Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
44. Bertemu kesayangan


__ADS_3

Diana berjalan menyusuri area sayuran di supermarket terdekat dengan Condominium. Dia membeli beberapa jenis sayuran , telur, daging, bacon, sosis, keju, creamchesse , susu dan beberapa makanan lain.


Ketika berjalan di area kopi instan, dia tamoak memilih - milih beberapa jenis kopi yang tampak menarik tapi kemudian mengurungkan niatnya untuk membeli kopi sachet disana. Andrew tidak menyukai kopi instan. Dia lebih memilih Fresh brew coffee . Dan mesin kopi tersebut akan tiba siang nanti di condominium. Akhirnya dia lebih memilih beberapa sirup perasa coconut, hazelnut dan Vanila. Memilih creamer juga half & half campuran untuk diri nya sendiri.


Tiba - tiba dia berhenti seperti teringat sesuatu.


Bagaimana kalau aku mencoba membuat puding. Aku bisa membaginya ke Grisella sebagai salam perkenalan.


Kemudian segera dia membeli bahan - bahan yang diperlukan. Semua sudah selesai. Diana melangkah kearah cashier untuk membayar.


" Ini semua nona, ada tambahan lain?" tanya petugas cashier.


"Tidak ada terimakasih. Hmm... tunggu sebentar aku akan mengambil sesuatu." Diana berlari kearah makanan ringan dan memgambil beberapa snack jumbo disana.


"Tambahkan ini." Dia menyodorkan snack tersebut di Cashier.


"Total $ 252." ujar cashier sambil menunjukan angka yang tertera si layar komputer.


Diana membayar nya kemudian beranjak ke arah papito yang sudah menanti di dekat cashier.


Pagi tadi sebelum berangkat bekerja Andrew memberinya uang cash $1000, "Gunakan ini untuk membeli segala sesuatu yang kau perlukan. Mesin kopi akan datang siang nanti."


Kemudian sebelum keluar dari pintu Andrew kembali bertanya, "Apakah kau akan baik - baik saja sendiri?"


Aku menggangguk dan tersenyum seraya berbisik, "tentu saja. Aku akan merindukanmu."


Senyuman di wajahnya dan kecupan di keningku mengakhiri pagi bersamanya.


Diana melihat jam di tangannya, waktu masih menunjukan pukul 11.30 siang. Dan dia memutuskan untuk makan sesuatu terlebih dahulu di lantai atas supermarket.


"Papito, aku ingin ke lantai atas mungkin makan sesuatu. Papito mau bergabung denganku?" ajak Diana.


"Terimakasih nona, saya menunggu nona di mobil saja. Bila nona sudah selesai silahkan menghubungi saya dan tunggu di lobby atas." Papito menolak halus ajakannya.


"Ayolah, kita bisa makan sambil mengobrol." Sebenarnya banyak hal yang ingin Diana tanyakan pada Papito sopir pribadi Andrew.


"Tidak nona terimakasih. Silahkan nona ke atas saja." Akhirnya Diana mengalah dan mulai naik ke lantai atas. Sementara Papito memasukan belanjaan ke dalam mobil.


Tentu saja Papito tidak berani duduk berdua apalagi makan semeja dengan Diana, melihat bagaimana tuan mudanya begitu memanjakan dan memperhatikan wanita yang satu ini , Papito merasa dia harus jaga jarak dan lebih melindungi nona ini.


Diana sudah tiba di lantai atas, menelusuri mall dan mulai melihat -lihat . Barang - barang di mall ini harga nya tentu saja lebih murah daripada di Mall yang dia datangi kemarin. Membuat Diana lebih leluasa membeli beberapa pakaian santai yang berkualitas dengan harga miring. Setidaknya hari ini hanya menghabiskan $200.


"Haloo untyyy...masih ingat aku?" Seorang bocah kecil tampan menyapanya.

__ADS_1


Aku menoleh ke asal suara dan melihat sesosok bocah kecil yang aku kenal.


"Halloooo... Conrad bukan?" Diana tampak senang sekali bertemu dengan bocah kecil tampan itu.


"iyaaa. Conrad senang sekali bisa bertemu unty lagi." Bocah kecil itu memeluk Diana erat.


" Unty Diana juga senang loh. Conrad disini dengan siapa?" tanya Diana.


" Dengan nany." Conrad menunjuk pada seorang wanita pengasuhnya. Diana menganggukan kepala menyapa wanita pengasuh Conrad.


"Conrad disini mau mencari sesuatu?"


" Tidak unty, Conrad kemari karena bosan dirumah sendiri. Habis sekolah Conrad minta nanny dan supir buat antar ke Mall yang tidak pernah Conrad kunjungi." Jelas bocah kecil lucu itu.


"Okey. Conrad mau duduk dulu sambil makan sesuatu?" tanyaku.


Bocah kecil itu menganggukan kepala kegirangan.


"Conrad mau cokelat dingin." pintanya sesampainya kami duduk di cafe.


"Anda mau sesuatu nanny?" aku bertanya pada wanita pengasuh Conrad.


" Cafe latte." pintanya


Diana beranjak dan memesan dua cafe latte dan susu coklat dingin serta beberapa potong kue yang diminati Conrad.


"Iya enak sekali sayang. Conrad mau makan sesuatu selain cake?" tanya Diana.


Conrad menggelengkan kepalanya, " tadi disekolah sudah makan."


"Okey. Tadi disekolah makan apa?"


"Chicken nugget." jawabbya lucu dengan mulut yang berlepotan cake cokelat. Diana mengulurkan tangannya mengambil tisyu kemudian mengusap bibir Conrad.


"Unty, ayo main ke rumah Conrad. " ajak bocah kecil itu .


"Nanti Mommy dan Daddy marah kalau unty datang."


"Gak mungkin." Conrad menggelengkan kepalanya kuat - kuat.


"Mommy jarang dirumah, pulangnya tengah malam. Kalau daddy jarang pulang ke rumah." Conrad berbicara dengan santai. Diana memandang Conrad dengan prihatin anak sekecil ini tampak tidak begitu perduli dengan keberadaan orang tuanya.


"Conrad tidak kangen dengan mommy dan daddy?"

__ADS_1


Bocah itu memandang diana dan berpikir sejenak.


"Biasa saja unty. Kalau mommy suka marah - marah dengan Conrad. Kalau daddy baik tapi selalu sibuk." katanya sambil sedikit muram.


"Mungkin Conrad bisa buat janji sama daddy, untuk bermain dengan Conrad."


"Nanti Conrad coba."


"Conrad juga bisa menggambar sesuatu untuk mommy supaya mommy senang."


"Conrad takut sama mommy." jawabnya dengan ragu - ragu.


"Conrad mau main sama unty lagi. Boleh yaaa." Rajuk bocah kecil itu dengan memelas.


"Iya boleh, tapi harus minta ijin dulu."


"Tidak perlu minta ijin. Asal pergi sama nanny saja." jawabnya sambil menoleh kearah wanita pengasuh.


Wanita pengasuh setengah baya itu tampak tersenyum. Mungkin di keluarga tersebut hanya nanny saja yang memperhatikan bocah kecil ini.


"Boleh ya unty. Bolehkan nanny?" tanya Conrad pada Diana dan pengasuhnya bergantian dengan wajah lucunya yang sedang memohon.


"Kalau unty Diana bersedia, setiap Conrad mau kita bisa bertemu."


"Horeee. Ayo mana no telphone Unty biar nanny simpan." Conrad bersemangat sekali. Matanya menyorotkan keceriaan seorang bocah yang polos.


"Conrad sekarang waktunya untuk les matematika dan kemudian renang." kata Nanny kepada Conrad.


" Gak mau ah. Conrad masih mau bermain dengan unty Diana." Conrad menolak dengan manja dan memegang erat tangan Diana.


"Conrad tidak boleh begitu. Hari ini les dulu ya. Lain kali Kita bisa bermainlagi kan?" Nasihat Diana pada Conrad layaknya seorang ibu yang mengasihi anaknya.


"Tapi unty..." Wajahnya memelas.


"Unty juga hari ini sedang ada acara. Lain waktu ya sayang." aku mencari alasan.


"Baiklah." Cup ! bocah kecil itu mengecup pipi Diana dan memeluknya hangat. Begitu mudahnya mereka saling menyangi, membuat wanita pengasuh itu terharu.


"Unty janji yaa lain waktu main sama Conrad."


"Iya sayang. "


Mereka keluar dari cafe saling bergandengan tangan hingga depan pintu Lobby dimana supir Conrad sudah menunggu. Mereka tampak saling melambaikan tangan. Diana menanti sampai mobil yang membawa Conrad pergi menghilang dari pandangannya kemudian dia menelphone Papito, "Papito tolong jemput saya di lobby ya. "

__ADS_1


" Baik nona." Papito segera mengendarai mobil kearah Lobby. Dalam benak Papito berharap,


semoga hubungan nona Diana dan tuan Andrew bisa selamanya. Wanita ini begitu menghargao pegawai seperti aku dan tidak gelap mata dengan harta dan kekuasaan tuan muda.


__ADS_2