Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Bakso Panggang


__ADS_3

Kesibukan tampak di Mansion Andrew. Besuk adalah ulang tahun si tuan muda kecil Aaron yang ke empat tahun. Bocah kecil itu merasa senang sekali, karena semua pusat perhatian hanya akan berpusat pada dirinya. Dan dalam sehari lagi, dia akan menjadi pangeran dalam semalam.


Seperti keinginan Aaron, pesta akan dilakukan di kebun. Pesta terbuka dimana dia akan bisa bermain dengan teman-temannya. Sebanyak seratus undangan sudah dibagikan. Tergolong sedikit memang dibandingkan dengan perayaan pesta dikalangan perumahan mansion ini.


Balon warna-warni sudah menghiasi setiap sudut kebun. Para pelayan sibuk memastikan souvenir sudah tersedia. Souvenir ala bangsawan bukan lah main-main. Setiap anak akan mendapatkan tas branded.


Area yang paling sibuk tentu saja dapur. Selama beberapa hari ini, persiapan sudah di rencanakan. Cheft Paul dengan bersemangat membuat tema cake Paw Patrol yang sangat diinginkan oleh Aaron.


Diana tidak terlalu ambil bagian dalam persiapan. Ada event organizer yang sudah bertugas. Kehamilan triplet ini membuat dirinya tidak lagi bebas bergerak. Dia lebih sering merasa letih. Usia kandungan ini baru memasuki bulan ke empat. Entah seberapa besar rasa letihnya jika kandungan memasuki usia tua.


Hari ini Grisella berkunjung ke mansion. Sahabatnya itu berjanji akan menginap di sana dan merayakan ulang tahun Aaron keesokan harinya. Sesama ibu hamil itu duduk di taman sambik memperhatikan kesibukan para pelayan.


"Lihatlah perutmu. Kau baru hamil Empat bulan, sudah hampir menyerupai mereka yang hamil enam bulan." Ujar Grisella sambil mengelus perut Diana.


"Kau benar Grisella. Luar biasa bukan? Saat ini saja aku sudah merasa berat. Entah bagaimana di saat hamil tua." Ujar Diana sambil tersenyum kecil.


"Setidaknya kau harus bersyukur. Sekali hamil dapat tiga. Dan kau tidak perlu hamil lagi setelahnya." Ujar Grisella tertawa kecil.


"Benar setelah ini, aku harus menjalani KB." Diana tertawa.


"Hahahhah, kau masih muda, masih bisa menambah lagi loh. " Grisella menggoda Diana.


"Gila. Enam anak sudah lebih dari cukup." Mata Diana membulat mendengar gurauan Grisella.


"Hahahhahaha aku pikir kau akan kembali ke jaman dulu, memiliki sembilan sampai sepuluh anak." Lagi Grisella menggoda Diana sambil tertawa lebar.


"Oh tidakkkk... bagian tersulit adalah membesarkan mereka. Terkadang aku khawatir, nuka diriku tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengenal masing-masing anakku. Bagaimana cara nya aku membagi perhatian pada mereka semua, tanpa membuat mereka iri hati." Keluh Diana.


"Kau berpikir terlalu jauh, Diana. Otak mu bisa pecah karenanya, hahahaha. Jalani saja, seiring waktu kau pasti bisa. Bukannya dirimu sudah menjadi ibu yang luar biasa untuk ketiga anak itu. Aku yang semestinya harus belajar banyak padamu. Lihat milikku cuma satu." Ujar Grisella sambil membelai perutnya.


Usia kandungan Grisella saat ini sudah delapan bulan. Dan hanya sebulan lagi di akan menjadi seorang ibu. Tentu saja Grisella sudah mempersiapkan semua nya, Kehamilan di usianya yang sudah tiga puluh tiga tahun tentu sangat berarti.


"Bayi mu laki-laki bukan?" Tanya Diana.


Grisella mengangguk.


"Apakah kau berencana memiliki anak lagi?" Tanya Diana lagi.


"Jika bisa sebelum usia ku tiga puluh lima aku ingin memiliki anak perempuan." Jawab Grisella


"Lalu bagaimana dengan kandunganmu, kau sudah mengtahui jenis kelamin nya?" tanya Grisella pada Diana.


"Iya. Dua perempuan dan satu laki-laki."


"Jadi kau akan memiliki tiga anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Hahahahaha luar biasa."


"Bagaimana kalau kita menjodohkan anak-anak kita? Anak perempuanku kelak mungkin dengan Aaron dan anak laki-laki ku ini, untuk seorang dari bayi kembarmu. Bagaimana? Deal?" Ujar Grisella merajuk.


"Hahahhaha ide lucu, boleh juga. Tapi jika mereka menolak, kita tidak boleh memaksa ya. Kasihannn jika mereka harus mengikuti ide gila kita." Sahut Diana.


"Iya aku mengerti. Cukup kita sering-sering aja deketin mereka semenjak kecil. Siapa tahuuuuu benih-benih cinta muncul dengan sendirinya."


"Tadi kau bilang aku yang berpikir terlalu jauh, tapi sekarang malah dirimu yang berpikir lebih jauh lagi." Kelakar Diana pada sahabat wanita satu-satunya yang dia miliki dikawasa elit ini.


"Benar juga. Jika mereka dewasa artinya kita sudah tua dong. Ah! Gak mau dah keburu tua. Masih mau menjalani nikmatnya menjadi mama muda." Ujar Grisella meralat ucapannya.


"Belum tahu yaaa rasanya dirimu... ketika kau memeluk anak mu dalam dekapan. Kau tanpa sadar akan berkata, jangan cepat besar ya nak. Mommy masih mau menggendong dan memelukmu. Karena saat mereka sudah lebih besar seperti Conrad, mereka akan sibuk dengan dunia nya sendiri." ujar Diana sambil memandang pada Conrad yang asyik membaca buku.


"Benar sekali. Sekarang saja aku sudah sangat menyayangi anak ini." Grisella mengusap lembut perutnya yang sudah membuncit.


"Katakan padaku, bagaimana kabar Lia?" tanya Grisella mengalihkan pembicaraan.


Diana menarik nafas panjang. Lia.... jujur saja dia sangat merindukan Lia. Jika saja dirinya tidak sedang hamil saat ini, Diana akan meminta Andrew untuk mengantarnya pada Lia di Paris, melupakan semua perjanjian dengan Jason.


"Lia... dia sudah bahagia dengan Jason di Paris." ujar Diana dengan yakin.


"Ah.... aku lega mendengarnya." Grisella tampak menarik nafas lega.


"Kau masih merasa bersalah pada Lia?" tanya Diana.


"Terkadang. Jika dia tidak bahagia, mungkin aku akan mengutuk diriku sendiri. Kau tahu bukan, jika aku menyayangi Lia seperti adikku sendiri." Mata Grisella menatap Diana dengan sendu.


"Tentu saja aku tahu kau menyayangi adik ku yang bandel itu. Kau tidak perlu merasa bersalah. Lia sudah bahagia sekarang. Lepaskan rasa bersalahmu. Jika kau melepas Briant, maka Briant yang hidup sengsara dengan Lia. Dan mereka akan lebih sengsara lagi jadinya. Ingat itu." nasihat Diana dengan tersenyum tulus.


Diantara adik dan sahabat, Diana berusaha berlaku adil. Dia tidak akan mengorbankan siapapun demi menyenangkan adiknya. Dan mesti awalnya tampak begitu menyedihkan, tetapi saat ini mereka semua bisa bahagia.

__ADS_1


"Terimakasih." ujar Lia sambil menyentuh tangan Diana hangat. Mereka saling tersenyum penuh persahabatan.


"Halloo.. halllooooo...." suara wanita terdengar mendekat.


"Hai Yoora, kemarilah." sapa Diana ramah.


Tampaknya Yoora datang dengan Elina.


"Wah... ibu-ibu hamil, kalian tampak begitu cantik dan memukau. Kalian membuat aku merasa paling tua disini." ujar Yoora.


"Memang kenyataannya kau yang paling tua diantara kita." gurau Grisella.


"Ih.... jangan keras-keras. Cuma beda setahun kan dengan dirimu. Tapi tetap saja aku yang paling cantik dan imut." ujar Yoora dengan percaya dirinya.


"Iya iya ibu anak smp." ledek Diana.


"Hush! Jadi merasa tua dah." Yoora cemberut tapi lucu.


"Senangnya bisa kumpul lagi setelah sekian lama." ujar Elina yang paling muda. Dia baru berusia dua puluh enam tahun. Seharus nya dia lebih sebaya dengan Lia.


"Bagaimana denganmu Elina, aku dengar kau sudah dilamar oleh Mike. Ow benar! lihat cincin dijari manisnya itu." Grisella memekik bahagia untuk Elina.


"Iya, dia sudah melamarku." ucap Elina dengan malu sambil memamerkan cincin berlian di jemari tangannya.


"Ah... akhirnya dia akan sama dengan kita, mengakhirnya masa lajangnya." Diana ikut bahagia mendengarnya.


"Kapan akan dilangsungkan acara nya?" tanya Yoora penasaran.


"Mungkin beberapa bulan lagi. Sebelum masa kampanye dimulai." ujar Elina lembut.


" Selamat ya Elinaaa. Wahhhh aku senang sekali mendengarnya. Itu artinya tidak sampai enam bulan lagi. Setidaknya semua bayi-bayi ini sudah lahir dan mereka bisa tampil cantik di pesta pernikahanmu." ujar Yoora bersemangat.


"Iya. Terimakasih." ujar Elina dengan bahagia.


"Bagaimana suami mu,Yoora? Apa dia sudah kembali ke Miami?" tanya Grisella.


"Iya. Akhirnya dia kembali sepenuhnya kepadaku. Dia mengakui kesalahannya." ujar Yoora dengan sendu.


"Apa yang terjadi?" bisik Diana tidak mengerti.


"Dasar suami tidak tahu malu. Lalu apa yang terjadi?" tanya Diana dengan prihatin.


Pasalnya Yoora mendampingi suaminya semenjak pria itu belum sukses hingga menjadi pengusaha kelas dunia.


"Aku mengajukan syarat padanya. Jika anak yang di kandung wanita itu benar-benar anaknya maka aku akan memenuhi keinginannya untuk bercerai. Awalnya dia tidak terima, apalagi aku tahu wanita simpanan itu begitu memaksanya. Tapi aku tidak perduli. Aku tetap bersiteguh. Dan benar, setelah anak itu lahir, dia bukan anak suamiku." ujar Yoora dengan lega.


"Untung saja keyakinanmu benar. Aku harap pernikahanmu akan semakin teguh." ujar Grisella memberi semangat.


Mereka asyik bercakap-cakap. Tak lama pelayan datang menghampiri mereka dan menawarkan makan siang. Dengan gembira Diana meminta pelayan untuk menyediakan makanan untuk ke tiga temanya juga.


"Kali ini, aku akan menjamu kalian dengan makanan khas Indonesia. Tapi jangan khawatir, sudah aku sesuaikan dengan lidah kalian." ujar Diana menjelaskan.


"Aromanya harum. Apa ini?" tanya Elina dengan penasaran.


"Ini bakso. Itu yang bulat di sebut bakso, terbuat dari daging sapi, kemudian itu adalah tahu yang di campur dengan daging sapi dan ini pangsit goreng. Kalian tinggal menyampurkan semua jadi satu di dalam mangkok. Bisa ditambahkan dengan mie dan kentang kukus jika suka. Ini makanan kegemaran seluruh rakyat Indonesia." ujar Diana menjelaskan.


Mereka mulai menirukan Diana meracik makanan itu ke dalam mangkok. Sesungguhnya Diana ingin menambahkan sambal, tapi semenjak kehamilannya dia berusaha menahan diri dari sambal dan kopi.


"Diana ini enak sekaliiii.." ujar Yoora bersemangat. Wanita itu dengan lahap memakan pentol bakso.


"Benar, ini hampir serupa dengan Chineese meat ball sup, tapi beda di kuah nya." Diana menjelaskan lagi.


"Nah... ini dia. Kita bisa membuatnya seperti ini juga." Diana menunjukan pada pentol bakso yang sudah ditusuk seperti sate dan dipanggang kemudian di siram dengan saus barbekyu.


"Aku lebih suka yang seperti ini." ujar Elina dengan gembira.


Gadis itu mengambil beberapa sunduk dari bakso panggang tersebut.


"Jangan banyak-banyak. Nanti gendut loh." Grisella memperingatkan.


"Biarin saja. Nanti tinggal aku tambah jam fitnesnya." sahut Elina cuek.


"Anak-anakku juga paling suka dipanggang dengan saus barbekyu." kata Diana.


Dan benar juga, tak lama dua kurcaci sudah muncul. Aroma bakso panggang itu tampaknya menarik perhatian mereka.

__ADS_1


"Mommy.... Mana punya Aaron." ujar nya langsung sambil memeluk Diana.


"Frances juga mau." ujar Frances di sisi satunya lagi.


"Hei sayang, di sapa dulu teman-teman mommy, jangan main nylonong saja." ujar Diana pada Aaron dan Francesca.


"Hallo aunty apa kabar?" Mereka mengucaokan salam bersamaan.


"Hai Aaron dan Frances. Aaron sudah tambah besar ya, besuk ulang tahun." sapa Yoora.


"Iya aunty. Jangan luoa ya besuk datang bawa kado yang bagus." todong Aaron tanpa malu.


"Loh Aaron, gak boleh begitu." ujar Diana yang merasa malu dengan sikap Aaron yang main todong saja.


"Eh, tentu sajaaaa. Hadiah dari aunty sudah disiapkan." ujar Yoora dengan gemas.


"Horee... Ada hadiah, aunty boleh tambah lagi baksonya." ujar Aaron bersemangat sambil memberikan satu jatah sate bakso nya pada Yoora.


"Terimakasih Aaron. Wah.... Aaron baik sekali yaaaa." ujar Yoora dengan gembira.


"Loh punya aunty Grisella mana?" tanya Grisella dengan sedih.


"Aunty bawa hadiah gak?" todong Aaron lagi.


"Bawa dong. Dua lagi. Dari Aunty dan baby." ujar Grisella sambil menepuk perutnya.


"Hihihi.... Kalau begitu unty dapat dua bakso panggang ini. " Aaron kemudian memberikan jatah bakso panggangnya pada Grisella dua.


Sekarang di piring Aaron hanya tersisa satu tusuk bakso panggang. Dan Aaron buru-buru menyantap satu butir penrol bakso.


"Loh, aunty Elina bagaimana?" tanya Elina dengan wajah pura-pura sedih. Dia belum kebagian pemberian Aaron.


"Aunty besuk datang juga ya? Bawa hadiah juga?"


"Iyaaa. Hadiahnya besarrrrr sekali." ujar Elina sambil melebarkan kedua tangannya.


Aaron menjadi bingung. Saat ini bakso di tangannya sudah hampir habis. Di meja prasmanan juga sudah habis. Yang dia lihat di piring Grisella masih ada satu dan di piring Francesca juga ada satu.


Tidak mungkin kan dirinya meminta lagi apa yang sudah di berikan pada orang lain. Meskipun masih anak-anak, Aaron sudah belajar tentang harga diri dan tanggung jawab.


Semua mata orang dewasa memandang Aaron, penasaran dengan tindakan cerdik apa yang akan dilakukan anak itu. Mereka sangat menantikan, apalagi ketika mata indah berwarna coklat itu berputar seakan berpikir keras.


"Frances, pinjam baksonya dong, buat unty Elina. Kasihan unty tidak pernah makan bakso panggang loh." rayu Aaron dengan mata memohon.


"Gak mau!" sahut Frances.


"Nanti kamu gendut loh, makan banyak-banyak."


"Biarin."


"Nanti jelek loh seperti cheft Paul. Bulat kaya bakso." Aaron meledek.


"Biarinnnn." Francesca pergi dengan membawa bakso panggangnya.


"Duh! dasar anak kecil." celetuk Aaron sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ke empat wanita dewasa itu hanya bisa tertawa dengan ulah Aaron. Tapi tampaknya, bocah itu masih menginginkan hadiah dari Grisella.


"Tunggu sebentar ya unty. Aaron akan kembali." Aaron pergi meninggalkan mereka.


"Anakmu Diana, hahhaha seperti siapa yaaa, pintar sekali bernegosiasi." ujar Yoora cekikian.


"Seperti daddy nya lah. Jika tidak ahli, bagaimana mungkin wanita satu ini bisa berada disini." Goda Grisella.


Tak lama kemudian Aaron masuk dengan membawa permen lolipop kesayangannya.


"Aunty, ini permen terbaik yang Aaron punya. Aaron beri untuk Aunty ya. Pastikan hadiah nya yang terbaik loh ya." ujar Aaron dengan wajah serius.


"Hahhahaha kau menggemaskan sekali Aaron. Permennya buat Aaron saja deh. Aunty cuma mau cium pipi Aaron boleh yaaaa." Dengan gemas Elina mencium pipi Aaron.


"Ih aunty main cium-cium segala. Awas jatuh cinta loh sama Aaron."


Gggrrrrr.... Tawa meledak. Masih kecil sudah tahu jatuh cinta ya dikau.


...đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–đź’–...

__ADS_1


__ADS_2