
Andrew berangkat dengan kepala polisi dan di ikuti pengawalnya diiringi dengan air mata dan raut wajah kecemasan Diana juga anak-anaknya. Diana tidak rela jika Andrew harus kesana, segala sesuatu bisa terjadi diluar dugaan. Bagi anak laki-laki, Conrad dan Aaron mereka justru tersenyum bangga pada Andrew, sedangkan bagi anak perempuan dan Archie, mereka hanya mengerti jika daddy Andrew harus menyelamatkan seseorang.
"Tenang saja mommy, Daddy pasti kembali dengan selamat," ujar Aaron.
Diana mendesah. Dia ingin sekali menjewer telinga Aaron, berteriak marah dan meluapkan emosinya pada anak itu, tetapi... Aaron terbentuk juga dari ajaran jiwa besar yang selalu dia terapkan. Aaron tidak tahu, tidak! Tepatnya semua anak tidak ada yang tahu, masa lalu mengerikan yang pernah dialami Andrew dan Diana ketika berhadapan dengan keluarga itu.
"Kenapa mommy harus begitu panik dan tidak tegar seperti biasanya. Siapa sebenarnya keluarga Leonel itu, siapa ibu nya yang jahat itu kenapa dia mengganggu daddy?" tanya Conrad yang diiringi dengan tatapan mata tak mengerti dari Aaron juga.
"Jika daddy kembali dengan selamat, akan mommy ceritakan mengenai keluarga itu," ujar Diana dengan lemah. Jika Andrew kembali maka, Aaron dan Conrad boleh mengetahui apa yang terjadi. Tapi jika sesuatu yang buruk terjadi, maka semua nya akan Diana kubur dalam-dalam. Karena dia tidak ingin, mereka semakin terluka.
"Mommy..." Anna memegang tangan ibu nya.
Sentuhan tangan Anna membuat Diana merasakan aliran kehangatan, yang menyadarkan dirinya dari lamunan dan ketakutan. Dia memandang wajah polos cantik anaknya. Manik mata itu memancarkan Kasih sayang dan keteduhan.
"Ayo, kita semua berdoa bersama."
Diana menuju ruang tengah. Disana dia dan anak-anaknya berlutut. Mereka berdoa bersama-sama. Butler Jhon dan semua pelayan yang ada disana juga ikut berlutut dan berdoa. Ucapan syukur dan permohonan mereka persembahkan kepada sang Pencipta.
"Ya Tuhan Allahku, terimakasih atas segala berkat dan rahmatmu dalam kehidupan keluarga kami. Ampuni dosa-dosa kami. Saat ini, kami mohon dengarkan doa dan permohonan ini. Selamatkan suami, daddy dan kepala rumah tangga ini. Selamatkan Andrew ya Tuhan Allahku. Jauhkan dia dari segala marabahaya. Kiranya kau mengirim pasukan Malaikatmu untuk menjagai Andrew dari bahaya. Manusia hanya bisa berusaha tapi Engkau yang maha menyelamatkan. Tolong dengarkan doa ku ini."
Berulang-ulang Diana menyerukan doa itu sambil bercucuran air mata. Dia dengan segenap hati memohon pada Sang Pencipta untuk keselamatan Andrew.
...*****...
Sementara itu, Andrew yang datang tepat waktu di kediaman Bertha. Dia bisa melihat garis polisi membatasi rumah tersebut. Semua wartawan dan tetangga sekitarnya, hanya menonton dan bergosip dari kejauhan. Ketika mereka melihat kedatangan Andrew, gosip itu semakin heboh. Puluhan kamera handphone dan kamera profesional mengabadikan moment langka tersebut.
__ADS_1
Petugas polisi yang sedari tadi menunggu Andrew, segera membawa pria itu masuk kedalam rumah. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Leonel dan anak yang ada di kursi roda. Kedua anak itu sudah amat sangat lemah tak berdaya. Apalagi darah yang merembes keluar dari leher Leonel semakin banyak akibat goresan tipis pisau yang menekan.
Andrew berdiri di belakang dua orang polisi yang berdiri dihadapan Bertha sambil menodongkan senjata. Dia melihat dengan jelas keadaan Leonel yang tampak lemah tak berdaya. Badan anak itu jelas-jelas mengalami infeksi, akibat luka yang tidak terawat. Sedangkan pemuda yang duduk di kusi roda, seumuran dengan Conrad, tampak berulang kali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Kondisi fisik yang mengenaskan membuat pemuda itu tampak jauh lebih tua dari Conrad.
"Bertha." Panggil Andrew, menyadarkan wanita itu dari arah tatapannya ke anak cacat tersebut.
"Andrew. Akhirnya kau datang juga."
"Apa yang kau lakukan, lepaskan anak itu, kita bisa berbicara baik-baik." Ucap Andrew dengan penuh penekanan.
"Heh! Bicara baik-baik? Lihatlah dirimu, kau datang dengan membawa pengawal dan polisi, hanya untuk menghadapi seorang wanita. Cih! Pengecut!" Bertha meludah kasar.
"Kau yang memancing polisi untuk bertindak sejauh ini. Kenapa pula kau harus menggunakan seorang anak malang sebagai sandera untuk menemuiku." sahut Andrew.
"Apa kau akan menemuiku, jika aku tidak mengancam membunuh anak ini?! Suruh mereka mundur Andrew, Jangan katakan kalau kau takut berhadapan dengan diriku." Mata Bertha melotot sambil menggeser pisau di leher Leonel.
Gerakan Bertha terhenti. Dia tertawa dengan keras melihat reaksi Andrew. Tawa nya membuat setiap orang disana mengernyitkan kening sekaligus semakin waspada.
"Kau semakin lembut ternyata. Pria dingin yang dinikahi adik bodohku, ternyata menjadi selembek ini." Bertha menyeringai lebar seraya memainkan pisau di tangannya.
"Hentikan perbuatanmu. Tidak ada gunanya kau melakukan hal ini. Sebaiknya lepaskan anak tak berdaya itu. Dan juga dia, apakah dia anakmu, Biarkan polisi membawa mereka ke rumah sakit dan mendapatkan pengobatan. Kemudian kita bisa berbicara dengan lebih tenang." Andrew berusaha agar Bertha melepaskan Leonel yang bahkan tidak sanggup untuk berdiri lagi.
"Kau lupa dengan anakku Andrew? Bill... sapa dia, pamanmu, Andrew."
Bertha berbicara dengan lembut pada pemuda di kursi roda. Pemuda itu dengan susah payah, menoleh ke arah Andrew. Tangannya berada di tuas kursi roda. Sekali gerak saja pada tuas itu, kursi roda akan otomatis meluncur.
__ADS_1
"Bertha, biarkan anak mu mendapatkan perawatan."
"Apa perdulimu, Andrew! Puluhan tahun, kau tidak pernah perduli padanya! Kau membuat hancur perusahaan yang daddy bangun. Kau membalas kebaikan daddy dengan penghianatan. Kau benar-benar tidak tahu balas budi!" Wajah Bertha merah dengan penuh emosi.
Andrew mengurungkan keinginan hatinya untuk menjawab semua tuduhan Bertha. Karena semakin marah wanita itu, akan semakin berbahaya. Andrew diam sambil melihat situasi. Dia melihat pengawalnya berusaha mencari celah untuk bisa menaklukan wanita itu. Tapi sayang, Bertha berada pada posisi aman. Belakang Bertha adalah dinding, Begitu juga kanan dan kirinya. Sangat sulit mendapatkan celah untuk menakluka wanita itu.
Kepala polisi melihat jika Leonel sudah tidak berdata. Dia menghampiri Andrew.
"Jika dalam satu menit, dia tidak melepaskan sandera nya, maka kami akan melumpuhkan dia."
"Melumpuhkan?"
"Jalan satu-satunya adalah menembak mati."
"Didepan kedua anak itu?"
"Tidak ada jalan lain lagi. Kami harus melakukannya." Ujar Kepala polisi yang sudah mengambil keputusan
Andrew menatap pada Bertha yang tampaknya memperhatikan percakapan mereka. Meskipun kepala polisi itu hanya berbisik, tapi Bertha jelas bisa melihat jika mereka merencanakan sesuatu. Dan dia tahu, jika ingin membalaskan dendamnya, maka Bertha harus bertindak terlebih dahulu.
"Andrewwwww!!!!" Bertha meneriakan nama Andrew dengan lantang dan penuh kebencian.
"Kau penghianat! Kau menyia-nyiakan Cinta adikku Rachel, kau menghianati kebaikan daddy Bill. Kau harus bertanggung jawab. Aku akan mengirimu untuk memohon ampun pada mereka!!!"
Bertha dengan sekuat tenaga mendorong Leonel kearah polisi yang berada dihadapan Andrew.
__ADS_1
Formasi polisi itu terbuka, mereka berusaha menangkap Leonel. Dan Bertha dengan sigap berlari, mengarahkan pisaunya ke arah Andrew.
Pisau itu menancap, meminta korban. Darah menyembur dengan keras mengenai tubuh dan wajah Bertha. Wanita itu melotot lebar-lebar hingga mata itu seakan hendak tumpah. Dia tertawa menggelegar dengan bahagia. Kemenangan sudah dia peroleh. Dan matanya menatap nanar ke arah Andrew yang terkejut.