Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Putus Hubungan


__ADS_3

"Kau yakin, tidak apa-apa?" tanya Conrad.


Jasmine menggeleng.


"Baiklah, aku akan mengantarkan Ruby ke rumahnya dulu."


Jasmine mengangguk.


"Ruby. Maaf ya, aku tidak sengaja." ujar Jasmine tulus.


"Iya tidak apa-apa. " ujar Ruby sambil mengalungkan tangannya ke leher Conrad dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.


Jasmine memandang kepergian mereka dengan dada yang terasa ngilu. Bahkan rasa ngilu di dadanya membuat dia melupakan rasa perih di kaki nya. Jasmine menarik nafas dan melepaskannya. Dia harus berpikir positif. Meski bagaimanapun, keadaan Ruby, juga akibat perbuatannya. Dan sudah pantas jika Conrad memprioritaskan Ruby.


"Nona, Ini untuk mengobati luka anda." Seorang penjaga toko wanita menyodorkan cairan antiseptik, kapas dan salep antibiotik.


"Terimakasih."


"Bagaimanam anda bisa jatuh, nona?" tanya penjaga toko tersebut dengan heran.


"Aku tersandung."


Penjaga toko itu memperhatikan sekitaran tempat Jasmine terjatuh tadi. Tapi, tidak ada apapun disana.


Dan dia semakin heran, bagaikana bisa Jasmine tersandung dengan parah. Hingga dahiya membiru dan kedua lututnya berdarah.


"Tapi... tersandung apa ya... Saya tidak melihat apapun yang bisa membuat nona jatuh." ujar nya lagin dengan heran.


Jasmine melihat kesekelililingnya. Dia yakin sekali jika tadi kakinya membentur sesuatu. Tapi Jasmine tidak yakin apa itu. Toh pada kenyataanya dia jatuh dan memar.


"Ini semua, berantakan. Maafkan aku ya. Aku akan mengganti biayanya." ujar Jasmine perlahan melihat lantai disana kotor akibat mie instant yang dia tumpahkan.


"Jangam khawatir nona, nanti akan saya bersihkan sendiri. Anda tunggu saja teman pria nona disini."


Pelayan wanita itu kemudian meninggalakan Jasmine dan mulai mengambil peralatan membersihkan. Jasmine dengan tenang memanti Conrad di tempat yang sama. Hingga hampir empat puluh menit berlalu. Jasmine akhirnya memutuskan untuk pulang dengan taxi. Dia yakin, conrad tidak akan mencari dirinya. Jasmine memanggil senuah taxy yang lewat dan meninggalkan uang dua ouluh dolar untuk penjaga mini market tersebut.


***


Sementara itu, Conrad meninggalkan Jasmine dengan menggendong Ruby di punggungnya.


"Untung saja, kau mengenalan sepatu kets. Jadi tidak terlalu panas tadi. " ujar Conrad yang baru menyadari jika Ruby mengenalam alas kaki tertutup.


"Iya. Untung saja."


"Kaki mu sakit, karena sup mie tadi?" tanya Conrad dengan heran.


"Bu... bukan. Aku... tadi.. karena terkejut, kaki ku terkilir." jawan Ruby dengam gugup.


"Ah.. seharusnya kita membeli obat dulu di apotik." ujar Conrad menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku punya salep dirumah. Besuk. pasti akan baik-baik saja." sahut Ruby dengan senyuman menghiasi wajahnya yang bahagia.


Di atas punggung Conrad, Ruby merasa nyaman. Punggung yang kokoh dan bidang itu terasa hangat. Ruby merasa di lindungi. Dia rela tersiram air panas selalu jika bisa mendapatkan perhatian Conrad. Ruby bahagia karena Conrad lebih memilih menolong dirinya daripada Jasmine. Dia merasa jika keadaan Jasmine tidak lah separah keadaan dirinya.


Mereka sudah berada di lorong menuju flat Ruby. Ruby sedikit kecewa, karena Conrad tidak mengambil jalan memutar untuk mengantarnya pulang. Di depan sana tampak Joseph sedang menunggu kedatangan Ruby. Melihat Ruby berada dalam gendongan pria lain, Joseph naik pitam. Dengan geram dia menghadang mereka.


"Ruby! Kenapa pria ini menggendongmu?!"


Conrad berhenti tepat di depan Joseph yang memandang nya dengan mata menyala. Joseph sangat emosi. Di menatap Conrad seakan hendak menguliti tubuh Conrad. Conrad menatapnya balik dengan heran, akan arti tatapan Joseph yang tampak mengintimidasi.


"Apa yang kau lakukan disini Joseph?" tanya Ruby dengan kasar.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan disini???? Apa yang kau lakukan dengan pria itu!" balas Joseph kesal.


"Turunkan Ruby!" bentak Joseoh ke Conrad. Joseph mencengkeram tangan Conrad dengan kasar.


"Sebentar bung, tidak perlu kasar. Kaki Ruby sedang sakit." Conrad terpaksa berjongkok agar Ruby bisa turun, karena Joseph menahan lengannya, hendak menarik Ruby. Dan Conrad khawatir tindakan kasar Joseph akan melukai Ruby.


"Apa-apaan sih kamu, Robert!" Ruby turun dari punggung Conrad. Kenyamanannya terganggu dengam kehadiran Joseph.


"Siapa dia Ruby?" tanya Conrad. Melihat sikap kasar Joseph, Conrad berpikir antara dia kekasih Ruby atau adik nya.


"Aku pacar Ruby!" sahut Joseph cepat sebelum Ruby sempat menjawab.


"Pacar, benarkah?" Conrad yang terkejut menatap Ruby heran.


"Mantan!" Sahut Ruby cepat.


"Aku bukan mantanmu! Kita masih sepasang kekasih!" sahut Joseph tidak terima.


"Kita sudah putus Joseph. Tinggalkan aku. Jangaan ganggu aku." Ruby menepis tangan Joseph yang hendah menyentuh tangannya.


"Tapi ... semenjak kapan?" Gigi Joseph bergemelatuk dengan keputusan Ruby yang di katakan tiba-tiba.


"Joseph. Sudah lah, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah lelah dengan sikap posesif mu." Ruby menepiskan tangan Joseph.


"Tapi itu karena aku mencintaimu, Ruby!" Joseph hendak menggapai Ruby, namun Conrad berada diantara mereka.


"Dia bilang jangan ganggu. Sebaiknya anda pergi." ujar Conrad baik-baik. Dia merasa tidak tega melihat Ruby yang di ganggu oleh mantannya.


"Bukan urusanmu! Dia adalah kekasihku. Ini urusan kami!" teriak Joseph.


"Ruby bilang bukan! Jika hubungan kalian sudah putus. Lebih baik anda menyingkir tuan. Tinggalkan dia." Conrad masih melindungi Ruby dengan tubuh besar nya.


"Jaga mulutmu, bro! Dia teman baikku." jawab Conrad tegas, dia tidak rela jika pria dihadapannya menghina Ruby, gadis yang dia anggap luar biasa.


"Teman baik? Hahhaha... Benarkah Ruby? Atau dia target mu selanjutnya?"


"Tutup mulutmu, Joseph! Jangan ganggu aku lagi! Aku tekankan sekali lagi, kalau kita sudah putus."


ujar Ruby dengan emosi.


Joseoh terperangah dengan keputusan sepihak Ruby. Baru saja kemarin, dia berkunjung kerumah Ruby dengan membawa sekotak buah-buahan dan satu kilo daging sapi, tanpa ada tanda-tanda kalau Ruby akan memutuskannya. Hal ini terlalu tiba-tiba bagi Joseph. Dan Joseph masih mencintai Ruby.


"Baiklah, kali ini kau aku lepaskan. Kita lihat, apakah kau akan kembali padaku, ketika teman baru mu sudah bosan denganmu, Ruby." Joseph pergi dengan kesal. Dia masih sempat memandang Conrad dengan sinis sebelum pergi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Conrad ketika Joseph pergi.


"Tidak apa-apa. Terimakasih Conrad. Joseph dia..."


"Tidak perlu kau jelaskan, Ruby. Aku mengerti. Kau masuklah kedalam. Apakah aku perlu mengantarmu sampai ke atas?"


"Tidak perlu, Conrad. Aku masih bisa berjalan. Terimakasih." Ruby dengan tertatih masuk kedalam gedung flat nya dan menaikki tangga.


Conrad masih menunggu sampai dia tidak bisa melihat punggung Ruby lagi. Kemudian Conrad segera kembali ke flat nya. Dalam hati, Conrad masih merasa tidak suka dengam sikap Joseph pada Ruby. Jika pria itu memaksa kembali kepada Ruby, itu tentunya karena Ruby adalah yang terbaik, bukan? Hal itu lah yang ada di dalam pikiran Conrad, pemuda yang baru beranjak dewasa.


Conrad merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil memikirkan Ruby. Dia yakin, tangan dan kaki Ruby pasti memerah, besuk. Conrad berencana hendak membelikan Ruby salep di apotik, ketika dia teringat dengan Jasmine. Conrad baru menyadari jika dia meninggalkan Jasmine begitu saja di depan mini market.


Conrad segera turun dari lantai atas dan menuju ke mini market tempat mereka berkumpul tadi. Sesampainya disana, Conrad tidak menemukan Jasmine. Meja yang mereka duduki sudah berganti orang. Conrad lalu masuk ke dalam mini market untuk melihat, apakah Jasmine masuk ke dalam. Dia tidak menemukan nya juga.


Conrad kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jasmine.


"Ya Conrad?" sahut Jasmine.

__ADS_1


"Kau dimana?" tanya Conrad langsung.


"Ah... aku sudah ada di dalam taxi." jawab Jasmine lirih.


"Kau sudah pulang? Kenapa tidak menungguku?"


"Tidak apa-apa Conrad. Aku yakin kau sedang sibuk menolong Ruby." sahut Jasmine lirih.


"Maaf. Aku tadi meninggalkanmu begitu saja." ujar Conrad menyesal.


"Bagiamana, apakah Ruby baik-baik saja?"


"Iya. Hanya saja dia masih sedikit terseok."


"Ini salahku. Aku harus meminta maaf kepada nya."


"Dia pasti sudah memaafkanmu, Jasmine."


"Kau baik Conrad. Baiklah, taxy ku sudah sampai. Selamat malam Conrad." Jasmine menutup handphone nya. Dia memejamkan mata untuk sesaat menahan air mata yang akan menetes.


Jasmine kemudian keluar dari taxy, dengan langkah kaki yang terseok-seok. Seorang penjaga yang membukakan gerbang terkejut melihat keadaan Jasmine.


"Nona Jasmine. Mari saya bantu."


"Trimakasih Sergi, aku bisa sendiri.." Jasmine masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Jasmine masuk ke dalam kamar mandi dan mulai memnersihkan diri juga lukanya. Kedua lutut Jasmine memar besar dan sangat perih. Dia masih menahan perih ketika mengeringkan luka di kaki nya.


Saat Jasmine sudah keluar kamar, pengasuh nya dari kecil sudah menanti.


"Sergei mengatakan pada saya, jika anda terluka nona. Ya Tuhannn.. lihat lutut indah ini. Bagaimana bisa ini terjadi?!"


"Aku jatuh, lupita. Tapi aku baik-baik saja. Lihat ini alu masih bisa berdiri dengan tegak." ujar Jasmine menahan diri untuk bisa berdiri tegak. Taoi itu hanya sesaat.


"Aow!" Dia meringis sakit.


"Kann.. Jangan sok menyembunyikan rasa sakit, apalagi di depan Lupita. Anda tidak bisa membohongi saya, nona. " Lupita menuntun Jasmine dan mendudukan anak yang dia asuh semenjak bayi. Lupita mulai mengolesi salep ke luka Jasmine.


"Aow." Jasmine meringis.


"Tuh, lain kali makannya kalau jalan dilihat-lihat. Jangan melamun. Iya kalau yang dilamuni cowok cakep yang baik hati, itu sih tidak apa-apa." Gerutu Lupita.


"Kau ada-ada saja Lupi."


"Ya Tuhan. Itu kening juga kenapa membiru. Haduhhh... jangan sampai membekas." Lupita dengan penuh perhatian mengoleskan salep di dahi Jasmine yang bengkak dan membiru.


"Daddy dan mommy... apakah mereka sudah datang?" tanya Jasmine.


Lupita menggeleng.


"Mereka berdua ada operasi penting."


"Kalau kah Robert?"


"Kalau tidak subuh, mana pernah dia pulang?" ujar Lupita dengan kesal. Anak asuh nya yang satu itu memang paling membuatnya cemas. Tapi, sekarang Lupita sudah mulai bisa tidak menghiraukan. Toh, Robert juga sudah dewasa. Dia harus nya sudah mengerti sebab dan akibat perbuatannya.


"Tidurlah nona."


"Terimakasih Lupi, good nite."


"Good nite nona."

__ADS_1


__ADS_2