
Keesokah harinya, jam sebelas siang Andrew sudah bersiap untuk mengantar Diana kerumah sakit, seperti saran dokter Michael. Dia sangay khawtir karena dari pagi, Diana juga mengeluh lesu dan lelah. Waniya itu yang biasanya bangun pagi dengan ceria, kali ini hanya meringkuk di dalam selimut.
Di lantai bawah, saat Aaron mengetahui jika ayah dan ibu nya siap berangkat, dia berlari menyusul. Aaron tidak mau ketinggalan.
"Ikut. Ikut." Teriak Aaron sambil berlari di belakang Andrew dan Diana.
"Aaron di rumah saja. Mommy cuma mau ke rumah sakit." Ujar Andrew sambil menangkap Aaron dalam gendongannya.
"Hemm Aaron pingin ikut tapi..." ujar bocah itu dengan wajah cemberut manja.
"Lain kali oke. Sekarang biar daddy saja yang antar mommy ya." Bujuk Andrew.
"Aaron dan Francesca kan hari ini ada pelajaran dengan miss Maya. Hayoo lupa yaa?" Ujar Diana pada kedua bocah yang merajuk ingin ikut.
"Hemmm iya deh." Aaron akhirnya menurut.
Andrew menurunkan Aaron dari gendongannya. Dia melebarkan kedua tangannya dan memeluk kedua bocah tersebut dan mencium kening mereka.
"Okey daddy dan mommy pergi dulu yaaa. Ingat di rumah tidak boleh usil. Belajar yang benar dengan Miss Maya. " pesan Diana.
"Okey Mom. Love you." Ucap mereka serempak.
Andrew membuka pintu mobil dan membantu istrinya masuk. Kemudian dia sekali lagi melambaikan tangan pada kedua anaknya sebelum masuk kedalam mobil menyusul Diana dan membawa dirinya melesat dengan mobil. Andrew tidak menggunakan jasa supir hari ini.
Tak lama sepeninggal Andrew dan Diana, guru les mereka sudah datang. Kedua anak itu menjadi patuh dan belajar dengan sungguh-sungguh, membuat miss Maya menjadi heran. Karena biasanya ada saja ulah yang membuat pusing miss Maya.
Waktu akhirnya berlalu. Les sudah selesai dan miss Maya pun berpamitan pulang. Ternyata kedua bocah tersebut sepakat belajar dengan serius, agar miss Maya cepat pulang. Karena mereka ingin ketika kedua orang tuanya tiba. Mereka sudah selesai dengan semua tugas.
Saat ini Aaron dan Francesca berada di kamar bermain. Mereka menolak untuk tidur siang karena penasaran dengan keadaan ibu nya. Mereka menantikan mommy dan daddy yang tak kunjung pulang juga.
"Kenapa lama sekali ya?" gumam Aaron dengan bosan.
"Francesca mau menunggu sambil mewarnai bunga saja ah buat mommy nanti." Frances kemudian mengambil tumpukan buku mewarnai.
"Aaron juga mau."
"Loh, sudah jam satu. Waktunya tidur siang." Ajak Matilda.
"Bibi aja yang tidur siang. Aaron masih sibuk." Tolak Aaron sambil mulai meramu cat air.
"Eh... jangan begitu. Nanti bibi dimarahin daddy." Tolak Matilda.
"Sudah bibi duduk saja di pojok sana. Tungguin kami." Tunjuk Francesca ke arah sudut ruangan yang terkena angin ac.
"Baiklah bibi tunggu di sana ya." Bibi Matilda menuruti permintaan Francesca.
"Frances, Aaron mau mewarnai orang saja. Mana minta yang princes dan prince. Jadi kaya mewarnai daddy dan mommy."
"Ini." Francesca menyodorkan kertas bergambar prince dan princes pada Aaron.
"Susah ya, kasih warna di bibir dan mata." Gerutu Aaron.
"Polos saja lah kaya momy, ga pernah pakai warna di mata, cuma lipstik." Saran Francesca.
"Kalau polos jelekkk. Ini mukanya jadi putih kaya kertas. Iii... sulit sekali. Nah kan cemat cemot." Gerutu Aaron dengan kesal.
"Ya memang harus sabar. Kalau mau gampang ya langsung saja warnai di muka orangnya. Besar." Celetuk Francesca sambil tetap mewarnai bagiannya.
Aaron terdiam mencerna perkataan Francesca. Kemudian dia menoleh ke arah Matilda. Dan ternyata wanita itu sudah tidur pulas dengan mulut ternganga.
"Betul kann. Frances suruh bibi tidur di sana, kena angin ac enak dah dia, hahhahaa." Aaron tertawa geli.
Frances yang melihatnya ikutan tertawa.
"Kaya ikan koi. Hap" Frances menimpali perkataan Aaron ketika melihat mulut Francesca yang ternganga besar.
__ADS_1
Kembali terlintas ide super jahil di kepala Aaron.
Aaron membawa wadah cat air nya kemudian menghampiri Matilda.
"Aaron! Jangan bilang kau mau... ah kan beneran." Francesca memekik tertahan ketika Aaron menorehkan cat air warna biru tua di kelopak mata Matilda.
"Ssrttt." Aaron melarang Francesca untuk berisik.
"Awas bangun." bisik Francesca dengan keras.
" Iya. Sstt." Aaron melotot ke arah Francesca yang terus berisik.
"Hihi. Hihi. Hihi.." Francesca cekikikan.
"Bagus gak?" Aaron sudah menorehkan cat warna merah tua di pipi Matilda.
"Hihi. Hihi. Hihi.." Francesca mengangguk.
"Aku juga mau." Francesca berjingkat perlahan dan mengambil cat air berwarna ungu kemudian menorehkan dengan perlahan di bibir Matilda.
Matilda mengeliat, dia mengecap-ngecao bibir nya kemudian menggosok hidup dengan tangan kiri. Hasilnya warna ungu di bibir sedikit melenceng ke kanan dan kiri.
Kemudian Matilda menggosok pipinya yang masih memerah. Dan semburat warna merah pipi itu mulai sedikit terpencar.
Aaron dan Francesca mundur beberapa langkah kebelakang melihat pergerakan Matilda. Mereka berdiri tegang dan melotot melihat hasil karya yang agak belepotan akibat gerakan tangan Matilda. Matilda merusaknya tanpa sengaja.
Setelah Matilda diam lagi. Akhirnya kedua bocah ini bisa bernafas lega. Mereka akhirnya kembali meracik kembali cat air di wadah. Dan menambahkan warna-warna cerah.
"Seharusnya pakai dasar, Aaron. Kaya pakai bedak." Keluh Francesca yang melihat
warna tak beraturan di wajah Matilda.
"Yaaa... kenapa baru ngomong sekarang sih
Terus bagaimana?" sahut Aaron dengan kesal.
"Hebat juga ide kau kakak Frances." Puji Aaron yang langsung memanggil kakak pada Francesca.
Aaron dan Francesca perlahan kembali mendekati Matilda dan melanjutkan hasil karya fenomenal mereka. Lukisan indah di wajah Matilda. Mereka menorehkan kuas dengan perlahan, khawatir yang menjadi obyek terbangun dan kembali merusak hasil karya.
"Sudah selesai." Aaron dan Francesca memandangi hasil karya mereka dengan penuh takjub.
Entah bagaimana Matilda tertidur. Dia bahkan tidak terusik dengan perbuatan kedua anak tersebut. Bahkan dia tersenyum-senyum sendiri, sambil mengecap-ngecap bibir. Tampaknya Matilda bermimpi makan soto ayam aroma soto ayam yang di buat cheft Paul tadi pagi membuatnya terbayang seharian. Dan cheft Paul dengan ketus hari ini melarang Matilda menyicipi.
"Aron, bagaimana kalau di tambahkan ini?"
Ditangan Francesca tampak sebuah wig warna-warni yang biasa di pakai badut. Wig itu biasanya di pakai Matilda ketika membacakan dongeng, agar anak-anak lebih fokus mendengarnya.
"Kakak Frances semakin pintar saja setiap hari." Ujar Aaron dengan bangga.
Mereka berdua kemudian mendekati Matilda dengan perlahan dan memasang wig tersebut.
"Perfect!"
Pintu kamar terbuka, Conrad yang baru datang dari sekolah, tampak terkejut melihat hasil karya Aaron dan Francesca. Dia menutup mulutnya dan tergelak. Conrad bahkan meneteskan air mata.
"Suka ya kakak?" tanya Francesca.
"Bagus ya kakak? Foto. Foto." Todong Aaron.
Conrad segera mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan karya perdana Aaron dan Francesca yang bertema lukisan wajah. Dan ketiga anak itu cekikikan melihat hasil foto dari Conrad. Hasilnya sangat bagus bagi mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Diana heran melihat ketiga anaknya berkumpul dan tertawa sambil memandang handphone Conrad.
Tampaknya Andrew dan Diana langsung menjemput Conrad, ketika selesai dari menemui dokter Michael. Dan saat ini dia dikejutkan dengan hasil karya Aaron dan Francesca yang fenolmenal.
__ADS_1
"Aaron... Frances kan kasihan bibi Matilda. Aduhh.. itu bisa hilang tidak..." keluh Diana.
Aroma cat air begitu menusuk penciumannya membuat Diana menjadi mual. Dia buru-buru keluar dari kamar bermain dan mendapati Andrew yang baru saja mau masuk ke dalam kamar bermain.
"Ada apa?" Tanya Andrew heran.
"Coha lihat apa yang dikerjakan anak mu. Tegur mereka. Aku mau berbaring dulu." Ujar Diana.
"Kau mau kembali ke kamar? Biar aku antar dulu."
"Tidak perlu. Kau lihatlah sendiri apa yang telah mereka lakukan kali ini. Aku bisa ke kamar sendiri." Diana menaiki tangga perlahan.
Andrew sejenak menatap istrinya dengan khawatir. Setelah Diana sudah sampi di ujung anak tangga yang terakhir, dia segera masuk ke dalam kamar bermain.
Andrew benar-benar takjub melihat hasil karya Aaron dan Francesca. Kedua anak kurcaci itu memandang Andrew dengan takut. Mereka khawatir jika Andrew akan marah.
Andrew menahan tawa melihat ketika Aaron dan Francesca mencuri pandang padanya.
Baginya yang parah bukan tindakan Aaron dan Francesca tetapi, Matilda yang tidak juga terbangun dari tidur siangnya.
"Matilda!" Panggil Andrew.
Matilda hanya bergerak sebentar kemudian tertidur lagi.
"MATILDA!" Kali ini suara Andrew mengeras.
Matilda sontak bangun dan kaget mendengar suara Andrew. Dengan gelagapan dia langsung berdiri.
"Maaf tuan, saya...." ucapaannya mengambang. Bagaimana dia bisa bilang tertidur?
"Tertidur? Sudah kali ini aku maafkan dirimu. Turun dan cuci muka mu. Panggil Maria untuk menggantikan menjaga anak-anak." Ujar Andrew dengan tegas.
"Baik tuan.. terimakasih. " ujar Matilda dengan hormat.
"Bibi tunggu! Foto dulu yuk dengan hp baru Conrad." Panggil Conrad.
"Eh, saya..." Matilda takut kalau Andrew marah.
"Foto sana!" Perintah Andrew.
Matilda patuh. Setelah foto dia keluar dari kamar bermain. Di luar ruangan Matilda mendengar suara tawa Andrew dan anak-anak yang sangat riuh. Dia menjadi heran apa sih yang di tertawakan mereka.
Sepanjang perjalanan ke belakang, Matilda merasa heran melihat semua pelayan menatap padanya dengan takjub. Apakah diriku semakin cantik setelah menggunakan produk baru? Pikir Matilda dalam hati.
Sesampainya di dapur, Matilda menemukan Nanny Maria yang barus saja selesai makan siang.
"Tuan memanggil mu untuk menjaga anak-anak." Ujar nya langsung sambil menghempaskan diri, duduk di kursi meja makan.
"Astaga! Apa yang terjadi padamu?" Maria terkejut melihat keadaan Matilda.
"Aku ketahuan ketiduran dan tampaknya tuan agak marah padaku. Dia menyuruhku turun dan cuci muka." Gumam Matilda.
"Astaga. Jangan sampai aku ketiduran." Ujar Maria sambil beranjak menuju ke kamar bermain.
Matilda mencomot sepotong kue. Dia mengunyahnya dengan perlahan tanpa menyadari kondisi wajahnya. Dia hanya melihat ada noda cat air di tangannya. Matilda menggosok sedikit dan masih membekas disanaa.
Saat itu cheft Paul, baru saja keluar dari freezer besar, menyerupai gudang makanan dengan membawa beberapa butir tomat. Dia berjalan dengan santai hingga tiba di depan Matilda.
Cheft Paul terkejut dan menjatuhkan tomat yang dia pegang sambil berseru, " Astaga ada badut nyasar."
...ππππππππ...
Kira-kira beginilah penampakan Matolda ketika di foto oleh Conrad. Cuma lebih berantakan lagi yaa.
Hahhahaham Tertawa itu sehat kok gak di larang.
__ADS_1
Yang di larang itu tertawa seharian tanpa berhenti.