
Setelah mendapatkan kepastian dari Greg kepala pengawalnya, jika Conrad dan Caroline mengambil peberngan komersil menuju Tuscany. Andrew langsung memutuskan untuk mengikutinya.
Briant segera menyiapkan pesawat pribadi. Andrew berangkat dengan Raja ditemani dua orang pengawal. Kali ini dia datang dengan persiapan. Meski bagaimanapun, Andrew berniat menghindari perseteruan. Tujuan utama nya adalah membawa Conrad pulang.
Diana dengan cemas menyiapkan kebutuhan Andrew. Hanya dua stel baju casual. Selain itu dia juga mempersiapkan pakaian untuk Conrad. Karena berdasarkan pantauan cctv anak itu hanya membawa tas sekolahnya.
Entah bagaimana dan kapan Conrad sudah mengambil passport dari laci meja kerja Andrew. Tampaknya anak itu memang sudah mempersiapkan segalanya.
"Jika dia bahagia disana, jangan paksa dia Andrew. Tapi pastikan, segala sesuatunya memang yang terbaik untuk Conrad." Pesan Diana sebelum mereka berangkat.
"Raja! Jaga tuan mu!" Pesan Diana dengan tegas.
"Tentu saja nyonya." Ujar Raja.
"Daddyyyy oleh-oleh ya buat Alonnnn." Ujar Aaron dalam pelukan Andrew.
"Tentu saja. Alon tidak boleh nakal yaaa. Jaga mommy okey. Kalau mommy nangis, digoda biar tertawa yaa," pesan Andrew pada bocah kecilnya.
Diana melepaskan kepergian Andrew dengan resah. Perjalanan saat ini bukanlah perjalanan bisnis. Kembali nya Andrew merupakan penentuan kebahagiaan mereka.
*
Sehari sebelumnya di Tuscany
"Nah Conrad. Ini adalah rumahku. Tempat dimana selama ini aku merindukanmu." Ujar Caroline saat mereka sudah berada di depan rumah Caroline.
Conrad memandang rumah yang mega itu. Terdapat dua lantai disana. Tampaknya Caroline hidup berkecukupan selama ini. Rumah ini cukup nyaman meskipun tampak kurang terawat.
"Ayo masuk." Caroline menggandeng anak itu untuk masuk.
Caroline membuka gerbang rendah itu sendiri. Sangat berbeda dengan kediaman Andrew, dimana gerbang itu selalu ada pengawal yang menjaga selama dua puluh empat jam.
Mereka melewati halaman depan dengan rumput yang sudah mulai meninggi. Tampak sepi. Seorang pelayan pria tua tampak menyambut kedatangan mereka.
Dia mengambil tas di tangan Caroline dengan patuh.
Pelayan itu adalah mandor kebun yang diperintahlan Caroline untuk menjaga rumahnya, sekaligus mengawasi Francesca dan Lena si pengasuh.
"Ini kamar untuk mu." Caroline menunjukan kamar di lantai dua paling belakang di rumah itu.
Conrad masuk dengan patuh. Dia meletakan tas yang di bawa nya dan menatap sekeliling kamar. Kamar ini cukup bagus dan nyaman, meskipun tidak sebesar kamar nya di mansion Andrew.
"Mandilah dulu. Setelah mandi kita akan makan bersama dengan adikmu." Ujar Caroline dengan riang.
Conrad mengangguk. Dia menunggu hingga Caroline keluar dari kamar, sebelum dirinya merebahkan tubuh di tempat tidur. Perjalanan panjang yang baru saja dia tempuh sangat melelahkan.
Selama perjalanan itu, Caroline hanya bercerita bagaimana Diana memisahkan mereka. Bagaimana mereka seharusnya bahagia bersama. Bagaimana hati Caroline hancur ketika harus melihat Conrad tumbuh dengan wanita munafik.
__ADS_1
Banyak hal yang ingin Conrad tanyakan. Tapi semuanya tersimpan ditenggorokan.
Bagaimana bisa dia terpisah dengan Caroline, jika benar wanita itu menyayanginya.
Bagaimana bisa dia hidup dalam bayang ketakutan dengan Rachel. Dimana Caroline saat itu, kenapa hanya Diana yang mengulurkan tangan dan memeluk Conrad saat dia ketakutan.
Kenapa baru saat ini? Semua pertanyaan yang berganyut dalam benaknya, membuat Conrad memutuskan untuk mengikuti Caroline. Dia ingin mengenal Caroline dan mengerti wanita itu. Sebelumm Conrad dapat memutuskan di pihak mana dia akan berada.
"Maafkan Conrad, mommy dan daddy. Conrad pergi tanpa pamit, karena kalian pasti melarangnya. Aku harus menemukan jawabanku disini." Ucap Conrad dengan lesu.
Bocah itu kemudian mandi dan mengganti pakaiannya. Didalam tas sekolah dia sudah menyiapkan beberapa pakaian. Setelah selesai, Conrad pergi keluar kamar.
*
Sementara itu, Caroline yang sudah di luar kamar Conrad, segera mencari keberadaan Francesca. Ketika dia tidak menemukan anak itu di kamarnya, Caroline segera mencari ke lantai bawah.
"Dimana Francesca?" Tanya nya pada Lena.
"Ada di rumah belakang, nona." Ujar Lena dengan menunduk.
"Bawa anak itu kemari. Sekarang!" Bentak Caroline kepada Lena yang tampak ragu.
Wanita setengah baya itu segera pergi dan kembali bersama Francesca yang memeluk bonekanya dengan erat.
Caroline tersenyum manis.
Dengan takut Francesca menghampiri Caroline.
"Dengarkan mommy. Diatas ada kakak mu. Mommy menemukan dia. Kau harus bersikap baik padanya. Tersenyum dan bermainlah bersama." Caroline tersenyum lembut sambil membelai rambut Francesca.
"Jangan berbicara hal yang membuat dia meninggalkan kita. Ingat dia tiket kebahagianku. Kau tau akibatnya jika aku tidak bahagia." Bisik Caroline ditelinga Francesca.
Bocah kecil berusia lima tahun itu mengangguk patuh.
"Bersihkan dirinya. Dan kenakan pakaian yang bagus." perintah Caroline kepada Lena.
*
Conrad keluar dari kamar nya dan melihat-lihat ruangan lantai atas. Dia melewati sebuah kamar yang tertutup rapat. Ketika hendak melaluinya, Conrad mendengarkan suara tawa disana. Dia menempelkan telinganya di daun pintu.
Samar-samar dia mendengar percakapan Caroline.
"Baiklah Theo, jemput aku nanti malam."
Sambungan telphone terputus.
Conrad segera berlalu dan mendapati pintu kamar yang setengah terbuka, dia mengintip. Disana Conrad melihat Francesca yang sedang bermain dengan boneka nya.
__ADS_1
Conrad mengetuk pintu. Francesca memandangnya ragu.
Conrad tersenyum dan masuk tanpa menunggu di persilahkan.
"Hei, namaku Conrad. Kau pasti Francesca bukan?" Conrad mengulurkan tangannya.
Francesca tampak diam. Dia mengambil boneka nya dan memeluk erat. Conrad heran. Bocah ini tampak takut. Conrad tidak pernah melihat anak seusia ini yang memandang orang asing dengan wajah takut.
"Aku mau menjadi temanmu. Bolehkan?" Tanya Conrad dengan hati-hati.
Francesca memandang Conrad dengan penuh selidik. Melihat senyuman tulus Conrad, dia mengangguk.
"Siapa nama bonekamu?"
"Bella." Ujar Francesca yang akhirnya mau membuka suara.
"Ah Bella, aku Conrad teman baru Francesca. Berapa usiamu?" Tanya Conrad memandang Francesca.
"Lima tahun."
"Ah.. sekarang dirimu pasti sedang sekolah tk ya. Kalau aku masih di grade Lima."
Francesca mengangguk.
"Kau sudah bisa bahas Inggris ya, meskipun tinggal di Itally," tanya Conrad penasaran.
"Mommy selalu menggunakan bahasa Inggris jika berbicara dengan kami semua." Jawab Francesca.
"Ah, mommy Caroline? Kau anak tunggalnya. Pasti dia sangat menyayangi mu, bukan?"
Fracesca terdiam. Dia menatap Conrad dengan ragu. Dan kemudian gadis itu menunduk membelai rambut bonekanya.
Conrad menganggap jika Francesca adalah anak yang pendiam dan pemalu. Conrad melihat isi kamar Francesca. Cukup banyak mainan di sana. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Ada yang aneh. Tapi, dia masih bingung apakah perbedaannya itu.
"Haiiii... kalian sudah saling mengenal?" Caroline masuk dan menyapa mereka. Dia kemudian menggampiri Francesca dan memangku gadis kecil itu sambil membelai rambutnya.
"Frances ajak kakak mu bermain. Jangan menyendiri ya."
Conrad melihat sikap Francesca yang kaku. Dia merasa aneh. Jauh sekali dengan kemanjaan yang sering dia dan Aaron lakukan pada Diana.
"Ayo kita makan, Lena pasti sudah menyiapkan makan malam."
...💗💗💗💗💗💗...
Diusahakan updated lagi ya nanti malam.
Jangan lupa juga berkunjung di cerita Jason dan Lia dalam novel 48 Months Agreement. Genrenya lebih santai Romantis komedi.
__ADS_1
Tetap Semangat dan Sehat Selalu