
Dengan mengendarai mobil biasa, Conrad menuju ke kampus. Sempat hal itu membuat heran adik-adiknya. Tapi Conrad hanya tersenyum.
"Makanya, mobil jangan dirusakin, kasihan itu om Greg nanti jalan kaki." Ujar Archie.
"Enggak rusak kok mobil kakak." Sahut Conrad.
"Lalu?"
"Perubahan suasana saja."
"Kok suka berubah-rubah, kena hujan, baru nangis." Ujar Aaron heran.
"Jangan cerewet. Mobil ini juga asyik kok." Jawab Conrad.
"Tapi sempit." Sahut Francesca.
"Siapa suruh, kalian ke sekolah ikut kakak." Sahut Conrad geli.
"Disayang kok gak ngerti." Timpal Archie kesal.
"Ooooo... jadi kalian semua sayang sama kak Conrad ya?"
"ENGGAKKKK!!!" jawab mereka serempak.
Conrad tertawa geli mendengar panduan suara sumbang adik-adiknya yang jengkel.
Sesampainya di sekolah, dia mengawasi adik-adiknya hingga masuk gerbang. Tampak jelas sekali, banyak anak gadis yang menanti Aaron. Dan bagaikan selir mereka mendampingi Aaron hingga masuk ke kelas.
*
Seperti biasanya Conrad mengikuti jam pelajaran dengan seksama. Dia mencatat bagian-bagian yang penting di laptopnya. Setiap pelajaran sangay penting bagi Conrad. Dan setengah tahun lagi dia harus menjalani kerja praktek. Conrad berniat untuk menjalani dengan tekun, dan bisa segera mengambil specialis.
Setelah selesai mengikuti kuliah, Conrad bersiap menuju ke perpustakaan.
"Kau mau menuju perpustakaan?" Tanya Robert.
"Iya." Conrad mengangguk.
"Barengan yuk." Ajak Robert.
"Kau mau ke perpustakaan juga."
"Iya."
"Tumben."
"Biar makin pintar seperti dirimu." Sahut Robert dengan tersenyum kecil.
"Ada-ada saja." Mereka tertawa bersama.
Di perpustakaan, Conrad dan Robert naik ke lantai atas. Tampak disana sudah ada Ruby dan Jasmine. Jasmine melambaikan tangannya dengan riang kepada Conrad. Sedangkan Ruby yang membelakangi, menoleh.
Robert dengan gesit mendahului Conrad dan duduk di samping Ruby. Sementara Conrad terpaksa duduk di samping Jasmine.
"Kami sudah lama loh di sini. Kalian lama banget sih datangnya." Ujar Jasmine dengan manja.
"Iya. Baru selesai." Sahut Robert.
"Nanti kita makan bersama lagi ya." Ajak Jasmine.
"Boleh." Sahut Conrad sambil melirik Ruby.
__ADS_1
"Ruby kamu suka makan apa?" Jasmine memandang ke arah Ruby.
"Eh.. aku tidak ikut ya, aku harus langsung pulang." Ujar Ruby. Dia merasa tidak nyaman terus menerus bergaul dengan mereka.
"Eitsss gak boleh gitu dong. Gak seru loh kalau ga ada kamu." Rengek Jasmine.
"Tapi..."
"Sebentar saja."
"Baiklah."
Ruby dengan berat hati menyanggupi permintaan Jasmine. Jasmine tersenyum gembira. Suasana kembali menjadi sepi. Semua berkonsentrasi dengan buku di tangan mereka. Sementara Jasmine dengan bosan meletakan kepala, bertumpu diantara kedua tangan, diatas meja.
Jasmine menperhatikan mereka semua. Ruby yang cantik, Robert kakak nya yang tampan dan Conrad yang selalu membuatnya tergoda. Beberapa kali, Jasmine menangkap Robert yang melirik pada Ruby. Sementara Conrad yang dia pandangi tetap berkonsentrasi dengan buku dihadapannya.
Satu jam berlalu. Jasmine ketiduran diantara mereka yang sibuk belajar. Rasa kantuk melanda dirinya tanpa disadari ketika asyik memandangi Conrad. Jasmine memang tidak biasa membaca banyak buku. Dia anak yang cukup cerdas. Apalagi ekonomi bisnis yang dia geluti, hanya sebagai syarat dari kedua orang tuanya, agar Jasmine memiliki gelar.
"Jasmine. Ayo bangun." Robert memanggil Jasmine yang masih tertidur.
Conrad menoleh pada Jasmine. Gadis itu tampak lucu dan manis jika tidur dan diam. Tingkah nya yang masih kekanakan terkadang mengingatkan Jason pada si kecil Anna. Rambut Jasmin tergerai, sedikit menutupi wajahnya.
"Conrad tolong bangunin si Jasmine. Kalau perlu teriak di telinganya." Pinta Robert yang sudah lelah berkali-kali memanggil Jasmine.
"Eg... baiklah." Jawab Conrad ragu.
"Jaass... Jasmine. Ayo bangun. Kita sudah selesai." Panggil Conrad perlahan.
"Eemm.. " Jasmine menggumam. Tapi masih tertidur.
"Begitu dah. Kalau sudah tidur susah di bangunin. Kalau bangus susah untuk tidur." Gerutu Robert.
Robert kemudian berjalan mendekati Jasmine, dia berbisik di telinga Jasmine agak keras, "Chris Hemsworth datang!" (Pemeran Thor)
Conrad melihat tingkah lucu Jasmine dengan menahan senyuman. Wajah Jasmine yang baru bangun tidur sangat lucu sekali. Begitu pula Ruby, dia tersenyum melihat Jasmine.
Jasmine yang menyadari tipuan dari kakaknya, langsung menggerutu kesal.
"Ihhh kakak! Kau membuatku malu. Sebal."
"Makanya kalau gak mau malu, ya jangan tidur sembarangan." Sahut Robert.
"Lihat itu air liur mu menetes." Goda Robert lagi. Jasmine segera mengelap bibirnya dan dia menggerutu kesal karena Robert ternyata hanya mengerjainya.
"Ahhh! Kakak!!!"
Robert tertawa melihat tingkah adiknya. Kemudian dia merangkuk Jasmine dan mengajak semua nya untuk pergi.
"Ayo kita pergi sekarang."
Conrad dan Ruby berjalan beriringan mengikuti kakak beradik yang terlihat sangat akrab itu.
"Bagaimana kacamata mu. Apa terasa nyaman?" Tanya Conrad pada Ruby.
"Ah, iya. Ini pas sekali." Sahut Ruby gugup.
Ruby meraba gagang kacamata yang dia kenakan
Kacamata ini jelas sekali terasa ringan dan nyaman, bagaikan tak mengenakan apapun. Ruby sangat suka memakai kacamata tersebut. Kacamata pemberian Conrad membuat dirinya merasa lebih percaya diri.
"Terimakasih Conrad." sahut Ruby dengan lembut.
__ADS_1
Conrad menatap Ruby dan tersenyum. Suara indah itu begitu mengena di lubuk hatinya. Sikap dan tutur kata Ruby yang halus juga anggun, membuat Conrad menjadi semakin menyukai nya.
Dengan menaiki mobil mewah Robert, mereka menuju ke sebuah cafe mewah di kawasan pertokoan elit. Ruby yang baru pertama kali di sana menelan air liur melihay harga makanan. Harga satu buah burger saja setara dengan sepuluh harga burger di Mc.Donald.
Mereka berempat memilih makanan yang sama. Jasmine yang lincah dan lucu, selalu membuat suasana di tempat itu menjadi ceria. Jasmine mempunyai banyak hal yang di ceritakan. Sikap Jasmine yang ternyata sangat bersahabat, membuat Ruby merasa nyaman.
"Kita harus sering berkumpul seperti ini. Bagaimana kalau tiap hari?" ajak Jasmine.
"Maaf, aku tidak bisa juka tiap hari." tolak Ruby.
Ruby penuh pertimbangan. Jika setiap hari dia keluar dengan mereka, maka akan ada saatnya dimana Ruby harus bergantian mentraktir. Tidak mungkin dia hanya ikut makan begitu saja bersama mereka. Sedangkan gaya hidup mereka begitu di luar jangkauannya.
"Tetapi kenapa? Bukankah menyenangkan bisa keluar bersama seperti ini sesering mungkin?" tanya Jasmine tak mengerti.
"Aku... aku harus membantu ibu dan menulis makalah." Ruby akhirnya bisa mengeluarkan alasan.
"Hemm... sayang sekali. Bagaimana kalau seminggu sekali saja ya." pinta Jasmine penuh harap.
"Hemmm... baiklah." ujar Ruby ragu.
"Asyikkkkk... Aku senang berteman dengan kalian semua." ujar Jasmine riang.
Seperti biasanya, Ruby selalu meminta mereka unttuk mengantarnya pulang di area pertokoan. Ruby menolak ketika Jasmine memaksa mengantarkannya.
"Sudah biarkan saja Jasmine. Ayo keburu malam, aku tidak bisa mengambil mobilku di kampus." ujar Conrad.
Conrad dapat melihat bagaimana sikap Ruby yang sedikit tertutup dan merasa terganggu akan keinginan Jasmine untuk berkunjung ke rumahnya. Dan Conrad ingin menghargai privasi Ruby.
"Baiklah. Sampai ketemu besuk Ruby. Dadahhh." Jasmine melambaikan tangan pada Ruby.
Robert memacu kendaraannya menuju ke kampus. Hari sudah mulai gelap. Dan untuk saja di penghujung weakend, gerbang kampus belum tertutup. Sehingga Conrad masih bisa mengambil mobil nya.
"Conrad. Aku mau minta tolong." ujar Robert sebelum Conrad keluar dari mobil.
"Ya?"
"Tolong antarkan Jasmine pulang, pleasee. " pinta Robert memelas.
"Loh, kakak! Kau mau kemana?" tanya Jasmine heran.
"Aduh, aku lupa kalau ada janji dengan Hans dan Fandrey. Penting sekali ini." ujar Robert. Wajah Robert tampak sekali jika hal yang akan dia kerjakan sangat mendesak.
"Kau mau kemana kakak? Awas ya kalau mabuk-mabuk an." Jasmine menatap Robert dengan mata menyelidiki. Dia tahu kedua teman kakaknya ini, selalu membuat ulah.
"Enggakkk, kita mau membahas masalah bakti sosial." sahut Robert.
"Bakti sosial apa?"
"Sumbangan dana untuk anak yatim dan janda terlantar. Ayooo sana cepat keluar. Jangan banyak tanya." Robert mendelik ke arah Jasmine yang masih merasa heran.
"Awas ya, kalau macam-macam!" ujar Jasmine dengan mengancam.
"Iya bawel. Conrad! Antarkan adikku pulang dengan selamat ya." ujar Robert.
Mobil Robert dipacu dengan cepat, tepat disaat Jasmine baru saja menutup pintu mobil. Sehingga membuat Jasmine yang masih di dekat pintu mobil menjadi kaget dan hampir saja jatuh, jika saja Conrad tidak menangkapnya.
"Awas!" ujar Conrad sambil memegangi kedua lengan Jasmine.
Jasmine terkejut. Dan dia spontan menjadi gugup ketika Conrad menyentuh lengannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Conrad.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Jasmine menggelengkan kepalanya.
"Jadi, kau yang mengantarkan aku pulang ya. Mana mobilmu?" tanya Jasmine.