Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Penyelesaian


__ADS_3

"Kau belum tidur sayang?" tanya Andrew yang baru saja tiba.


Jam sudah menunjukan hampir pukul sebelas malam. Dan, Andrew heran melihat Diana yang masih terduduk di sofa sambil memandang keluar jendela, melihat kearah lampu-lampu di kolam renang.


Andrew yakin jika Diana sedang melamun saat ini, karena wanita itu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Dia baru menoleh ketika Andrew memeluk dan mengecup pipi nya.


"Kau sudah pulang?" tanya Diana dengan terkejut.


"Apa yang kau lamunkan hingga larut malam begini?" tanya Andrew heran.


Tidak biasanya Diana bersikap seperti ini. Setelah kebersamaan mereka empat tahun hidup bersama dan satu tahun pernikahan, tidak pernah sekali pun Diana melamun begitu dalam hingga tidak menyadari kehadiran Andrew.


"Bagaimana acara makan malam mu, sudah selesai?" tanya Diana balik tanpa menjawab pertanyaan Andrew sebelumnya.


Diana berdiri dan mulai membantu Andrew melepaskan jas, dasi dan sabuk di celananya. Sambil melepaskan semua itu, Diana memperhatikan setiap sudut baju yang telah tersentuh oleh Gladys di foto, mencari jejak, apapun itu.


"Sebenarnya makan malam itu sudah selesai pukul sembilan malam tadi. Tapi, Mike dan rekan kerja lainnya berhasil menyeretku ke club malam."


Andrew berhenti sejenak dan melihat expressi Diana yang datar. Diana masih diam sambil membawa pakaian Andrew ke arah closet dan meletakannya langsung ke keranjang baju kotor. Bau rokok dan wewangian tidak jelas menempel disana.


"Tetapi aku langsung kembali setelah mengantarkan mereka ke ruang VVIP. Ternyata berada di tempat itu tidak lagi menyenangkanku."


Andrew yang mengikuti Diana mulai melepaska kemeja nya dan meletakan kedalam keranjang kotor.


"Kau tau kenapa?" tanya Andrew sambil merengkuh tubuh Diana kedalam pelukannya.


Andrew mengangkat dagu Diana sehingga wajah cantiknya sejajar dengan wajah Andrew. Pria tampan dan sukses itu memandang Diana dengan mendalam. Dia melihat sinar mata yang berbeda dari wanitanya dan itu membuatnya heran.


"Ada apa, apakah ada hal yang mengganggumu?" tanya Andrew tanpa melepaskan tanganya dari pinggang dan dagu Diana.


"Benarkah kau langsung pulang saat tiba di club tersebut?" tanya Diana.


Saat ini dalam ingatannya terlintas foto-foto yang baru saja dia terima. Selain itu dia paham bagaimana situasi club tersebut, karena dulu Andrew pernah membawa nya saat di Grand Cayman. Saat dimana Andrew masih mengejarnya.


Masih teringat di benak Diana, bagaimana wanita-wanita super cantik dengan badan yang luar biasa indah, mengenakan gaun yang memamerkan bagian-bagian tubuh mereka untuk disentuh. Selain itu sikap mereka yang agresif dan tidak tahu malu, menyentuh dan meremas para pria terlebih dahulu.


"Iya. Kau kenapa, kau tidak percaya padaku?" tanya Andrew dengan heran.


Diana diam. Ada sedikit kecewa dalam hati nya dengan ketidak jujuran Andrew. Awalnya dia hendak membahas masalah tentang foto tersebut, kemudian menertawakannya bersama-sama akan sikap ***** orang yang hendak merecoki rumah tangga mereka.


Tetapi, sikap Andrew yang tidak sepenuhnya jujur membuat Diana ragu. Mungkinkah foto itu benar dan Andrew kembali bermain gila di belakangnya? Apakah Andrew sudah bosan hidup dengan tenang di sisinya?

__ADS_1


"Kalau kau mengatakan seperti itu, apakah ada alasan bagi ku untuk meragukannya?" tanya Diana balik seraya melepaskan tangan Andrew dari tubuhnya.


"Cepat bersihkan dirimu. Malam semakin larut." ujar Diana sambil berjalan meninggalkan Andrew yang menatapnya bingung.


Andrew segera melepaskan celananya dan masuk kedala kamar mandi, membasuh wajah dan kaki serta menggosok gigi. Setelah bersih Andrew mengenakan boxer kemudian beranjak menghampiri Diana yang sudah menenggelamkan dirinya didalam selimut.


"Aku bertemu Gladys disana." ujar Andrew setelah masuk kedalam selimut dan memeluk Diana.


Mata Diana langsung terbuka. Dia tetap diam, menunggu Andrew menyelesaikan kata-katanya.


"Aku tidak tahu, jika dia masih seperti dulu dan hidup tetap sebagai wanita penghibur," ujar Andrew lagi.


Diana membalikan tubuhnya dan menayap Andrew dengan tatapan menyelidik. Dari tatapan matanya seakan mengatakan pada Andrew, lanjutkan ceritamu, jangan ada yang ditutupi, apa saja yang kau lakukan dengan dirinya.


"Dia mencoba merayuku. Ternyata setelah hampir lima tahun, aku masih menarik juga di mata mereka," ucap Andrew dengan bangga.


"Ihhh.... Kau sudah tua tau," ujar Diana kesal sambil mencubit pinggang Andrew.


"Aow." Andrew meringis.


"Jangan bilang kau cemburu dengan Gladys," ucap Andrew dengan terkekeh.


Hatinya merasa lega karena Andrew sudah berbicara jujur. Setidaknya dia bisa yakin kalau foto-foto tersebut adalah tindakan orang iseng.


"Kau tahu, aku ingin sekali melihat mu cemburu padaku."


"Orang aneh."


"Serius. Apakah aku harus bertindak sedikit extrim agar kau menunjukan kecemburuan padaku." Goda Andrew lagi.


"Mana ada suami yang memiliki keinginan seperti mu. Semua suami itu berusaha menjaga perasaan isterinya, tidak ingin istrinya sakit hati dan cemburu," sahut Diana dengan jengkel.


"Aku kan orang yang berbeda, secara... aku ini tampan, mempesona, kaya dan gagah."


"Iiiihhhh... kok jadi besar kepala gini sih."


"Tapi benarkan kau beruntung memiliki suami yang tampan, kaya dan baik hati ini."


"Iya.. iya.. kau tampan, kaya, baik hati asal tidak nakal," ujar Diana sambil menarik hidung Andrew.


"Kemarilah peluk aku."

__ADS_1


"Bukannya sedari tadi kau sudah memelukku," sahut Diana dengan heran. Karena memang sedari tadi dia sudah berada dalam pelukan Andrew.


"Iya aku tahu. Tapi aku ingin kau memelukku."


"Apa bedanya dengan seperti ini sekarang."


"Tentu saja beda."


Diana mendongakan wajahnya menatap Andrew dengan heran.


"Masih tidak mengerti? Sini aku tunjukan."


Andrew melepaskan pelukannya dari Diana kemudian sedikit beringsut kebawah tubuh Diana. Dia meletakan kepalanya di lengan kiri Diana, kemudian menarik tangan Diana agar memeluk tubuhnya sementara tangan Andrew memeluk pinggang istrinya.


Posisi mereka sekarang miring dengan sejajar. Dan wajah Andrew persisi di dada Diana. Nafasnya sedikit memburu berhembus pada dada Diana yang mengenakan gaun tidur berbelahan rendah.


"Kau tau kan bedanya," suara Andrew lirih sebelum akhirnya dia menciumi dada Diana dengan rakus.


Diana melenguh menerima serangan dari suaminya secara tiba-tiba. Pernikahan yang bahagia, hampir setiap malam mereka selalu menyelesaikan masalah di tempat tidur saling berpagutan dan membelai, seakan tidak pernah bosan melepaskan hasrat dalam diri.


Setelah pelepasan kedua kali nya. Andrew mulai tidur terlentang. Dia akhirnya merasa lelah, akibat seharian beraktifitas tanpa henti, meskipun sebagian ritme percintaan mereka hari ini banyak dikendalikan oleh Diana.


Diana masih menyandarkan tubuhnya diatas dada Andrew. Penyatuan diri mereka masih belum terlepas seutuhnya. Keperkasaan Andrew masih lunglai didalam mahkota Diana.


Sambil mengusap dada suaminya, Diana berucap lirih sambil berkata, "Kau tahu sayang, besuk aku akan menunjukan kepadamu hal yang akan membuatmu tertawa."


Andrew hanya bergumam tidak jelas. Pria itu tampaknya sudah jatuh tertidur dengan masih memeluk Diana. Melihatnya seperti ini, Diana hanya tersenyum dan tidak berniat turun dari tubuh suaminya. Tubuhnya yang kecil dengan lutut yang berada di antara kedua belah paha Andrew, pasti tidak akan membuat pria merasakan beban berat.


Dan, wanita itu akhirnya tertidur diatas dada suaminya, tanpa melepaskan keperkasaan Andrew dari dalam dirinya. Dia menyandarkan kepalanya didada sang suami seakan takut jika kehilangan dirinya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Meskipun naga perkasa saat ini sedang lemah dan tertidur nyenyak dalam gua.


Hati-hati ya jika rutinitas pagi hari sang naga bangun dan menjadi perkasa.


xiixxixiixixi.


Duh bahagianya kali ya, jika dapat jatah tiap hari dari suami.


Hayyooooo sapa yang mupenggg...

__ADS_1


__ADS_2