
"Terlalu banyak Ella." Suara Diana bergetar.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku sesungguhnya merasa kecil dihadapan mereka. Mereka tampak begitu hebat, cantik, anggun dan berkelas. Sedangkan aku ... banyak dari mereka yang mengira aku hanyalah seorang pengasuh anak."
Grisella memandang Diana yang sedang mencurahkan isi hatinya. Menjelang siang hari ketika Andrew dan conrad sudah tidak ada di kediaman, diana pergi ke tetangga sebelahnya dan disana dia mencurahkan perasaan hatinya pada sahabat yang baru dia kenal.
"Apa yang kau inginkan saat ini?" tanya Grisella sambil mengamati raut wajah Diana.
"Aku tidak tahu." ucapnya lirih.
"Coba dengarkan kata hatimu." Saran Grisella.
Sesaat suasana sepi. Pandangan mata Diana menerawang. Dia sedang memeluk kedua lututnya diatas sofa ruang tamu Grisella. Grisella memandang Diana dengan rasa iba. Gadis ini akhirnya mengerti setelah mengalami banyak hal yang menyatakan perbedaan diantara diri nya dan Andrew. Dan sebelum dia memutuskan sesuatu dirinya harus memilik tekat yang kuat. Karena jembatan yang akan dia lalui tidaklah mudah, terlalu banyak goncangan.
"Apakah kau meragukan perasaannya padamu?" Tanya Grisella. Pertanyaan itu membuat Diana makin termenung sesaat seakan berkelana dalam ingatan dan menggedor ruang hatinya.
"Aku percaya pada perasaanya. Sikapnya tidak pernah berubah. Tapi, terkadang banyak pertanyaan dalam benakku. Banyak hal yang tidak aku mengerti."
Diana menghela nafas panjang untuk sesaat.
"Dia sering mengatakan , Percayalah padaku dan Genggam tanganku disaat kau bimbang." Lirih suara Diana mengingat perkataan Andrew padanya ketika seringkali dia menanyakan hal - hal yang baginya penuh misteri.
"Apakah misteri itu layak kau ungkapkan?" tanya Grisella.
"Maksudmu?"
"Setiap orang pasti memiliki rahasia. Rahasia yang ingin dia simpan sendiri. Terkadang pasanganpun saling memiliki rahasia. Tidak ada seorangpun yang seratus persen terbuka. Sekarang tergantung pada dirimu. Misteri yang hendak kau ungkapkan apapun itu, apakah kau sanggup mengahdapinya?" Panjang lebar Grisella memberi pendapat. Pendapat yang tentunya berdasarkan pengalamannya sendiri.
"Kau harus memilih mengetahui semua rahasia dan membuat semakin terbeban atau bersikap tidak perduli. Terkadang rasa ingin tahu bisa menjadi bumerang." Sambung Grisella mempertegas pendapatnya.
"Lalu apakah aku harus pura - pura tidak perduli apabila dia selingkuh?"
"Kau berpikir dia selingkuh?"
"Terkadang pikiran itu terlintas, saat beberapa kali aku melihat nama Rachel menelphone di handphonenya. Dia selalu bersikap mencurigakan begitu wanita tersebut menghubungi."
"Kau sudah pernah menanyakan?"
Diana menganggukan kepalanya lemah, "Dia selalu mengaitkan dengan urusan pekerjaan."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah kau siap kehilangan dirinya apabila dia benar - benar berselingkuh?"
"Aku tidak sanggup kehilangan dirinya. Aku sudah terlanjur menyerahkan semua padanya." Air mata Diana menetes deras. Tangisan yang selama ini dia tahan akhirnya pecah. Dadanya naik turun mengikuti irama isakan tangisan. Grisella memandang kasihan pada sahabat barunya yang masih saja tampak begitu cantik meskipun sedang terisak.
"Aku tahu aku salah Ella, aku hidup bersama pria yang bahkan belum pernah sekalipun melamarku. Awalnya aku merasa takut karena dia adalah bossku. Dia selalu mengancam akan mempermasalahkan status pekerjaanku apabila aku menjauh. Aku takut karena aku hidup di negara asing, mengais uang untuk keluargaku. Tapi sekarang tinggal bersamanya membuatku semakin takut kehilangan dirinya." Sambil terisak Diana mencurahkan isi hati dan melayangkan ingatannya pada saat awal - awal kebersamaannya dengan Andrew.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu." Grisella menepuk bahu Diana dan menyodorkan tisyu. Minumlah ini." Segelas teh hangat sudah tersedia di depan Diana. Dia menyeruput teh hangat itu perlahan.
"Ella, aku rasa aku harus membenahi diriku." ujar Diana setelah berhasil menenangkan diri.
"Apa yang hendak kau benahi?"
"Aku yang sekarang tidaklah pantas berdampingan dengan dia. Aku sudah lelah mereka menganggapku sebagai pengasuh bukan sebagai wanitanya."
"Ela bantu aku menemukan tempat kursus untuk membuatku lebih baik." Sambung Diana dengan penuh semangat.
"Kalimat itu yang aku tunggu sedari dulu. Aku akan membantu dirimu mengambil kursus untuk merubah penampilanmu. Kemudian kursus bahasa. Itu amat sangat kau butuhkan untuk mendampingi dirinya." Grisella tersenyum lebar mendengar keputusan Diana.
"Kenapa kau baru katakan sekarang kalau aku memerlukan semua itu?" Tanya Diana tak mengerti.
"Karena kau harus menyadari pentingnya hal itu."
Sahut Grisella dengan tampang serius kepada Diana.
"Kau tahu Grisella, aku bersyukur bertemu dengan dirimu."
"Tentu saja. Aku memang yang terbaik." Grisella menepuk dadanya.
Mereka tertawa kecil.
"Bagaimana kabar teman - teman sekerja mu dulu ?" Grisella mencoba mengalihkan perhatian dan pikiran Diana.
"Mereka masih sering mengirim wa padaku."
"Maya pernah mengunjungiku."
"Maya? apakah dia cantik?"
"Terlalu cantik." Diana tergelak.
"Kenapa kau tertawa?"
"Nama aslinya adalah Mario Winaya."
"Pfftt..." Grisella menyemburkan teh yang baru diseruputnya dan tertawa bersamaan."
"Dia adalah sahabatku yang amat sangat baik. Dia seperti dirimu yang selalu mendukung bahkan tak segan menegurku."
"Apakah Andrew mengetahui persahabatan kalian?" Diana menganggukan kepala.
"Awalnya dia marah dan cemburu bahkan dia tidak percaya kalau Maya adalah homo. Dia bersikeras kalau Maya hanya pura-pura menjadi homo karena dia ingin mendekati diriku." Cerita Diana.
"Ha.ha.ha.ha.ha. Apa yang membuat dia begitu?" Tanya Grisella penasaran.
__ADS_1
"Pernah suatu saat Maya mengunjungiku. Kami asyik bergosip dan tertawa sambil saling memukul ringan dibahu. Dan saat itu Andrew datang. Dengan tiba- tiba dia sudah memasang muka menyeramkan di hadapan kami." Diana mengingat kejadian itu
Flash back on.
Saat itu Andrew tiba- tiba saja datang di siang hari dan menemukan dirinya sedang bercanda dengan Maya. Andrew berdiri di depannya dengan mengepalkan tangan dan dengan amarah yang tertahan dia berkata, "Apa yang kalian lakukan disini!"
Diana dan Maya saat itu serentak terkejut bersama - sama. Maya tampak sedikit takut dan tersenyum kecil, sedangkan Diana langsung bangun menghampiri Andrew sambil bergelayut manja di leher Andrew, "Kau datang awal sayang?"
"Kenapa, apakah aku mengganggu kalian?!" Sinis suara Andrew.
"Tentu saja tidak. Ini temanku Maya." Diana menoleh pada Maya.
"Siapa dia kekasihmu?" tanya Andrew tanpa menghiraukan Diana yang bergelanyut pada tubuhnya.
"Hai... hai.. bicara apa kamu. Kekasihku hanya kau seorang. Dia temanku. Pegawaimu. Dia bahkan pastinya lebih menyukai dirimu daripada diriku." Jelas Diana saat itu.
"Oh ya?" Andrew merasa lega tapi masih tidak percaya.
Flash Back Off.
Diana tertawa mengingat kejadian saat itu.
"Lalu bagaimana dia yakin?" tanya Grisella disela - sela tawanya.
"Ow dia tidak langsung percaya padaku. Dia menghubungi beberapa atasan Maya untuk mengecek kebenarannya."
"Lalu akhirnya dia percaya?" Diana menggelengkan kepalanya
"Benar. Tapi masih dengan segala batasan. Dia selalu bilang; Awas dia bisa berubah menjadi pria tulen di dekatmu."
"Ha.ha.ha. Padahal aku yang takut apabila Andrew dekat dengan Maya."
"Kenapa?"
"Maya selalu bilang, kalau kau bosan aku mau menggantikan dirimu. Dasar sahabat sableng."
Cerita Diana membuay Grisella terbahak dan merasa lega karena akhirnya Diana bisa tersenyum ceria setelah sedari tadi menangis dan menyalahkan diri.
"Kau punya fotonya? Aku penasaran." tanya Grisella.
"Sebentar." Diana mengotak atik handphonenya. Mencari foto Maya terbagus untuk diperlihaykan pada Grisella.
"Ini."
"Gila cute bangettt." Grisella melotot dan mulutnya ternganga melihat foto Maya.
__ADS_1
Ini penampakan Maya yaaaa... Yang penasaran dengan siapa Maya bisa dibaca di beberapa episode awal.
Cute kannnn.... Yang cewek gak boleh ngiler yaaaaa.