Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Menabur Benih


__ADS_3

Suatu Siang


"Daddy? " Cicit Aaron di pangkuan Andrew.


Mereka sekeluarga baru saja selesai makan siang bersama. Andrew sengaja mengambil cuti dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya.


"Ya Aaron sayang. " Andrew mengusap rambut Aaron. Saat ini Aarong sedang menonton kartun, Conrad membaca komik dan Francesca mewarnai.


"Alon, sekalang punya dua orang kakak yaaa. Satu laki- laki, satu pelempuan. "


Aaron mengacungkan kedua jarinya kehadapan Andrew, membentuk jumlah dua. Diana yang mendengar perkataan Aaron, langsung menoleh ke arah anak itu. Dia tahu kearah mana Aaron akan berkata. Pertanyaan yang sama yang pernah diajukan padanya.


Sebelum pertanyaan lanjutan dikatakan oleh Aaron, semburat merah muda sudah tampak di wajah Diana. Dia buru-buru menundukan kepalanya dan memperhatikan Francesca yang sedang mewarnai.


"Benar sekali sayang. Aaron sayang kan sama kedua kakak Aaron?" Tanya Andrew dengan penuh perhatian.


Aaron mengangguk mantap.


"Telus, kapan Aalon di panggil kakak?"


Pertanyaan yang sudah di antipasi Diana akhirnya meluncur ringan dari bibir mungil Aaron. Mata bocah itu menatap dengam penuh keingin tahuan. Dia menanti jawaban dengan segera. Diana menyalahkan dirinya yang menyuruh bocah itu meminta pada Andrew.


Ah... Bocah kecil itu ingatannya begitu kuat jika benar-benar menginginkan sesuatu.


"Aaron mau menjadi kakak? Aaron mau punya adik? "


Andrew sengaja mengeraskan suaranya engan nada menggoda.


Senyum lebar mengembang di wajah Andrew, dia melirik pada Diana yang duduk di karpet dan menunduk, seakan tidak mendengarkan pertanyaan Aaron.


Aaron mengangguk mantap.


"Conrad juga mau punya adik lagi. Tiga. Satu perempuan dan dua laki- laki. Biar ramai keluarga kita. Tidak kalah dengan Angelina Jolie dan Bradpitt. " Seru Conrad yang asyik membaca komik.


Andrew tergelak, dia menyenggol bahu Diana dengan tangannya. Sedangkan Diana hanya melirik Andrew dengan kesal.


"Kau dengar sayang? " Suara Andrew mengandung canda.


"Hemhh.. " Diana menggumam.


Habislah aku!


"Baik, daddy akan bekerja keras untuk memberikan kalian adik." Jawab Andrew dengan sukacita.


"kapan daddy adiknya datang? "


Aaron dengan bersemangat menatap ayahnya.


"Hahhaha itu tidak mudah sayang. Perlu proses dan kerja sama dengan mommy. Ya kan mommy, "


Andrew meletakan kakinya di pangkuan Diana dengam manja dan mengoyang-goyangnya disana. Diana mengusap lembut kaki suaminya.


"Iya.. " Jawab Diana dengan lembut.

__ADS_1


"Aaron satu saja adiknya ya, " Diana menengadahkan wajahnya memandang Aaron.


"Tiga mommy. " Seru Conrad dengan bersemangat.


"Yang dua nanti biar uncle Briant dan Aunty Grisella yang carikan. "


Diana mencoba bernegosiasi.


" Loh, apa urusannnya dengan Briant dan Grisella. Iya kan sayang. Aaron dan Conrad maunya adik dari daddy dan mommy apa dari uncle Briant? "


Pertanyaan jebakan dari Andrew adalah skak matt untuk Diana. Dengan gemas Diana mencubit kaki suaminya. Tindakan itu malah membuat Andrew semakin menggodanya.


"Mau dari daddy dan mommy, "


Aaron dan Conrad kompak menjawab pertanyaan Andrew.


"Frances juga mau adik perempuan. Biar Frances punya teman bermain boneka. "


Kali ini Francesca yang sedari tadi diam, mulai membuka suaranya. Kepalanya menengadah menatap Diana dengan penuh harap, sangat menyentuh hati.


Diana tersenyum dan membelai rambut Francesca.


"Kapan daddy? Kapan adiknya datang?" tanya Aaron lagi.


"Hahhahha." Andrew tergelak sementara Diana dengan jengkel menggelitiki telapak kaki Andrew. Membuat Andrew sedikit meronta.


"Segera sayanggg. Daddy dan mommy akan lebih giat berusaha. Lihat itu mommy sudah tidak tahan. "


Andrew menggoda Diana sambil memandang istrinya dengan senyuman lebar.


Mata Aaron memancarkan sinar penuh harap dan kegembiraan. Diana berdiri dan mulai meloncat-loncat diatas sofa sambil bertepuk tangan.


"Hahahhahahha"


Tawa Andrew semakin keras dan Diana yang sedari tadi diam saja, ikut tertawa. Sementara para penhasuh juga butler Bernard yang mendengar, cekikikan sendiri di pojok ruangan.


Mana ada adik kilat. adopsi saja perlu proses. Kecuali adik boneka, Aaronnn.


"Nanti dan besuk, dan besuk lagi. Daddy dan mommy masih mengusahakannya ya. Paling cepat sembilan bulan lagi, paling lama setahun. "


Andrew menjelaskan pada Aaron yang memandangnya seakan-akan mengerti.


Jari- jari Aaron bergerak seakan menghitung.


"Belapa banyak hali ya? " Tanyanya bingung.


"Lama Aaron. Sekitar tiga ratus enam puluh lima hari. Sampai sinterklaus datang. " celetuk Conrad yang ternyata sudah meneyelesaikan membaca komik nya.


"Napa lama sekali. Alon mau sekalang! "


Aaron merengek dan menekuk wajahnya. Ia juga melipat kedua tangannya di dada.


"Gak lama kok sayang. Wushhh... Nanti tiba-tiba tak terasa sudah datang. Nah, selama menanti, Aaron harus belajar yang pintar ya. Jadi nanti tidak malu sama adik-adiknya. Gimana? hi five? "

__ADS_1


Diana mengacungkan kelima jari mengajak toss. Bocah kecil itu menyeringai dan dia menepuk tangan Diana.


"Oke. Alon mau belajar. Bial jadi kakak yang hebat. Gak mau kalah dengan kak Conlad dan Flances. " Serunya dengan gembira.


Diana memutar arah duduknya dan menyandarkan kepala di pangkuan Andrew. Tangan Andrew mulai mengusap lembut rambut istrinya sambil tetap memandang Aarom yang bersemangat.


"Okeyyy. Sekarang kalian semua tidur siang ya. Daddy dan mommy mau membuat adik dulu. " Andrew mengerling pada istrinya dan mulai mengusap punggung Diana.


"Membuat? Kaya buat kue?" Tanya Aaron dengann heran.


"Hahhahaha. Mungkin. Harus pakai adonan super dari daddy. Sudah itu nanti daddy dan mommy yang mengusahakannya yaaa. Aaron, Conrad dan Frances harus belajar yang sungguh-sungguh, biar jadi kakak yang membanggakan adik."


"Okey daddy. " Ujar mereka serempak.


"Aalon mau bubuk sama mommy."


Aaron menggelanyutkan tangannya manja ke leher Diana.


"Frances juga mau." gadis kecil itu sudah mulai berani memeluk Diana.


"Hi... anak kecil. Katanya mau jadi kakak. Bubuk saja minta di temeni mommy," celetuk Conrad.


"Bialinnn." sahut Aaron.


"Loh, katanya mau adik, mommy dan daddy kan harus mencari dulu," bujuk Andrew lembut pada Aaron.


"Temeni Aalon bubuk dulu, Aalon ngantuk."


Aaron mulai menggosok-gosok matanya tanda mengantuk.


"Frances mau gendong mommy juga, bubuk sama mommy."


Frances mengacungkan kedua tangannya ke arah Diana.


"Frances gending daddy ya. Lihat tangan mommy penuh." Andrew kemudian menggendong Frances.


Mereka kemudian bersama-sama masuk ke ruang bermain. Ruang itu sering digunakan untuk tidur siang juga. Terdapat sebuah kasur dengan panjang enam meter dan lebar tiga meter setengah disana. Hingga semua anggota keluarga bisa berkumpul.


Diana membelai Aaron dan Francesca bersamaan. Sementara Conrad yang sudah merasa lebih besar tidur di paling pojok tempat tidur. Tidak butuh waktu lama kedua bocah kecil itu sudah terbuai.


Hampir saja Diana tertidur. Ketika Andrew menarik kakinya dan mengangkat tubuh Diana dalam pelukan. d


"Sekarang waktu nya menabur benih. Menciptakan bibit unggul yang rupawan."


Andrew berbisik lembut pada Diana. Diana mengalunhkan tangannya di leher sang suami, dia berbisik.


"Ini masih siang sayang. Terlali banyak matahari tidak bagus untuk menabur benih." ujar nya menggoda Andrew.


"Bibit unggul dan ladang yang subur tidak mengenal waktu."


Andrew membawa istrinya ke lantai atas, masuk ke dalam kamar dan mulai membuai Diana di atas peraduan.


...💗💗💗💗💗💗...

__ADS_1


Hayooo siapa yang biasa menabur benih di siang harii ???


__ADS_2