Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Canape


__ADS_3

"Kak Jasmine... maaf, lusa tampaknya kita tidak bisa bermain baseball." Anna menghubungi Jasmine lewat telphone.


"Memangnya kenapa Anna?" tanya Jasmine dengan heran.


"Adel lagi kurang sehat kakak." ujar Anna lesu.


"Ya Tuhan... bisa kakak menjenguk nya?" tanya Jasmine prihatin.


"Gak usah kakak. Adel kalau sakit tidak suka di temui siapapun, kecuali mommy." ujar Anna.


"Baiklah kalau begitu. Jika kalian perlu sesuatu, kabari kakak ya." pinta Jasmine dengan bersungguh-sungguh.


"Iya kakak. Terimakasih." Anna mematikan sambungan telphone.


"Dah! Beres! Puas ?!" Anna dengan kesal menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Makasih ya, adikku sayanggg. Anna makin cantik deh." ujar Conrad sambil mencubit pipi Anna.


"Untung Adel beneran lagi gak enak badan, jika tidak... hiii... bisa aku smack down kakak ya!" Anna masih kesal sekali, karena Conrad meminta dirinya untuk membatalkan perjanjian dengan Jasmine untuk bermain baseball akhir pekan ini.


"Wih, tuan putri galak sekali. Mau dibelikan apa nanti sebagai gantinya?" Conrad melakukan penawaran.


"Anna mau permen kapas. Yang banyak untuk akhir pekan. Kakak harus bawa ke rumah. Anna akan mengajak Shawn dan Mathew untuk bermain disini." ujar Anna dengan mata berbinar.


"Awas bolong gigi mu." Archie yang sedari tadi asyik membaca, menyeletuk.


"Gak lah kalau langsung sikat gigi." sahut Conrad.


"Wekkk." Anna mencibir kearah Archie.


"Mana ada ceritanya Anna habis makan permen sikat gigi. Adanya langsung tidur iya." sindir Archie lagi


"Archie nyebelin! Biarin! Gigi juga gigi ku!" bentak Anna kesal.


"Gigi mu, memang benar. Tapi kalau sakit jangan merengek ya. Sakit telingaku."


"Archie jelekkkk!!!" Anna dengan kesal menghentakan kaki nya.


"Udah ah. Anna gak usah bertengkar. Archie ga salah kok. Nanti kalau gak langsung sikat gigi, kumur-kumur ya. " Conrad menengahi.


Mendengar perkataan Conrad. Anna langsung melunak. Meski mudah meledak, tapi Anna adalah anak yang berhati lembut dan patuh.


"Lagian kenapa sih, kok kita tidak boleh bermain dengan kak Jasmine?" tanya Archie heran.


"Bukan tidak boleh. Tapi kakak akhir pekan ada janji dengan kak Ruby, jadi tidak bisa menemani kalian." Conrad menjelaskan alasannya meminta Anna membatalkan janji dengan Ruby.


"Gak harus ada kalian berdua. Tanpa kakak juga ga masalah." celetuk Archie.


"Iya. Kak Jasmine orangnya asyik. Kemarin saja di riverview kita ngobrol juga tanpa kakak. Kakak kan lagi mojok berduaan." ujar Anna yang kini sejalan dengan Archie.


"Betul itu. Kita malah asyik sendiri. Menari bareng. Lucu itu kak Jasmine." ujar Archie.


"Baik lagi. Kaki nya padahal sakit, tapi tidak mengeluh. Malah berusaha menari bersama kami." Anna menambahkan.


"Ih, kamu dasar kasar Anna. Ingat, kaki kak Jasmine tertabrak hydrant. Jadi luka sebelumnya jadi bertambah parah. Untung bibi Matilda selalu membawa perlengkapan." Perkataan Archie membuat Anna cemberut sedih.


"Maksud kalian luka sebelumnya?" Conrad tidak mengerti.


"Iyaaa. Waktu mommy coba membantu bersihkan, ternyata luka sebelumnya masih basah dan makin parah." Anna menceritakan kejadian sebelum nya sambil bergidik ngeri membayangkan luka Jasmine.


"Seharusnya, dia juga belum bisa bermain akhir pekan nanti. Kan kakinya masih sakit." Archie mengernyitkan keningnya, memperkirakan kondisi Jasmine.


"Iya bener itu Archie. Ga apa-apa dah batal pekan ini, hitung-hitung kasihan kaki kak Jasmine, pasti belumm sembuh benar." ujar Archie lagi.


"Iya betul itu Archie. Aku suka dengan kak Jasmine. Asyik orang nya. Kalau kak Ruby, gak tau dah. Orang mojok terus sama kak Conrad. Pacar kakak kah dia?" Anna menoleh ke arah dimana Conrad tadi berada.

__ADS_1


"Loh... dimana kak Conrad?" tanya Anna heran.


Archie mengangkat kepalanya dari buku yang dia baca.


"Sudah menghilang dia. Cepat banget."


"Tauk ah. Aku pingin makan sate. Kamu mau Archie?"


"Ayooo kita minta ke cheft Paul." Archie tanpa banyak bicara melesat pergi ke lantai bawah menuju dapur.


"Cheft Paullll!!!" teriak Anna dan Archie bersamaan.


"Ya!!!" sahut Cheft Paul dengan tergopoh.


"We Want Sate! We want Sate! We Want Sate!" teriak Anna dan Archie bersamaan.


Bukannya pusing dan merasa berisik dengan yel-yel mereka. Cheft Paul justru menggoyang-goyangkan tubuh tambunnya.


"Lapaaarrr. Kok malah joget sih." protes Anna.


"Yaaa..anak-anak cantik. Dalam sekejap sate akan siap." ujar nya masih dengan bergoyang bebek.


"Ck.. Ck.. Begitulah orang kalau sudah lupa tua." ujar Archie sambil menepuk keningnya.


"Aku dengarrrr!" teriak cheft Paul dari kejauhan.


Anna dan Archie saling menatap dan bergidik.


Seorang assistent koki mendekati cheft Paul dan bertanya, "dengar apa chef?"


"Hahaha... sssttt.. aku lagi ngerjain kedua anak kecil itu." ujar nya sambil menahan tawa dan mulai memanggang sate. (Di luar negeri sate kebanyakan di panggang ya. Kadang untuk mempercepat mereka goreng sedikit, kemudian di panggang. Kok begitu? Susah cari arang kali).


...❤❤❤...


Conrad membawa mobil Ford bututnya menuju ke rumah Jasmine. Dalam lumbuk hati nya masih ada rasa bersalah, karena tidak membantu Jasmine. Saat itu dia seharusnya segera kembali dan memeriksa keadaan Jasmine. Tetapi, keadaan Ruby yang diserang oleh Joseph, membuat Conrad tertahan.


"Ya tuan ada apa?" tanya seorang satpam.


Conrad terpaku. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Anda perlu sesuatu anak muda?" tanya satpam lagi.


"Iya.. aku.. Jasmine.." Conrad bingung harus berkata apa. Apakah dia harus menemui Jasmine atau pergi dari sini.


"Oh temannya non Jasmine. Ayo masuk. Nona ada di dalam." satpam tersebut membukakan pintu.


"Eh.. iya." Conrad dengan ragu masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


Rumah Jasmine termasuk rumah mewah dengan bangunan yang berdiri diatas tanah seluas sekitar 2000 meter persegi. Belum lagi halaman dan kolam renang. Memang kediaman Jasmine masih kalah jauh dengan Mansion yang di diami oleh Conrad. Tapi rumah mewah ini sudah menunjukan kalau Jasmine adalah anak orang dengan kedudukan tinggi.


"Duduk disini ya. Nanti saja mintta bibi memanggilkan nona Jasmine." ujar satpam dengan ramah.


Conrad mengangguk. Dia duduk di ruang tamu dengan sofa yang mewah. Hanya ada satu lukisan alam yang besar di ruang tamu tersebut, beberapa guci dan bunga hidup yang tersusun rapi.


Rumah ini menganut konsep modern minimalis, namun terasa nyaman.


Conrad menanti Jasmine dengan melangkah maju, tanpa sadar semakin masuk ke tengah ruangan yang dibatasi oleh buffet dengan banyak hiasan dari krystal. Conrad tersenyum, sama seperti ibunya yang suka sekali mengoleksi benda dari krystal terutama swarozky.


Di ruang tengah yang luas Conrad menemukan foto keluarga. Pemuda itu mendekat dan dia melihat ada foto Jasmine yang tampak cantik, Robert yang tampan dengan kedua orang tua nya. Conrad memperhatikan foto tersebut dan dia merasa mengenal ayah Jasmine, yang tampak masih muda di foto tersebut. Ketika Conrad mencoba mengingatnya, terdengar seseorang menyapa dirinya.


"Conrad?" Suara Jasmine terdengar heran.


Conrad menoleh. Jasmine terlihat sangat sederhana dengan kaos oblong bergambar LOL dan celana selutut. Gadis itu tampak lebih muda daripada biasanya, tanpa dandanan dan juga perlengkapan mewah lainnya. Rambut kecoklatannya terurai begitu saja.


"Ah.. maaf aku keluar seperti ini. Tunggu aku akan ganti baju dulu." Jasmine hendak beranjak ketika tangan Conrad menahannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya sebentar." ujar Conrad.


"E..iya." Jasmine tergagap. Dia menjadi kikuk dan gugup ketika tangan Conrad masih menahan lengannya.


Kedua insan itu masih mematung dengan posisi yang sama. Conrad masih memegang tangan Jasmine dan menatap gadis itu, membuat Jasmine merasa risih dan semakin salah tingkah. Dia yang selalu tidak perduli dan menertawakan serangkaian rayuan pria lain, saat ini justru gemetaran hanya dengan mendapati Conrad menatapnya lekat.


"Conradd..." bisik Jasmine perlahan.


"Ah... iya. Maaf." Conrad tersadar dengan perbuatannya yang sudah mencekal lengan Jasmine. Dia melepaskan tangan itu dan menunduk ke arah lutut Jasmine. Kedua lutut itu berwarna merah kecoklatan akibat obat luka yang dia kenakan. Tidak ada perban lagi. Tampaknya Jasmine sengaja membiarka luka nya terbuka agar cepat kering.


"Luka di lututmu kelihatannya sudah mulai mengering." ujar Conrad.


"E.. iya.. Mommy sudah mengobati nya. "


"Apakah itu akan membekas?" tanya Conrad.


"Entahlah. Kulitku biasanya akan membaik sendiri dan tidak mudah meninggalkan bekas luka."


"Baguslah kalau begitu." Conrad merasa lega.


"Seandainya membekas pu tidak masalah. Aku bisa menutupinya dengan pakaian." ujar Jasmine dengan terkekeh, menutupi kegugupannya.


Conrad memandang Jasmine heran. Tidak masalah membekas katanya. Pasti dia tidak bersungguh-sungguh kan? Mana ada gadis yang akan senang dengan bekas luka menghiasi tubuhnya. Apalagi, Jasmine tampak rajin merawat tubuhnya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Jasmine heran.


"Oh iya.. silahkan duduk." Jasmine berusaha jalan dengan biasa saja menuju ke sofa. Dia duduk di sisi sofa yang panjang. Jasmine mengira jika Conrad akan duduk di sofa single. Tapi pemuda itu malah duduk satu sofa dengannya, meskipun berjauhan.


"Aku... hanya ingin melihat keadaanmu. Maaf jika terlambat. Archie dan Anna baru saja menceritakan mengenai dirimu. Maaf..." ujar Conrad bersungguh-sungguh.


"Tidak masalah Conrad. Oh ya, bagaimana kabar Adel. Anna bilang dia sakit, apakah sudah sembuh apakah dia sudah baikan?" tanya Jasmine debgan berbinar.


"Iya. Adel sudah membaik."


"Syukurlah. Aku senang sekali mendengarnya, jadi lain waktu kami masih bisa bermain bersama. Aku suka sekali dengan semua adikmu. Mereka sangat menyenangkan." tutur Jasmine.


Jasmine tampak gembira sekali. Mata nya berbinar jujur ketika berbicara tentang adik-adiknya. Dia tidak kelihatan berusaha memikat Conrad.


"Baiklah kalau keadaanmu sudah membaik. Aku akan pulang dulu." Pamit Conrad.


"Ah.. Iya. Terimakasih Conrad. Apakah kau akan langsung bekerja setelah ini?" tanya Jasmine, mengingat Conrad juga bekerja paruh waktu di tempat yang sama dengan Ruby.


Conrad menggeleng.


"Aku ada janji dengan Ruby untuk mengantarnya membeli buku." jawab Conrad.


Jasmine mengangguk, menyembunyikan kekecewaannya dengan senyuman.


"Maaf minuman dan makanan nya terlambat." Lupita masuk dengan membawa seteko teh dan berbagai macam camilan kecil-kecil yang diatur dengan rapi di piring yang indah(\=canape ).


"Tidak perlu Lupita. Conrad akan segera pulang. Dia masih ada janji setelah ini." ujar Jasmine dengan tersenyum pada Lupita.


"Secepat itu. Sayang sekali... saya sudah bersusah payah menyiapkan makanan ini." ujar nya dengan kecewa sambil memandang canape tersebut.


"Tidak apa-apa, aku masih ada waktu. Jangan khawatir bibi. Aku akan menikmati cemilanmu ini. Terimakasih." ujar Conrad akhirnya.


Dia memutuskan unntuk tinggal beberapa saat lagi di rumah Jasmine. Conrad pun tidak mengerti kenapa dia melakukan hal ini. Mulutnya meluncurkan kata-kata begitu saja sebelum sempat dia memikirkan. Conrad pun bingung kenapa dia harus menyanggupi untuk tetap tinggal, Demi makanan kecil?


"Kau yakin, Conrad?" tanya Jasmine dengan heran.


"Ayooo... anak muda, ikuti saya. Akan terasa lebih nikmat memakan cemilan ini, sambil memandang bunga-bunga indah yang bermekaran." Lupita memotong pertanyaan Jasmine sebelum Conrad menjawab.


Lupita dengan gembira kemudian mengajak Conrad untuk pindah ke halaman belakang. Dimana bunga-bunga tampak terawat dengan rapi. Ada kursi kayu yang nyaman sehingga mereka bisa menikmati sore hari dengan santai, dibawah Pohon yang rindang.


...❤❤❤❤❤❤❤...

__ADS_1



__ADS_2