Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Dia seorang pria


__ADS_3

"Apa saja yang kalian kerjakan!" Andrew membentak marah. Dia menggebrak meja dan membanting smartphone yang berada ditangannya. Wajahnya menghitam, giginya bergemelatuk dan tangannya terkepal.


"Arghhh!!! Andrew marah sambil membanting kursi. Seluruh dewan dereksi yang saat itu sedang berkumpul untuk rapat menjadi tegang. Tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara maupun mengambil tindakan. Semua mata memandang andrew.


"Silahkan keluar terlebih dahulu, rapat hari ini ditunda." ucap Patricia kepala sekretaris Andrew.


Segera para dewan dereksi keluar dengan penuh tanda tanya. Di depan ruangan mereka mulai bergosip, sudah bertahun-tahun lamanya Andrew tidak pernah marah dengan berapi-api lagi. Sikapnya berubah lembut dan perhatian. Tapi saat ini apa yang terjadi sehingga dia bersikap seperti itu lagi.


Di dalam ruangan.


"Briant, ayo kita ke mall itu." Tanpa menunggu jawaban, Andrew segera keluar dari ruangan dan menuju lobby diikuti Briant, sementara Patricia menghubungi sopir pribadi Andrew untuk bersiap di lobby.


"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi. Apa saja yang dilakukan oleh pengawal-pengawal itu!" Amarah Andrew memuncak dia memukul dengan keras kursi dihadapannya.


"Aku akan menghukum mereka semua!" sahut Briant ta kalah geram.


"Kalau sampai mereka tidak menemukan Diana hari ini juga. Ajukan tuntutan pada Mall tersebut!"


"Oke."


Mobil yang dikendarai melaju cepat membelah keramaian lalu lintas. Andrew sudah tidak sabar lagi. Sementara Briant masih sibuk dengan ponselnya menghubungi kepala pengawal untuk mencari dan menyelidiki keberadaan Diana di mall tersebut.


Sebelumnya....


Diana di dalam toilet berhasil menghubungi Andrew, tetapi baru saja panggilan tersambung dia menjatuhkan smartphonenya dengan sengaja karena orang tersebut hendak merampas dan mendesaknya.


Saat itu Andrew sedang berjalan menuju ruangan rapat. Dia masih menggenggam smarphone nya ketika Diana menghubunginya tetapi tidak langsung dia angkat karena beberapa direksi menyapa. Ketika dia mengangkatnya tidak ada suara diseberang sana. Berkali-kali dia memanggil tidak ada suara kecuali bunyi srek..srekkk.. dan dengusan nafas samar-samar. Bunyi flash kamar mandi terdengar sebelum seseorang mematikan sambungan telphone.


Awalnya Andrew mengira kalau ada gangguan signal. Tetapi saat dia hendak menelphone kembali, nomor Diana tidak bisa dia hubungi. Berkali-kali dia mencoba hasilnya tetap sama.


Andrew yang gelisah segera menghubungi Lia, "mana kakakmu?" tanya Andrew segera tanpa mengubris salam dari Lia.


"Pergi ke toilet."


"Sendirian?"


"Sama pengawal."


"Cepat susul! Cari dia!"


"Aduh brother, jangan panik gitu dong, kakak cuma ke toilet tidak kemana-mana."

__ADS_1


"Cepat cari. Aku merasa ada sesuatu terjadi dengan Diana." ucap Andrew dengan tidak sabar.


"Baiklah." Meskipun Lia hendak menertawalan kekhawatiran Andrew tapi dia mengurungkan niatannya karena mendengar nada khawatir yang berlebihan disana.


"Nanny jaga Conrad. Aku akan mencari kakakku. Kau ikut aku." Lia mengajak perawat Marsha yang biasa menjaga Diana.


Dia melewati dua pengawal yang sebelumnya mengawal Conrad menuju ke toilet. Di depan lorong dia melihat dua orang pengawal yang menemani Diana masih berdiri berjaga.


"Mana kakakku?" tanya Lia dengan nada menekan.


"Belum keluar nona Lia." Jawab salah satu pengawal.


"Kau yakin?" Lia masuk ke dalam toilet. Dia mencari ke toilet wanita, tidak ada. Berteriak ke toilet pria, tidak ada. Mencari di toilet disabilities, tidak ada. Terakhir di ruang ibu dan anak, juga tidak ada. Semua kosong.


"Marsha, coba kau cari sekali lagi dan tanyakan kepada petugas apabila dia melihat kakakku, atau adakah jalan keluar lain.


Setelah memberi perintah Lia segera pergi menuju pengawal yang berjaga.


"Kakakku tidak ada di dalam. Kalian yakin dia tidak keluar?" tanya Lia dengan berapi-api.


Kali ini dia benar-benar panik. Perasaan Andrew benar.


"Tapi, sedari tadi kami ada disini nona." ucap pengawal itu heran.


"Nanny bawa Conrad pulang sekarang." ucap Lia kepada pengasuh Conrad.


"Conrad pulang dulu ya. Mommy masih sakit di toilet. Langsung pulang ya."


"Mommy sakit apa unty?" tanya Conrad dengan mata beningnya.


"Cuma agak lamaan di toilet. Conrad pulang dulu ya dan langsung tidur okey. Nanti unty menyusul dengan Mommy." Akhirnya Conrad menurut setelah beberapa saat bersikeras untuk tetap tinggal.


Lia tidak ingin, bocah kecil itu ikut panik. Dia tidak dapat menangani keduanya. Conrad yang menangis dan Diana yang hilang.


Lia meminta kedua pengawal tersebut menemani Conrad sampai masuk kedalam mobil dan salah satu pengawal kembali lagi membantu mencari Diana.


Setelah deringan telphone Andrew yang kesekian kali, Lia baru mengangkatnya.


"Kami masih belum menemukan kakak, brother." jawab Lia dengan nada kuatir.


Perkataan Lia disambut dengan amarah dari Andrew, bahkan dia sempat mendengar Andrew membanting sesuatu diseberang sana. Lia bergidik. Dia merasa resah, "kakak kau dimana, apa yang terjadi padamu?"

__ADS_1


Tidak perlu waktu yang lama, Andrew dan Briant serte beberapa orang pengawal sudah sampai di mall tersebut. Dan mereka segera menemui Lia yang berada diruang sekurity. Petugas keamanan tidak mengizinkan Lia untuk masuk melihat cctv sampai Andrew dan Briant datang bersama direktur dari mall tersebut.


"Maafkan kami atas kejadian ini." ucap direktur itu dengan bersungguh-sungguh. Andrew hanya mendengus. Dia berusaha menahan amarahnya untuk menghancurkan tempat itu. Sementara matanya masih sibuk meneliti di layar televisi yang menampilkan rekaman cctv.


Rekaman cctv diputar di detik Diana masuj dalam lorong toilet, disana mereka dapat melihat Diana masuk dan ketika keluar lagi adalah sosok orang yang mendorong kursi roda. Sayangnya wajah orang tersebut tidak dapat dilihat dengan jelas apakah sosok itu pria atau wanita.


Cctv diputar lagi lebih awal, didetik ketika orang tersebut masuk terlebih dahulu ke dalam toilet dan menanti didalam sebelum Diana masuk. Mereka masih tidak dapat menemukan dengan jelas sosok raut wajah orang tersebut dengan jelas.


Cctv kemudian diputar mengikuti arah kemana orang tersebut membawa Diana pergi keluar dari mall. Disana tampak seorang sekurity membantu orang tersebut membawa masuk sosok tubuh di kursi roda ke dalam mobil.


Dengan segera kepala sekurity menghubungi anak buahnya yang berada di lokasi tersebut.


Andrew duduk sambil menunggu kehadiran sekurity tersebut sambil menatap tajam Lia.


Lia yang pemberani dan selalu menemukan akal itu menunduk tidak berani membalas tatapan Andrew. Dia merasa bersalah. Bukan kepadq Andrew, tetapi lebih tepatnya kepada dirinya sendiri. Kalau saja dia tidak sibuk berpikir tentang...


"Selamat siang." sekurity yang ditunggu telah datang dan merasa heran mendapatkan aura seram diruangan tersebut.


"Katakan kau tadi membantu seseorang di kursi roda masuk kedalam mobil itu bukan?" kepala sekurity memperlihatkan layar cctv.


"Ah benar, seorang waniya hamil yang sangat cantik." ucap pria itu tanoa merasa bersalah.


"Katakan padaku siapa yang membawa Diana? Bagaimana keadaan Diana? Kau melihat siapa orang yang membawanya pergi. Kebapa kau begitu bodoh membiarkan orang tersebut membawanya pergi? Apakah kau tidak tahu kalau ostriku tersiksa?" Andrew melancarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada pria tersebut sambil meremas bahu sekurity yang kurus itu hingga ia meringis kesakitan.


"Brother tenangkan dirimu." ucap Lia melihat emosi Andrew yang meledak.


"Tutup mulutmu! Kau bahkan tidak becus menjaga kakak kandungmu sendiri!" bentak Andrew yang sudah ada pada emosi puncaknya.


Lia terduduk, dia tidak menyangka bila Andrew akan bersikap sekasar itu dan membentak dirinya. Ini pertama kali Lia melihat sisi kasar Andrew. Amarah yang ditujukan karena kelalaiannya menjaga Diana.


"Sudah Andrew, jangan menyalahkan Lia. Dia juga tidak ingin hal ini terjadi." ucap Briant sambil memegang kedua lengan Andrew.


"Sudah hentikan. Lebih baik fokus dengan informasi apa yang dia tahu. Kita tidak akan menemukan kakak ipar dengan emosi." ujar Briant kembali ketika Andrew hendak membantah.


Akhirnya Andrew tenang, dengan menghela nafas panjang dia kembali duduk dan menatap pada sekurity yang tampak kebingungan.


Lia yang berada tak jauh dari sisi Andrew duduk, hanya diam. Dia terguncang dengan hilangnya Diana dan sikap kasar Andrew, meskipun dari dalam hati dia menyadari perkataan Andrew benar. Seharusnya dirinya menemani Diana ke kamar mandi atau setidaknya membiarkan suster Marsha menemani, apalagi kondisi Diana yang sedang hamil.


"Katakan pada kami, apalah kau melihat wajah orang yang membawa saudara iparku yang sedang hamil?" tanya Briant dengan sabar kepada sekurity tersebut.


Dengan ragu-ragu sekurity itu mengangguk.

__ADS_1


"Dia seorang pria."


πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯


__ADS_2