
Setelah berjalan beberapa saat, mereka tiba di hotel yang bergaya klasik modern, dengan lukisan klasik yang menghiasi dinding juga atap hotel. jendela - jendelanya yang besar tampak klasik. Ukiran - ukiran juga ornamen yang berada di hotel tersebut menggambarkan kemewahan kerajaan peradaban Eropa.
Sementara Andrew sedang check in, Diana menebarkan pandangannya kesekeliling ruangan lobby hotel tersebut. Tamu-tamu disana lebih banyak adalah pasangan, baik tua ataupun muda. Tidak ada anak - anak yang berkeliaran. Alunan musik piano dengan indah mengiringi seorang wanita cantik bernyanyi merdu. Beberapa pasangan tampak berdansa dengan mesra nya.
"Kau mau ke kamar dulu atau tetap disini?" tanya Andrew tiba-tiba sudah berdiri disamping Diana.
Hal ini lah yang Diana sukai dari Andrew, meskipun dia adalah seorang dengan penuh kekuasaan, tapi terkadang memberi kesempatan bagi Diana untuk memilih, membuat Diana merasa diutamakan.
"Tidak. Sebaiknya kita mandi dulu. Lihat mereka semua tampak bersih dan rapi." Diana menunjukan kepada para tamu yang sedang duduk dan menikmati alunan musik piano.
"Atau mungkin kau sudah lapar?" tanya Diana kembali teringat sebelumnya Andrew mengatakan kalau dia ingin makan sesuatu sesampainya dihotel.
"Tidak kita mandi dulu. Cacing di perutku masih bisa bertahan." gurau Andrew sambil menggandeng Diana mengikuti belboy yang menunjukan kamar mereka.
Setibanya di kamar.
Diana memandang sekeliling kamar, luar biasa jeritnya dalam hati. Kamar yang sangat indah bernuasa keemasan. Dengan tempat tidur besar dihiasi kelambu cantik berwarna emas dengan sandaran empuk dan hiasan besi diatasnya yang juga berwarna emas. Tepat didepan tempat tidur ada sepasang kursi cantik berwarna emas pula dengan meja kecil berdiri anggun diatas permardani indah yang empuk dan mahal. Terdapat pula meja bulat kaca di pojok ruangan dekat dengan jendela .
Sementara Andrew memberikan uang tip kepada bellboy dan menutup pintu kamar, Diana membuka pintu lainnya yang ternyata pintu kamar mandi. Kamar mandi yang luas dan mewah dengan Bathub bergaya klasik yang lebar cukup untuk dua orang berpangkuan. Belum lagi westafel nya yang indah.
"Ayo mandi gadis kecilku." Andrew berdiri di belakang Diana dan meletakan tangannya di dada seraya melepaskan kancing kemeja Diana perlahan.
"Tunggu. Aku akan melepaskan baju ku sendiri. " Diana menahan gerakan tangan Andrew dengan satu tanganya.
"Baiklah." Andrew mulai melapaskan jas dan dasinya sendiri.
"Aku akan mandi dulu ya. Diana memalingkan wajahnya ketika Andrew mulai melepaskan kemeja dan hendak membuka celana. Meskipun sudah lama bersama, dia tetap saja merasa malu untuk terang-terangan melihatnya dan bagi Diana moment itu adalah pemandangan yang indah dan mampu membuatnya menelan air ludah .
__ADS_1
"Tunggu, aku akan mandi bersama mu. " ujar Andrew sambil melepaskan celananya.
"Tidak.. tidak.. kita akan mandi sendiri-sendiri. " Cepat-cepat Diana masuk ke kamar mandi sebelum Andrew benar-benar telanjang bulat. Dibalik kamar mandi Diana menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil berusaha mengatur debaran jantungnya, dia menarik nafas dan mengeluarkannya kembali perlahan. Plak! Diana memukul keningnya dan menggelengkan kepala nya, ketika bayangan Andrew yang melepaskan pakaian terlintas diingatan. Saat sudah sadar buru-buru dikuncinya pintu kamar mandi sebelum terlambat.
Segera Diana berlari ke bilik Shower dan menyiram tubuhnya dengan air hangat. Sebelumnya sudah beberapa lali mereka mandi berdua dan karena itu Diana tahu, mandi berdua dengan Andrew akan memakan waktu yang lama sekali. Amat sangat lama. Bagaimana tidak lama, kalau setiap kali mandi berdua selalu dibubuhi dengan cumbuan dan terkadang bercinta.
Diana menggosok tubuhnya, membasuh setiap sudut tubuhnya dengan sabun dan merasa geli ketika tangannya mengusap bagian dada dan area sensotif lainnya dengan busa sabun. Membuat dia teringat ketika Andrew yang biasanya akan menggosok bagian sensitif itu.
Plak! Lagi-lagi Diana memukul kening dan menggelengkan kepala mengusir pikiran yang senantiasa melintas di kepalanya.
Segera diselesaikan mandinya dan mengenakan bathrobe keluar kamar mandi.
"Cepatlah mandi. Aku sudah lapar." kata Diana sambil berjalan kearah pakaian yang baru saja di beli sambil berusaha menahan diri untuk melirik Andrew yang hanya mengenakan celana dalam. Dan akhirnya bernafas lega karena Andrew segera masuk kamar mandi tanpa protes. Di kenakannya gaun selutut berwarna merah muda dan membiarkan rambut panjangnya terurai. Make up sederhana. Done! Tepat ketika Andrew keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggulnya. Sisa-sisa air dari rambut nya yang basah sehabis keramas menetes di dada yang bidang dan berotot, menggoda iman. Ingin dihapusnya tetesan air yang mengalir perlahan dan menelusuri dada Andrew seakan mengejek Diana yang terpaku . Sebelum Andrew tersadar dengan sikapnya yang gugup, Diana memalingkan wajahnya dan menyibukan diri membereskan pakaian yang belum tertata rapi.
Beberapa saat kemudian.
"Imut." Diana mendengus kesal setiap kalo Andrew memanggilnya gadis kecil.
"Hahahhaha... iya imut. Gadis kecil ku yang imut dan cantik." Lagi-lagi kata-kata Andrew yang ini membuat Diana tersenyum malu.
Dengan berpelukan mereka turun menuju restauran yang menyatu dengan lobby hotel. Duduk di meja tengah yang kosong. Dan mulai memesan makanan. Saat ini mereka di Itally, tentunya akan sia-sia kalau tidak mencicipi makanan khas mereka. Diana memesan Spaghety carbonara dan Andrew Risoto sebagai makanan utama. Meja yang mereka pilih tepat berada di dekat jendela besar yang dengan leluasa bisa memandang kanal besar yang bergoyang pelan.
Ketika hidangan tiba, ingin rasanya Diana memfotomakanan tersebut yang dihias dengan cantik. Tapi sayang sekali handphone ditinggalkan di kamar sesuai perjanjian sebelumnya, mematikan handphone malam ini, agar tidak ada yang mengusik.
"Ini kelihatannya nikmat sekali. " Diana memandang spaghety di hadapannya kemudian mulai menggulung spagehty dengan garpu dan memberikan pada Andrew.
"Suapan pertama untukmu." Diana menyuapi Andrew.
__ADS_1
Andrew mulai menyendok risotonya dan menyodorkan kearah Diana.
"Dan ini untuk mu." Andrew hendah menyuapi Diana.
"Tidak. Itu suapan pertama, kau yang makan dulu. Aku akan menikmati suapan kedua dari mu. " Diana menolak sambil tersenyum. Sesaat Andrew tertegun. Baru sekali dia merasa diutamakan oleh seorang wanita. Bahkan orang tua nya pun lebih mementingkan diri mereka sendiri.
Andrew memakan sendok pertamanya dan kemudian menyuapi Diana dengan sendok kedua.
Mereka menikmati hidangan perlahan dengan senyum sambil menilmati pemandangan. Setelah menghabiskan hidangannya Andrew memesan sepotong tiramisu untuk Diana dan dia menikmati
segelas conag.
"Kau bahagia sayang ?" tanya Andrew sambil memandang Diana. Dipandang begitu lekat Diana menjadi malu.
"Iya . " jawabnya lirih.
Saat itu datanglah penyanyi bersuara merdu dan mulai mengajak setiap pasangan untuk berdansa diiringi alunan dentingan piano.
"Aku tidak pernah berdansa Andrew. " tolak Diana malu.
"Ayolah, kau hanya perlu memelukku . " Andrew memeluk Diana dan menyandarkan kepala Diana didadanya sambil bergoyang perlahan sesuai iringan suara musik. Bergayut didalam pelukan Pria ini memberikan perasaan aman dihati Diana.
kebahagian ini janganlah pergi, aku ingin senantiasa memeluk orang yang kukasihi dan bersamanya seumur hidupku. Momen indah ini akan aku kenang selamanya dan berharap keberadaanmu selalu mengisi hari - hariku. Jangan pernah pergi dan mencampakanku.
__ADS_1