
Caroline memasuki taman dengan percaya diri. Dia menghampiri kelompok wanita dan memberikan sebotol anggur putih pada Diana. Diana menerimanya dan meletakan ke dalam cooler (pendingin). Anggur putih memang lebih cocok disajikan dalam keadaan dingin.
"Apa kabar mu, Carol?" Tanya Yoora.
"Kalian lihat, aku dalam keadaan sehat dan tetap cantik." Tawa Caroline percaya diri.
"Bagaimana bisnismu, lancar?" Tanya Grisella.
"Begitulah... meskipun aku tidak memperoleh ikan paus setidaknya ada ikan lumba-lumba yang mendekatiku," ujar Caroline terkekeh.
"Jadi, kau akan bekerja sama dengan lumba-lumba?" Tanya Elina tidak mengerti.
"Hemmm... begitulah, aku akan bekerja sama dengan penduduk lokal." Caroline menyandarkan punggungnya pada kursi kayu.
"Lalu kenapa kau kembali ke Miami, tidakkah perkebunanmu perlu lebih diawasi?" Tanya Grisella tajam.
Grisella tidak mengundang Caroline datang. Tapi tampaknya wanita itu mencari tahu dari Yoora dan Elina, keberadaan mereka saat ini. Dan Caroline langsung datang meski baru saja tiba di bandara.
"Ah... itu gampang. Aku masih ingin menangkap paus. Di lautan tidak cuma ada satu paus kan?" Seringai Caroline penuh arti.
"Kau memang sesuatu Caroline," ujar Elina terkekeh.
Elina yang masih sangat muda, dia menyukai Caroline. Karena Elina mengenal Mike berkat bantuan Caroline. Di situlah dia menganggap Caroline adalah teman yang baik. Elina sangat mencintai Mike dan berharap menghabiskan masa lajangnya dengan Mike.
"Diana, dimana anak-anakmu?" tanya Caroline tiba-tiba.
"Mereka di dalam."
"Aku ingin melihat mereka, bolehkannn? Aku tidak pernah bertemu mereka." Ujar Caroline dengan senyum lebar nya.
"Tentu saja, mari aku antar kau menemui Conrad dan Aaron."
Diana dan Caroline berjalan beriringan menuju ke dalam mansion. Ketika melewati para pria, Caroline melemparkan senyum seraya menatap mata satu persatu pria disana.
Andrew yang melihat kedatangan Caroline menjadi terperanjat. Dia tidak menyangka jika Diana mengenal Caroline. Apalagi ketika wanita itu berbicara akrab dengan istri dan teman-temannya.
Andrew tidak suka dengan kehadiran Caroline. Dia takut jika wanita itu meracuni pikiran istrinya. Dan dia tidak ingin ada masalah di rumah tangganya, hanya karena wanita di masa lalu nya. Wanita yang sudah tidak berarti lagi bagi dirinya.
Andrew menyenggol lengan Briant dan menatapnya penuh tanda tanya. Briant hanya mengangkat bahu, karena dia pun tidak mengerti bagaimana Caroline bisa dekat dengan para wanita.
Ketika Diana dan Caroline masuk kedalam rumah, Briant menghampiri Grisella dan menanyakan perihal Caroline.
"Grisella bilang, jika mereka mengenal Caroline di suatu pesta dan semenjak itu, Caroline selalu mengajak para wanita untuk bertemu." Lapor Briant pada Andrew.
Andrew terdiam. Dia tidak nyaman dengan kehadiran Caroline. Apalagi dia baru saja mengunjungi perkenunan Caroline. Andrew khawatir jika Diana akan salah paham.
Begitu juga dengan Mike. Pria itu berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya. Dia takut jika Caroline akan dengan sengaja membocorkan kesepakatan mereka berdua pada Andrew.
Mike khawatir, karena dia sudah memutuskan persengkokolan dengan Caroline secara sepihak. Mike ingin memilih persahabatan, sementara wanita itu tetap memaksanya memilih ambisi.
Mike resah.
*
"Ini Anak-anakmu... ah lucu sekali. Hai Aaron... Hai... Conrad." sapa Caroline.
"Hallo tante... " sapa kedua anak itu bersamaan.
"Apa yang sedang kalian kerjakan?" Tanya Caroline sambil menghampiri mereka.
"Conrad lagi menggambar tante."
"Coba tante lihat." Caroline menghampiri Conrad.
"Bagus sekali. Sini, yang ini kurang begini, yang ini seperti ini." Caroline membantu Conrad membenahi lukisannya.
__ADS_1
Conrad senang.
"Wah... tante pintar menggambar ya."
"Tentu saja, tante jago melukis. Bisa melukis di canvas juga."
"Conrad baru belajar di canvas, mommy sudah mencarikan guru les untuk Conrad." Ujar Conrad bersemangat.
"Kenapa, tidak belajar dengan tante saja."
"Tante mau mengajari Conrad ?"
"Tentu saja,"
"Jangan ah... nanti merepotkan. Tante juga pasti lagi sibuk kan?" Tolak Conrad.
"Tante tidak sibuk kok. Tante senang bisa mengajari bocah setampan dan berbakat seperti mu."
"Alon mau diajali juga. Iyat ini. Bagus gak tante?" Aaron menunjukan hasil mewarnai gambar nya.
"Ah iya bagus." Lirik Caroline sambil tersenyum.
Dia kembali mencurahkan perhatian pada Conrad.
"Mommy, iyat, bagus kan?" Aaron yang tidak mendapatkan perhatian dari Caroline menghampiri Diana.
"Bagus sekali sayang," ujar Diana sambil melihat hasil mewarnai Aaron yang acak. Tampak sekali perbedaan bakat kedua anaknya.
Diana menggendong Aaron dan memberikan hasil mewarnai kepada pengasuh.
"Ini disimpan dulu yaa. Aaron mau minum susu?"
Balita itu menganggukan kepala sambil menggosok matanya yang memerah.
"Ayo kita minum susu. Mau disini apa di kamar Aaron?"
"Carol, aku hendak menidurkan Aaron. Kau tetap disini?"
"Iya, aku masih ingin menggambar dengan Conrad." Jawab Caroline.
"Baiklah. Nanny, tolong antar nona Caroline jika dia hendak kembali ke taman."
"Baik nyonya." Jawab pengasuh Conrad.
Sepeninggal Diana.
"Nanny, bisa tolong ambilkan secangkir anggur merah, mungkin sedikit camilan malam buat Conrad."
"Tidak usah tante, Conrad tidak lapar. Sudah gosok gigi juga."
"Ah, ayolahhh... kau bisa gosok gigi lagi nanti. Bawakan kue-kue coklat dan segelas susu untuknya," Pinta Caroline pada pengasuh.
Pengasuh itu kemudian pergi.
"Conrad mirip siapa ya? Kayanya gak mirip mommy Diana deh. Hmmm lebih mirip tante yaaa, hahhaha."
"Mirip daddy, tante."
"Ah iya mirip daddy. Tapi.... hmm... mommy kan orang Asia. Conrad tidak ada sedikit pun model keturunan Asia. Kalau Aaron kelihatan banget campuran."
"Masa sih tante?" tanya Aaron tidak percaya.
"Apa kau bukan anak kandung mommy Diana?"
"Conrad anak mommy!"
__ADS_1
"Benarkah? Mommy Diana tampaknya lebih sayang Aaron daripada Conrad."
"Itu hanya karena Aaron masih kecil."
"Ah... kalau tante, pasti adil."
"Tante punya anak?" tanya Conrad.
"Iya. Anak kandung dan anak tiri. Semuanya tante sayangi. Semuanya menyayangi dan hormat pada tante." Ujar Caroline dengan percaya diri.
"Mommy Diana juga sayang sama Conrad dan Aaron." Sahut Conrad dengan yakin.
"Ah... benarkah?" Ujar Caroline dengan nada tidak percaya.
Pengasuh masuk membawa pesanan Caroline menghentikan percakapan diantara mereka. Kemudian Caroline meminta pengasuh itu untuk keluar.
"Ayo dimakan." Caroline menyodorkan kue coklat.
"Enggak ah tante. Conrad malas gosok gigi lagi."
"Gak usah gosok gigi juga ga apa-apa."
"Kata mommy bisa bolong gigi nya, kalau tidak gosok gigi sebelum tidur."
"Ah sekali-sekali tidak apa-apa. Bolong juga ada dokter gigi kan." Ujar Carolinr santai, sambil menyendokan kue itu ke mulut Conrad. Dengan terpaksa Conrad memakannya.
"Enak bukan? Anak laki-laki makannya harus banyak. Sssttt.. mau coba wine ini? Enak."
"Gak mau tante. Conrad masih kecil."
"Ah.. ga apa-apa. Sebentar lagi kamu sudah remaja. Anak laki-laki harus bisa belajar mengendalikan alkohol."
Caroline memaksa Conrad meminum wine. Conrad menyesap nya sedikit dan terbatuk-batuk.
"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?" Mike yang melihatnya segera menari tangan Caroline keluar dari kamar Conrad, dan membawa wanita itu ke sudut ruangan yang sepi.
"Apa mau mu datang kemari?" Tanya Moke lanngsung.
"Apa mauku? Lalu apa mau mu?" Balas Caroline.
"Briant mengundangku."
"Hahhahah si bodoh Briant. So Grisella juga mengundangku." Jawab Caroline tidak perduli.
"Jauhi keluarga mereka! Jangan ganggu Andrew. Jika tidak..." Mike mulai mengancam.
"Jika tidak apa? Kau akan mengatakan pada Diana jika aku menginginkan Andrew, heh? Aku juga bisa mengatakan pada Andrew jika kau mengincar istri kesayangannya." Balas Caroline dengan nada tinggi.
"Tidak. Aku sudah mempunyai kekasih, Andrew tidak akan percaya itu." Sahut Mike cepat.
"Kekasih apa? Wanita yang tidak kau cintai itu hanyalah alatmu untuk mendekati Diana, bukan?" Tuding Caroline.
"Kau!!!" Mike menudingkan telunjuknya pada Caroline.
"Aku apa? Jangan ganggu urusanku, maka aku akan menjaga rahasiamu." Tegas Caroline sebelum meninggalkan Mike yang terpaku seraya mengepalkan kedua tangannya.
Caroline berjalan kembali ke arah taman belakang, melanjutkan percakapan dan tertawa riang bersama para wanita lain disana.
Sementara Mike yang berusaha menenangkan diri setelah perselisihannya dengan Caroline, memutuskan kembali bergabung dengan Andrew, tapi langkah kakinya tercekat ketika melihat sosok wanita dibalik pintu yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Ayooo Vote. Vote.
Tiga orang yang Vote terbanyak akan mendapatkan bonus langsung yaaaa.
__ADS_1
Semangat dan Stay Healthy.