Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
48. I miss you daddy


__ADS_3

Conrad segera keluar dari kamar tanpa menunggu Rachel keluar terlebih dahulu. Dia segera menuju ruang kerja Andrew, membuka pintu disana dan melongok kedalam ruangan.


"Daddy?" keraguan terdengar dari bibir mungilnya. Keraguannya bukan tanpa alasan, sudah lama sekali dia tidak pernah bertemu dengan Andrew, terakhir bertemu pun ketika Conrad datang mengunjungi Andrew di kantor. Andrew sudah berbulan - bulan tidak pernah menjejakan kaki nya di rumah yang ditempati Rachel.


Matanya seketika berbinar ketika melihat sosok pria yang dia rindukan sedang duduk di kursi dan termenung. Tampaknya Andrew sedikit melupakan tujuan awal dia datang kerumah yang di tempati Rachel. Pikirannya terganggu dengan pertengkaran mereka sebelumnya.


"Daddy... Daddyy... " Conrad berlari menuju Andrew dan segera memeluk Andrew.


"I miss you daddy," ucap bocah kecil itu lirih sambil menangis. Tangan - tangan kecilnya memeluk Andrew dengan erat seakan takut pria yang dia rindukan akan meninggalkannya lagi. Air mata Conrad membasahi kemeja Andrew. Dan tangan Andrew memeluk serta mengusap kepala anak kecil itu penuh kasih sayang.


"Jangan menangis daddy disini." Andrew berusaha menenangkan Conrad dari tangisannya. Dalam lubuk hatinya Andrew merasa bersalah karena tidak dapat seutuhnya memberi kasih sayang kepada Conrad. Dia tidak pernah membenci anak ini walaupun sulit untuk mengasihinya dengan bayang - bayang Rachel yang selalu memanfaatkan hubungan mereka.


Andrew memutuskan untuk tidak selalu hadir di sisi anak ini karena dia tidak ingin bocah kecil ini semakin dimanfaatkan oleh Rachel. Meskipun segala kebutuhan Conrad dia yang membiayai.


"Daddy, apakah kau akan tinggal disini?" tanya conrad sambil memandang lekat wajah Andrew.


Andrew diam. Kedatangannya kemari sesungguhnya karena dia berencana untuk mempertemukan Conrad dan Diana.


"Tidak. Daddy hanya ingin bertemu denganmu."


"Bisakah kau tinggal dan bermain bersamaku daddy."


"...."


"please... jangan pergi lagi." Conrad merengek.


"Baiklah malam ini daddy akan tinggal disini menemanimu."


"Benarkah?" mata bulatnya berbinar kegirangan.


Andrew menganggukan kepalanya.


"Ayo daddy bermain denganku."


Conrad menarik Andrew menuju ke kamarnya. Kamar conrad cukup luas. Didalam kamar conrad terbiasa menghabiskan hari - harinya apabila tidak sekolah. Kamar itu bagaikan studio apartment. Ada rak buku, rak mainan, video game dan kulkas kecil.


"Kenapa semua mainan dan buku mu ada disini?" tanya Andrew heran.


"Mommy memindahkan semua disini."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kata mommy supaya aku tidak mengganggunya."


Andrew termenung mendengar perkataan Conrad.


"Daddy bisakah kau tinggal disini lebih lama? mommy berjanji akan menyayangiku apabila daddy tinggal disini." Tatapan mata bocah kecil ini penuh harap.


"Conrad ingin punya daddy dan mommy seperti teman - teman yang lain." Lagi - lagi Conrad memohon.


Bocah kecil ini tidak bersalah, dia hanya korban. Kehadirannya hanya dimanfaatkan oleh wanita yang dikenalnya sebagai ibu dan dia tidak mengerti hal itu. Meskipun seringkali dia bertanya pada Nanny sang pengasuh kenapa daddy dan mommy tidak pernah bersama, kenapa mommy tidak pernah mencium dan memeluknya, kenapa daddy selalu pergi dan kenapa tidak ada yang menyayanginya, Nanny hanya diam dan memeluknya seraya berkata, "daddy dan mommy sama - sama sibuk, mereka adalah pembisnis yang handal, tapi mereka menyayangi Conrad terbukti dengan semua mainan dan pakaian bagus untuk mu."


Nanny adalah seorang penghangat jiwanya yang kesepian.


"Conrad, bagaimana kalau besuk daddy akan mengajakmu bermain diluar?" ajak Andrew tanpa menjawab pertanyaan awal Conrad.


"Benarkah?" Matanya berbinar kembali.


Andrew mengangguk.


"Thankyou daddy." dipeluknya Andrew erat - erat.


Pintu kamar terbuka, Rachel masuk melangkah dengan anggun.


"Apa yang kau lakukan disini." Suara Andrew terdengar geram.


"Tentu saja bermain bersama kalian."


"Mommy bagaimana kalau kita bermain puzzle." Conrad mengeluarkan satu box mainan puzzle motif pesawat terbang dan diletakan dilantai. Dia membuka mainan itu dan mulai menyusun potongan - potongan gambar agar menjadi bentuk pesawat.


Andrew mulai bermain dengan Conrad sedangkan Rachel yang duduk disisi Andrew hanya diam memperhatikan dengan bosan. Rachel mengalihkan pandangannya kearah Andrew. Sudah lama dia tidak bertemu dengan pria yang makin terlihat tampan ini.


Rachel mulai duduk mendekat kepada Andrew. Andrew bergeser karena risih. Tangan Rachel mulai naik keatas bahu Andrew dan ditepiskan olehnya. Tak habis akal, Rachel mengeluarkan ponselnya, "Ayo kita foto bersama."


"Iya mommy" Conrad dengan senangnya beranjak dan duduk disamping Rachel.


"Kemarikan ponselmu." Andrew mengambil ponsel ditangan Rachel dan memfoto mereka.


Rachel mendengus kesal usahanya sia - sia. Dan dia keluar dari kamar seraya berkata, "Aku akan menyuruh Nanny mengantar makanan untuk kalian." Dan dia keluar dengan senyum liciknya.

__ADS_1


Tak lama ketukan di pintu seorang pelayan datang mengantarkan spaghety carbonara untuk mereka berdua dengan segelas jus untuk Conrad dan Soda untuk Andrew.


Sambil bercanda mereka menyantap makanan tersebut.


"Daddy benar kan kita besuk akan pergi bersama?" tanyanya lagi masih tidak percaya.


"Iya. Daddy akan mengajakmu bermain dengan teman daddy. Tapi ingat ini rahasia kita berdua, okey."


Conrad menganggukan kepalanya mantap.


"Conrad apakah air condition di kamarmu rusak?" tanya Andrew yang tiba-tiba merasa gerah.


"Tidak daddy. Apakah daddy kepanasan?" Conrad mengambil remote Ac dan memberikan kepada Andrew. Andrew menyetal Hingga 16 derajat celcius.


"Daddy ini terlalu dingin."


Aneh, kenapa aku merasa kepanasan. Andrew bergumam tak mengerti. Dia segera mengembalikan posisi ac ke arah 20 derajat.


"Conrad daddy keluar sebentar ya."


Conrad mengangguk.


Andrew keluar dari kamar Conrad dan didepan kamar Rachel sudah menanti dengan gaun tidur yang tipis.


Hawa panas semakin menjalar ke kepala dan wajah Andrew. Tangannya mulai bergetar, jantungnya berdebar. Mata nya serasa terhipnotis oleh buah dada dihadapannya. Mahkotanya mulai bangkit dan terasa sesak didalam.


Rachel menghampirinya dan mulai mengusap lengan Andrew kemudian berbisik ke telinga Andrew, "Ayo kekamar sayang." Suara Rachel tampak begitu menggairahkan bagi Andrew.


Seperti terhipnotis, Andrew menuruti Rachel yang menarik tangannya dengan gemulai dan mulai masuk kedalam kamar milik Rachel.


Rachel mendorong tubuh Andrew ke atas tempat tidur. Dia meliuk - liukan tubuh sintalnya bagaikan striptease menggoda Andrew yang mulai sesak nafas dan gelap mata .


Jari-jari tangan Rachel mulai berjalan diatas dada Andrew. Memijat dada naik ke wajah dan kening, membelai pipi dan meniupkan udara lembut di sekitar leher Andrew.


Tangannya mulai aktif membuka kancing - kancing kemeja Andrew dan bermain - main di dada bidang itu.


" Diana.. " Andrew mendesis dengan menikmati sentuhan tangan Rachel.


Rachel mendengus kesal mendengar nama yang keluar dari bibir Andrew. Tapi dia tidak memperdulikannya. Dibukanya gaun tipis dan membiarkan buah dadanya berontak keluar disela - sela bra yang kekecilan.

__ADS_1


Mata Andrew mulai lapar ketika Rachel menurunkan dadanya kearah mulut Andrew. Andrew menjadi lupa diri, " Diana sayang kau sexy sekali... " ujarnya lembut .


Rachel mulai melepaskan kemeja Andrew dan Menindih tubuh pria yang kepanasan itu dengan penuh nafsu.


__ADS_2