastis bila tersenar ke media masa. Itu sebabnya hingga saat ini mereka tidak berani melakukan tindakan apaoun untuk melawan Andrew.
"Aku tidak akan menuntut dirimu karena sudah menjadikan Rachel tumbal untuk melindungi dirimu, tapi jangan coba-coba ambil harta Ra hel." kata Bertha.
"Heh?!" Andrew menaikan satu alisnya.
"Jadi yang kalian ributkan adalah harta Rachel. Ambil semua kecuali saham kapal pesiar. Dan semua saham kapal pesiar yang dimiliki keluarga kalian harus kalian serahkan kembali pada ku."
"Dan ingat! Aku yang seharusnya menuntut keluarga kalian!" ucapnya dengan emosi.
"Dalam beberapa hari pengacaraku akan mendatangi kalian. Bersiap-siaplah." ancam Andrew sebelum meninggalkan ibu dan anak yang sedang menggeram.
Mual dan muak rasanya melihat mereka yang tidak tahu malu. Meskipun sempat dalam hatinya terenyuh dengan pengorbanan Rachel, tetapi seketika pupus mengingat darimana Rachel berasal dan sifatnya terbentuk.
Pengorbanan Rachel yang menyelamatkan dirinya dari tembakan Bill, kini dia anggap sebagai bentuk penebusan dosa setelah apa yang dilakukan ayah dan anak itu kepada Diana dan bayinya. Dan Andrew tidak akan berhenti sampai disitu saja, dia sudah berniat menghancurkan keluarga itu.
Sesampainya di ruangan tempat Diana dirawat, Andrew melihat Briant yang masih duduk di ruang tamu. Dia segera menghampiri Briant dan memerintahkan pria itu untuk menggunakan pengacara mereka menghancurkan keluarga Rachel.
"Semua sisa saham kapal pesiar yang mereka miliki harus kembali kepada kita." kata Andrew dengan ketus.
"Apa kau bertemu dengan keluarga Rachel?" tanya Briant sambil mengernyitkan keningnya saat Andrew tiba-tiba datang dengan membicarakan mengenai saham.
Andrew mengangguk.
Briant mengangguk. Dia mengerti.
Briant tidak menunggu lama, pria yang tidak banyak bicara itu segera pergi dan melaksanakan perintah Andrew. Bahkan dirinya sendiri sudah ingin mencincang habis keluarga Willingthon.
Andrew masuk dan mendapati Lia sedang bersama Diana yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Gadis itu tampak membelai lembut rambut Diana dan bersenandung lirih di telinganya.
Andrew tidak ingin mengganggu, dia duduk di sofa bagian dalam.
Lia tampaknya menyadari kehadiran Andrew.
"Brother, bagaimana kau sudah melihay baby Aaron?" tanya Lia padanya.
Andrew mengangguk.
"Bagaimana kau tahu kami akan menamai dia Aaron," tanya Andrew dengan penasaran.
__ADS_1
"Kakaku yang menceritakan. Dia sengaja menggodamu berhari-hari lamanya dengan tidak menyetujui nama yang brother pilih. Padahal kakak sudah jatuh cinta pada nama itu sedari awal." ucap Lia lirih sambil tersenyum tipis.
Andrew tersenyum sedih. Saat ini seharusnya dia sedang menggoda Diana yang sedang menyusui anaknya. Memeluk mereka berdua dengan penuh cinta. Tapi sayang kenyataannya berbeda.
"Apakah dokter datang memerikasa keadaan Diana?" tanya Andrew.
"Iya. Dokter mengatakan masa kritis kakak akan selesai dalam kurun waktu tiga jam lagi. Semoga semua baik-baik saja." sahut Lia.
Andrew mengangguk-angguk.
"Brother makanlah."
Andrew menoleh kearah meja yang terdapat beberapa kotak chineese food. Dia pria yang hampir tidak pernah makan sesuatu di dalam box, semua harus tertata rapi di piring dan meja.
"Jason memesannya untuk kita. Aku akan memindahkannya di piring." ucap Lia yang melihat sikap risih Andrew.
Lia menyadari, selama ini kakaknya sudah amat sangat memanjakan Andrew dan begitu memperhatikan dirinya.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya." sahut Andrew yang segera mengambil sumpit dan mulai membuka box makanan terebut.
"Jason tampaknya perhatian denganmu." kata Andrew tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan. Dia baru menyadari kalau perutnya sangat kelaparan.
Lia mendengar perkataan Andrew, tapi dia tidak mengindahkannya. Sebuah pernyataan yang tidak memerlukan jawaban.
"Butler Jhon akan mengirim makanan untuk malam hari. Dan Conrad serta ayahmu menitipkan pesan, agar brother juga harus menjaga kesehatan." kata Lia lagi sambil tetap mengusap lengan Diana.
"Apakah kau menghubungi mereka?"
"Iya." jawab Lia lirih.
Kemudian Lia mendekatkan diri nya dan berbisik ditelinga Diana.
"Kakak, kau harus segera bangun dan sehat. Lihat brother Andrew dia tampak berantakan. Bahkan makan dari box saja dia tidak tahu caranya. Kau tahu, aku baru menyadari, pria itu tidak bisa apa-apa tanpa dirimu. Kakak, anak mu baby Aaron dia menangis kuat mencari dirimu. Kau harus cepat sadar ya, double A memerlukan dirimu. Kakak, kami tidak bisa hidup tanpa dirimu." ucap Lia lirih sambil menahan tangisan.
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Dianaaaa ayo cepat sadarrr
Kasihan baby Aaron dan Andrew.
__ADS_1