Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Bertumbuhlah dengan tenang


__ADS_3

Suasana siang hari ituenjadi lebih ceria ketika Briant datang dengan Conrad. Bocah itu begitu girang mmbertemu dengan Diana, dia langsung menghambur kedalam pelukan Diana.


"Conrad ini unty Lia, dia adik mommy. Cantik bukan?" Diana memperkenalkan Conrad kepada Lia. Conrad kemudian melepaskan pelukannya dan melihat keberadaan Lia yang tersenyum ramah kepadanya. Bocah itu dengan tangan di kaitkan dibelakang punggungnya mengitari Lia, mengamati layaknya seorang juri top fashion international.


"Hmm... cantik...cantik. unty Lia cantik sekali. Conrad mau berteman dengan unty." katanya dengan senyum lebar sambil memeluk Lia.


"Kalau unty jelek berarti gak mau dong berteman dengan unty ya?" tanya Lia menggoda.


"Hmm... karena unty adiknya mommy, berarti keluarganya Conrad, berarti tetap menjadi teman Conrad dong." jawab bocah itu dengan sikap yang menggemaskan.


"Hahaha anak pintar. Tapi ingat berteman itu bukan hanya karena cantik atau tampan atau kaya atau terkenal, tapi juga karena mereka baik. Kalau jahat dan nakal sebaiknya kita berhati-hati." Lia menarik Conrad kembali kepelukannya.


"Iya unty." jawab Conrad dalam pelukan.


"Briant, kenapa diam saja, duduklah." Briant sedari tadi hanya berdiri kaku di dekat pintu kamar pasien. Dia menggantikan Andrew untuk menemani Conrad menjenguk Diana. Sementara Andrew berjanji akan datang di malam hari dan menginap menggantikan Lia.


"Iya. Apa kabar Lia?" sapa Briant.


"Setidaknya lebih baik sekarang daripada ketika terlantar di bandar." ucap Lia apa adanya.


"Maaf, mereka yang ditugaskan menjemput tiba-tiba terhalang kecelakaan selama berjam-jam. Dan aku tidak mengecek ponsel ketika mereka hubungi." Briant masih merasa bersalah.


"Sudahlah Briant dia hanya bercanda." Diana merasa kasihan melihat raut wajah Briant yang merasa bersalah.


"Ah kakak! Gak seru!" Lia cemberut karena Diana menghilangkan keasyikannya mengerjai Briant.


Tok.tok.tok. Seorang pengawal masuk.


"Nyonya, ada nona Grisella hendak bertemu."


"Biarkan dia masuk." Diana tampak senang sekali salah satu sahabat baiknya berkunjung.


"Elaaa aku kangen sekali. Bagaimana kabarmu?" Diana memberondong pertanyaan begitu Ela masuk. Wanita itu langsung masuk dan memeluk Diana.


"Sudah lama tidak berjumpa, tau-tau kau ada disini dan berbadan dua." mata Grisella tertuju pada perut kecil Diana yang hanya berubah sedikit.


"Iya. Lain kali kau harus sering berkunjung ya Ella. Oh ya perkenalkan itu adikku Lia dan dia Briant."


"Hallo kakak Grisella, kamu lebih cantik dari di foto." ucap Lia spontan kepada Grisella yang hanya tertawa kecil.


"Adikmu pintar sekali Diana."


"Iya pintar ngomong." jawab Diana menggoda Lia.


Briant dan Grisella tampak bertatapan sekilas. Mereka hanya menganggukan kepala memberi salam. Briant tampak lebih banyak diam dan berkutat dengan ponselnya selama ketiga wanita dan seorang bocah asyik berbincang dan bercanda.


"Aku akan keluar sebentar dan membeli makanan untuk kalian." ucap Briant yang tiba-tiba berdiri dan siap untuk keluar ruangan.


"Aku ikut! Ayo Conrad kita ikut uncle Briant. Kakak aku pergi ya, biar tau suasana kota yang terkenal ini." Tanpa persetujuan dari Briant, Lia bergegas mengambil tas nya dan menggandeng tangan Conrad.

__ADS_1


Lia bukannya ingin mencari makanan, karena sesungguhnya diaa sudah kenyang dengan sarapan pagi yang dipesan oleh Jason. Dia sekedar ingin jalan-jalan dan menghabiskan waktu dengan Briant.


************


"Kau mengenal Briant?" tanya Diana ketika Lia, Conrad dan Briant sudah keluar dari ruangan.


"Eh, iya." Grisella tampak sedikit ragu untuk menjawab.


"Apakah hubungan kalian dekat?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku melihat bagaimana kalian kikuk ketika bertemu dan bagaimana dia mencuri pandang kepadamu." Diana memandang Grisella dengan seksama.


Grisella terdiam, pandangan matanya menerawang. Dia tampak merenung dan pikirannya berkelana pada kejadian yang berbekas dihatinya.


Diana tidak memaksakan pertanyaannya. Diberinya kesempatan bagi Grisella untuk merenung.


"Tidak perlu kau ceritakan apabila hal itu menjadi bebanmu." kata Diana.


"Dia adalah orang yang pernah aku ceritakan, pria yang membuat aku patah hati." Grisella menarik nafas panjang.


"Dia berselingkuh tapi bukan dengan seseorang tapi dengan pekerjaannya. Selama tinggal bersama, kita bahkan seperti orang asing. Dia mengutamakan pekerjaan, mengutamakan Andrew daripada dirinya sendiri." Grisella bercerita sambil merenung dan menatap keluar jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan taman.


"Akhirnya kami memilih untuk berpisah." gumam Grisella.


"Oh tidak. Aku baru mengetahui kalau Andrew yang dibanggakan Briant adalah Andrew yang sama denganmu."


"Okey aku paham. Sekarang bagaimana perasaanmu terhadap Briant?" Diana bertanya karena dia masih melihat binar kasih diantara mereka.


Saat dimana Grisella tampak gugup dan tersipu dan sat Briant mencuri pandang sesekali.


"Aku tidak tahu." Grisella tampaknya masih bingung dengan perasaaanya. Tapi Diana tahu selama ini dia mengenal Grisella, wanita itu selalu sendiri tanpa ada pria lain.


"Sudah. Kita bicara tentang kamu ya. Bagaimana bayimu? Apakah kau merasa mual-mual?" Grisella mengalihkan pembicaraan.


"Sedikit. Tapi semenjak aku mengetahui keberadaanya, dia tidak lagi menggodaku dengan rasa mual. Anak mommy sayang." Diana mengusap perutnya.


"Perpaduanmu dan Andrew pasti cakep yaaa. Aduh aku jadi penasaran." Grisella mulai tersenyum riang tampak nya dia mulai bisa melupakan kesedihannya.


"Benar. Anak mommy pasti cakep ya. Berkembanglah dengan tenang dalam perut mommy ya." Diana mengusap perutnya lembut.


"Bagaimana dengan proses perceraian Andrew?"


"Pengacara mengatakan kalau sudah hampir final, tetapi Rachel masih menahan berkas yang dia tandatangani."


"Apa maunya nenek lampir itu."


"Entahlah. Melihat bagaimana dia memperlakukan Conrad, aku tidak lagi merasa bersalah lagi. Aku hanya akan fokus merawat bayiku dan keluarga ini." ujar Diana dengan mantap.

__ADS_1


"Semoga segala sesuatunya berjalan dengan lancar." Doa Grisella.


"Kau juga, jangan mengutamakan gengsimu. Rebut dia kembali." Diana memberi semangat dan mengerdipkan matanya.


Tepat setelah Diana selesai berbicar, Lia datang dengan Briant dan Conrad.


Mereka membawa bermacam-macam camilan.


"Green tea dan coklat cake untuk ibu hamil. Capucinno dan chesse cake untuk kak Grisella." lia membagikan makanan yang dia bawa.


"Mommy lihat ini hot dog kedua Conrad." ucap Conrad dengan mulut penuh.


Mereka tertawa melihat tingkah Conrad.


"Diana, aku pulang dulu ya. Kita bertemu lain waktu okey." Grisella berpamitan setelah menghabiskan sepotong chesse cake.


"Datanglah berkunjung ke mansion. Jika tidak aku akan meminta Briant menculikmu." gurau Diana sambil mengerdipkan matanya.


"Okey pasti." janji Grisella sambil tersenyum kecil.


"Briant tolong antar Grisella sampai di rumahnya ya." pinta Diana pada Briant.


"Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri." elak Grisella.


"Kan mobilmu rusak. Briant tolong dengarkan ya permintaan kakak iparmu ini." Diana tersenyum manis sehingga Briant tidak dapat menolak.


"Ayo berangkat." ucap Briant pada Grisella.


"Kakak.... kenapa kau meminta Briant mengantarnya." protes Lia setelah kedua orang tersebut pergi.


"Memangnya kenapa?" Diana tidak mengerti drngan sikap protes Lia.


"Ah tauk ah!" dengan jengkel Lia memakan kentang goreng dihadapannya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.


Terimakasih.


Salam sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2