
Seperti biasanya, Conrad kembali memasuki ruang perpustakaan. Kali ini dia menuju lantai atas dan memilih duduk di pojokan. Area itu lebih sepi dan jarang di jangkau oleh mahasiswa. Conrad jarang duduk di lantai dua karena, alasan tidak praktis. Tetapi saat ini dia lebih memilih lantai dua, untuk menghindari Jasmine, gadis centil yang ceriwis.
Saat Conrad baru saja meletakan pantat nya di kursi dan menaruh buku di meja, dia melihat seorang gadis masuk. Awalnya Conrad tidak menghiraukan gadis yang memilih duduk dua deret bangku di hadapan nya. Tetapi di saat gadis itu beberapa kali membuat gerakan yang mengganggu, ototmatis pandangan Conrad tertuju padanya.
Gadis tersebut tampak berulang kali melepaskan kacamatanya, membetulkan gagang, memakai lagi, melepaskan lagi, membetulkan sandaran hidung kacamata. Terus berulang-ulang. Tampaknya kacamata tersebut sudah tidak nyaman dikenakan.
Conrad memandang gadis tersebut. Gadis itu sederhana, pakaiannya biasa saja. Penampilannya bersahaja berbeda dengan gadis lain di kampus. Wajahnya cantik. Sesaat perhatiannya tersita menatap gadis yang dia rasa mirip dengan mommy Diana. Gadis Asia yang cantik dengan rambut hitam legam.
Conrad mendekati gadis itu ketika teringat sesuatu. Untuk menghilangkan keraguan di hati, Conrad berinisiatif untuk membuka percakapan.
"Hallo, apakah kita pernah bertemu?" Tanyanya ramah.
Gadis tersebut mengangkat kepala nya dan menatap Conrad. Dia mengernyitkan keningnya seperti berpikir.
"Entahlah, kampus ini terdapat banyak mahasiswa, mungkin saja kita pernah berpapasan." Sahutnya ringan.
"Ah, benar. " Conrad menjadi kikuk. Tentu saja pertanyaanya adalah hal yang aneh dan terasa di buat-buat.
"Kacamata mu itu apakah rusak?" Tanya Conrad lagi.
Gadis itu menatap Conrad dengan aneh. Dia merasa jika pertanyaan Conrad begitu memojokannya dan itu memalukan bagi dirinya.
"Tidak apa-apa. " sahut nya singkat.
"Nama ku Conrad. Maaf, jika aku mengganggu mu. Aku hanya teringat pada gadis yang pernah aku tabrak tempo hari. Dan dia mengenakan kacamata seperti dirimu. Aku hanya merasa bersalah, mengingat kacamata itu pastinya agak rusak, karena sempat terpelanting jauh." ujar Conrad sambil memperhatikan kaca dari kacamata yang dikenakan gadis itu.
Gadis dihadapannya terdiam. Dia kemudian menatap Conrad dengan terpukau. Setelah dia lihat dengan jelas, pemuda dihadapannya tampan dan sorot matanya tampak tulus.
Dia mengeluarkan sesuatu di dalam tas kemudian memberikan pada Conrad.
"Ini berarti milikmu."
Conrad melihat kartu yang disodorkan oleh gadis tersebut. Itu adalah kartu perpustakaannya yang hilang. Berarti gadis itu benar adalah wanita yang dia tabrak dulu. Conrad menyeringai senang.
__ADS_1
"Jadi benar, kau adalah orang yang aku tabrak dulu? Siapa namamu?"
"Ruby."
"Okey Ruby, so.. bagaimana dengan kacamatamu, apakah tidak rusak?" Conrad memandang Ruby menyelidik, tampaknya ujung kaca tersebut sedikit retak.
Ruby tampaknya bingung menjawab pertanyaan Conrad. Dia meremas jemari dengan gugup. Ruby adalah seorang mahasiswi yang masuk falkutas kedokteran karena beasiswa. Ruby sedikit tersingkir dari pergaulan, karena dia satu-satu nya mahasiswi yang berasal dari sekolah menengah bukan favorit. Ruby tidak memiliki banyak teman.
Dan itu cukup memalukan baginya jika meminta ganti rugi kacamata pada Conrad. Bagaimana jika pemuda tersebut mengejek dirinya. Bukankah kecelakaan itu juga terjadi akibat dirinya yang sembrono?
Ruby dikejutkan oleh gerakan tiba-tiba oleh Conrad. Pemuda itu meraih kacamata yang dikenakan Ruby tanpa permisi. Conrad melihat jika di kacamata tersebut ada yang retak.
"Aku akan bertanggung jawab dan menggantinya."
Ruby menatap Conrad dengan serba salah. Dia tidak menyangka pemuda dihadapannya akan sedemikian baik hati pada dirinya. Ruby bingung harus berbuat seperti apa.
"Hai! Ternyata kamu disini! Ketemuuu!!!" suara gadis centil mengejutkan Conrad dan Ruby.
Jasmine, desah Conrad dalam hati.
"Robert." Conrad menyapa pria yang datang bersama dengan Jasmine.
"Hai Conrad." Pria itu menyapa Conrad.
"Jadi benar kalian sudah saling mengenal. Dia kakakku." Jasmine bergelanyut manja di bahu Robert.
"Eh, kenalin namaku Jasmine, kamu siapa?" tanya nya pada Ruby.
"Ruby." sahut gadis itu singkat.
"Apakah kalian berpacaran? Eh... jangan mau ditipu dia gay loh." ujar Jasmine serius pada Ruby.
"Tidak... eh, kami baru bertemu." Ruby gugup menjawab pertanyaan Jasmine.
__ADS_1
*Eh, gay? benarkah? Tapi dia tidak tampak seperti itu*.
"Sudah cukup. Aku bukan gay." ujar Conrad tegas. Dia tidak mau timbul rumor yang salah akan dirinya akibat keisengan dengan Jasmine.
"Nah kannn.... aku benar, kau pasti berbohong." Jasmine menjulurkan lidahnya.
Connrad menghela nafas dan memandang teman sekampusnya, Robert yang hanya tersenyum geli melihat tingkah Jasmine.
"Eh, kenapa kacamata itu. Rusak ya. Coba sini lihat." Jasmine menganmbil kacamata dari tangan Conrad.
"Ah retak. Kau harus membeli yang baru. Ini bukan kacamat baca kan, masa punya mu?" tanya Jasmine pada Conrad dengan pandangan heran.
"Bukan, itu punyaku." Ruby mengambil kacamat nya yang dipegang oleh Jasmine. Kemudian dia mengelap kaca yang terkena sidik jari Conrad dan Jasmine bertumpuk setelah bersih, Ruby mengenakannya lagi. Kemudian Ruby membenahi buku-bukunya dan bersiap untuk pergi.
"Maaf. Aku akan pergi dulu. Kalian silahkan mengobrol. Permisi." Ruby keluar dari kursi dan meninggalkan mereka bertiga yang menatapnya heran.
...❤❤❤...
Sepulang dari mall, Andrew meminta pada supir untuk pulang bersama dengan anak-anaknya. Andrew mengendarai mobil sendiri. Satu tangan memegang kendali setir dan satu tangan lagi meremas tangan istrinya sambil sesekali melirik ke arah Diana.
"Pandangan lurus ke depan. Konsentrasi di jalan. Berbahaya." ujar Diana.
"Susah." sahut Andrew manja.
Semenjak memlikir enam orang anak, kesempatan untuk keluar berdua saja sangat jarang terjadi. Apalagi mengingat keadaan Adelaide yang lemah, membuat Diana enggan meninggalkan gadis itu sendiri.
"Apa tidak kenapa-kenapa, meninggalkan anak-anak dirumah?" tanya Diana yang masih merasa tidak nyaman pergi berduaan.
"Tenang saja. Bukannya keadaan Adelaide stabil. Di rumah kan ada perawat, nanny, Jhon dan masih banyak orang yang bisa mengawasinya." Andrew menepuk tangan istrianya agar dia lebih tenang.
"Entahlah, masih terasa tidak nyaman." sahut Diana sambil menggenggam tangan suaminya.
"Ingat satu minggu ada tujuh hari. Aku hanya minta jatah dua hari dalam sebulan, untuk berduaan dengan dirimu." Andrew menarik tangan Diana yang dia genggam dan menciumnya mesra.
__ADS_1
"Setiap malam juga berduaan. Hampir setiap malam juga sudah dilayani. Bilang saja manja." ujar Diana menggoda Andrew.
"Itu kau paham. Aku ingin bisa lebih bebas berduan dengan dirimu. Mendesah yang keras ya nanti. Aku akan bermain kasar." ujar Andrew sambil mengerdipkan matanya.