Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Keringat


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi hari diawali dengan penuh kemsraan oleh pasangan yang sedang berbahagia. Andrew dan Diana. Kecupan mesra dari Diana membangunkan Andrew di pagi hari. Dirinya menjadi sangat bahagia.


Semalam meskipun Diana sempat merajuk bagaikan seorang remaja, tetapi akhirnya dia tetap saja tertidur dengan merapat dalam pelukan Andrew. Dia tertidur dengan bersandar pada dada suaminya dan mendengarkan detak jantung Andrew.


Siang hari ini, mereka semua sedang berkumpul di ruang makan.


"Kog nasi nya tidak dimakan sayang?" Tanya Andrew yang merasa heran. Karena biasanya Diana selalu melahap nasi di siang atau pun malam. Dia tidak bisa meninggalkan begiti saja kebiasaan yang mendarah daging.


"Aku kan sudah makan banyak tadi. Sudah makan daging dan telur, juga semangkuk sup." Ujar Diana.


"Baiklah. Nanti kalau lapar makan lagi ya. Ingat kau membawa tiga orang nyawa di tubuh mu." Andrew memperingatkan dengan penuh perhatian.


"Iya aku tahu."


"Tiga orang nyawa? Memang ada apa di tubuh mommy?" Tanya Aaron dengan heran.


Pandangan penuh tanya dari Aaron, Francesca juga Conrad langsung terarah pada Diana. Mereka menanti jawaban dari ibunya. Andrew diam saja sambil tersenyum, dia memberi kesempatan pada Diana untuk menjelaskan kepada mereka.


"Masih ingat dengan permintaan kalian untuk mempunyai adik? Masing-masing dari kalian kan meminta adik?" Ujar Diana.


Ketiga bocah dihadapannya mengangguk sambil menatap Diana, tanpa banyak bicara. Mereka masih penasaran.


"Nah, permintaan itu adalah doa. Sekarang di dalam perut mommy ada tiga orang adik yang kalian inginkan." Diana memandang ketiga anaknya yang masih saja menatapnya dengan heran.


"Di perut bagaimana mommy?" Aaron bertanya sambil bergeser mendekati Diana. Dia kemudian meletakan tanggannya di perut Diana dan meraba perut yang masih datar itu hingga Diana tertawa geli.


"Tidak ada apa-apa diperut mommy. Dimana mommy sembunyikan adiknya?" Tanyanya dengan heran dan mata yang polos.


"Di dalam perut sayang. Semua manusia itu awalnya adalah zygot, nama lain dari kecebong hahhahha, nah mereka bertumbuh di dalam perut wanita yang sudah menikah. Aaron dulu kecil juga awalnya seperti itu. Bertumbuh di dalam perut mommy, selama sembilan bulan. Nah, setelah sembilan bulan baru keluar dan jadi adik bayi." Diana menjelaskan dengan perlahan dan bahasa yang lebih mudah dimengerti.


"Oooo begitu." Ucap Aaron dengan mengangguk-angguk seakan mengerti meskilun tidak ada yang nyantol di otaknya.


"Frances juga sama ya mommy?" Tanya gadis kecil itu penasaran.


"Iya sayang sama."


"Ooo Conrad tahu. Itu namanya sistem sel reproduksi pada manusia kan? Untung sudah belajar di sekolah." Kata Conrad dengan bangga.


"Iya benar seperti itu."


"Sembilan bulan itu lama ya mommy?" Aaron masih penasaran, adik yang dia inginkan belum bisa dia ajak bermain langsung.


"Tidak lama, kita bersama-sama nikmati juga prosesnya bersama-sama." Ujar Diana lembut.


Andrew menatap keluarga kecilnya dengan bahagia. Perlahan kebahagiaan kembali utuh dia rasakan. Meskipun sikap Diana yang berubah manja, dia masih bisa mentoleransi. Demi ketiga benih yang sudah dia taburkan.


Selesai makan siang bersama, mereka keluar dan berkumpul di ruang keluarga. Conrad hari ini tidak ada les apapun dan juga sekolah masih libur.


Diana kemudian memanggil butler Jhon dam kedua pengasuh, Maria dan Matilda.


"Aku hendak mengatakan pada kalian, kalau saat ini aku sudah mengandung, bayi kembar tiga. Hahhaha kembar tiga loh." Ucapnya denngan bersemangat.

__ADS_1


"Selamat nyonya, kami akan selalu membantu anda setiap waktu agar anda sehat dan bayinya bertumbuh sehat pula." Ucap butler Jhon.


Diana menatap ketiga orang dihadapannya. Dia merasa heran ketika tidak ada binar terkejut di wajah mereka. Apakah mereka tidak senang dirinya sedang hamil saat ini? Apakah dirinya begitu buruk rupa ketika hamil, sehingga mereka tampak biasa saja?


Dengan ragu Diana bertanya pada mereka.


"Apakah kalian sudah tahu sebelumnya kalau aku hamil?" Tanyanya penuh selidik.


"Iya nyonya. Tuan Andrew kemarin sore mengumumkan berita gembira itu kepada kami semua." Ujar butler Jhon menjelaskan.


"Kami semua?" Tanyanya lahi dengan heran.


"Iya nyonya, pelayan dan pengawal berkumpul di ruang malan." Butler Jhon menjelaskan.


Diana langsung menoleh pada Andew, dia menatap pria itu tajam dengan kesal. Dia sangat marah karena Andrew sudah mencuri moment nya. Seharusnya Diana yang memberitahukan hal itu pada semua pelayan. Kalau pengawal bolehlah menjadi urusan Andrew. Hal itu bagi Diana menyebalkan sekali.


Andrew yang ditatap tajam sedemikian ruoa menjadi bingung. Dia heran dan gelisah kesalahan apalagi yang telah dia perbuat. Kenapa istrinya yang tadi pagi bangun dengan ceria dan sepanjang siang bermanja-manja, sekarang tib-tiba sangat dingin.


Diana beranjak pergi tanpa sepatah kata, meninggalkan Andrew yang bingung dan anak-anak yang asyik menonton televisi. Andrew yang heran segera mengikutinya.


"Mau kemana sayang?" Tanyanya penasaran.


"Ke kamar!" Jawab Diana dengan ketus.


"Loh, katanya mau nemeni anak-anak dulu."


Tanya nya lagi dengan heran.


"Gak mood!" Sahut Diana dengan lebih ketus dan dingin.


Di depan pintu kaamar, Diana membuka pintu, berdiri di depan pintu menghadang Andrew yang hendak masuk.


"Tidak usah masuk. Aku mau sendiri." Ujar nya dingin.


"Loh, kenapa begitu sayang? Katakan apa salahku?" Ujar Andrew memelas


"Pikir saja sendiri, sudah besar!" Brak! Diana menutup pintu dengan kesal dan menguncinya.


"Yanggg... jangan begitu dong." Andrew dengan memelas mengetuk pintu kamar.


"Sudah jangan berisik. Aku dan triplet mau berisitirahat!" Teriak Diana dalam kamar.


Andrew hanya bisa berlalu dengan lemas. Dia benar- benar yang paling menderita dengan imbas kehamilan ini. Tadi malam di omeli, siang ini bukan saja kena omelan juga kena larangan masuk kamar.


Andrew dengan lemas memutuskan menghabiskan wakti di ruang olahraga. Dia membuang pikiran suntuknya dengan berolah raga sehingga otot-otot nya makin sempurna.


Dia tetap ingin menjadi hott daddy dan hott husband.


Satu jam berlalu. Waktu masih menunjukan pukul dua siang. Andrew masih berkonsentrasi membentuk otot dada nya, saat Diana masuk ke ruang fitnes.


"Kamu disini?" suara lembut Diana menghentikan aktifitasnya.


"Eh iya sayang." ujar Andrew sambil menghentikan aktifitas nya.

__ADS_1


Saat itu sifat remaja Diana kembali muncul. Melihat tetesan keringat di tubuh Andrew, belum lagi otot-otot nya yang basah oleh keringat dan tampak berkilau, membuat Diana menelankan ludah.


Dia menghampiri suaminya dan menyentuh dada berkeringat itu. Mengendus bau keringat di tubuh Andrew. Bau yang sangat dia sukai. Bau keringat sang suami. Hal yang aneh mungkin bagi orang lain, tapi tidak bagi Diana. Keringat Andrew bagaikan sumber magnet, parfum yang menyegarkan.


"Sebentar, aku usap keringatnya dulu ya. Bau." Andrew mundur dan mengambil handuk.


"Aku saja." Diana mengambil handuk dari tangan Andrew dan mengusapnya perlahan ke tubuh pria itu. Dia menikmati setiap lekukan otot di tubuh Andrew. Diana mengusap keringat Andrew dengan sangat lembut.


Andrew menatap istrinya dengan heran. Baru saja wanita ini marah, sekarang memandang dirinya dengan penuh kekaguman seperti ketika pertama kali mereka jatuh cinta. Seperti saat pertama Andrew melancarkan serangan untuk memikat Diana.


Diana masih memegang handuk yang sudah basah oleh keringat Andrew. Dia menghirup aroma bau apek itu bagaikan parfum kelas dunia. Dan Andrew menjadi heran.


"Itu apa gak bau sayang?" tanya nya heran.


"Aku suka." jawab Diana masih dengan memejamkan matanya menikmati aroma apek itu.


Sesaat kemudian wanita itu membuka matanya dan memandang Andrew. Mata mereka saling bertatapan dan Diana bisa melihat jika Andrew memandangnya heran.


"Kenapa?" tanyanya manja tapi ketus.


"Ah tidak ada apa-apa." Andrew mencium aroma tidak beres.


"Kau pikir aku aneh?" tanyanya lagi dengan nada yang membuat Andrew menjadi resah.


"Ah tidak sayang, kau tidak aneh. Kau malah tampak imut sekali."


"Ah, benarkah? Aku rasa anak mu sangat menyukai aroma tubuhhmu. Entah bagaimana bau keringat mu terasa sensual." ujar Diana dengan manja sambil mengerdipkan matanya.


"Gendong aku," pinta Diana.


"Tenru saja ratu ku." Andrew sangat senang sekali Diana bersikap manja saat ini. Apalagi ketika minta gendong dengan nada yang menggoda. Andrew merasakan tanda-tanda akan berlanjut pada momentum indah.


Andrew sangat menyukai hal itu. Dia menggendong Diana dengan pandangan mesra yang sekali-sekali dia lancarkan. Dan Diana malah, bersandar dengan mesra pada tubuh Andrew yang masih lembab.


Sesampainya di kamar. Diana menolak di letakan di tempat tidur. Dia dengan sangat erotic, menarik kaos singlet Andrew untuk mengikutinya. Dan dengan brutal pula dia merobek singlet itu, sambil menatap dengan mata berbinar pada tubuh suaminya.


Andrew tentu saja senang dengan perubahan sikap itu. Diana yang selalu lembut dan sexy ketika bercinta tapi tampaknya kali ini, dia berubahh menjadi dominan dan hemmm... brutal?


Benar saja. Andrew di kejutkaan ketika wanita itu tiba-tiba melucuti celana Andrew dan mencium bibir Andrew dengan kasar dan cepat. Dia meraba dan bermain di pusat inti suaminya, sehingga tubuh Andrew mengejang dan ingin meledak.


Andrew merengkuh tubuh istrinya. Tidak sia-sia dia mengajari wanita polos ini bagaimana cara bercinta. Karena wanita itu semakin ahli melakukannya. Andrew yang biasa nya mendapat jatah harian, Sudah dua hari puasa. Dan saat Diana melakukan berbagai aksi kejutan, dia sangat sangat senang sekali.


Nafsu Aandrew memuncak melayani ciuman brutal istrinya. Dan ketika dia hendak melucuti pakaian Diana. Tiba-tiba wanita itu mendorongnya.


"Mandi dulu, lengket badanmu. Kasihan nanti tempat tidur jadi bau apek juga." uajr Diana tanpa perasaan.


"Eh iya sayang, aku mandi."


Secepat kilat Andrew masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya sambil terus membayangkan sikap liar Diana. Bayangan ciuman brutal itu membuat Naganya terus terjaga dan siap bertempur.


Dalam waktu lima menit Andrew sudah keluar dari kamar mandi dan melangkah dengan tubuh telanjang, menghampiri Diana yang sudah berbaring di tempat tidur. Andrew melompat ke atas tempat tidur dam merangkak menghampiri istrinya yanh berbaring menantanng.


Tapi, malang sekali nasib suami tampan dan sexy itu. Istrinya sudah pulas tertidur dengan raut wajah tak berdosa. Kecupan mesra yang di layangkan oleh Andrew tidak menggugahnya sama sekali.

__ADS_1


Sekarang tinggal Andrew yang harus berbaring merana dan kecewa sambil memandang naganya yang sudah menjulang. Mau bagaimana lagi. Dia terpaksa menepuk naganya perlahan, "Puasa lagi ya. Dicoba nanti malam siapa tau batal puasanya."


Andrew kemudian memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.


__ADS_2