Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Diana dan tuan besar


__ADS_3

Flash back


Dua bulan yang lalu.


"Nyonya Diana, ada seseorang ingin menemui anda." butler Jhon sudah berdiri dihadapan Diana yang saat itu sedang fokus menata tanaman hiasnya, sementara Lia sedang belajar bahasa.


"Siapa yang mencariku?" tanya Diana dengan heran. Karena dia tidak memiliki banyak teman di lingkungan ini. Diana tidak pernah muncul di acara sosialita dan teman baiknya Grisella akan langsung masuk ketika datang. Sedangkan Maya dan lainnya saat ini mereka sudah kembali ke Indonesia untuk berlibur.


"Dia itu... eh.." suara butler Jhon terbata-bata seakan sulit untuk mengatakannya.


"Ada apa butler? Kenapa kau gugup, apakah orang itu berbahaya bagi ku?" tanya Diana dengan heran. Lia yang mendengarkan percakapan mereka meletakan bukunya dan mulai memperhatikan raut wajah butler Jhon.


"Tidak. Aku rasa tidak apa-apa jika nyonya menemui dia. Dia adalah ayah tuan Andrew." ujar butler Jhon setelah mengambil nafas panjang.


Mata Diana dan Lia terbelalak. Mereka berdua sangat terkejut. Berulangkali Diana bertanya pada Andrew tentang ayahnya, tapi Andrew seakan enggan menceritakannya. Andrew selalu menghindar. Bahkan Conrad tidak punya banyak ingatan dengan ayah Andrew.


Diana ingin sekali bertemu dengan ayah Andrew, satu-satunya keluarga inti yang dimiliki Andrew. Mengenal bahkan jika mungkin bersahabat dengannya. Tapi semua hanya angan, karena semua orang terdekat Andrew pun bungkam.


"Aku akan menemuinya." ujar Diana dengan berseri-seri. Dia segera melapaskan sarung tangan dan celemeknya. Berdiri dikaca sebentar untuk merapikan rambut.


"Kakak, kau yakin? Tidakkah kau seharusnya bertemu dengan dia bersama brother?" tanya Lia yang mengkhawatirkan terjadi sesuatu yang buruk mengingat hubungan antara Andrew dan ayahnya tidak baik.


Diana tersenyum dan menyentuh tangan Lia yang memegang pundaknya.


"Aku akan baik-baik saja. Dia adalah kakek dari anak ini." ucap Diana sambil mengelus perutnya.


"Ayo butler, tunjukan dimana aku bisa menemuinya."


Butler Jhon memimpin jalan mengantarkan Diana menemui tuan besar. Tuan besar bukanlah orang yang kaku. Dia tidak sedingin Andrew dalam menangani pekerjaan maupun berhadapan dengan lawannya. Tapi, tuan besar termasuk orang yang keras dengan segala keputusan yang menerutnya benar.


Diana sudah berdiri dihadapan tuan besar. Pria itu masih sangat gagah diusianya yang sudah mencapai kepala enam. Rambut abu-abu nya tampak licin tersisir rapi dengan kumis yang membuatnya terlihat berwibawa. Diana bisa langsung melihat darimana sumber ketampanan dan kegagahan Andrew.


Diana terseyum ramah dan mengangguk hormat seraya memberi salam serta memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Selamat siang tuan, senang bertemu dengan anda. Saya Diana."


Tuan besar tidak menjawab. Dia memperhatikan sosok wanita dihadapannya. Wanita mungil berdarah Asia yang tampak cantik dan lembut dengan mata yang bersinar teduh tersenyum tulus kepadanya. Sinar mata dan senyuman wanita ini mengingatkannya pada mendiang istrinya, ibu Andrew.


Tuan besar sudah hidup cukup lama untuk bisa membedakan ketulusan dan kemunafikan. Dan dia tahu wanita dihadapannya memang tulus adanya. Tapi dirinya tidak akan membiarkan semuanya menjadi mudah begitu saja.


"Apa yang kau inginkan dari anakku." Perkataan pertama yang keluar dari bibir tuan besar adalah pertanyaan yang menuduh.


Diana memandang tuan besar dengan tenang dan masih tersenyum.


"Saya mencintai Andrew dengan tulus. Yang saya inginkan adalah sebuah keluarga." sebuah keluarga yang tidak pernah dia miliki.


"Kau tahu Andrew sudah menikah. Dengan seorang wanita dari keluarga terpandang." ucapnya lagi dengan nada mencemooh.


"Dan kau adalah duri dari pernikahannya."


Kalau seandainya tuan besar mengatakan hal ini dua bulan yang lalu, tentu saja Diana akan menangis tersedu-sedu menyalahkan diri dan marah kepada Andrew. Tetapi saat dia mengetahui kalau pernikahan itu hanyalah bersifat politik dan bagaimana cara Rachel meperlakukan Andrew juga Conrad, dia berusaha untuk bertahan, meskipun hinaan tak akan pernah lepas dari predikatnya sebagai wanita ke tiga.


"Mungkin saya adalah wanita biasa yang tidak memiliki apapun. Tapi saya memiliki hati yang tulus untuk anak anda."


Butler Jhon yang masih berdiri di sana hanya diam dan menghela nafas, sedangkan Lia yang mendengarkan dari balik tembok menggeram mendengar pria tua itu menghina kakaknya.


Diana masih saja tersenyum sambil berusaha merangkai kata-kata yang tepat, dia menenagkan hatinya dan membuang segala emosi. Hati dan pikirannya harus tenang.


"Akan sangat munafik bila saya mengatakan bahwa semua itu tidak berkilau dan menarik tuan. Setiap wanita menginginkan stabilitas dan kenyamanan dalam hidupnya. Uang dan harta yang anak anda miliki memang mencukupi semua yang saya perlukan secara berlebihan." Diana menghela mafas sambil tersenyum.


Dia membiarkan tuan besar di hadapannya menatapnya tajam dengan segala praduga.


"Tetapi, semua itu tidak berarti tanpa cinta dari Andrew. Semua harta bisa lenyap kapanpun tuan, tapi cinta, kasih sayang dan kesetiaan yang tulus akan melekat selamanya. Dan dengan itulah saya akan membangun keluarga ini."


Kalimat itu sangat sederhana dan mampu menembus perasaan tuan besar. Kenyataannya memang benar harta dan kekayaan bahkan kolega bisa sedemikian mudah lenyap, hal itu pernah terjadi pada dirinya. Bagaimana dia harus membuang harga dirinya kemanapun untuk memohon bantuan, tetapi semua menghindar. Istri yang selalu mendukungnya sudah tiada hanya tinggal Andrew yang dia miliki.


Dan karena itulah dia mengorbankan kebebasan dan kebahagiaan Andrew untuk mengembalikan kejayaan dan nama besar perusahaan.Tuan besar dulu tidak mampu hidup dalam kegagalan.

__ADS_1


Perkataan Diana benar sekali, tapi egonya masih cukup besar untuk tidak semudah itu takluk dihadapan Diana.


"Baiklah, kalau Andrew masih tetap mempertahankanmu. Aku akan menarik semua dukungan di perusahaan. Aku ingin lihat seberapa besar kau masih bisa mencintai dan mendukungnya tanpa apapun."


Diana menatap ayah Andrew dihadapannya. Dia tidak mengerti akan saham dan apapun yang dibicarakan pria dihadapannya. Karena selama ini dirinya tidak pernah mencari tahu seberapa banyak kekayaan Andrew dan besarnya saham yang dimiliki. Yang dia tahu, Andrew sudah berjuang keras dan mengorbankan segalanya untuk kelangsungan perusahaan ini. Tentu menyakitkan ketika semua yang dia oerjuangkan tiba-tiba meninggalkanya begitu saja.


"Tuan, tolong jangan sakiti anak anda. Hentikan pertikaian ini. Kalian ayah dan anak harus saling mengasihi dan mendukung. Dia sudah menderita cukup banyak tuan." ucap Diana dengan memohon. Seberapa besarnya cinta pun, dia tidak ingin Andrew kehilangan segala sesuatu yang sudah dia perjuangkan apalagi Andrew sudah berkorban cukup banyak untuk perusahaan ini.


"Kau yang membuatnya memburuk." ucapan tuan besar menyalahkan Diana.


"Tidak! anda yang membuatnya buruk." ucapan DIana sangat berani dan lantang. Bahkan dirinya sendiri lebih terkejut daripada tuan besar dihadapannya. Dia tidak menyangka memiliki keberanian sebesar ini dihadapan pria yang seharusnya amat sangat dia hormati.


"Kau punya nyali juga dihadapanku." ujar tuan besar dengan terkekeh.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud menyalahkan anda. Tetapi jikalau saya boleh memohon, berbaikanlah dengan Andrew, jangan paksa dia berbuat hal yang tidak diinginkannya. Jangan hancurkan perjuangannya selama ini." Wanita itu terdiam sesaat dan dengan mata berkaca-kaca juga suara yang bergetar dia melanjutkan kalimatnya.


"Tidakkah anda ingin hidup damai bersama dengan anak dan cucu anda?"


Kalimat sederhana terakhir mampu menghipnotis mata tuan besar terpaku pada tangan Diana yang mengusap perutnya. Perut itu sudah sedikit membuncit, janin sudah berkembang dan terbentuk.


Tuan besar menarik nafas panjang. Dia tidak lagi melanjutkan percakapan. Kalimat itu benar adanya, menggambarkan kerinduan hatinya. Bertahun-tahun dirinya dihinggapi rasa bersalah dengan kehidupan yang dilalui Andrew. Dia sesungguhnya menginginkan Andrew bahagia dan memiliki penerus.


Tampaknya saat ini Andrew sudah menemukan wanita tangguh yang memang mencintainya.


"Perjuanganmu masih panjang. Rachel dan keluarganya tidak akan mempermudah ini."


ucap tuan besar dengan nada yang lebih tenang.


"Saya mengerti tuan. Karena itu saya mohon, berikan dukungan untuk Andrew, agar beban dipundaknya bisa sedikit berkurang."


Tuan besar hanya diam dan tersenyum sangat tipis. Dia berdiri dan melangkah pergi tanpa mengucapkan apapun. Butler Jhon mencegah Diana untuk mengikuti langkah tuan besar.


Di luar rumah, di dalam mobil BMW hitam yang hendak membawanya pergi, tuan besar menurunkan jendela mobil dan memberi isyarat pada butler Jhon untuk mendekat.

__ADS_1


"Katakan pada anak keras kepala itu, cari cara untuk menceraikan Rachel secepatnya dan nikahi wanita itu. Aku tidak ingin menantu dan cucuku dihina orang luar. Dan kau, jaga menantu dan calon cucuku baik-baik." segera setelah mengatakan itu tuan besar menutup jendela mobil dan dari balik kaca mobil dia bisa melihat butler Jhon tersenyum.


__ADS_2