Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Aku tidak akan memilih.


__ADS_3

Andrew memandang kedua dokter senior dihadapannya. Kedua dokter tersebut memang memiliki reputasi bagus sepanjang karier mereka. Beruntung sekali mansion Rachel terletak hanya dua puluh menit dari rumah sakit ini.


Pandangan mata Andrew terasa menusuk dihadapan kedua dokter tersebut membuat mereka merasa risih. Hawa membunuh dapat mereka rasakan saat ini. Membuat ruangan semakin dingin dan bulu kuduk mereka berdiri.


"Aku tidak akan memilih. Kalian dokter lakukan tugas kalian sebagai tangan Tuhan!" desis Andrew dengan geram.


"Tapi istri anda kehabisan banyak darah tuan." ucap dokter bedah menegaskan kalimat sebelumnya berusaha membuat Andrew memahami permasalah yang mereka hadapi.


"Juga bayi anda stress, air ketubannya keruh dan berkurang." sambung dokter anak.


"Aku tidak perduli!!! Selamatkan mereka berdua, jika tidak kalian lihat apa yang akan dilakukan pengawalku!" sahut Andrew bersikeras sambil menunjuk pada senjata api yang di genggam pengawalnya.


"Dan aku pastikan, karier dokter kalian akan tamat! Anak istri kalian juga akan menanggung penderitaan yang lebih lagi!" dengan geram dan wajah yang merah padam Andrew mengancam kedua dokter tersebut. Giginya sudah bergemelatuk menahan amarah.


"CEPAT!!!! LAKUKAN OPERASI SEKARANG!!! WAKTU TERUS BERJALAN!!! KESELAMATAN SEMUA ORANG DITANGAN KALIAN!!!" suara Andrew yang berteriak marah dan ancaman nya membuat kedua dokter itu segera berlari menuju ruang operasi. Sementara para perawat lainnya berhamburan Keluar.


"Pria egois!" desis dokter anak selagi menyeterilkan tangannya didalam ruang operaso


"Begitulah sikap Billionare, mereka suka bersikap semaunya sendiri." sambung dokter bedah.


Kedua dokter tersebut kemudian berdoa.


Kelangsungan hidup wanita hamil yang berada di meja operasi ada ditangan mereka saat ini. Bukan itu saja kelangsungan karier dan keselamatan keluarga mereka juga ada pada hasil operasi.


Sementara Andrew yang berada diruang tunggu memerintahkan pengawalnya untuk menghubungi Lia dan Briant. Selagi salah satu pengawal menghubungi Lia dan Briant.


Pengawal lain datang dan mendekati Andrew, "tuan, nyonya Rachel sudah berada di ugd."


Andrew diam tidak menjawab pikirannya masih fokus pada harapan agar Diana dan anaknya selamat. Hal lain tidak lah penting baginya.


"Tuan, nyonya Rachel perlu operasi juga." ulang pengawal tersebut.


"Kau urus saja wanita itu." ujar Andrew lirih.


"Baik tuan," pengawal tersebut segera pergi meninggalkan Andrew.


Saat itu ingin sekali Andrew berkata, "persetan dengan hidup Rachel!" tapi kata-kata itu tersekat di kerongkongannya.


Meski bagaimanapun Rachel sudah berkorban menyelamatkan dirinya. Hal yang sama sekali berada di luar dugaannya. Bahkab dia tidak menyangka Rachel yang egois dan realistis akan berbuat hal yang demikian dramatis.

__ADS_1


Andrew mengusap wajahnya kasar dan meremas rambut sambil menundukan badan bertumpu pada kedua pahanya.


Tanpa disadarinya dia sudah meneteskan air mata dan berdoa.


Tuhan tolong selamatkan Diana dan anakku. Mereka adalah anugerah paling indah yang kau berikan padaku. Jangan ambil mereka Tuhan. Beri kesempatan aku untuk membahagiakan mereka. Aku berjanji akan lebih sering datang kepada- Mu.


Ketika Andrew sedang menunduk dan berdoa pengawal lainnya datang sambil memberi kabar baru.


"Maaf tuan, kami sudah melakukan pengejaran terhadap tuan Bill, tapi..."


"Jangan bilang kalian tidak dapat menangkapnya!" bentak andrew marah.


"Bukan begitu tuan. Tuan Bill mengalami kecelakaan. Dia menabrak sebuah truk."


pengawal tersebut menjelaskan dengan cepat sebelum tuannya kembali marah dan membuat keributan.


"Apakah kecelakaan dijalan yang aku lalui itu?" tanya Andrew teringat ketika mobilnya pergi meninggalkan mansion Rachel sempat mengalami macet karena kecelakaan lalu lintas. Dan karena itulah mobil yang membawa Diana sampai di rumah sakit sedikit lebih lama.


"Benar tuan." sahut pengawal itu.


"Dasar tua bangka, sampai saat sekarat pun kau masih sempat menghalangi aku menyelamatkan Diana." cerca Andrew dengan geram sambil mengepalkan kedua tangannya. Kebenciannya terhadap ayah mertua sudah sampai pada batas yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seandainya bisa, saat ini dia akan pergi dan menghajar pria itu habis-habisan.


"Ada apalagi!"


"Tuan Bill tewas seketika." Informasi dari pengawal itu membuat Andrew menarik nafas lega. Setidaknya satu batu sandungan sudah lenyap.


"Ada satu lagi tuan." ucap pengawal itu setelah melihat tuannya bisa bernafas lega. Setidaknya informasi terakhir yang akan dia berikan mungkin tidak membuat tuannya marah besar.


Andrew menoleh kepada pengawal tersebut, dari pandangan matanya tampak dia menantikan laporan selanjutnya.


"Supir yang membawa truk itu adalah pria yang sama yang membuat keributan di mansion tempo hari dan yang menculik nyonya Diana." informasi terakhir dia sampaikan dan sekarang dia menanti perintah. Keputusan yang akan diambil oleh tuanya.


Andrew menarik nafas panjang dan menghembuskan nya keras-keras.


"Setidaknya kali ini kau berguna, Dylan." gumam Andrew sambil menyandarkan badannya.


"Berikan pengacara yang handal untuk mendampingi supir truk itu. Kemudian pastikan setelah itu, supir tersebut tidak dapat kembali lagi kenegara ini. Selamanya." perintah Andrew kepada pengawalnya yang segera mengangguk hormat memahami kemauan tuannya. Dia bergegas pergi melaksanakan perintah tuannya.


Andrew menyenderkan kepalanya dan melihat jam dipergelangan tangan, operasi sudah berjalan tiga puluh menit. Waktu yang sangat lama dia rasakan. Dia tidak mendengar tanda-tanda apapun dari bakik pintu operasi.

__ADS_1


"Panggil director rumah sakit kemari!" perintah Andrew kepada pengawal yang berada didekatnya. Pengawal yang sedari tadi mendanpingi dirinya selama di mobil. Tampak di kaos yang dikenakan oengawal tersebut sudah penuh dengan noda darah juga.


"Bersihkan dirimu juga." ujar Andrew kepada pengawal itu sebelum dia keluar dari ruangan.


Menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi hal yang ditunggu dalam keadaan hidup dan mati. Dia sendiri berharap cemas. Ini semua diluar batas kemampuannya. Jikalau bisa dia bersedia menggantikan mereka di ruang operasi.


Saat ini Andrew berharap dialah yang menerima tembakan itu. Lebih baik dirinya yang menerima rasa sakit itu daripada kekasih hatinya.


Pengawal datang bersama seorang kepala rumah sakit setengah baya yang masih terpancar kharisma dan sisa-sisa ketampanan masa mudanya.


Pria itu tersenyum kikuk dihadapan Andrew.


Dia sudah tahu, bahwa apapun yang terjadi di ruang operasi itu akan menentukan masa depan rumah sakitnya.


"Malam tuan, saya dr. Bell. Directore rumah sakit ini." dr.Bell memperkenalkan dirinya.


Andrew menoleh ke asal suara itu dengan tatapan mata yang tajam.


"Pastikan anak buahmu melakukan tugas nya dengan baik. Kau tahu bagaimana nasib rumah sakitmu bila hal buruk terjadi." Andrew berbicara dengan tegas sambil menekan ke setiap kata nya.


Dr.Bell bisa merasakan intimidasi dari setiap kata dan tatapan mata Andrew. Dia menelan ludah dan memaksakan senyuman.


"Jangan khawatir tuan, saya akan membantu mereka di ruang operasi dan memastikan istri dan anak anda selamat." janji dr. Bell.


"Aku pegang kata-katamu." sahut Andrew dengan tajam.


Dr. Bell menganggukan kepala dan meninggalkan Andrew. Dia segera masuk ke ruang operasi, mensterilkan diri sebelum bergabung di ruang operasi.


πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯


Andrewww yang kuat yaaa.


Kami bantu dengan doa dan dukungan lewat Vote yaaa.


Ayooo jangan lupa Vote, like dan comentnya yaaa.


Biar Andrew semangat...


Hehehhe biar Author juga semangat dengan dukungan kalian.

__ADS_1


Gracias.


__ADS_2