Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Terluka


__ADS_3

Di dalam mobil Dion, pemuda itu tidak bisa berhenti menceramahi Conrad.


"Kenapa kau bisa terlibat dalam perkelahian?" tanya Dion dengan heran.


Sepanjang Dion mengenal Conrad, pemuda itu selalu bersikap tenang. Dia tidak mudah tersulut emosi apalagi perkelahian fisik. Conrad selalu bisa menjaga diri dan juga menjauh dari pergaulan buruk. Hal ini lah yang membuat Dion senang bergaul dengan Conrad.


"Mereka menghina daddy. Kau tahu kan itu fitnah yang sengaja di buat untuk menjatuhkan citra perusaahan daddy." ujar Conrad dengan lirih.


Dion menghela nafas. Dia sudah mendengar kejadian yang menimpa keluarga Conrad dari orang tuanya. Orang tua Dion salah satu direksi yang memegang sedikit saham di Fantasy Cruise Line. Dan akibat fitnah itu, perusahaan mereka sedang tergoncang.


"Aku mengerti, tapi tidak ada gunanya kau menghajar mereka. Hal itu tidak akan meredakan isyu yang sudah tersebar." ujar Dion dengan tenang.


"Ya aku tahu itu. Tapi rasanya aku tidak bisa diam saja mendengar mereka mengatakan hal yang menjelekan ayahku."


"Heh.. lebih baik, kau menghindari orang-orang yang sedang bergosip. Atau kenakan headset selama kau di area umum."


Usulan Dion sangat bagus bagi Conrad. Hak yang benar yang harus dia lakukan memang. Lebih baik menjauhkan diri dari orang-orang yang hanya menggunakan waktunya untuk bergosip.


"Kau benar."


"Untung aku tadi datang tepat waktu. Jika tidak, wajah tampanmu itu harus dioperasi."


Conrad menahan tawa mendengar lelucon Dion. Rahangnya masih terasa sakit jika dia tertawa. Dion terkekeh melihat Conrad menahan sakit. Wajah Conrad sudah membiru dan pakaiannya terkoyak di beberapa tempat.


"Melihat dirimu yang seperti ini, tidak akan ada yang mengira kau adalah anak seorang konglomerat. Kau seperti tuna wisma, gembelll!!!" Dion terkekeh setelah mengejek Conrad yang hanya bisa diam sambil meringis.


"Jangan katakan siapa diriku dihadapan siapapun dikampus."


"Terlebih pada gadis itu, bukan?" ujar Dion menyelidik.


"Iya... Ruby," sahut Conrad lirih.


"Kau benar-benar jatuh cinta padanya?"


"Aku rasa."


"Lalu bagaimana dengan gadis yang satunya lagi, siapa namanya... Jasmine?" Dion melirik pada Conrad sekilas.


Pemuda itu terdiam. Baru pertama kali ada yang bertanya pada dirinya mengenai bagaimana perasaanya pada Jasmine. Pertanyaan dari sahabat karib membuat Conrad bingung harus menjawab apa. Bagaimana sesungguhnya perasaanya pada Jasmine?


"Kau juga menyukai Jasmine?" tanya Dion lagi.


"Apa mungkin kita bisa menyukai dua orang dalam waktu yang bersamaan?" tanya Conrad dengan bingung.


"Entahlah... kau tanyakan pada dirimu sendiri. Kau tahu bukan, aku belum pernah merasakan sesuatu yang special pada seorang wanita." sahut Dion ringan.


Conrad memejamkan matanya. Goncangan mobil ketika melewati polisi tidur, membuat memar di pinggangnya terasa sakit. Conrad mengerang tertahan. Dia kemudian memundurkan sanderan di kursi mobil, berbaring lebih nyaman sebelum tiba di rumah sakit.


Tak lama kemudian mereka memasuki ruang unit gawat darurat. Dion mengurus segala urusan administrasi sementara Conrad dirawat. Meskipun Conrad menolak rawat inap, Dion tetap memaksa. Karena Conrad tidak ingin pulang ke Mansion dan membuat Diana mengetahui keadaanya. Sedangkan jika kembali ke flat nya, Dion merasa kasihan tidak ada yang menjaga Conrad.


Handphone Conrad berdering.


"Conrad kau berada di ruangan mana?" ujar Ruby di telephone.


"Masih di Unit Gawat Darurat." sahut Contad.


"Aku dan Jasmine hampir tiba."


"Kalian kemari?"


"Iya, jasmine mengikuti arah mobil temanmu. Rumah sakit Baptist kan?"


"Iya."


Sambungan telphone terputus.


"Jangan pesan ruang VIP. Mereka akan datang kemari." pinta Conrad pada Dion.


"Mereka maksudmu?"


"Ruby dan Jasmine."


"Ah, Si@l. Aku harus mengubah lagi." Dion bergegas menuju ke bagian administrasi.


Bertepatan dengan proses pemindahan Conrad, Jasmine dan Ruby datang. Mereka tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Conrad. Ruby yang merasa sudah akrab dengan Conrad mendekati pria itu.


"Lihatlah dirimu. Babak belur. Sakit?" ujar nya lembut.


"Iya.. tapi sudah mendingan."


"Kenapa kau harus berkelahi seperti itu untuk membela orang yang tidak kau kenal?" tanya Ruby dengan heran.


"Itu... itu, karena yang mereka bicarakan adalah mantan bos ku yang kaya. Mereka sekeluarga adalah orang yang baik hati." Conrad berhasil memberikan alasan.


"Tapi tidak juga sampai membuatmu seperti ini. Lihat dirimu sekarang terluka, apa mereka tahu? Apa mereka perduli?" ujar Ruby kesal.


Conrad hanya meringis mendengar perkataan Ruby.


"Maksud Ruby baik kok, Conrad. Meskipun mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti dirimu, membela orang yang baik dan aku sayangi." ujar Jasmine sambil terkekeh.


Gadis itu meletakan beberapa buah yang dia beli ketika menuju ke Rumah sakit. Dia mencuci buah kiwi dan anggur. Meletakannya di piring yang juga baru dia beli. Kemudian meletakannya di nakas disamping Conrad beserta air mineral.


"Terimakasih pula sudah berani menghadang mereka." ujar Conrad sambil menatap Jasmine.


"Aku? Berani? Hahhaha... malah aku yang sudah menyusahkan dirimu. Jika bukan karena aku yang sok berani, Kau tidak mungkin terluka parah seperti ini." ujar Jasmine dengan tersenyum getir.


Dia merasa bersalah pada Conrad. Karena meski bagaimanapun Juga dia sudah ambil andil memperparah keadaan Conrad. Dan dia sangat sedih akan hal itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Conrad. Maaf." ujar Jasmine dengan menahan tangisannya.


"Ah... kalian membuatku menangis." ujar Ruby yang tanpa ragu menitikan air matanya.


"Ruby, jangan menangis. Lihat... aku baik-baik saja."


Conrad dengan lembut menyeka air mata yang menetes di pipi Ruby. Pemuda itu tersenyum menatap Ruby. Gadis lembut yang tampak rapuh. Gadis cantik ini bahkan meneteskan air mata untuk nya. Conrad tersentuh dengan air mata Ruby yang tulus.


Sementara Jasmine segera membalikan tubuhnya. Sekuat tenaga dia menahan air mata yang sudah hampir menetes. Melihat sikap lembut Conrad pada Ruby, membuat hati Jasmine menjadi ngilu. Gadis itu kemudian beranjak keluar.


"Aku akan keluar membeli minuman hangat." ujar nya tanpa menoleh lagi.


Di luar ruangan. Jasmine menyandarkan dirinya di tembok. Dia berulang kali menghembuskan nafas. Jasmine berusaha menahan perasaan nya yang berkecamuk. Dan saat itu Dion lewat.


"Kau baik-baik saja? Siapa namamu, Jasmine kan?"


"Ah... iya. Aku baik-baik saja." ujar Jasmine sambil buru-buru menyeka air matanya yang mengambang disudut mata.


"Lalu kenapa kau disini?"


"Eh... aku hendak membeli beberapa minuman." ujar Jasmine yang tersadar dengan alasannya meninggalkan ruangan Conrad.


"Ini aku sudah beli, ayo masuk." Dioan menunjukan empat Satarbuck Coffe yang baru dia beli.


"Ah iya. Aku akan segera menyusul." Ujar Jasmine dengan gugup.


"Baiklah." Dion masuk kedalam ruangan Conrad dengan perasaan heran akan sikap Jasmine.


Di dalam dia melihat Conrad bercakap-cakap akrab dengan Ruby. Bahkan gadis itu membantu Conrad memakan beberapa butir anggur untuk Conrad.


Melihat keakraban mereka, Dion berdehem.


"Berikan satu padaku." pinta Conrad, melihat Dion membawa minuman hangat.


"Nih, green tea untuk mu." Dion memberikan Satu cup Starbucks tea pada Conrad.


"Kok tea sih."


"Masih sakit. Bagus untuk menenangkan dirimu." ujar Dion asal.


"Cih. Bilang saja pelit."


"Kau bisa meminum bagianku, Conrad." Ruby menyodorkan Caramel Coffee Lattee miliknya, Kopi susu dengan sirup caramel itu tampak harum di penciuman Conrad.


"Tidak Ruby terimakasih." tolak Conrad


"Kau tidak melihat Jasmine diluar?" tanya nya pada Dion.


"Dia..." belum selesai Dion berbicara, Jasmine sudah masuk kembali.


"Jasmine, untung kau belum membeli apapun. Dion sudah membeli Coffee Lattee untuk kita, kecuali aku."


"Pelan-pelan, Jasmine." ujar Ruby.


"Ehem.. iya.." Jasmine terkekeh.


"Kemarikan Coffee mu," Conrad mengulurkan tangannya.


Jasmine menyodorkan kopi susu ditangannya kepada Conrad. Pria itu kemudian membuka tutup dan mencium aroma dari kopi itu. Caramel lattee.


"Ah. Dia tidak suka aroma caramel, terlalu manis. Seharusnya kau membeli Hazelnut Latte untuk Jasmine. Lihat dia tidak bisa meminumnya. Ini Kau minum saja green tea ini. Caramel lattee ini buat ku saja."


Jasmìne tertegun dengan perkataan Conrad. Dia mengambil green tea yang diberikan Conrad. Jasmine tidak mengira jika pemuda itu mengingat minuman kesukaannya. Dan dia masih terdiam hingga melihat Conrad meminum gelas yang sudah dia minum sebelumnya.


"Itu..." Jasmine tidak dapat mencegah. Tutup gelas green tea masih di tangannya. Dia hendak menukar tutup gelas itu dengan gelas di tangan Conrad. Jasmine awalnya pun tidak akan menjadi masalah apabila harus tetap meminum Caramel lattee itu. Tetapi karena Conrad yang meminta dia memilih diam.


"Ternyata kesukaanmu dan kesukaanku sama ya Conrad, Caramel lattee." celetuk Ruby dengan tertawa kecil.


Perkataan Ruby, meruntuhkan segala binar kebahagiaan yang baru saja muncul di dalam hari Jasmine. Ternyata begitu, Cornad menukar minuman mereka bukan karena kasihan padanya, tetapi karena ingin memimum jenis coffee yang sama dengan Ruby, pikir Jasmine dalam hati.


Mereka berbincang-bincang beberapa saat, hingga waktunya Ruby untuk pulang. Dia masih harus melakukan kerja sambilan. Jasmine berpamitan pula. Dia yang mengajak Ruby menjenguk Conrad, maka dia pula yang harus mengantarkan Conrad pulang.


Sepeninggal mereka Conrad menerima telphone daro Francesca.


"Adiku Aaron akan kemari." ujar nya pada Dion.


"Menjengukmu?"


"Bukan. Habis berkelahi juga." Conrad terkekeh.


"Dasar adik kakak sama saja." gerutu Dion.


"Tolong pindahkan lagi kamar ku ke ruang VVIP. Bisa marah daddy, jika tahu aku membiarkan Conrad diruangan ini."


"Siap tuan muda."


Dion kembali disibukan dengam pengurusan administrasi. Perawat akhirnya membawa Conrad ke ruang VVIP. Di sana dia menanti Aaron. Dan saat melihat Aaron yang tidur dengan tengkurap, Contad merasa kasihan.


"Kenapa punggungmu?"


"Anak si@lan itu main curang. Dia memukulku dengan kursi dari belakang." gerutu Aaron.


"Sudah rontgent? Tulang punggung mu bagaimana?"


tanya Conrad khawatir.


"Baik- baik saja. Untung sekali badanya kecil jadi tenaga nya lemah." sahut Aaron dengan terkekeh.

__ADS_1


"Kenapa kau berkelahi kak?"


"Kenapa juga kau berkelahi?"


"Mereka menghina daddy."


"Sama.Aku tidak tahan mendengar mereka menghina daddy." sahut Conrad dengan kesal.


"Lihat. Kalian sama saja. Terkapar disini. Apa sudah terpikir oleh kalian, bagaimana jika mommy Diana mengetahui apa yang terjadi. Heh?" Francesca menggerutu.


"Jangan bilang mommy lah."


"Kau pikir pengawal itu akan lebih takut pada kita?" uajr Francesca.


"Hai kak Dion, maaf baru menyapa. Terimakasih sudah mengantar kakak sableng ini kemari." ujar Francesca dengan sopan.


"Sama-sama Frances." sahut Dion singkat.


"Kau berkelahi disekolah?" tanya Conrad yang melihat Aaron masih menggunakan atribut sekolah lengkap.


"Perpustakaan."


"Gila!"


"Keren kan?"


"Bodoh itu!"


"Kok?"


"Siap-siap mommy menelphone mu. Kepala sekolah pasti sekarang sedang menghubungi mommy," ujar Conrad dengan tenang.


"Siap-siap juga untuk mu. Jika mommy datang, Kau juga tidak akan lepas dadi omelannya." ujar Conrad dengan gemas.


Tak lama terdengar bunyi handphone berdering. Mereka berempat saling bertatapan. Tidak ada yang berani untuk melihat ponsel mereka. Dan tidak ada yang sadar bunyi dering handphone siapa yang berbunyi.


"Francesss itu handphone mu!" teriak Aaron akhirnya.


"Oh iya iya." Francesca dengan segera mengambil handphonenya dan berbisik kepada mereka berdua, "mommy." Seketika Aaron dan Conrad tutup mulut.


"Ya mommy..."


"..."


"Rumah sakit Baptist di ruang VVIP 01." Jawab Frances dengan gugup.


Sambungan berhenti.


"Mommy mau kesini." ujar nya setelah selesai menerima telphone dari Diana.


"Sebaiknya aku pulang saja." ujar Dion yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan dirinya di tengah masalah keluarga yang akan terjadi.


"Thanks Dion."


Sepuluh menit setelah kepergian Dion. Diana datang dengan Andrew. Hatinya terasa hancur melihat keadaan kedua puteranya yang babak belur. Diana menghampiri Aaron yang tampak lebih parah dari Conrad. Dia membuka selimut yang menutupi punghung Aaron.


Punggung Aaron lebam berwarna ungu. Dia tidak berani menyentuh nya mengetahui jika pasti akan terasa sakit jika dipegang. Diana kemudian duduk dan memandang wajah Aaron. Beruntung sekali wajah tampan itu tidak apa-apa.


Menoleh pada Conrad, dia melihat wajah Conrad yang lebam. Pinggang dan perut pria itu juga terluka. Andrew yang melihat keadaan kedua putranya, menahan emosi. Dia mendengar alasan Aaroj berengkar dari pengawal. Tapi belum mengetahui alasan Conrad berkelahi.


"Kenapa kau berkelahi? Kenapa juga sampai babak belur?" tanya Andrew pada Conrad.


"Alasan yang sama dengan Aaron." sahut Conrad datar.


"Lalu kenapa kalian sampai babak belur? ukannya kalian sudah terlatih. Apa kurang latihan selama ini?" tanya Andrew dengan garang.


"Leonel.main curang dad." Dia memukulku dari belakang." sahut Aaron.


"Lihat lukaku hanya karena kecurangannya. Tapi aku berhasil.membuat Leonel dan Teddy babak belur." kata Aaron lagi dengan angkuh.


"Lalu kau?" Andrew menoleh kepada Conrad.


Pemuda itu menelan air ludahnya. Jika bukan karena melindungi Ruby dan Jasmine, Keadaan dirinya tidak mungkin separah ini bukan?


"Mereka main keroyok, dad." ujar Conrad akhirnya.


"Sudah, Kau ini anak berkelahi sampai begini malah membahas kenapa mereka terluka. Aaron seberapa parah teman-temanmu?" tanya Diana.


"Parah mom. Aku rasa Leonel dan Teddy sudah tidak bisa makan untuk beberapa waktu." sahut Francesca.


Diana terdiam. Semakin parah korban Aaron, maka semakin besar permasalahan yang akan dihadapi oleh Diana besuk disekolah.


"Bayar saja seberapa yang pantas untuk mereka. Tapi ingatkan pada mereka juga, agar mendidik mulut anak-anaknya." ujar Andrew pada Diana.


Melihat rentetan peristiwa yang berimbas pada anak-anaknya membuat Andrew semakin geram. Dia tidak sabar rasanya ingin menemukan dalang dibalik semua peristiwa ini. Seseorang harus bertanggung jawab karena sudah menghancurkan nama baik perusahaan, yang sudah dia bangun dengan susah payah. Mereka harus bertanggung jawab, dengan luka yang dialami anak-anaknya.


"Daddy berterimakasih pada kalian yang sudah membela diriku. Aku tahu kalian menyayangi daddy. Tapi ingat, jangan mengorbankan diri kalian sampai seperti ini. Walau bagaimana pun daddy bangga pada kalian. Tapi Conrad, kau harus sering oulang dan berlatih lagi." ujar Andrew.


"Kau ini. Anak seperti ini malah dibilang bangga. Hadapi musuh kalian bukan saja dengan otot tapi juga dengan Otak. Seperti Anna dan Archie. Mereka menghadapi pembuli dengan otak. Archie mereka penghinaan dari mereka dan memberikan pada guru, dia bertanya pada guru, apakah tindakan ini adalah hal yang pantas dilakukan oleh seorang siswa. Apakah mereka berhak mendapatkan nilai moral? Kalian tahu apakan yang terjadi selanjutnya. Tidak ada yang berani membuli lagi. Karena mereka takut mendapatkan nilai jelek, jika sampai ketahuan lagi." tutur Diana pada kedua putranya.


"Ya mom... beda lah, itu kan masih kelas anak kecil. Kalau sudaj dewasa yang dihajar saja biar kapok." sahut Aaron kesal.


"Kan belum dicoba sama Aaron."


"Nanti dibilang Aaron penakut lagi, mengadu pada guru bisanya."


Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengarkan jawaban anak remaja nya ini.

__ADS_1


Memang lebuh susah menghadapi anak remaja.


Diana menoleh, meminta bantuan pada Andrew. Tetapi pria itu malah asyik memakan Anggur.


__ADS_2