
Setelah penyelidikan selama beberapa hari. Pasangan suami istri yang membuat laporan, tentang adanya pekerja seks komersil di Kapal pesiar milik Andrew, mengakui jika semua itu sengaja dilakukan. Pasangan itu telah dibayar oleh tetangga mereka yang tak lain adalah Bertha.
Mereka saat ini masih ada dalam jeruji besi. Mobil mewah dan rekening sudah ditahan oleh polisi, sebagai bahan bukti. Sementara dua orang penari palsu itu, sudah mengaku dari awal. Mereka tidak tahan akan mendapatkan siksaan pada tubuh mulus, properti diri yang sangat berharga.
Mereka juga menunjukan siapa saja wartawan dan polisi pantai yang terlibat karena suap. Meskipun Polisi dan wartawan itu awalnya mengingkari, tetapi berdasarkan bukti dari beberapa saksi, mereka terpaksa mengakuinya. Polisi pantai dan wartawan terancam untuk dicabut jabatan juga hak nya meliput berita.
Dan dengan semua bukti itu, pihak polisi berhak untuk memanggil Bertha dan dimintai keterangan di pengadilan. Wanita itu harus mengakui setiap rencana jahat yang dia lakukan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
__ADS_1
Satu lagi langkah maju untuk menyelesaikan kasus dan membersihkan nama baik keluarganya. Andrew boleh sedikit bernafas lega atas kerja keras bawahannya, yang terus menerus mencari bukti dan memutar otak siang dan malam.
Hari ini adalah hari yang di tunggu. Pihak polisi akan datang ke rumah Bertha. Menggiring wanita itu menuju ke kantor polisi. Empat orang polisi dan detektif datang membawa surat panggilan. Mereka ada di depan rumah Berta yang tampak sunyi. Berkali-kali mereka mengetuk tetapi tidak ada sahutan.
Dua orang berdiri di depan pintu masuk dan dua orang lainnya berencana melihat dari arah belakang rumah. Rumah itu tertutup rapat dan sunyi. Tetangga yang lewat juga mengatakan bahwa tidak melihat mereka selama satu hari ini.
Dengan berbagai cara, akhirnya dua orang polisi berhasil masuk ke dalam rumah. Sementara seorang polisi berjaga di depan dan seorang lagi berjaga di belakang. Dengan hati-hati kedua polisi itu mengendap ke dalam, mencari di setiap sudut hingga berhenti di sebuah pintu kamar yang tertutup.
__ADS_1
Perlahan dengan berhati-hati polisi tersebut membuka pintu kamar. Ketika pintu kamar sudah terkuak seperempat, mereka melihat seorang pemuda cacat yang sudah kurus kering, duduk di kursi roda dengan kepala terkulai. Kantong air kencing berada di sisi kursi roda dan sisi satunya merupakan tonglat penyangga infus. Air liur menetes dari mulutnya, mata yang menatap hampa kearah suatu sudut. Keadaanya begitu mengerikan.
Seorang Polisi maju hendak mendekati pemuda cacat itu, tetapi sebuah pukulan di belakang kepala membuat langkahnya terhenti dan polisi itu tersungkur. Darah mulai merembes keluar dari kepalanya yang terluka. Seorang Polisi lainnya yang berada di belakang pintu, melihat serangan itu, segera mendorong pintu dengan kasar dan menodongkan senjata.
Senjata api itu telah terarah kepada sosok wanita yang berpenampilan mewah, dengan lipstick merah menyala yang mewarnai wajah pucatnya. Wanita itu menyeringai lebar menatap ke arah polisi yang tidak bisa berbuat apapun. Polisi itu tampak tegang dengan telunjuk yang masih diam di pelatuk pistol.
Didalam pelukan Bertha ada Leonel yang pasrah dengan wajah bengkak. Kakinya tampak lemah dan bersusah payah untuk berdiri. Tangannya menggelantung lemah, seakan tak berotot. Mata Leonel yang masih membengkak dan tak terobati, tampak susah payah untuk terbuka. Sudut bibirnya membengkak karena nanah. Sebuah pisau dapur besar yang di pegang oleh Bertha, melingkari leher Leonel.
__ADS_1