Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Awal Persahabatan


__ADS_3

"Maaf. Aku akan pergi dulu. Kalian silahkan mengobrol. Permisi." Ruby keluar dari kursi dan meninggalkan mereka bertiga yang menatapnya heran. Ruby merasa tidak nyaman berada di tengah ketiga orang yang berpenampilan sangat apik dan dari keluarga berada. Dia merasa minder berada ditengah ketiga orang tersebut.


"Tunggu!" Jasmine meraih tangan Ruby. Langkah kaki Ruby tertahan.


Dada Ruby berdebar. Dia tidak tahu apa yang mereka mau, berada di sekolah ini dengan beasiswa yang dia miliki saja sudah cukup sulit. Apalagi harus bergaul dengan mereka anak orang-orang berada. Ruby merasa tidak nyaman.


"Kacamatamu kan rusak. Yukkk aku antar ke optik langgananku. Kau bisa dapat harga khusus dengan kualitas yang bagus." ujar Jasmine.


Optik langganan mereka pasti adalah optik yang branded. Dan optik branded berarti harga yang di bandrol sangat mahal. Meskipun dengan potongan khusus, Ruby yakin dia tidak akan mampu membeli.


"Tidak apa-apa, terimakasih. Ini masih bisa di pakai kok." ujar Ruby mengelak.


"Tapi itu sudah retak dan gagangnya miring kan." ujar Jasmine dengan heran.


Bagi seorang wanita, penampilan itu tentu saja penting. Ruby sebernarnya ingin membeli kacamata baru. Tapi dia harus mengumpulkan uang terlebih dahulu delari bekerja part time. Sangat sayang sekali jika mengeluarkan tabungan yang tak seberapa untuk membeli kacamata baru.


"Aku bisa membelinya sendiri nanti," tolak Ruby.


"Aku yang akan membelikannya. Toh, kacamata ini juga rusak karena diriku." Conrad yang mengerti perasaan Ruby, akhirnya ikut bicara.


"Tapi..." Ruby ragu.


"Ayoo sudah lah. Dia yang bayar. Kita pergi sekarang yukk dengan mobil ku." Jasmine menarik tangan Ruby.


Gadis itu tidak bisa mengelak lagi. Dia mengikuti langkah Jasmine. Conrad dan Robert mengikuti mereka dari belakang. Sesampai nya di parkiran, Jasmine melempar kunci mobil pada Robert.


"Kak kau yang bawa ya. Ayo Ruby masuklah."


Jasmine membuka pintu untuk Ruby. Ruby dengan ragu masuk ke dalam mobil. Gadis itu masih tampak canggung berada dalam mobil mewah. Ini pertama kalinya dia duduk di dalam mobil BMW. Biasanya Ruby menuju kampus hanya dengan bus. Jika terdesak Ruby akan naik taxy dan itu baru terjadi satu kali saja. Ruby menunduk dan melihat sepatu berhak yang dikenakan okeh Jasmine. Dia melirik sepatu kumal tanpa hak yang dia kenakan. Sangat mencolok perbedaan diantara mereka.


Sesampainya di Optik yang dituju. Ruby terpukau, karena Optik itu berada di lokasi pertokoan mewah seperti dugaannya. Dengan tubuh gemetaran Ruby, masuk ke dalam optok tersebut.


"Selamat datang nona Jasmine. Apakah anda mau membeli kontak lens dengan warna dan motif terbaru?" Sapa seorang pramuniaga yang tampak sudah akrab dengan Jasmine.


"Enggak. Kali ini aku mengantar temanku. Dia mau membeli kacamata baru. Ini punya dia yang sudah rusak." Jasmine melepaskan kacamata Ruby dan memberikan pada pramuniaga tersebut.


"Mari nona, kita test dulu mata anda." ujar pramuniaga, mengajak Ruby ke bilik khusus mengetes mata.


Ruby dengan patuh mengikuti pramuniaga tersebut. Tak lama mereka keluar lagi. Jasmine memperhatikan Ruby dengan seksama. Dia menyadari jika Ruy sesungguhnya cantik, meskipun hanya dengan riasan tipis.Dan kecantikan itu tertutup oleh kacamata yang tebal.


"Ruby, aku rasa kau lebih cantik tanpa kacamata. Kenapa tidak di laser saja matamu ? atau memakai kontak lens." saran Jasmine dengan jujur.


"Ah, Jasmine aku biasa saja. Kau lah yang cantik." sahut Ruby merendah.

__ADS_1


"Aku tidak bohong. Benarkan Kakak? Benarkan Conrad? Dia lebih cantik tanpa memakai kacamata kan?" ujar Jasmine.


Conrad dan Robert menatap Ruby yang malu-malu. Kedua pria itu mengakui jika apa yang dikatakan oleh Jasmine adalah benar. Ruby lebih cantik tanpa kacamata. Memandang Ruby bagaikan melihat Diana bagi Conrad. Rasa kagum dan sayangnya pada Diana, membuat Conrad senang sekali bertemu Ruby.


"Iya benar. Kau cantik tanpa kacamata." sahut Robert yang sedari tadi juga memandangi Ruby.


"Nah, betulkan. Bagaimana kalau kita memilih softlens saja?" ujar Jasmine dengan riang.


"Tidak perlu. Aku terbiasa dengan kacamata saja." tolak Ruby.


Jika membeli softlens, maka pengeluarannya akan lebih banyak. Entah Softlens bulanan atau tahunan, itu artinya dia tetap harus menggantinya dengan rutin.


"Tapi..." Jasmine hendah membantah, namun di cegah oleh Robert.


"Jangan memaksa," bisik Robert.


Ruby kemudian memilih kacamata yang cocok untuk dirinya. Kali ini dia mengenakan kacamata dengan bingkai yang lebih bagus dan sesuai dengan tulang rahang nya. Conrad kemudian menyelesaikan pembayaran. Bagi Conrad gadis ini menggunakan kacamata atau tidak, tetap sama-sama cantik.


"Terimakasih Conrad," ucap Ruby dengan tulus. Dia merasa senang sekali dengam kacamata mahal yang baru dibelikan Conrad untuknya. Ruby merasa penampilannya tampak lebih baik.


"Ini untuk mu. Hadiah perkenalan dari ku." Jasmine memberikan satu kantong kertas kepada Ruby.


"Apa ini?" tanya Ruby tidak mengerti.


"Buka saja dirumah. Kau pasti suka. Ayo kita makan bersama dulu." Jasmine mengamit tangan Ruby masuk ke dalam mobil.


Ruby dan Jasmine sama-sama mahasiswi semester dua. Hanya bedanya mereka berbeda jurusan. Ruby di falkultas kedokteran sedangkan Jasmine di falkuktas Bisnis Ekonomi.


Conrad dan Robert berada di falkutas Kedokteran, mereka sama-sama duduk di semester enam.


Setelah selesai makan bersama, mereka kembali pulang bersama dengan mobil Jasmine.


"Ini sudah aku masukan nomor telphone kami semua ke dalam ponselmu. Kita akan berteman bukan?" Jasmine mengembalikan ponsel kepada Ruby.


Ruby menatap ragu pada Jasmine. Jika gadis ini tahu apabila dirinya adalah anak seorang perawat biasa di rumah sakit, apakah Jasmine masih mau berteman dengan dirinya? Ruby menghela nafas perlahan sambil tersenyum pada Jasmine.


"Asyiiikkk aku punya teman baru. Hai Conrad! Jangan sok juak mahal ya jika bertemu denganku." Jasmine menepuk pundak Conrad yang duduk di depannya.


"Hemmm." sahut Conrad perlahan.


Mata Conrad memandang kaca spion ke arah Ruby, dan tanpa disadari mata mereka bertemu pandang. Ruby memalingkan wajahnya. Dan ketika kembali menatap spion, kali ini dia bersitatap dengan Robert, sehingga Ruby yang merasa canggung memilih mengalihkan pandangannya ke arah jendela


Ruby menolak mereka mengantarnya sampai ke rumah. Dia memilih untuk diantar sampai di area pertokoan lingkungan rumahnya. Ruby memilih untuk berjalan kaki. Dia merasa malu jika mereka mengetahui keadaan keluarganya. Rumah kecil yang penuh sesak.

__ADS_1


*


Setibanya di Mansion, Conrad memarkirkan mobil mewah ke dalam garasi. Kemudian dia berjalan ke arah rumah keamanan, menemui Greg. Greg kepala keamanan yang sudah lanjut usia namun masih sangat gagah dan terampil itu, sekarang lebih banyak bekerja di belakang layar dan mengurusi perputaran penjaga.


"Greg. Mulai besuk aku akan membawa satu mobil pegawai." ujar Conrad sambil mengambil salah satu kunci mobil.


"Tapi tuan, ada apa dengan mobil anda? Apakah perlu diperbaiki? Anda bisa membawa mobil tuan Andrew yang lainnya." ujar Greg.


Conrad menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Mulai besuk aku tidak akan membawa mobil mewah daddy. Aku akan memakai salah satu mobil pengawal. "ujar Conrad menolak.


Greg hanya memandang Conrad tidak mengerti, dia hanya mengangguk mendengar permintaan Conrad.


Di dalam Mansion, Conrad merasa suasana begitu sepi di ruang tengah. Sayup-sayup Conrad mendengar keramaian di dalam kamar bermain. Biasanya jika sore hari ketika dia pulang, semua sedang asyik berkumpul entaah di ruang tengah atau halaman.


Begitu membuka ruang bermain, Conrad sangat terkejut melihat kekacauan di ruangan tersebut. Tampak Matilda dan Maria bertanding melakukan batlle dance di rumah dengan alas plastik. Conrad, Francesca, Anna dan Archie menyoraki mereka dengan suara nyaring dan bergerak menirukan dengan lincah. Sedangkan Adelaide bertepuk tangan sambil menggoyangkan tubuhnya perlahan.


Peluh sudah membasahi tubuh mereka semua. Conrad melihat tubuh Maria dan Matilda yang gemuk melompat-lompat, tampak sangat lucu. Conrad jadi tertawa geli melihat mereka semua. Dia merasa heran kenapa mommy tidak ikut bergabung dengan adik-adiknya.


Adelaide menyadari kehadiran Conrad. Dia melambaikan tangannya. Conrad menggampiri Adel dan duduk disamping adiknya yang paling lemah itu. Conrad mengacak rambut Adel dengan sayang.


"Dimana mommy?" tanyanya.


"Momny lagi kencan sama daddy. Mereka akan menginap di Condo malam ini. Besuk siang katanya akan kembali." sahut Adel.


Conrad mengangguk. Mommy dan daddy memang selayaknya berkencan berdua. Mereka sudah lama tidak melakukannya. Mommy pantas mendapatkan hari libur.


"Kakak. Kami malam ini berencana untuk tidur bersama di sini. Pasti seru ya. Kakak, juga mau kan tidur bersama dengan kami?" Adel memandang conrad dengan penuh harap.


"Tentu saja kakak mau. Tapi, apakah tidak terlalu pengap untuk mu?" Conrad memandang adel dengan khawatir.


Sebab Adelaide sering kali merasa sesak juka berada di ruangan sempit. Apalagi jika malam ini mereka semua berkumpul bersama dalam satu ruangan tertutup, Conrad menjadi khawatir.


"Jika aku merasa tidak nyaman, Adel akan membangunkan kakak ya." ujar Adel dengam lembut.


"Baiklah kalau begitu." sahut Conrad.


Cheft Paul masuk dengan membawa troli makanan berisi buah potong dan beberapa kue kecil-kecil juga lemonade seperti yang dipesan Adelaide. Dia sangat terkejut melihat istrinya, si Matilda bergerak dengan lincah mengikuti musik.


Cheft Paul segera mengeluarkan handohphone dan mengabadikan moment tersebutt. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan gerakan Matilda yang seperti anak muda. Jika saja Matilda melihat dirinya mengabadikan moment tersebut, bisa jadi Cheft Paul kehilangan jatah malamnya. Cheft Paul meletakan jari di bibir pada Anna yang hendak memanggil nama nya.


"Rahasiakan ini pleaseee. Ini benar-benar Fantastic." Cheft Paul berbisik pada Anna.

__ADS_1


Dalam pikirannya, Cheft Paul berencana akan meminta goyangan hot Matilda nanti Malam. Cheft Paul benar-benar tidak sabar menantikan malam tiba. Setelah mengamnil video goyang nge or Matilda, cheft Paul buru-buru meninggalkan ruang bermain.


...❤❤❤❤❤...


__ADS_2