
Tanpa sadar Caroline menandatangani kertas kosong bermaterai tersebut. Kertas yang di buat Raja secara darurat tanpa perencanaan. Pikiran yang jeli meskipun tindakan tersebut tergolong licik. Tapi siapa yang akan menuntut njka kondisi kejiwaan pun harus dipertanyakan.
Raja dengan perlahan menarik kertas yang telah ditandatangani oleh Caroline. Dia buru-buru mundur di belakang wanita itu dan memasukan kertas kosong dengan tandatangan Caroline kedalam tas. Dia harus bergerak cepat sebwlum wanita itu menyadari perbuatannya.
Caroline masih termangu dengan postur yang mengkhawatirkan. Dia sesekali menggumam. Tampaknya otak Caroline dipaksa untuk berpikir keras.
Tangisan Francesca menyadarkan Caroline dari lamunannya. Dia melihat pulpen di tangannya dan mengernyit tidak mengerti. Caroline melemparkan pulpen itu dengan heran. Dia melihay Conrad menepuk pundak Francesca yang menangis berusaha menenangkan gadis kecil itu.
Seorang perawat menghampiri mereka dan menggendong Francesca. Dia menepuk pundak gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Tenanglah, jangan menangis. Semua baik-baik saja. Ibu mu akan segera semnuh dan segera pulang."
Mendengar perkataan perawat itu, tangis Francesca meledak semakin keras.
Sementara Conrad beralih mendekati ayahnya dia memeluk Andrew. Meskipun tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Twtapi dia tahu, jika ibunnya Caroline hendak memisahkan Andrew dan Diana.
"Aku tidak mau daddy berpisah dengan mommy Diana. Aku mau kalian selalu menjadi orang tuaku." ujar Conrad dengan penuh harap.
Andrew memandang Conrad dengan tatapan penuh kasih sayang. Anaknya sudah dapat menentukan pilihan yang benar. Hati dan pikirannya benar-benar telah terbuka.
"Tentu saja sayang, kami akan selalu menjadi orang tuamu. Selamanya." ujar Andrew menenangkan Conrad.
Conrad merasa tenang dan dia kembali memeluk Andrew. Hatinya merasa lega dan dia percaya dengan janji yang diucapkan oleh Andrew. Dia merasa bahagia, karena orang tua kandungnya adalah Andrew. Meskipun dirinya kecewa dengan Caroline.
Raja mendekati Andrew dan membisikan kata, "beres boss." Andrew mengangguk tanda mengerti. Sejauh ini segala sesuatunya berjalan dengan baik. Dan Andrew merasa beruntung memiliki assistent cekatan dan jeli seperti Raja.
Sekarang mereka tinggal mengharapkan mujijat, agar perilaku Caroline berubah tiba-tiba.
Ada alasan Andrew meminta pskiater, seorang dokter ahli kejiwaan menemani dirinya, dokter anak dan dinas sosial. Dia ingin mendapatkan pengakuan dari rumah sakit mengenai kondisi kejiwaan Caroline, agar mendapatkan hak untuk mengadopsi Francesca.
__ADS_1
Caroline yang tersadar dari lamunannya ?memandang Frnacesca yang menangus. Dia mengulurkan tangannya meminta agar perawat itu membawa Francesca kepadanya. Perawat tersebut tanpa pikiran buruk, mendekat ke Caroline.
Dia hendak memberikan Francesca yang di gendongnya ke sisi Caroline. Ketika menyadari gendongan perawat itu melonggar, Francesca histeris. Dia menjerit ketakutan. Dia mengalungkan lehernya ke arah perawat dengan kuat-kuat. Gadis itu menangis dengan keras.
Perawat tersebut mempererat gendongannya, khawatir Grancesca terjatuh. Dia terkejut dengan sikap Francesca yang diluar dugaan. Dia heran bagaimana mungkin seorang gadis kecil itu bisa histeris ketakutan dengan ibunya sendiri.
Disaat yang bersama, Andrew menyenggol lengan Raja. Dia memberi tanda pada Raja untuk mendekati pskiater sang dokter ahli kejiwaan tersebut. Raja harus bisa menanamkan hasutannya pada dokter tersebut.
"Lihatlah dokter, apa wajar seorang anak kecil ketakutan dengan ibu kandungnya? Baru pertama kali saya melihat seorang anak kecil, gadis lagi tidak akrab dengan ibunya. Bahkan cenderung seperti melihat hantu.. Kasihan sekali anak itu. Ah lihatlah badannya kurus kering dan wajahnya sangat tirus. Tampaknya anak itu seperti kurang gizi, padahal pakaian ibunya selalu tampak mahal. Baju yang dia kenakan sebelumnya pun, ya Tuhan kau harus melihatnya dokter. Tampak seperti gelandanga. Apakah dia mendapatkan perlakuan yang baik dari ibunya, ck...ck..ck.. anak yang malang. Anak yang malang." ujar Raja perlahan kepada psikiater dan juga dokter anak.
Kedua dokter tersebut saling bertatapan dan menimbang. Sementara dinas sosial mencatat semua yang dia lihat saat ini.
Sementara itu Caroline masih merayu Francesca.
"Ini mommy sayang. Kemarilah. Suster, biarkan aku memeluk anakku. Dia selalu seperti itu bila berada di keramaian. Kemarilah..."
Francesca masih terisak dan memandang Caroline dengan takut. Dia duduk disisi Caroline
dan menundukan kepalanya, takut melohat wajah ibu nya.
"Ampun mommy, Frances tidak nakal. Hiks...hikss. Ampun mommy. Hiks.. hikss... Jangan hukum Frances," ucap Fra cesca disela-sela isakan tangisnya.
"Cup. Cup. Sayang hentikan tangisanmu. Lihatlah ayah dan kakakmu. Kita akan menjadi seorang keluarga. Ketika mommy sembuh, kita akan ke kota besar dan merebut apa yang menjadi milik KU. Ssst... sssttt... tenanglah."
ujar Caroline dengan lembut.
"Kau tahu, ayah kandung mu tidak berguna. Aku sudah mengorbankan segalanya, kecantikanku, masa mudaku tetapi dia selalu tenggelam dengan pekerjaannya. Bahkan dia menuduhku berselingkuh dan meragukan dirimu sebagai anak kandungnya.. Hahahha sampai matinya pun, pria itu tidak memberiku apa-apa." Caroline tertawa sinis.
"Tapi lihat dia, dia menyukaimu. Kita akan menjadi keluarga dan kaya lagi. Hahhaha."
__ADS_1
Lanjut Caroline.
"Tapi mommy, kakak bilang, dia memiliki mommy yang suka memeluk. Bukannya dalam satu keluarga hanya ada satu daddy dan satu mommy?" ujar Francesca tiba-tiba dengan berani tanda tak mengerti.
Dalam bayangannya bagaimana bisa mereka menjadi sebuah keluarga apabila Andrew sudah memiliki istri. Dia selalu melihat semua tetangga mereka, di dalam rumah hanya ada satu ayah dan satu ibu.
"KAU ANAK BODOH. DIA PRIAKU. AKU AKAN MENDAPATKANNYA KAPANPUN AKU MAU. KAU ANAK TIDAK BERGUNA SEPERTI AYAHMU. AKU MEMBENCIMU SEPERTI AYAHMU. RASAKANNNNNN!!!"
Caroline tiba-tiba histeris. Dia mencengkeram bahu Francesca dengan kuat. Gadis kecil itu menangis dan melolong kesakitan. Andrew, perawat dan dokter berusaha memisahkan mereka.
"Lepaskan anak ini Caroline. LEPASKAN!"
Cengkraman Caroline terlalu kuat. Hingga dengan susah payah akhirnya Andrew bisa merebut Francesca dari genggaman tangannya. Suster dan dokter bergerak menahan tubuh Caroline.
Wajah Caroline merah padam, matanya melotot dan dia terus meneriakan kebencian. Andrew memeluk Francesca dan menutupi telinga anak itu. Sementara Raja mengikutiki Andrew dengan menggandeng Conrad, bergegas keluar dari ruangan Caroline.
"Hoiii jangan pergi. Aku harus menghukum anak itu!"
Caroline yang histeris melupakan jika kakinya patah dan kepalanya terluka. Dia mendorong tubuh perawat dengan kuat hingga terjungkal.
Dan Caroline hendak turun.
Dengan gerakan cepat Caroline turun dari tempat tidur, dan tentu saja dia terjatuh bergulingan. Kepalanya dengan keras menghantam lantai. Tiang Infus jatuh menghantam tubuhnya dengan keras. Darah keluar dengan deras melalui infus yang terlepas dengan paksa. Sementara itu kakinya yang patah tertindih tubuhnya sendiri.
Tanpa sempat menjerit, Caroline sudah pingsan.
...💗💗💗💗💗💗...
Kok author merasa sadis ya...
__ADS_1