
"Pria mesum kenapa kau ada disini lagi?" Lia memandang kesal ke arah Jason di koridor rumah sakit lantai Executive tempat Diana di rawat.
"Kucing liar senang bertemu denganmu lagi." ucap Jason dengan terkekeh.
"Apa yang kau lakukan disini pria mesum?" Lia masih menghadang jalan Jason.
"Ini kan rumah sakit, tentu saja untuk merawat orang sakit, masa mau nonton bioskop." seloroh Jason tanpa menghilangkan senyumannya.
"Kamu sakit?" suara Lia berubah dari garang menjadi lembut.
"Iya."
"Sakit apa?"
"Sakit hati."
"Heh? Maksudmu jantung mu bermasalah?"
"Bukan jantung nona, tapi hati."
"Hei tuan yang pandai dan hebat, di dada itu jantung, kalau hati disebelah sini." Lia menunjuk pada posisi dimana liver bersarang.
"Kalau gak percaya coba tanya itu suster." Lia memanggil seorang suster. Suster tersebut mendekat.
"Iya nona ada yang bisa saya bantu?"
"Suster disini letak jantubg atau hati?" tanya Lia lada suster tersebut sambil menepuk dada sebelah kiri
"Itu daerah jantung nona."
"Benar bukan? Sus tolong pria ini ada masalah dengan jantung nya dan sedikit gangguan mental." Lia menunjuk pada Jason yang terpaku dan melotot padanya.
"Tolong dibantu ya sus, bisa gawat pasien gangguan mental dan penyakit jantung berkeliaran di lorong ini." ucap Lia dengan serius dan buru-buru meninggalkan Jason bersama suster.
"Eh tunggu kucing liar." Jason hendak menyusul Lia tapi langkah nya dihentikan oleh suster tersebut.
"Tuan, sebaiknya ikuti saya untuk pemeriksaan."
"Eh, kamu tidak paham, dia menipumu."
"Maaf tuan, sebaiknya anda ikut kami dulu." Suster tersebut masih ngotot menghalangi langkah Jason dan mulai memanggil perawat pria untuk membantunya.
"Tolong bawa tuan ini keruang pemeriksaan."
Perawat pria segera memegang tangan kanan dan kiri Jason dan memaksanya mengikuti langkah mereka.
"Sudah aku bilang, wanita itu berbohong pada kalian!" Jason marah sekali. Dia kesal karena mereka masih tidak mempercayainya dan saat itu dia tidak membawa pengawal di lantai atas.
__ADS_1
"Nona itu adalah keluarga tuan Andrew, dia tidak mungkin berbohong akan hal seperti ini." ucap Suster tersebut dengan nada angkuh.
"Sia##n Andrew lagi! Andrew lagi! Kau pikir aku siapa?" Jason marah dengan tingkah suster yang menurutnya bodoh sekali itu.
Dengan geram Jason mengikuti mereka.
*****************
"Kenapa kau? Datang senyum-senyum lebar." Diana memandang heran pada Lia yang masuk keruang pasien sambil tersenyum lebar dengan membawa satu kresek kaleng minuman.
"Ga apa-apa. Tadi habis ketemu dengan orang gila." jawab Lia dengan asal sembari meletakan kresek bawaannya dan mengambil sekaleng minuman dingin dan memberikan pada Andrew.
"Brother kau mau minum ini?" tanya Lia sambil menyodorkan minuman pada Andrew.
"Apa ini?" tanya Andrew sambil mengamati minuman kaleng tersebut.
"Ckckckck... dasar pria bangsawan! Itu kopi dingin, brand nya sudah terkenal diseluruh penjuru dunia." Lia menggelengkan kepalanya tidak menyangka Andrew benar-benar tidak pernah menyentuh minuman kaleng tersebut.
"Aku biasanya minum langsung buatan barista." jawab Andrew dengan polos.
"Jadi tidak mau?" Lia mengulurkan tangan hendak mengambil kembali minuman kaleng tersebut.
"Eits! Aku akan mencobanya." Andrew membuka minuman kaleng tersebut dan mencobanya. "Not bad."
"Not bad? This is good!" Lia menegak minuman kalengnya.
"Oke suster cerewet." Diana tertawa sambil mengolok adiknya.
"Jam berapa kita akan pulang brother?" tanya Lia.
"Sebentar, aku akan mengantar Diana untuk usg terlebih dahulu, kemudian kita akan pulang." kata Andrew setelah menghabiskan minuman kalengnya.
"Baiklah aku akan berkemas sementara kalian keluar." tangan-tangan Lia mulai bergerak lincah membersihkan dan mengepak barang-barang.
"Benar-benar sepertimu sayang." ucap Andrew lembut di sisi Diana ketika melihat bagaimana Lia merapikan semua barang-barang.
"Tentu saja." Diana mengecup kening Andrew.
"Ini mau..." lia mengurungkan niatannya untuk bertanya kepada Diana, ketika dilihatnya bagaimana mereka saling berpandangan mesra.
"Kalau sudah selesai panggil aku." gerutu Lia kesal sambil keluar dari ruang pasien dengan ponsel nya.
"Jangan biarkan ada orang masuk atau membuka pintu sebelum mereka keluar. Dan kau hubungi dr. Michael bilang usg diundur satu-dua jam kedepan. Kalau mereka mencari aku ada di ruang tunggu." perintah Lia pada pengawal sementara dirinya segera menuju ruang tunggu
Sementara di dalam ruangan, Andrew tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mulai bereaksi. Dia mulai mencium bibir Diana dan tangannya bergerilya. Semenjak Diana mulai maembuka dirinya lagi, hasratnya selalu muncul. Berada didekat wanita itu dan menghirup aroma tubuhnya bagaikan candu yang tidak ada penawarnya bagi Andrew.
********************
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu kucing liar!" dengan geram Jason menghempaskan tubuhnya disebelah Lia yang asyik menonton film korea melalui ponselnya dengan memakai earphone. Dia tidak menyadari kedatangan Jason hingga pria itu menghempaskan tubuh disisi nya.
Lia hanya menoleh dan tidak menghiraukan Jason disisinya. Dia masih asyik fokus dengan serial korea di ponselnya.
Jason menoleh dan melihat ponsel Lia, kemudian melepaskan satu sisi earphone meletakan ditelinganya. Lia menoleh dengan kesal, ketenangannya terganggu.
"Aku pikir kau begitu hebat bisa memahami bahasa Korea juga, ternyata ada textnya." Jason terkekeh sambil melepaskan earphone nya.
Lia tidak memperdulikan baginya Hyu bin lebih penting daripada Jason yang seperti lalat disisinya.
Merasa tidak dianggap, Jason mulai kesal.
"Lebih baik aku menemui Diana daripada duduk disisi kucing liar." Jason mulai berdiri hendak meninggalkan Lia.
Mendengar perkataan Jason, Lia tiba-tiba menarik jas bagian belakang pemuda tampan itu hingga pria itu jatuh terduduk di sofa. Dia tidak bisa membiarkan Jason mengganggu Diana apalagi ada Andrew disana.
"Duduk disini! Jangan ganggu kakakku lalat buah!"
"Badanmu saja yang kecil tapi tenaga seperti gorila." olok Jason dengan kesal. Karena lagi-lagi wanita ini menarik kemeja mahalnya seperti sebuah serbet saja.
Andaikan Lia bukan adik Diana, mungkin sudah di perintahkan pengawal untuk melempar wanita ini keluar.
"Sssst. Diam lalat buah. Ini dengarkan dan tonton." Lia memberikan salah satu earphone nya.
Jason melepaskan earphone dengan kesal kemudian berdiri lagi dengan kesal hendak meninggalkan Lia.
Tapi lagi-lagi tangan Lia tidak kalah cepat, dia menarik lengan Jason hingga pria itu terduduk dengan kasar di sofa.
Kali ini Jason geram. Dia menahan amarahnya, gigi-giginya mulai bergemelatukan menahan emosi.
"Sudah aku bilang jangan ganggu kakakku!" Lia tak kalah geramnya.
"Sudah duduk disini saja. Minum ini." Lia membuka satu kaleng kopi dingin dan memberikan pada Jason.
"Apa ini?" Jason memandang heran pada kaleng minuman yang diberikan oleh Lia.
"Ckckckkc kalian pria-pria konglomerat memang tidak gaul." Lia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap heran pada Jason yang bertingkah sama dengan kakak ipar nya, Andrew.
Merasa diolok, Jason hanya melirik tajam dan mulai menegak minuman kopi susu kaleng tersebut.
Saat itu, Briant berjalan meewati ruang sofa didepan mereka, dengan segera Lia berteriak memanggilnya, "brother Briant."
Lia tampak senang sekali melihat Briant, senyum menghiasi wajah cantiknya dan matanya bersinar ceria.
Dia segera menghampiri Briant. "Duduk disini dulu brother. Jangan masuk kekamar ya, sampai mereka keluar sendiri." Lia menarik tangan Briant dan mengajaknya duduk di sofa dihadapan Jason.
Jason yang melihat perubahan sikap Lia, mengkernyitkan keningnya sambil bergumam, "kucing liar ini bisa tersenyum juga."
__ADS_1
ππππππππππππππππππ