Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Baby Aaron


__ADS_3

Pagi sudah datang, Andrew yang sepanjang subuh tertidur di sofa terbangun ketika suara di mesin pendeteksi jantung berdengung dengan keras. Andrew mundur dengan panik saat itu dia melihat para perawat dan dokter jaga masuk dengan bergegas dan melakukan perawatan insentife.


Andrew tegang dan hanya dapat berdoa ditengah harapan cemasnya. Dia melihat bagaimana para dokter berusaha semaksimal mungkin untuk kembali menyetabilkan denyut jantung Diana.


Perlu waktu beberapa saat lamanya sebelum wajah tegang dokter dan perawat mulai tampak lega. Keadaannya mulai stabil kembali ketika dokter selesai memberika suntikan melalui infus. Meskipun begitu, Andrew belum bisa bernafas lega.


"Bagaimana keadaan isteri saya?" tanya Andrew ketika dokter selesai memberikan bantuan.


"Saat ini dia sudah stabil lagi tuan. Tapi masa kritisnya belum usai." ucap dokter tersebut.


"Kami akan tetap berusaha memberikan perhatian khusus pada isteri anda." lanjut dokter tersebut sebelum meninggalkan Andrew sendiri.


Briant yang baru saja masuk pun bisa melihat keadaan buruk bukan saja menimpa Diana tapi Andrew juga.


"Kau harus kuat Andrew, agar Diana lebih kuat. Biarkan dia merasakan kehadiranmu." ucap Briant memberi semangat padanya.


Andrew hanya bisa mengangguk lemah.


Setelah beberapa saat dia menengadahkan kepalanya dan kemudian mengatakan, "Briant kau harus kembali ke kantor dan rumah. Tinggalkan aku disini, tolong jaga Conrad dan ayahku."


"Jangan khawatir ada banyak orang yang menjaga mereka. Aku sudah meminta Grisella tinggal di Mansion selama Lia disini." kata Briant.


"Baiklah, kau atur saja." desah Andrew lemah.


"Aku akan meminta dokter untuk memeriksamu dan memberikan suntikan vitamin agar kau menjadi lebih segar. Kau tampak buruk sekali, bro." ucap Briant sebelum pergi meninggalkan Andrew tanpa menunggu jawaban.


**************


Sementara itu Lia terbangun dari tidurnya dengan terengah-engah sambil berteriak keras. Dia baru saja bermimpi mencari kakaknya dan berteriak memanggil Diana di tengah kabut putih. Dalam mimpi dia yakin Diana ada di dekatnya tapi pandangan Lia tidak dapat menemukan sosok kakaknya tersebut. Lia terus berteriak ketakutan meminta Diana untuk kembali.


Jason yang juga baru terbangun karena dikejutkan oleh teriakan Lia segera menghampiri gadis itu dan memberikan segelas air putih juga menepuk punggung Lia lembut.


"Jason, aku takut." ucap Lia dengan terisak. Jason merendahkan badannya dan merengkuh Lia kedalam pelukannya. Keputusan untuk tidur sekamar memang tepat.


Dia membiarkan Lia menangis selama beberapa saat lamanya.


"Tenangkan dirimu, itu cuma mimpi. Kau harus kuat, seorang bayi kecil menantimu, unty." canda Jason agar Lia berkurang kesedihannya.


Lia mengangguk dan mulai membenahi dirinya.

__ADS_1


"Terimakasih sudah di bersamaku Jason. Sekarang aku akan mandi dulu ya." Lia beranjak menuju ke kamar mandi.


Setelah Lia dan Jason selesai mandi dan menikmati breakfast, mereka menuju ke rumah sakit. Jason membawa Lia menuju ruangan bayi. Dia bersikeras seseorang harus melihat keadaan bayi tersebut karena Andrew pasti bersama Diana.


Perawat membiarkan mereka melihat bayi Diana dari balik jendela sambil menunggu ijin agar Lia bisa masuk kedalam ruangan steril bayi prematur tersebut.


Setelah mendapatkan gilirannya, Lia masuk ke ruang inkubator dengan menggunakan pakaian khusus lengkap. Air matanya menetes dengan deras. Dia terisak melihat bayi mungil tersebut. Sosok kecil tersebut tertidur dengan tenang meskipun ditangannya terdapat selang infus dan mulutnya ditutupi oleh selang bantuan oksigen.


Hati Lia pilu. Bayi ini seharusnya lahir dua bulan lagi dengan berat yang pastinya lebih dari tiga setengah kilo. Tapi, kenyataannya bayi kecil Diana sekarang sudah dipaksakan menghirup udara disaat paru-parunya belum sempurna.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Lia pada suster jaga yang berdiri disebelahnya.


"Bayi ini sehat nona, meskipun prematur tapi dia memiliki berat badan yang cukup dan organ tubuh lainnya sudah terbentuk sempurna. Ibu nya pasti sudah merawat dia saat dalam kandungan dengan luar biasa." ucapan suster tersebut membuat Lia lega.


Hal itu tidak diragukan, selain runtin mengontrol kandungannya, Diana kerap mengkonsumsi makanan dan minuman dengan protein tinggi juga Vitamin yang berbahan dasar alami. Dia sering bernyanyi dan mengajak bayi dalam kandungannya berbicara bahkan mendengarkan musik bersama.


"Hallo baby Aaron, ini unty Lia. Do you hear me, listen to my voice." ucap Lia dengan lirih. Bayi kecil tersebut langsung merespon suara Lia.


Dia mulai menggerakan kaki dan tangannya perlahan.


Lia menangis sambil tersenyum melihat gerakan yang dibuat keponakannya.


Keakraban antara keduanya telah terjalin semenjak kandungan Diana masih kecil. Sebelumnya hampir tiap hari Lia menyapa kandungan Diana.


"Baby Aaron tunggu unty kembali ya. Unty mau melihat keadaan mommy. Ingat baby harus cepet sehat ya, supaya bisa bermain dengan unty, mommy, daddy, kakak Conrad." ucap Lia dengan terisak kepada keponakannya yang sedang terbaring dalam inkubator.


Lia keluar dengan air mata yang masih berurai, dia berjalan tanpa memperdulikan Jason. Pria itu masih sabar menguntit Lia dari belakang menuju ke ruangan Diana.


Disana Lia melihat Andrew menggenggam tangan Diana, seakan hendak memberi tahu padanya kalau Andrew selalu berada disisinya dan menantikan dia sadar.


Andrew tidak menyadari kehadiran Lia dan Jason yang berdiri terpaku di dekat pintu. Matanya masih terpaku pada Diana. Dia mendekatkan diri dan berbisik di telinga Diana.


"Sayang cepatlah sadar, aku disini menantimu. Anak kita ada disini juga merindukan kehangatanmu. Kembalilah pada kami. Banyak yang merindukanmu. Kembalilah..."


Desahan berat yang di keluarkan Andrew tampak sekali beban berat yang saat ini berkecamuk dalam pikiran dan perasaannya.


"Brother." panggil Lia perlahan setelah dilihatnya Andrew mulai tenang.


Andrew menoleh kearah Lia dengan wajah yang kuyu.

__ADS_1


"Baby Aaron dia sangat tampan. Tidak kan kau ingin menemui nya?" tanya Lia perlahan.


Andrew terdiam, jujur saja dia juga ingin melihat dan memeluk buah hatinya, tapi melihat keadaan Diana yang belum juga sadar membuat Andrew memilih disisi Diana.


"Pergilah. Aku akan disini menemani kakakku." kata Lia seakan memahami keraguan Andrew.


"Baiklah." Andrew mengangguk menyetujuinya.


Andrew keluar dari ruangan tempat diana berbaring dan berjalan lemah menuju ke ruangan bayinya.


Setelah mendapatkan ijin dan mengenakan pakaian khusus, Andrew melihat bayi munggilnya yang sedang berada di inkubator. Air mata Andrew berlinangan melihat keadaan anaknya.


Dadanya terasa sesak dan sakit. Kedua orang yang amat sangat berarti bagi dirinya, cinta dalam hidupnya harus mengalami penderitaan seperti ini.


"Ajaklah dia berbicara tuan, suara anda akan memberinya semangat." saran suster di sebelah Andrew.


Andrew mengangguk. Di celah lubang inkubator, Andrew berbicara kepada anaknya.


"Aaron, ini daddy kau mendengarku sayang?" suara Andrew yang sering menemaninya apalagi setiap malam ketika Andrew berduaan dengan Diana, langsung mendapatkan resopon. Baby Aaron menggerakan kepalanya dan tersenyum.


Andrew terpana. Detik itu pula dia sudah jatuh cinta pada anaknya.


"Aaron, daddy disini. Aaron harus kuat dan cepat sehat ya. I want to hug you." suara Bariton Andrew yang lembut membuat bayi mungil itu menggerakan kepalanya mencari asal suara.


Air mata Andrew menetes. Ingin sekali dirinya memeluk dan mencium anaknya, kehadiran bayi Aaron membuat ikatan antara Andrew dan Diana semakin kuat dikala guncangan melanda. Mereka berdua adalah semangat dalam hidupnya yang hampa.


"Aaron..." suara Andrew tercekat saat melihat


bayi nya mulai menggerakan tangan menggapai lemah. Andrew tersenyum bahagia melihat bagaimana baby Aaron merespon suaranya.


"Tuan, waktu besuk sudah selesai. Bayi anda perlu beristirahat." ucap suster di sebelah Andrew.


"Aaron, daddy pergi melihat mommy dulu ya." pamit Andrew kepada bayinya yang mana langsung membuat bayi tersebut menangis keras hingga wajah putihnya menjadi memerah gelap.


Andrew tersenyum sedih sekaligus bahagia. Bahagia karena kuatnya tangisan baby Aaron yang membuktikan kekuatan dan kesehatannya. Namun sedih karena dia tidak dapat melihat Diana memeluk Aaron saat ini.


"Aaron tidur dulu ya, daddy pasti kembali lagi." pamit Andrew sebelum meninggalkan bayinya dengan perasaan pilu. Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, sekali lagi Andrew melihat bayi nya yang masih menangis dari balik jendela kaca.


Dengan berat hati Andrew meninggalkan ruangan tersebut diiringi tangisan kuat anaknya.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju ruangan Diana, langkah Andrew terhenti dengan sosok yang tidak ingin dia temui. Duri yang harus dicabut sampai keakar-akarnya.


__ADS_2