
Andrew kembali ke mansion saat hari sudah larut malam. Anak-anak sudah terlelap dalam buaian angin malam. Dia melewatkan makan malam dan hanya memakan sedikit sandwich di kantor. Dia kembali dengan wajah yang lesuh.
Diana yang menantinya sedari tadi, segera turun. Dia tida banyak bertanya melihat raut wajah lesu suaminya. Diana meminta pada pelayan untuk menghangatkan segelas susu dan mengantarnya ke lantai atas.
Di dalam kamar, Andrew duduk di sofa sambil menyandarkan punnggung nya. Kepalanya terkulai di sandaran sofa dan mata nya terpejam. Kening Andrew tampak berkerut. Meskipun mata nya terpejam, tapi tampak sekali otak Andrew masih bekerja.
Diana dengan sabar melepaskan sepatu Andrew, mencopot dasi, sabuk dan perlahan membuka Jas kerja suami nya. Dia tidak tahu masalah berat apa yang sedang dipikirkan oleh Andrew, tetapi Diana tidak memaksa Andrew untuk menceritakan saat ini juga, meskipun dia sudah menduga hal yang membuat Andrew tampak frustasi.
"Kau sudah makan malam?" tanya nya dengan lembut.
"Sepotong sandwich." jawab Andrew lirih.
"Itu tidak cukup."
"Aku tidak lapar."
"Meskipun tidak bernafsu untuk makan, kau tetap harus mengisi perut untuk membantu mu berpikir lebih lancar."
Ketukan di pintu kamar terdengar. Seorang pelayan mengantarkan segelas susu hangat. Diana meminta padanya untuk mengatakan pada koki menyiapkan makan malam, dan dan diantar ke dalam kamar. Diana membawa susu hangat ke dekat Andrew dan meminta pria itu untuk meminumnya.
"Aku perlu wiskhy."
"Tidak. Kau memerlukan susu hangat."
"Tapi aku menginginkan whisky."
"Alkohol tidak akan membantumu berpikir jernih."
"Heh! Aku perlu menenangkan pikiran."
"Maka minumlah susu ini, dan ceritakan masalahmu. Andaikan pun aku tidak dapat membantu, setidaknya aku masih bisa menjadi pendengar yang baik." ujar Diana lembut sambil memijit kening suaminya.
Andrew mengalah. Dia akhirnya meminum susu hangay tersebut sampai habis. Perasaannya sedikit lebih tenang. Apalagi dengan merasakan pijatan hangat dari tangan lembut Diana. Sebagian rasa pening dan lelah menguap.
Pelayan kembali dengan membawa sepiring steak. Diana meletakannya di meja dan memotong kecil-kecil steak tersebut. Menusuk dengan garpu dan mengarahkan ke mulut Andrew.
"Makan sedikit ya.."
Andrew menggeleng.
"Makan lah sedikit, aku suapin. Supaya mendapatkan ide Briliant." Rayu Diana lagi.
Mulut Andrew masih tertutup. Karena gemas. Diana menggigit steak tersebut, kemudian menangkup wajah suaminya dan meletakan bibir nya pada bibir Andrew. Dia memaksa agar mulut Andrew terbuka dan mendorong steak tersebut ke mulut Andrew.
"Kau..." mata Andrew terbuka mendapati steak yang sudah masuk di mulutnya.
__ADS_1
"Ayo dikunyah! Jangan seperti anak kecil."
Andrew akhirnya menurut. Diana menusuk steak tersebut lagi dengan garpu dan menyuapi Andrew. Pria itu kembali membungkam bibir nya dan memejamkan mata dengan sengaja. Dan akhirnya Diana kembali menyuapi Andrew dengan bibir nya.
Dia menerima sekaligus memberikan ******* sekikas dibibir Diana.
Meskipun gemas dengan sikap manja Andrew, Diana terus melakukan hingga steak itu habis. Dan setelah perut Andrew penuh. Dia mulai menyodorkan segelas air putih. Kali ini Andrew meminumnya sendiri. Dia merasa lebih lega juga segar setelah menghabiskan makanan tersebut.
"Lebih baik bukan? Sekarang mau mandi?"
"Iya."
Diana mempersiapkan air hangat dan handuk. Disaat Andrew mandi dia mempersiapkan pakaian ganti, yang langsung di kenakan ketika Andrew selesai mandi. Dan pria itu langsung naik ke tempat tidur dimana istrinya sudah duduk bersandar menanti.
"Sudah lebih baik?"
"Hemh.."
"Aku melihat berita hari ini." ujar Diana sambil membelai rambut Andrew yang berbaring di pangkuannya.
"Kau sudah tahu?"
"Heeh.."
"Ah! Aku sudah meminta pada mereka untuk meredam berita itu." sahut Andrew kesal.
Andrew mendesah.
"Akan ada rapat direksi. Mereka semua khawatir dengan harga saham yang turun akibat berita itu."
"Apakah itu bisa menurunkan jabatanmu?" tanya Diana.
"Sebagai CEO, iya. Sebagai Pemilik dan ketua dewan komisaris mereka tidak bisa mendepak ku." ujar Andrew lirih.
"Baiklah. Sekarang kita harus membuktikan itu fitnah."
"Itulah yang sedang aku pikirkan." ujar Andrew.
"Apa kau sudah meletakan seseorang untuk mencari tahu tentang keadaan di kapal?"
"Maksudmu?"
"Manusia itu suka bergosip, Andrew. Minta pada hotel Direkctur untuk membuat rapat dengan semua departement, agar mereka mencari tahu dari setiap staff nya, apa yang mereka tahu dengan kegiatan porstitusi itu. Apa mereka melihat staff yang menjual diri itu berbicara pada seseorang atau menghubungi seseorang." Diana menjelaskan maksudnya.
"Ah, benar juga. Kau hebat sekali, istriku."
__ADS_1
"Kau lupa dari mana asal ku bekerja?" ujar Diana menggoda.
"Tidak pernah kulupa, apalagi bagian dimana aku menyeretmu masuk dalam kehidupanku."
Mereka tertawa bersama.
"Kemudian satelit. Mereka pasti pernah menghubungi seseorang dengan menggunakan telphone bukan. Dan mereka harus membeli kartu untuk itu. Perintahkan mereka untuk mengecekk mengenai kelaur masuk nya telphone, email dan sms yang dilakuakan oleh dua puluh orang tersebut selama di kapal."
"Untuk itu staff ku sudah menyelidiki. Tapi tampaknya kedua puluh orang tersebut tidak menggunakan telphone atau internet selama di kapal."
"Ah... mereka bermain hebat. Bisa saja mereka menghubungi pemimpin mereka sewaktu kapal mendarat dengan menggunakan telphone umum di daratan atau..."
"Atau apa?" tanya Andrew dengan tegang. Dia membuka mata dan memandang raut wajah istrinya yang saat ini tampak sedang ragu.
"Salah satu pimpinan mereka adalah staff lain di kapal atau.. seorang tamu."
"Ah.. itu semakin sukar. Lima pukuh ribu tamu yang naik turun kapal setiap minggunya. Bukan hal yang mudah." gumam Andrew lesu.
"Tapi semua staff sudah bekerja dan sekurity kapal sedang memeriksa cctv. " Andrew turun dari tempat tidur dan mengambil handphone nya. Dia mengetik sesuatu disana dengan serius. Setelah beberapa saat, Andrew kembali ke pangkuan Diana.
"Aku sudah memerintakan Anthony untuk meyelidiki lewat gosip sesama anggota crew dan staff."
"Anthony? Dia masih bekerja di kapal?" tanya Diana heran.
"Memang kenapa?"
"Hahaha.. tidak apa-apa. Aku kira dia sudah pensiun."
"Dia telalu mencintai kapal daripada daratan." celetuk Andrew.
Andrew kemudian menegakan tubuhnya dan menarik kaki Diana, sehingga posisi tubuh Diana yang awalnya bersandar di tempat tidur menjadi berbaring.
Dan dia dengan segera menindih tubuh istrinya.
"Bercerita tentang kapal, membuatku teringat bagaimana kau menolakku saat itu." bisiknya mesra
"Dan aku akan kembali menolakmu sekarang." Diana mendorong dada Andrew. Pria itu menahan tubuhnya tak bergeming diatas tubuh Diana. Sekuat tenaga dia mencoba, tapi tubuh kokoh itu masih menempel dan malam menghisap lehernya.
"Tidak akan bisa kau menolak ku lagi. Kalau dulu aku membiarkanmu karena berbelas kasih. Tetapi sekarang, semua ini adalah milikku!" ujar Andrew sambil meremas dada istrinya dengan buas. Diana hanya bisa mendesah, menikmati sentuhan tangan besar dan hangat itu.
"Kenapa ini semakin besar dan menggemaskan?" ujar nya sambil menikmati dada Diana satu persatu.
"Kau mau bilang aku semakin gendut? Aaahhhh...."
Diana tidak dapat berkata-kata lagi, ketika tanpa permisi Andrew sudah menciumi kewanitaannya.
__ADS_1
Malam ini akan panjang. Begitulah akhir pembicaraan antara suami istri yang dibubuhi dengan kenangan masa lalu. Luapan perasaan cinta dan saling memiliki, membuat mereka sama-sama menegak kobaran kenikmatan bersama-sama.