Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Pengakuan


__ADS_3

"Elina, tunggu!"


Mike panik melihat Elina berlari dengan bersimbah air mata. Dia tidak menyangka jika Elina akan mengetahui rahasianya dengan cara seperti ini.


Mike mengejar Elina yang langsung berlari meninggalkan rumah, tanpa menghiraukan tas yang dia letakan di taman. Di halaman depan, Mike menarik tangan Elina dan memaksa gadis itu masuk kedalam mobil.


Elina hendak menolak, tapi dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Mike membawa Elina pergi dari rumah Andrew. Mengendarai mobil secara perlahan. Hanya ada isak tangisan Elina di dalam mobil.


Setelah cukup jauh, Mike menghentikan mobilnya di tepi pantai. Mike tahu, dia harus menjelaskan semuanya pada Elina, jika tidak mau kehilangan gadis itu dan rahasia ini tidak sampai pada Andrew.


"Maafkan aku." Ujar Mike penuh penyesalan.


Elina menoleh kepada Mike hanya sedetik. kemudian dia membuang mukanya dan keluar dari mobil dan berlari kearah tepi pantai. mike terkejut. Dia mengejar Elina dan menarik gadis itu dalam pelukan. Elina menangis keras dalam pelukan Mike.


"Kenapa? Kenapa kau harus menipuku? Kenapa kau menjadikan ku alasan untuk mendekati Diana?" Teriak Elina dengan putus asa sambil memukul-mukul dada bidang Mike.


"Maafkan aku." Sekali lagi Mike mengucapkan kata maaf sambil tetap memeluk Elina dengan erat. Mike menciumi rambut Elina. Sejuta rasa bersalah bertabuh di dalam dadanya


Elina mengusap air matanya dengan tisyu dan membuang ingus yang menyumbat.


"Apa yang dimiliki Diana dan tidak aku miliki


hingga kau menginginkan istri temanmu sendiri?" Tanya Elina dalam isakan tangisnya.


Mike menghela nafas panjang. Tidak pernah dia sangka dalam hidupnya, harus ketakutan dengan tangisan seorang wanita dan merasa bersalah. Dulu bagi Mike, wanita hanya tempat penyaluran saja. Tidak ada yang perlu dihargai dari seorang wanita


"Maafkan aku Elina, itu adalah awal yang salah. Aku..khilaf.Tapi... aku sungguh-sungguh mencintai mu. Tolong maafkan aku."


"Bagiamana aku memaafkan orang yang memanfaatkan aku?" keluh Elina dalam pelukan Mike.


"Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Meskipun awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu, tapi sikap tulusmu membuatku bimbang." ujar Mike dengan tulus.


"Katakan kenapa harus Diana?"


Mike menghela nafas. Dia tidak mungkin mengatakan pada Elina, karena kekayaan wanita itu. Karena itu hanya akan menjatuhkan martabat dirinya. Selain itu, akan lebih berbahaya bagi Diana jika musuh-musuh bisnis Andrew mengetahuinya.


"Mungkin karena aku iri. Iri dengan keberuntungan Andrew yang menemukan wanita baik. Tapi tidak lagi semenjak aku mengenalmu. Putri Walikota yang ternyata rendah hati." ucap Mike tulus.

__ADS_1


Elina menengadahkan wajahnya menatap Mike. Mencari ketulusan di balik sinar mata Mike. Mike menundukan wajah, mendekatkan bibirnya dengan bibir Elina. Merasa tidak ada penolakan Mike ******* bibir Elina.


Sepanjang malam, Mike mengucapkan kata maaf kepada Elina di tepi pantai. Elina awalnya enggan percaya, tapi rasa cinta dan harapannya untuk menikah dengan Mike meluluhkan amarahnya. Mereka saling memaafkan dan bercumbu diiringi deburan ombak dan sinar bulan purnama.


*


Sementara di Mansion, Diana yang baru saja selesai menidurkan Aaron dan keluar dari kamar bayi itu, sempat melihat drama pengejaran antara Mike dan Elina. Diana turun dan hendak mendekati Elina, tetapi saat itu Andrew memanggilnya.


"Diana, ada yang harus kita bicarakan sekarang juga." Ujar Andrew serius.


Diana mengurungkan niatannya mengejar Elina. Dan dia mengikuti langkah Andrew masuk ke kamar utama.


"Ada apa? Kenapa kau begitu tegang?" Tanya Diana dengan heran.


"Sejak kapan kau mengenal Caroline?" Tanya Andrew langsung.


"Tidak lama. Mungkin baru sekitar satu atau dua bulan?" Jawab Diana. Wanita itu memandang Andrew yang tegang dengan heran.


"Ada apa? Kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Sejauh mana kau mengenal dirinya?"


"Hanya sebatas dia memiliki perkebunan anggur di Tuscany dan sedang mencari investor di Miami." Tiba-tiba Diana tercekat. Sesuatu melintas dalam pikirannya.


"Jangan katakan kalau dia..." pertanyaanya mengambang, karena Diana bingung harus memulai dari mana. Terlintas dipikirannya, jika keberangkatan Andrew di Miami berhubungan dengan Caroline.


"Iya. Aku lah orang yang dimaksud Caroline." Ujar Andrew.


"Ah... lalu masalahnya apa? Kenapa kau begitu tegang? Apakah terjadi perselisihan diantara kalian?" tanya Diana heran.


Andrew memandang istrinya, wanita ini bahkan tidak memiliki pikiran buruk. Hati dan pikirannya selalu murni. Dengan kerelaan hati, Andrew akhirnya menceritakan masa lalu nya dengan Caroline pada Diana.


Diana dulu berprinsip, jika dia tidak akan bertanya dan menggali masa lalu Andrew. Dia ingin membangun rumah tangga tanpa bayangan masa lalu. Tapi tampaknya masa lalu tidak selamanya bisa lenyak begitu saja.


Mendengar cerita Andrew, Diana termenung. Dia tidak mempermasalahkan masa lalu Andrew. Seandainya wanita itu kembali dan menawarkan pertemanan, dia pun tak akan menolaknya. Tetapi hal yang membuat dirinya marah adalah saat dibagian Caroline hendak memberikan minuman perangsang. Sungguh menjijikan.


Kini Diana tahu jika Caroline adalah musuh dalam selimut yang dia miliki. Dan menghadapi rubah seperti itu, dia harus tegas. Meski begitu menjauh dan menghindari Caroline secara perlahan lebih tepat.

__ADS_1


Diana yang awalnya hendak turun dan melabrak Caroline, mengurungkan niatannya. Tidak ada bukti nyata jika wanita itu meletakan cairan ke minuman Andrew. Rubah betina itu akan dengan liciknya memputar balikan keadaan dan menuduh Andrew sengaja menghadiahkan dirinya untuk Theodor. Diana sekalo lagi harus melindungi martabat suaminya.


"Jangan khawatir, aku mengerti bagaimana harus mengatasi Caroline. Tapi, ingat suamiku, jaga kepercayaanku padamu. Jangan sampai kau jatuh dalam perangkap siapapun." Diana menegaskan.


"Tentu saja tidak akan."


Andrew memeluk istrinya dengan lembut. Pria tampan itu mengangkat dagu Diana dan menyatukan bibir mereka. Mereka bercumbu untuk sesaat. Kemudian Diana melepaskan diri.


"Kita masih memiliki tamu di bawah." ujar Diana.


"Ah, sudah biarkan. Briant dan Grisella tahu aoa yang harus mereka lakukan." sahut Andrew tak sabar untuk menyatukan bibit mereka kembali.


"Tunggu, apa kau sudah mengatakan pada Briant, supaya membuat Yoora dan Carolone pulang?" tanya Diana lagi.


"Sudah aku katakan, Briant tahu apa yang harus dilakukan."


Dengan tidak sabar, Andrew mengangkat Diana keatas ranjang.


"Andrew aku lelahh. Aku perlu istirahat." tolak Diana pada nafsu suaminya yang bergejolak lagi.


"Sekali saja. Kau kan berjanji akan memberiku anak lagi."


"Ah... Andrew.... " Diana tidak kuasa lagi berontak ketika suaminya sudah melepaskan kain segitiga miliknya.


Mereka menyelesaikan masalah dengan kejujuran dan saling menerima. Terlebih penting lagi adalah bumbu kemesraan yang tak pernah luntur dalam asmara rumah tangga mereka. Saling mencintai tidak cukup tanpa keterbukaan dan ketulusan.


...**********...


Hmm... Apa jadinya ya, jika berumah tangga tetapi tidak pernah bercinta?


Adakah disini yang dalam rumah tangganya bercinta hanya seminggu sekali, atau sebulan sekali atau, dua tiga bulan sekali atau bahkan tidak pernah bercinta selama beberapa tahun?


Sabar.. sabar...


Mungkin harus belajar halu dengan Andreew dulu ya.


VOTE & STAY HEALTHY

__ADS_1


__ADS_2