Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
17. Jangan melebihi batas


__ADS_3

"Ayo kita kebawah, belilah beberapa pakaian untukmu selama disini." ajak Andrew dengan lembut ketika perlahan Diana terbangun dari tidur siang dalam pelukan Andrew. Dengan tersenyum malu Diana mengiyakan perkataan Andrew.


"Sebentar biarkan saya minum air dulu." Diana melangkah menuju area dapur, membuka kulkas dan mengambil dua botol air mineral, memberikan satu kepada Andrew. Hal ini sebenarnya sepele. Tapi bagi Andrew ini luar biasa. Tidak ada satupun yang pernah memberinya perhatian seperti ini. Semua orang melakukan karena kewajiban mereka sebagai bawahan. Tapi gadis ini melakukannya karena dia tahu aku memerlukan.


Setelah menegak habis air minum. Mereka keluar kamar dan turun dari lift menuju boutiqe di hotel.


"Tuan, apakah ini tidak terlalu mahal?" Diana mengerutkan keningnya melihat harga kaos biasa.


"Belilah yang kau perlukan tanpa melihat harga." kata Andrew dengan lembut sambil mengeleng tak percaya, bagaimana mungkin ada seorang wanita yang begitu polos, dengan atm berjalan disisinya masih berpikir banyak untuk menghamburkan uang.


"Eh, baiklah." Diana kemudian memilih piyama tidur dan gaun sederhana serta dua pasang pakaian dalam.


"Sudah tuan, bagaimana dengan anda sudah menemukan pakaian?" tanya Diana ketika dilihat Andrew masih saja duduk disofa memperhatikan dirinya.


"Belum." Andre baru sadar kalau sedari tadi dia hanya memperhatikan Diana yang berbelanja dan dia belum memilih untuk dirinya sendiri.


"Ckckck. Ayo sini saya bantu." Diana melangkah menuju bagian pakaian pria dan memilih atasan untuk Andrew dan menanyakan apakah dia menyukainya. Andrew sontak mengangguk. Ini pertama kalinya seorang wanita berbelanja dan perduli dengan pendapatnya.


"Pakaian yang kita kenakan sekarang, nanti setelah mandi biar dilaundy saja ya, besuk pagi pasti sudah kering dan bisa kita kenakan waktu kembali ke kapal." kata Diana, pikiranbya praktis bukan sekaligus menghemat.


"Kata siapa aku akan kembali ke kapal besuk?" sahut Andrew sambil berlalu kearah pakaian dalam pria.


"Eh, tuan. Bukannya cuma semalam disini?" tanyanya debgan cepat sambil menyimbangi langkah panjang Andrew. Andrew tidak menjawab melainkan bertanya hal lain.


"Kau pilihkan warna yang cocok untuk diriku." goda Andrew sambil menunjuk kearah manekin yang mengenakan pakaian dalam pria dan menonjokan aurat.


Pipi Diana langsung bersemu merah dan membalikan badannya.


"Tuan pilih sendiri." ujarnya dengan malu. Meskipun dia pernah memiliki seorang kekasih beberapa tahun yang lalu tapi hubungan mereka tidak pernah sejauh ini.


"Aku bingung warna yang cocok denganku." Andrew terus menggoda.


"Semua bagus tuan." sahut Diana masih dengan membalikan tubuhnya.


"Pilihkan salah satu yang paling bagus." paksa Andrew.


"Ah dipakai didalam juga siapa yang perduli." gerutu Diana lirih pada dirinya sendiri.


"Apa katamu?" tanya Andrew yang tiba-tiba sudah dekat dengan dirinya.


"Ah tidak apa-apa tuan." jawab Diana gelagapan.


"Jadi mau warna apa nyonya?" tanya pelayan toko kepada Diana. Mereka mengira Andrew dan Diana adalah pasangan yang baru menikah.


"Aku bukan..." Diana hendak menjelaskan kepada mereka kalau dia bukanlah istri Andrew. Tapi segera diurungkan niatannya, toh mereka tidak mengenal dirinya dan lagian dia tinggal sekamar dengan Andrew.


Pelayan toko menatap Diana menantikan jawaban.


"Hitam." jawab Diana asal kemudian mendengus kesal.


"Size apa nyonya?" Diana hendak melotot kepada pelayan toko tersebut. Bagaimana mungkin mereka tanyakan size juga kepada dirinya, bukannya pada orang yang akan mengenakan celana dalam itu.


"Aku tidak tahu!" jawab Diana dengan ketus.


Pelayan toko kebingungan. Andrew tergelak melihat reaksi Diana dan malah berbisik kepadanya, " kau harus sering-sering menengoknya agar tau ukuran celana dalamku." Otomatis saja mendengar perkataan tersebut wajah Diana menjadi merah padam dan dia pergi meninggalkan Andrew sendiri dan menuju cashier seraya berkata, "tuan itu yang akan membayar semua."


Andrew tersenyum lebar melihat tingkah Diana yang menggemaskan bagi dirinya. Jikalau wanita lain, pasti mereka akan bertingkah seolah memilikinya. Setelah menyelesaikan pembayaran dengan membawa tas belanjaan, Andrew menghampiri Diana yang duduk di dekat taman buatan. Tampaknya gadis itu masih jengkel dengan dirinya membuat Andrew makin gemas ingin menggodanya lagi.


"Kau ingin tetap disini dan memandangku atau kita bisa melanjutkannya diatas?"

__ADS_1


"Aku mau mandi." kata Diana sambil berjalan didepan Andrew dan membiarkan pria itu membawa sendiri tas belanjaannya. Dia sempat melihat sepintas tas belanjaan yang dibawa Andrew cukup banyak untuk sedikit barang yang dibeli.


Ah biarin saja dia membawanya sendiri, hukuman karena telah menggodaku.


Andrew terkekeh dan berjalan mengikuti gadis itu dari belakang. Sikap cuek yang dibuat-buat membuat Andrew semakin gemas, dia menyukai sikap Diana yang tidak lagi terlalu kaku dengan dirinya.


Sesampai nya dikamar, Diana mulai membuka tas belanjaan dan menatanya rapi. Sedikit ragu dia hendak menyentuh pakaian dalam Andrew, akhirnya dia biarkan saja benda itu tetap didalam tas belanja.


"Aku mau mandi dulu." ujar Diana yang mulai bisa bersikap biasa kepada Andrew.


"Ayo kita mandi." sahut Andrew bersemangat.


"Tidak! Aku mau mandi sendiri."


"Tapi aku juga mau mandi."


"Aku mandi dulu dan tetaplah disana sampai aku selesai." kata Diana dengan tegas. Kemudian dia menutup pintu kamar mandi dan hendak menguncinya tapi ternyata pintu itu tidak memiliki kunci sama sekali. Ruangan kamar mandi yang sangat mewah, bathup lonjong dengan area shower disisinya yang berkaca bening tembus pandang. Dari kamar mandi mereka bisa langsung melihat pemandangan diluar hotel. Dia kembali membuka pintu kamar mandi dan melongok keluar mencari Andrew yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Tuan Andrew." panggil nya lirih.


"Iya? Kau mengizinkan aku mandi bersamamu?" tanya Andrew bersemangat.


"Tidak! Dan jangan coba-coba masuk ke kamar mandi selama aku masih di dalam!" Diana berkata dengan tegas kepada Andrew dan tidak mengizinkan Andrew untuk menyanggahnya karena secepat itu pula dia segera menutup pintu kamar mandi dan mencari handuk kecil untuk menyumbal area pegangan. Setidaknya akan sedikit menghambat bila ada orang dari luar yang mencoba masuk.


Awalnya ingin mandi dengan segera, tetapi semua fasilitas yang tersedia membuatnya betah berlama-lama di kamar mandi. Hingga tak terasa tiga puluh menit kemudian suara ketukan di pintu terdengar.


"Aku masuk ya." suara menggoda dari Andrew.


"Jangannnn. Tunggu aku selesai!" Diana berteriak panik dan menyudahi mandinya. Sambil segera mengeringkan tubuh dengan handuk.


"Aku masuk sekarang." suara pintu yang akan digeser terdengar.


"Kau wangi sekali."


"Sabunnya harum tuan." ujar Diana asal, sambil mendorong tubuh Andrew untuk bergeser. Andrew terkekeh dan mengurungkan niatan untuk menggoda Diana kembali. Dia lalu segera masuk ke kamar mandi dan membasuh dirinya. Lima belas menit kemudian, "Diana sayang bisa kau ambilkan underware ku?" Suara Andrew terdengar dari dalam kamar mandi.


Ih, ini orang kenapa tidak dibawa juga sih tadi.


"Tuan, ambilah sendiri." ujar Diana yang masih merasa malu memegang underware milik pria.


"Baiklah aku akan keluar tanpa underware." goda Andrew dari dalam kamar mandi.


Diana yang mendengar menjadi gelagapan. Dia menghentikan aktifitas mengeringkan rambut dan berlari kearah balcony. Andrew yang keluar kamar hanya dengan handuk kecil melilit di pinggang terkekeh melihat tindakan gadis itu. Ingin sekali dia menggodanya lebih lanjut, tapi waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam. Waktunya dinner dibawah.


"Masuklah aku sudah mengenakan pakaian." Diana segera masuk, angin laut sudah membantu mengeringkan lambutnya. Didalam Andrew hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan sama sekali membuat Diana malu memandang tubuh Andrew yang begitu kekar berbentuk.


Beberapa saat kemudian, "Tuan saya sudah selesai." Andrew memandang takjub melihat kecantikan alami yang terpancar dan hanya dengan minim sekali polesan di wajah.


Sambil menggandeng tangan gadis itu Andrew sesekali meliriknya. Ada debaran aneh didada Andrew yang dia sendiri tidak mengerti apa itu. Mereka memasuki restaurant terbuka di hotel tersebut, tampak sudah banyak tamu yang hadir menantikan pagelaran seni budaya.


Acara berlangsung dengan meriah, tepuk tangan meriah memenuhi ruangan. Diana tampak menikmati acara tersebut terbukti dengan senyuman alami dan tawa nya yang tiada henti.


Andrew? Bisa ditebak sebagian besar acara dia lewatkan hanya untuk memandang senyuman gadis di sisi nya. Beberapa kali pandangan mata mereka bertemu, dan Diana berhasil menyembunyikan kegugupannya dengan memalingkan wajah mengikuti acara lebih lanjut.


Setelah selesai acara makan malam dan pagelaran seni.


"Ayo kita kembali ke penthouse. Aku tidak bisa membiarkan semua orang memandangmu terlalu lama." ujar Andrew setengah cemburu.


"Siapa juga yang memandang saya? Semua tentu konsentrasi menyaksikan acara." sanggah Diana dengan cepat.

__ADS_1


"Sudah, pokoknya ayo segera naik." Mereka naik ke penthouse dan kemudian menikmati pemandangan malam dari atas balcony selama beberapa saat.


"Tuan, saya masuk dulu mau membersihkan diri." pamit Diana yang segera membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dengan piyama. Kemudian dia menuju ke sofa membersihkan sebentar, menumpuk batalan sofa, kemudian mengambil selimut di lemari. Dia siap untuk tidur.


"Apa yang kau lakukan disitu?" tanya Andrew.


"Tidur tuan."


"Tidurlah dikasur." Diana melihat kearah kasur yang tampak menggiurkan untuk direbahi.


"Tidak tuan, saya disini saja." tolaknya


"Itu sofa bukan tempat tidur."


"Tapi ini nyaman kok." Diana memejamkan mata dan memiringkan tubuhnya menghadap sandaran sofa. Andrew menggelengkan kepala melihat gadis itu bersikeras.


Baiklah akan aku turuti permainanmu.


Kata hati Andrew.


"Apa yang anda lakukan tuan." Diana terkejut ketika merasakan Andrew sudah berbaring dibelakangnya sambil memeluk nya. Desah nafas Andrew terasa hangat di tengkuknya membuat bulu kuduk meremang dan jantungnya berdegup kencang. Sementara tangan Andrew yang kokoh melingkari pinggang dan bersarang hangat di perutnya.


"Tidur." jawab Andrew singkat.


"Tapi kenapa disini, tidurlah di kasur sana tuan." usir Diana dengan halus.


"Aku mau tidur bersamamu."


"Tapi ini sempit tuan."


"Bukannya lebih mesra dengan begini, aku suka idemu."


"Tapi. Tuan kembalilah kekasurmu."


"Aku akan berbaring di tempat yang sama denganmu."


Meskiupun air conditioner menyala dingin. Tapi dengan dekapan Andrew membuat Diana gerah, apalagi degup jantungnya yang terdengar lebih kencang.


"Baiklah, ayo ke kasur." Diana duduk di sofa melepaskan diri dari pelukan Andrew.


"Tidak. Disini saja." Andrew kembali menarik tubuh Diana.


"Ayo tuan pindah saja." Diana mendorong tubuh Andrew menjauh dari dirinya. Andrew terjatuh dari sofa sambil menarik badan Diana hingga berada diatas tubuh Andrew.


"Kalau kau merasa sesak, begini saja." goda Andrew sambil memeluk Diana.


"Ya sudah saya saja yang di kasur." Diana melepaskan diri dari atas tubuh Andrew menuju ke tempat tidur. Berbaring diatas tubuh Andrew dengan aroma maskulin yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya membuat jantung nya semakin berdegup kencang.


Andrew bangun dan mengikutinya dari belakang. Dia menjadi terpana, bagaimana gadis itu meletakan bantal pembatas di tempat tidur.


"Jangan melebihi batas ya tuan. Saya tidur di kasur dan anda juga. Tapi ingat jangan menyebrang." tunjuk Diana pada bantal yang berada ditengah-tengah kasur.


Andrew terkekeh melihat gadis itu beringsut masuk kedalam selimut. Malam masih panjang.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


ini adalah gambaran balcony dan kamar mandinya ya.


__ADS_1



__ADS_2