
"Mommy, Alon mau ulang tahun." Ucap Aaron dengan wajah polos.
"Ya Aaron?" Diana mengalihkan pandangannya dari membaca novel ke arah putra bungsunya.
"Alon mau ulang tahun kaya itu." Aaron menunjuk pada layar televisi.
"Iya seminggu lagi kan Aaron ulang tahun ke empat." Diana menaikan ke empat jari dan menutup jari jempol, menunjukan angka empat.
"Belalti udah besal ya mommy?" Mata bulat nya bersinar ceria.
"Iya dong. Jadi Aaron harus semakin pintar dan rajin belajar ya. Coba tunjukan sama mommy ini warna apa?" Tanya Diana menunjukan warna kursi anak.
"Green." Jawab Aaron dengan lantang.
"Pinterrrr!!! Kalau ini warna apa?" Menunjuk pada kursi lainnya.
"Pink kaya Flances, hahhahahaha." Aaron menunjuk pada kulit pipi Francesca yang selalu bersemu merah muda.
"Hhahahhaha benar. "
"Kalau ini warna apa?" Diana menujukan kaos tue dye yang dia pakai.
Aaron sejenak bingung, karena kaos tersebut terdiri dari berbagai macam semburan warna-warni. Dia memandang kaos tersebut sambil meletakan jari telunjuk ke kening.
"Walna nya banyak mommy. Walna walni dahh." Ujar nya putus asa.
"Pinterrr!!! Hahhaha," Diana bertepuk tangan menyemangati Aaron.
"Wah, Alon pintel ya mommy. Belalti boleh pesta ulang tahun kan ya?" Tanya nya penuh harap.
"Boleh, kita undang beberapa anak kenalan mommy ya. Tahun depan kalau Aaron sudah umur lima kita baru rayakan di sekolah ya."
"Siap mommy." Sahutnya ceria.
"Nanti ulang tahun Aalon mau balon yang buanyakkkkkk ya mommy. Balon yang bisa telbang."
"Telus Alon mau kue tart yang banyak candy nya, ada cokelat dan cookies nya." Air liur Aaron menetes membayangkan kue tart tersebut.
"Okey. Tapi gak usah ngeces lagi." Diana tertawa kecil sambil mengusap air liur Aaron yang menetes.
"Hahhahahha Alon ngiler kaya bibi Matilda." Francesca tertawa terbahak-bahak.
"Flances ya, nakal suka menggoda Alon, ndak baik itu." Ujar Aaron dengan serius sambil menujuk pada Francesca.
"Weeekkk," Francesca menjulurkan lidahnya.
"Bibi tidur gak ngiler kok." Matilda membela diri.
"Iyaaa ngilerrr." Ucap Aaron dan Francesca menyahuti bebarengan.
"Gak kok. Kata siapa bibi ngiler." Ucap Matilda sambil mengusap mulut nya.
"Nah itu kan ngilel." Tunjuk Aaronn dengan yakin.
Matilda melongo, dia terpaksa menggosok tangannya ke baju meskipun tangan itu tidak basah.
__ADS_1
"Hahhaha yang sabar yaaa," ujar Diana tertawa geli melihat tingkah Matilda.
"Iya nyonya, hiburan biar awet muda."
Jawab Matilda sambil senyum-senyum sendiri.
"Bibi Matilda kapan ulang tahun?" tanya Aaron dengan serius.
"Memangnya kenapa, tuan muda Aaron mau kasih hadiah ya sama bibi Matilda?" Tanya Matilda dengan penuh harap.
"Ndak cuma pingin tahu kalau bibi kapan tambah tuanya." Celoteh Aaron asal.
"Ah tuan muda. Besuk lusa bibi ulang tahun." Kata Matilda akhirnya.
"Umul belapa?"
"Lima puluh."
"Tua nyaaaa." Ujar Conrad dengan meletakan kedua telapak tangan di pipi nya.
"Loh, Grandpa umur tujuh puluh loh." Diana merasa kasihan melihat Matilda di skak matt oleh Aaron.
"Oh My God. Glandpa telnyata manusia pulba." Aaron tampak sangat terkejut mendengar usia kakeknya.
"Iiihhh, gemesnya mommy. Kalau ketemu Grandpa tidak boleh dipanggil manusia purba ya, nanti Grandpa nangis loh." Diana memperingatkan Aaron.
"Ooo grandpa cengeng ya mommy, kaya Aaron." Celetuk Francesca.
"Alon ndak cengeeennggggg." Teriak Aaron histeris.
Diana mengangkat Aaron dan menggendongnya.
"Frances bubuk siang ya sama bibi Matilda. Aaron sama mommy saja, biar gak ganggu Frances."
"Iya mommy."
Diana membawa putra bungsunya sambil menimang dengan sayang, dia membawa anak itu untuk tidur siang dengan nya.
Didalam pelukan Diana di atas kasur, Aaron bertanya.
"Mommy, dulu Aalon lahil mommy senang ya?" Tanya bocah itu dengan polos.
"Tentu saja mommy senang sayang." Diana mencium pipi Aaron dengan gemas.
"Aaron besalnya sebelapa dulu?" Ujar nya penuh ingin tahu.
Ingatan Diana menerawang jauh. Ketika Aaron lahir dia sedang dalam keadaan kritis hingga jatuh koma. Dia baru bisa melihat Aaron ketika bayi itu sudah berusia dua bulan. Mengingat hal itu dada Diana terasa sesak. Keinginan untuk menyusui pun kandas.
Diana membelai Aarin dengan penuh kasih sayang. Dia selalu merasa berhutang pada Aaron ketika mengenang hal itu. Diana mendekap Aaron dengan penuh kasih sayang.
"Aaron panjangnya tiga puluh lima centi meter. Aaron lahir prematur tapi sehatt. Aaron hanya satu minggu di inkubator." Diana menjelaskan.
"Ooo besal ya mommy? Besal mana sama kakak Conlad?"
"Sama saja."
__ADS_1
Aaron tidak pernah tahu jika Conrad tidak dilahirkan oleh Diana.
"Telus kapan Alon punya adik?"
Eh, ternyata anak kecil ini masih mengingat hal yang pernah dia minta.
"Iya, nanti mommy dan daddy berusaha dulu ya." Jawab Diana sambil membelai Aaron.
"Kog lama ya mommy, apa daddy telalu lemah untuk mencalikan adik buat Aalon?" Celotehnya dengan wajah serius.
Diana menahan tawa. Terlalu lemah apa nya. Terlalu kuat iya. Bahkan mungkin terlalu sering. Heh... bilang terlalu sering, apa itu yang menyebabkan dirinya susah hamil. Karena jika diingat, kwalitas ****** kurang bagus jika terlalu sering berhubungan.
"Sudah Aaron sabar saja ya. Nanti jika waktunya tiba pasti Aaron punya adik."
Diana lama-lama bingung bagaimana menjawab pertanyaan Aaron yang semakin teliti dan menjebak. Satu jawaban bisa berakhir dengan sepuluh pertanyaan.
Masih jelas dia mengingat bagaimana Aaron bertanya, "kenapa bulan kok ngikutin Alon belajalan?"
"Bukan bulan yang mengikuti kita Aaron, tapi bumi yang berputar." Begitu Diana menjelaskan ketika itu.
"Alon ndak melasa kok kalau bumi berputar. Ini mommy lihat, tanahnya ndak putal-putal kan." jawabnya dengan aktif.
"Bumi itu besar sekaliiii sayang, jadi ketika dia berputar kita tidak merasakannya." Andrew saat itu membantu Diana menjawab pertanyaan Aaron.
"Ah pucing ah. Olang Alon liat sendili bulan ngikuti kita. Malah dibilang bumi putal-putal. Olang tua buat pusing saja." gerutu nya kesal.
Saat itu Diana dan Andrew hanya tertawa mendengar omelan Aaron. Dan saat ini, Aaron sudah tumbuh semakin besar, usianya sudaj hampir empat tahun. Berarti sudah delapan tahun kebersamaan Diana dengan Andrew.
"Mommy, cali adik itu dimana sih? Alon mau bantu daddy cali adik." tanya Aaron lagi dengan tiba-tiba. Tampaknya dia masih sangat penasaran dengan proses mendapatkan adik
"Sudah tidur. Cari adik itu urusan orang dewasa. Aaron tidak usah khawatir. Ayo tidur siang dulu. "
Diana mengelak menjelaskan lebih lanjut. Aoa coba yang harus di katakan pada bocah berusia empat tahun ini.
"Tapi mommy,"
"Ga ada tapi-tapian. Tidur siang dulu. Nanti sore mau berenang gak?"
"Mau."
"Makanya tidur siang dulu."
"Ya, mommy."
Hening sesaat.
"Momny adiknya mau dua atau tiga ya."
"Tidur Aaron."
"Ya mommy. Oh ya mommy..."
"Aaron! Tidur!"
"...."
__ADS_1
...💗💗💗💗💗💗...