
21 chichat
"Dinnnn Dianaaaa ceileeeeeee yang habis honeymoon." Mona dan Maya berlari kecil kearah Diana yang hendak masuk ke cabin setelah selesai kerja hari ini .
"Hush! Jangan teriak-teriak, malu tau." Diana meletakan telunjuk kanan di bibir nya.
"Iya ini Mona bersemangat sekali. Biasa aja kenapa." Maya menyenggol Mona yang tertawa.
"Ayo masuk kamar mu, kita partyyyy." Mona mengangkat sebotol blush wine di tangannya.
"Ngembat dari bar mana kamu?" Diana bertanya.
"Aduh sudah pokok nya minum saja." Mona mengibaskan tangannya.
"Lupa ya kamu cekkk Diana kan sayangnya pemilik kapal." Maya memukul kepala Mona pelan.
"Oh iya jangan diaduin yaaaaa please." Mona mengatupkan kedua tanganya di tangan dan memonyongkan bibirnya memohon dengan raut wajah yang lucu.
"Iya iyaa kalian hati-hati saja jangan sampai ketauan pengadu." Diana memperingatkan
"Okeyy santaiiii sip." mona mengacungkan jempol.
"Cerita donggg. Gimana kamu sama Mr.Andrew?" Mona bertanya sambil membuka tutup rose wine.
"Akhirnya ya cekkkk, dia nyariin kamu lagi juga." Maya menyodorkan gelas ke Mona.
"Iya lahhhh. Gak rela aku kalau sobatku cuma buat sesekali saja." Mona menuangkan rose wine ke gelas- gelas.
"Ayooo cerita dong cekkk gimana sikap dia?" Maya merajuk.
"Gimana yaaa. Dia baik padaku." Diana menerawang tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kalian indehoi terus nich?" Maya cekikikan.
"Hush!" wajah Diana memerah.
"Cerita dong sehari berapa kali?" Mona penasaran..
"Apaan sih pertanyaan kalian." wajah Diana memerah menahan malu.
"Pertanyaanmu salah cek. Harusnya kamu tanya apa kalian selalu bermesraan? Apa kalian sudah..." Mona menangkupkan kedua tanganya dan memandang Diana sambil mengerdipkan sebelah matanya.
"Iya itu maksudku. Tiga malam di pulau indah dan hotel mewah, kalau aku mahh dah minta jatah terus." Maya menimpali dengan konyol.
"Hush! Rahasia ya." wajah Diana bersemu merah.
"Sama kita kok rahasian sih. Kita kan saling terbuka." Maya makin penasaran.
"Haiss pertanyaan kamu." Diana mengibas kan tangan ke udara sambil tertunduk malu dengan godaan sahabat-sahabatnya.
"Sudah? Ow. Tidak! Boss besar dapat perawan!" Maya menjatuhkan tubuhnya ke kasur sambil melotot.
"Hahahhahahahha gila kamu cekkk." Mona terbahak melihat tingkah konyol Maya.
"Terus kapan dia bakal datang lagi?" tanya Mona penasaran sambil menegak habis blush wine ditangannya.
__ADS_1
"Dia sementara tidak akan datang ke sini."
"Trus trus gimana?" Maya menampilkan wajah penasaran.
"Setiap home port, akan ada seseorang yang menjemput dan membawaku bertemu dengannya." Diana tersenyum bahagia.
"Tiap minggu donggg." serempak suara Mona dan Maya.
"Begitulah asal dia tidak ada urusan ke luar kota."
"Wow makin lengket kaya perangko nih si bossss."
Diana tersenyum melihat tingkah temannya yang bersorak.
"Jangan lupakan kami yaaa kalau sudah jadi Nyonya besar." Mona dan Maya saling menepukan tangan.
"Apaan sih kalian ini belum ada pikiran sampai kesana."
"Dia pasti cinta banget sama kamu Dinnn." Mona bersorak.
"Mr. Andrew tidak pernah mengatakan tentang cinta." Pandangan Diana menerawang mengingat waktu kebersamaan mereka.
"Dia cuma mengatakan kalau aku adalah miliknya. Aku wanitanya dan sederet larangan." Diana melanjutkan ceritanya.
"Cowok mah gitu kurang peka. Yang penting kan dia sekarang sudah nempel sama kamu cekkk. Yang penting bukti bukan rayuan saja." Maya mencoba memberi semangat.
"Coba buat dia cemburu sekali-sekali, biar ada greget." Maya mengepalkan kedua tangan didada dan bergidik lucu.
"Hmmm bagaimana caranya."
"Kamu dasar bencis, mana percaya boss besar." Mona memukul kepala Maya pelan.
"Biarin aku kan bencis paling kerennn." Maya mengangkat kepalanya .
"Iyaaa. Iyaaa. Suka-suka mu lah. Ayo Diana lanjutkan ceritamu." Mona menuangkan rose wine ke gelas Diana yang sudah kosong.
"Mungkin dia akan percaya." jawab Diana sambil tersenyum geli.
"Hah? Kok bisa?" Mona penasaran.
"Dia pernah menemukan aku sedang breakfast dengan Maya di crew mess. Dan dia mengira kalau aku kabur yang kedua kalinya karena Maya."
"Gila segitunya. ckckck." Mona berdecak sebelum terpingkal.
Diana hanya tersenyum mengingat kejadian itu. Saat itu dia masih merasa kesal dengan tingkah Andrew yang berlebihan. Tapi saat ini, dia merasa rindu. Baru saja mereka berpisah dari kebersamaan yang memabukan. Andrew mengantarkannya kembali ke kapal pesiar dengan cara yang luar biasa. Ketika Kapal pesiar memasuki hari ke tujuh dan sedang di perairan international, Andrew membawanya dengan menggunakan helikopter dan mendarat di deck atas kapal. Banyak mata yang memandang, seakan ada politikus penting atau selebritis yang tiba. Setelah itu Andrew dengan helikopternya pergi kembali ke kota M. Sebenarnya Andrew ingin tinggal semalam lagi di Kapal, tetapi urusan penting yang mendesak membuatnya harus segera kembali dan dia tidak dapat membawa Diana karena urusan imigrasi.
"Hohohohoho hati-hati Anthony bisa jadi mata-matanya." Maya memperingatkan. Kedua sahabat ya ini masih asyik bergosip.
"Din, kamu tidak pernah tertarik dengan Dylan?" tanya Mona hati - hati .
"Sempat sih aku ya ada gimanaaa gitu sama Dylan."
Diana termenung sesaat.
"Tapi sudahlah, semua sudah berlalu." Diana menegak habis minumannya.
__ADS_1
"Iya kalian pernah ngobrol bareng kan dulu?" Maya mengambil kripik kentang dari laci meja.
"Iya pernah sekali." Diana menjawab.
"Trus kenapa tidak berlanjut?" Mona penasaran.
"Entahlah, aku sempat dapat shift pagi di Pool Bar, mungkin beda jadwal juga yang membuat kami jarang ketemu. Hmm tapi aku sempat lihat dia dekat dengan seorang gadis bule. "
"Oooo itu Slavinia. Penari dari negara Brazil."
ujar Maya.
"Kamu memang gudang informasi ya." Mona menepuk bahu Maya.
"Iya setauku sih Slavinia mendekati Dylan. Ada Indrawati juga suka sama Dylan. Dylan mah baik sama siapa saja, tapi belum tentu juga dia suka."
Maya menjelaskan.
"Iya dia juga baik padaku, tapi belum tentu juga dia suka padaku. Karena itu aku tidak pernah memikirkannya."
"Iya sampai akhirnya mr. Andrew mengisi hati mu kan?" Mona mengerlingkan mata.
"Hahahahha mungkin begitu lah." Diana tergelak.
"Kamu gimana kok bisa langsung lengket dengan Mr. Andrew?" Maya bertanya kembali.
"Hmmm gak tau ya. Memang dia kharismatik. Tapi bagaimana awalnya aku juga tidak mengerti." suara Diana lirih.
"Ya sudah lah ga pa pa lagi. Sudah pada dewasa. Setidaknya boss besar juga masih kembali mencari mu. "
"Aku happy aja asal kamu happy." Maya memberi semangat.
"Sebenarnya aku lebih suka kamu dengan Dylan, jujur aja ini Din." Maya angkat bicara.
"Kok gitu cek?" Mona memandang heran.
"Iya kalau Dylan lebih gampang jangkauannya. Kalau Mr. Andrew agak terlalu tingggiiìi Status sosial, Lingkungan, Pekerjaan, Keluarga dan lain lain. Menjadi Cinderela tidak lah mudah. Banyak yang harus di lompati, rintangannya itu lohhh." Maya berkata panjang lebar.
"Haduhhh sudahlah. jalani saja apa yang ada didepan mata sekarang. Perkara itu masih nanti sajaaa. Penting boss besar hatinya diikat dulu jangan sampai hilang. Ingat Diana yang penting dia merasa nyaman dulu sama kamu. Jadi pendamping yang smart juga bukan sekedar di tempat tidur. " Mona memberi semangat.
"Iya. Fighting!" Diana mengepalkan tinju ke udara yang diikuti oleh kedua temannya. Dan mereka tergelak bersama-sama.
Hingga sebotol wine habis .
"Clara gak datang?" tanya Mona.
"Lagi tidur di kamar waraporn dia. "
"Oooo kalau begitu aku tidur disini ya." tanpa menunggu jawaban Mona naik di kasur .
"Geser cek aku tidur juga disini." Maya menepuk pantat Mona.
"Awas hamil loh. " Diana menggoda mereka dan tergelak.
"Gak selera !" kedua sahabatnya berkata bersamaan.
__ADS_1
ππππππππππππππππππππ