Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Oleh-Oleh


__ADS_3

Hari kedatangan Andrew sudah sangat dinantikan. Padahal dia cuma pergi selama tiga hari, tetapi perasaan yang ditinggalkan seperti tiga tahun.


Diana meminta pada Briant untuk mengundurkan acara barbeque bersama, hingga dua hari setelah kedatangan Andrew. Dia menginginkan waktu suaminya hanya untuk dirinya sendiri dan anak-anak.


Diana meninggalkan anak-anaknya dalam pengawasan butler Jhon dan kedua pengasuh. Hari ini seperti janjinya, dia akan menjemput Andrew di bandara dan membawa mereka ke Condominium. Semalam hanya mereka berdua.


Awalnya Diana merasa egois meninggalkan kedua anaknya, hanya untuk berduaan dengan Andrew. Tetapi, mengingat kerinduannya pada Andrew dan sedikitnya waktu yang bisa dihabiskan dengan bebas hanya berdua saja, membuat Diana memantapkan dirinya untuk menyerahkan pengawasan Conrad dan Aaron pada orang terpercaya.


Untuk itu lah, Diana menghubungi ayah Andrew sehari sebelumnya, pria itu harus dilibatkan agar dia lebih dekat dengan cucu-cucu nya.


"Daddy, bagaimana kabar mu?" Tanya Diana melalui sambungan telphone.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?"


"Kami baik-baik. Dad, apakah kau tidak merasa kesepian dirumahmu? Tinggalan bersama kami." Ajak Diana.


"Hahaha aku masih menikmati kesendirianku, tapi aku akan berkunjung ke mansion kalian."


"Bagaimana kalau daddy menginap besuk?"


"Kenapa harus besuk?" Tanya Arthur dengan heran.


"Sebenarnya... Aku memerlukan bantuanmu dad untuk menemani Conrad dan Aaron."


"Apa rencanamu?"


"Aku hendak mengambil waktu berdua dengan Andrew, kami berencana menghabiskan waktu di kondominium." Ujar Diana dengan malu-malu.


"Hahahaha aku mengerti. Aku mengerti. Kalian hendak semi honeymoon, begitu saja kenapa harus malu. Mau honeymoon juga tidak masalah. Asal jangan lupa kembali dengan oleh-oleh cucu perempuan. Aku sudah punya dua cucu pria. Aku menginginkan cucu perempuan yang cantik dan lucu serta cerewet." Ujar Arthur dengan panjang lebar membuat Diana tersipu.


"Ah daddy ada-ada saja."


"Aku tidak akan mengada-ada. Besuk aku akan datang ke mansion kalian. Jangan khawatir dan persiapkan dirimu untuk cucu wanita ku." ujar Arthur dengan terkekeh.


"Terimakasih dad. See you tomorrow."


Dan sesuai janji, Arthur datang bertepatan saat Diana hendak berangkat.


"Conrad, jaga Grandpa dan Aaron ya. Mommy mau berangkat jemput daddy, ya. Besuk kami akan pulang kemari dan kita akan mengadakan barbeque dengan uncle Briant dan aunt Grisella." Pamit Diana pada anak tertuanya.


"Kenapa mommy tidak langsung pulang saja, kenapa harus besuk?" tanya Conrad yang masih tidak mengerti akan alasan Diana


"Karena Grandpa ingin bersama dengan kalian tanpa di ganggu oleh Mom and Dad. Kita akan bermain bersama. Ayo siapa yang mau lihat hadian dari Grandpa," Arthur berjalan masuk diikuti kedua cucu yang berebutan hendak mendapatkan hadiah mereka.


Diana tersenyum melihat keakraban diantara mereka. Dan dia berangkat ke bandara dengan perasaan lega, karena kedua anaknya berada bersama Arthur dan butler Jhon.


*


Andrew memeluk erat Diana di sepanjang jalan, membiarkan Raja dan Crew bandara membawa koper. Pelukan yang terlalu erat sehingga membuat Diana susah berjalan.


"Andrew, lepaskan pelukanmu. Aku susah berjalan. Dan lihat semua menatap kita, risih." ujar Diana sambil sedikit mendorong tubuh suaminya.


"Biarkan saja. Aku tidak perduli. Jika kau susah berjalan biar aku gendong." Kata Andrew sambil memposisikan satu tangannya siap mengangkat Diana.


"Hei, stop! Jangan aneh-aneh. Kita jalan seperti ini saja."


Digendong di bandara pasti akan menyedot perhatian banyak orang. Berjalan seperti ini saja sudah membuat beberapa pasang mata melirik dan tersenyum, membuat Diana menjadi risih.

__ADS_1


Setibanya di depan, Papito sudah menunggu dan membuka bagasi untuk koper Andrew.


"Masuklah Raja, biar Papito mengantar ke apartementmu." Perintah Andrew kepada Raja.


"Tidak usah tuan, saya akan menggunakan taxi saja," tolak Raja dengan sopan. Dia sedikit merasa malu, menjadi saksi hidup manjanya Andrew pada Diana.


"Tidak apa-apa, masuklah. Aku rasa perjalanan kita searah,"


Perkataan Diana, membuat Raja enggan menolak.


"Baiklah nyonya."


Raja duduk disamping Papito, sementara Andrew dan Diana duduk di belakang. Andrew menyandarkan kepalanya diatas pangkuan Diana seraya memeluk pinggang ramping istrinya.


"Papito, langsung menuju ke Ritz Carlton." Perintah Andrew.


"Tidak ke condominium?" tanya Diana.


"Tidak. Kita ke Ritz Carlton Hotel saja. Kau tidak perlu membersihkan tempat. Disana semua pelayan siap dipanggil." Ujar Andrew memberi alasan yang bisa diterima Diana.


Sebenarnya Andrew enggan kembali ke Condominium tersebut dan berniat untuk menjualnya. Meskipun disana banyak sekali kenangan manis antara dirinya dan Diana. Tetapi disana pula ada kenangan buruk, saat Diana pertama kali bertemu dengan Rachel.


*


Ritz Carlton Penthouse.


Andrew menggendong Diana memasuki Penthouse hotel Ritz Carlon. Semua terasa indah dengan kerinduan yang terlabuhkan.


Dia merebahkan istrinya diatas peraduan dan mulai menciumi bibir yang selama beberapa hari ini dia rindukan.


Diana mengalungkan tangannya dengan manja ke leher Andrew. Mereka berciuman mesra melepaskan kerinduan. Tangan Andrew sudah merajalela disekujur tubuh Diana yang masih berbalut gaun lengkap.


Dengan lembut dia memposisikan naga perkasa memasuki sarangnya. Dengan lembut dan perlahan dia memasukan naga miliknya ke lubang yang selalu terasa ketat.


Meskipun birahi nya sudah memuncak, tapi dengan penuh kelembutan, dia menjaga agar Diana tidak merasakan sakit.


Bersama mereka merengkuh kenikmatan. Ciuman dan erangan disela -sela hentakan lembut yang tak kunjung mereda, hingga puncak kenikmatan.


"Argh... aku... tidak akan pernah puas dengan dirimu." ucap Andrew yang terkulai disini Diana.


"Apalagi diriku," sahut Diana sambil meletakan tubuhnya diatas dada bidang Andrew.


Andrew mencium kening Diana dan membelai lembut punggung telanjang wanita itu. Kerinduan itu telah terbayar lunas, tetapi tetap tidak sanggup meredakan hasrat yang menggelora.


"Aku membelikanmu sesuatu." Andrew mengangkat tubuh Diana dan menggendong wanita itu menuju ke arah bingkisan yang dia bawa.


Andrew mendudukan Diana di kursi dan berlutut memberikan bingkisan tersebut.


"Bukalah sayang."


Denggan penasarn Diana membuka bingkisan besar tersebut.


"Wow. Cantik sekali ini Andrew," pekik Diana girang melihat sebuah tas merk Dolce dan Galbana. Tas branded Italia yang sudah mendunia. Harga aslinya. Ssttt bisa pusing kalau tahu.


"Dan ini satu lagi. Sebelum membukanya, Kau harus berjanji akan mengenakannya." ujar Andrew mencurigakan.


Diana menaikan satu alisnya. Perkataan Andrew membuatnya penasaran.

__ADS_1


"Kau tidak membeli sesuatu yang tidak-tidak bukan?"


"Mana mungkin aku membeli sesuatu yang tidak-tidak. Aku tentu membeli sesuatu yang iya-iya untuk dirimu."


"Kalau aku tidak mau memakainya?" ujar Doana menggoda.


"Berari kau tega membuatku bersedih." Jawan Andrew sambil menunjukan mimil wajah hendak menangis.


"Ih... mana tega aku melihatmu menangis." Diana menangkup wajah suaminya dan mencium bibirnya dalam-dalam.


Kemudian dia mulai membuka bingkisan yang dibungkus dengan rapi. Matanya terbelalak melihat apa yang di beli oleh Andrew. Dia mengeluarkan isi bingkisan itu satu persatu.


"Andrew... Kau ingin aku mengenakan ini untuk malam ini?" tanya Diana tidak percaya.


Andrew mengangguk.


"Bukan saja malam ini, setiap saat. Atau paling tidak seminggu dua kali."


"Ih, tingkat kemesumanmu bertambah ya."


Diana membekakabgi Andrew dan mulai mengenakan salah satu pakaian tersebut. Ketika dia berbalik dan mulai beraksi, Naga mulai bangkit pagi dan siap beraksi.


Flash Back


"Tuan, kita hampir terlambat." Desak Raja disaat Andrew memerintahkan supir untuk memutar balik menuju area pertokoan mewah.


"Kalau terlambat, cari penerbangan lain. Aku harus membeli sesuatu yang hampir aku lupakan." Jawab Andrew tidak perduli.


"Apakah itu penting?" Raja memberanikan diri untuk bertanya


"Penting sekali."


"Tidak ada di Miami?"


Andrew berpikir sejenak.


"Mungkin ada, tapi aku hampir tidak punya waktu untuk mencarinya. Dan kebetulan aku menemukannya tadi." sahut Andrew.


Raja menjadi semakin penasaran benda apa yang hendak di beli Andrew, sehingga mengorbankan resiko ketinggalan pesawat.


Dan sesampai nya di tujuan, Raja teperangah dengan apa saja yang dipilih oleh Andrew.


"Kau dilarang mengimajinasikan ini di kenakan istriku. Bayangkan kekasihmu saja!" bentak Andrew tiba-tiba.


"Tidak tuan mana saya berani. Tapi jika nyonya menyukainya, saya akan membantu anda menemukan motif lainnya di Miami." ujar Raja dengan gugup.


"Akan aku pertimbangkan." sahut Andrew datar.


Dan akibat membeli kostum untuk Diana, Andrew dan Raja tiba disaat panggilan terakhir dari pesawat mereka.


"Beli begini saja sampai mau ketinggalan pesawat. Adohh... " Raja mengguman sendiri, setelah lelah berjalan dengan cepat sambil membawa kantong belanjaan Andrew.


🌟🌟🌟🌟🌟


Ini gambaran oleh-oleh Andrew. Sebenarnya ini oleh-oleh buat Diana apa kado buat Andrew sendiri ya ?


Author jadi bingung, hehehehehe

__ADS_1



__ADS_2