
Sore hari nya sebuah video call dari Andrew masuk.
"Hai sayang, kau sudah tiba?"
"Iya, aku baru saja sampai di hotel." Sahut Andrew sambil merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Apakah perjalananmu melelahkan?" tanya Diana pada suaminya.
"Tentu saja melelahkan tanpa dirimu," sahut Andrew dengan manja.
Penerbangan menuju Tuscany, Andrew mengenakan pesawat komersil, meskipun menggunakan tiket first class, tentu saja berbeda dengan kenyamanan menggunakan pesawat pribadi.
Andrew memilih menggunakan pesawat komersil karena, area di Tuscany yang sedikit terpencil menyebabkan tidak adanya hangar untuk pesawat pribadi.
"Ih.. manja. Apakah kau sudah mandi?" tanya Diana sambil berjalan menuju ke ruang bermain.
"Apa kau ingin melihatku mandi?"
"Ihh... nyebelin."
"Kok nyebelin?"
"Ya jelas...., kau menawarkan sesuatu yang hanya membuatku makin merindukanmu," ujar Diana malu-malu.
"Hahaha... hahaha... baru setengah hari kau sudah merindukanku. Biasanya kan aku juga ke kantor."
"Oh iya benar, jadi aku tidak perlu merindukanmu kan?" ujar Diana dengan senyuman jahil.
"Jangan berani-berani tidak merindukanku yaa!' Sahut Andrew dengan geram.
Diana tergelak melihat wajah suaminya yang cemberut. Seandainya berada dihadapannya langsung, pasti akan dia gigit lembut bibir yang mengkerucut itu.
"Memangnya kau bisa apa dengan berada jauh dari ku?" Sahut Diana meledek.
Andrew menatap Diana dan menyeringai licik di ujung sana. Terlintas hal nakal dalam pikirannya. Andrew meletakan smartphone nya di meja, kemudian dia bergerak mundur sambil mengayunkan jari telunjuknya, memberi tanda pada Diana untuk memperhatikan dirinya
"Aku..." tangan Andrew melepaskan dasi nya.
"Bisa..." tangan Andrew bergerak melepaskan kancing-kancing kemejanya.
"Berbuat...." kali ini tangan Andrew sudah berada pada sabuk dan melepaskan benda hitam itu perlahan dengan eksotis.
"Sepertiiii...." dia melepaskan kancing celana panjangnya dengan sekali hentak.
Andrew berbicara perlahan sambil melepaskan baju nya satu persatu secara perlahan. Wajah Diana yang melihatnya menjadi memerah. Meskipun berkali-kali dia sudah melihat tubuh Andrew secara nyata, tapi melihat tubuh itu melalui smartphone tentu saja berbeda.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Diana.
Diana berhenti di ruang keluarga dimana ternyata anak-anaknya sedang menonton acara televisi Hi-5. Dia masih memperhatikan layar smartphone nya memandang wajah Andrew yang menyeringai nakal.
"Aku bisa berbuat seperti ini," ujar Andrew angkuh seraya menunjukan tubuh polos dan sexy nya di layar smartphone. Tanpa sehelai benangpun.
"Kau..." wajah Diana memerah menahan malu dan memalingkan wajahnya.
"Jangan palingkan wajahmu dari ku!"
"Daddy... itu suara daddyyy ?" teriak Conrad tiba-tiba seraya berjalan dengan cepat dan hendak melihat pada smartphone yang dipegang Diana.
"Eits... sebentar, mommy ada urusan dulu sama daddy," ujar Diana dengan terburu-buru merapatkan smartphonenya ke dada.
"Buruan mommy, Conrad mau bicara sama daddy," kata Conrad dengan tidak sabar.
"Daddy... phone... Alon au phone..." kali ini baby Aaron sudah berdiri di depan Diana dan menepuk-nepuk kaki ibunya.
"Iya sebentar. Daddyyy ini Conrad dan Aaron mau bicara," ujar Diana dengan masih meletakan layar smartphone nya di dada.
Diana berusaha mengulur waktu, memberikan kesempatan pada Andrew, untuk mengenakan pakaiannya agar bisa berbicara dengan ke dua anak nya.
"Berikan pada anak-anak," ujar Andrew melalui sambungan handphone.
"Ini," Diana memberikan smartphone nya pada Conrad yang langsung berbicara dengan Andrew.
__ADS_1
"Daddyyyy... sudah sampai ya? Capek enggak?" tanya Conrad sambil duduk di sofa dan memangku Aaron.
"Daddy 'apèk?" Tiru Aaron.
"Hallo Conrad dan Aaron. Iya Daddy capek sedikit. Kalian sedang melakukan apa?" tanya Andrew. Kali ini dia sudah mengenakan boxernya dan mengarahkan smartphone nya untuk setegah badan saja.
"Nonton Hi-5 dad."
"Aaron juga?"
"Hi-5." Aaron menjulurkan tangan kanannya yang membentang ke arah layar handphone.
"Hi-5." Andrew menyambut toss si kecil dari layar ponsel juga.
"Daddy, bagus ga Tuscany?" Tanya Conrad dengan penasaran.
"Kelihatananya bagus. Daddy belum sempat berkeliling. Dari bandara langsung ke hotel," sahut Andrew.
"Kapan pulang dad?"
"Sekitar tiga hari lagi," jawab Andrew sambil mengacungkan tiga jari telunjuknya.
"Berapa ini Aaron?" tanya Andrew pada anak bungsu nya.
"Atu.... uwa... tigaaaa..." sahut Aaron sambil menghitung jari Andrew.
"Pintarrr... "
Kali ini Aaron mempergatikan jari jemarinya dan berusaha mengacungkan angka tiga. Dia sedikit kesulitan untuk menaikan ke tiga jari nya. Membuat semua menahan senyum.
"Sini, mommy bantu sayang."
Dia berjongkok di hadapan Aaron dan mulai membantu anaknya mengacungkan jarinya sebanyak tiga.
Setelah berhasil bocah kecil itu menunjukan pada Andrew dengan bangga.
"Daddy... tiga...tiga..."
"Oh iya dad, tadi pagi kita semua tadi bermain di Miamy Disneyland. Wahhh bagus sekali dad. Aaron sampai tidak mau turun dari carouesel." Cerita Conrad pada ayahnya.
"Alon mau main kuda lagi... mau..mau.." ujar Aaron sambil memeragakan tangannya memegang kendali kuda.
"Trus Conrad main di arena menembak, dapat hadiah banyakkkk sekali. Sudau Conrad bagikan. Boneka besar buat Mommy, Aron dapat apa tadi?" tanya Xonrad sambil menoleh pada adiknya.
"Dapat supelmen." Aaron berlari mengambil action figur nya dan mulai bergaya, Wush... wushhh... membawa mainannya terbang.
"Kalau daddy dapat apa?"
"Ada dehhh. Punya daddy yang paling bagus kedua setelah punya mommy." ujar Conrad seraya mengerdipkan matanya.
"Duhh... daddy jadi penasaran."
"Nanti yaaa, kalau daddy pulang, Conrad kasih dahhh."
"Oke janji ya."
"Janji. Ini dah daddy bicara sama mommy. Conrad mau lanjut lihay Hi-5 sama Aaron. I Love you dad."
"I love you, son."
Smartphone kembali ke tangan Diana.
"Masuk ke kamarmu," ujar Andrew langsung begitu handphone sudah berpindah ke tangan Diana.
"Mau ngapain?" tanya Diana tersenyum geli.
"Masuk sekarang juga!" perintah Andrew dengan geram.
"Kalau enggak?" Diana mengangkat alisnya sambil mengerling jenaka.
"Kau mau aku berteriak disini agar anak-anakmu mendengar?"
__ADS_1
"Eh... iya-iya, ini lagi jalan," kata Diana dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
Dengan langkah berdebar, Diana menuju ke kamar. Dia sedikit membayangkan apa yang akan di perbuat suaminya. Tentu saja memamerkan tubuh epicnya dengan arrogant pada nya.
"Sudah di kamar." ujar Diana sambil menutup pintu kamarnya.
"Berbaringlah di kasur dan lihatlah pemandangan indah ini."
"Ah aku kira..." ujar Diana kecewa.
"Otak mesum. Apa yang kau pikir akan aku tunjukan padamu?" tanya Andrew sambil tergelak.
"Aku pikir, ah bagus sekali ya pemandangannya di senja hari." ujar Diana mengalihkan pembicaraan.
"Indah bukan? lain waktu aku akan membawa kalian kemari."
Andrew menunjukan pemandangan perkebunan anggur yang di terpa sinar matahari ke emasan. Di bagian lain merupakan pantai indah dengan deburan ombak perlahan, sangat romantis.
"Katakan apa yang kau pikirkan sebelum melihat pemandangan ini?"
"Tidak ada."
"Katakan!"
"Aku hanya memikirkanmu..." sahut Diana malu.
"Hahahha aku senang kau jujur. Bagaimana kalau sekarang..." belum sempat Andrew menyelesaikan kalimatnya terdengar bel kemudian tak lama ketukan di pintu.
Hotel yang di tempati Andrew merupakan Penthouse dengan tiga kamar. Raja assistent yang dia bawa menempati salah satu kamar. Setelah bel berbunyi, Raja membukakan pintu dan menyambut seseorang.
Andrew membuka pintu kamarnya dan mendapati sosok wanita cantik berdiri dan tersenyum manis, memandang dada Andrew yang telanjang.
"Kau belum siap?" tanya wanita itu.
"Tunggu disana dengan Raja." Andrew menutup pintu di depan wanita itu langsung.
"Sial." dengus Caroline kesal.
Sementara di kamar Andrew melanjutkan pembicaraan dengan Diana yang terputus.
"Siapa dia?" tanya Diana dengan nada tidak suka.
"Salah satu rekanan."
"Bagaimana bisa dia berani mengetuk pintu kamar mu langsung?"
"Hal itu aku akan menegur Raja yang membiarkan dia masuk begitu saja."
"Sudah jangan cemberut. Cemburu yaaa." lanjut Andrew menggoda Diana.
"Enggak! Kesal saja."
"Bilang saja cemburu."
"iiihhh.."
"Sayang, aku mandi dulu ya. Kita lanjutkan nanti malam ya. Pakai lingerie oke?" ujar Andrew menggoda.
"Kenapa lingerie?"
"Tiga hari ini kita akan melakukan pemanasan melalui chatt, setelah aku kembali, kau harus menjemputku tanpa anak-anak dan kita akan menginap di condominium. Hanya kita berdua."
"Ah..."
"Mau kan?"
Diana mengangguk.
"Okey sampai nanti malam ya, I Love You."
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟