
Di belahan bumi lainnya.
Caroline dengan frustasi mencoba menghubungi Mike. Berkali-kali dia mendial nomor telphone Mike, tapi tidak ada jawaban dari pria sekutu nya itu. Pria itu sudah beberapa waktu ini menghilang dari jangkauan Caroline.
Caroline merasa cemas, karena dia baru saja mendengar kabar secara resmi dari Sekretaris Andrew, jika pria itu menolak menanam modal dan bekerja sama dengan perkebunan anggurnya.
Tampaknya Andrew sudah menjalin kerjasama dengan perkebunan Theodore. Meskipun Theodore sudah menawarkan agar Caroline menjadi pemasok di pabriknya, tapi Caroline masih tidak memberikan jawaban.
Caroline masih ingin memiliki jangkauan yang lebih diatas. Theodore memang seorang duda yang kaya, tetapi kekayaannya masih jauh dibawah Andrew. Dan sesungguhnya Caroline menyesal meninggalkan Andrew untuk ke dua kalinya dulu.
Caroline tidak dapat mengendalikan emosi di hatinya. Dia membanting semua yang ada di meja kerja dan berteriak dengan frustasi. Caroline tidak dapat mengendalikan emosinya. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia tidak dapat mengendalikan sesuatu. Baru pertama kali pula, Caroline gagal mendapatkan keinginannya.
Sementara itu di balik ruangan kerja Caroline
Seorang gadis kecil berusia lima tahun yang sedang bermain dengan boneka itu, meringkuk ketakutan dan segera masuk ke dalam lemari pakaiannya. Tempat persembunyian yang paling aman, ketika wanita itu mengamuk.
Bukan pertama kali dia melihat sang ibu, Caroline marah dengan tidak terkendali. Dan wanita itu seringkali melampiaskan kemarahannya dengan memukuli gadis kecil bernama Francesca. Masih terekam dengan jelas dalam ingatannya ketika Caroline menjambak rambut dan memukul bahu kecil nya.
"Francescaaaaa!!!!!! Dimana kauuuuuu!!!! Keluar kau anak si#lannnn!!!" Teriak Caroline sambil mencari ke setiap sudut rumah.
"Katakan! Dimana Francesca?!" Tanya Caroline dengan garang kepada pelayan rumah.
Pelayan itu menggelengkan kepala nya dengan takut. Hal yang dia pelajari jika berhadapan dengan Caroline adalah, tidak berbicara atau menjawab0 apapun ketika wanita itu marah.
"Untuk apa aku membayarmu, jika kau tidak becus!" Teriak Caroline mencemooh.
Dengan langkah limbung dan segelas anggur merah ditangan, Caroline mencari anaknya. Dia membuka setiap pintu dengan kasar, berjongkok mencari di bawah meja dan di bawah kolong tempat tidur.
"Francesca sayangggg, yuhuùuuu... keluarlah sayang..."
Suara Caroline tiba-tiba menjadi lembut memanggil-manggil anaknya.
__ADS_1
"Keluarlah sayanggg, mommy tidak akan menggigitmu. Yuhuuuu.... hahhahhahahahhahahahahhh."
Caroline tiba-tiba tertawa terbahak, setelahnya dia menghabiskan anggur di tangannya dan melemparkan gelas itu ke lantai yang beralaskan permandani tebal
Caroline membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan terlentang.
"Kau tau Francesca.... aku membenci mu. Kau ternyata anak yang tidak membawa keberuntungan untuk ku. Manuel sialan itu diakhir hidupnya tiba-tiba tidak percaya kau anak nya. Dan lihat apa yang dia wariskan untuk mu, hanya perkebunan anggur kecil ini. Siallll!!!!!!" Caroline mengumpat dengan penuh amarah.
"Aku ingin membuang mu, tapi perkebunan ini atas nama mu. Argggghhhhhh!!!! Gara-gara melahirkanmu, aku tidak mendapat kebebasanku lagi!" Ucap Caroline dengan merancau.
"Anak yang aku lahirkan dan membawa keberuntungan untukku hanya satu. Heh! Ya anak itu. Bukan kau Francesca, kau anak yang membawa kesialan dalam hidupku. Kakak mu dulu memberiku keberuntungan." Ucap Caroline dengan merancau, tanpa menyadari jika anaknya tengah meringkuk ketakutan di dalam lemari sambil memeluk boneka teddy bear.
"Aku akan menemui anak itu, aku akan membuat dia berpihak kepadaku. Dan aku akan hidup mewah lagi," ucap Caroline lemah sebelum akhirnya jatuh tertidur.
Pelayan wanita yang sedari tadi menahan diri, untuk tidak masuk ke dalam kamar, mengintip diam-diam. Dia melihat Caroline sudah memejamkan mata nya. Sesaat dia menanti, memastikan jika wanita itu benar-benar terlelap.
Setelah sekitar lima belas menit berlalu, pelayan itu mengendap-ngendap masuk ke dalam dan mengetuk lemari kecil tersebut dengan kode tertentu.
Gadis kecil yang meringkuk di dalam lemari. Mulai membuka kunci dari dalam. Ternyata lemari itu telah di design agar dapat terkunci juga dari dalam. Pelayan wanita tersebut yang mengetahui kebiasaan bersembunyi Francesca ketika Caroline mabuk, memasang kunci dari dalam, agar Caroline tidak dapat membukanya.
Francesca membuka kunci di dalam lemari dan membuka nya perlahan. Dia menyakinkan diri jika yang mengetuk bukan Caroline. Pelayan itu muncul disela-sela pintu yang terkuak dan menempelkan jari-jemarinya di bibir.
Francesca perlahan turun dari lemari dan masuk dalam gendongan wanita pelayan itu. Gadis kecil berusia limat tahun yang cantik tapi kurus itu, mendekap bahu pengasuhnya erat-erat, mencari perlindungan.
Dengan perlahan pelayan itu membawa Francesca keluar. Nafas mereka sempat tertahan sesaat ketika, Caroline membalikan tubuhnya dan mengigau dalam tidur.
Ketika yakin jika Caroline tertidur kembali, pelayan itu segera membawa Francesca keluar dan menuju ke belakang rumah. Melewati taman kecil, pengasuh itu membawa Francesca ke pondok kecil dan kusam tempat pengasuh itu tinggal di rumah ini.
"Aku akan mengambilkan susu untuk mu. Diam lah disini. Kau aman disini." Ucap si pelayan yang merupakan pengasuh Francesca. Setelah meletakan gadis kecil itu di kasur, dia kembali ke rumah utama dan mengambil susu.
Pengasuh bernama Lena, merupakan satu-satunya pelayan di rumah ini. Semua pelayan lainnya sudah berhenti, semenjak kematian suami Caroline.
__ADS_1
Para pelayan tidak tahan dengan sikap Caroline yang temperamental. Ketika Manuel suaminya masih hidup, Caroline masih bisa menjaga sikap. Dan ketika Manuel menemukan jika Caroline sering berselingkuh, dia berencana menceraikan Caroline.
Tapi sayang, sakit paru-paru basah yang dia derita memburuk. Dalam keadaan sekarat, Manuel masih sempat mengesahkan dokumen untuk hak waris kepada anak-anaknya yang sah. Sementara yang tertinggal adalah perkebunan kecil ini untuk Francesca.
Sebenarnya Manuel sempat tidak yakin jika Francesca adalah anak nya. Tetapi rasa sayang yang mengalir ketika gadis kecil itu lahir di masa tua nya, membuat Manuel mengambil keputusan untuk menyerahkan warisan terakhir bagi Francesca.
Manuel menolak putra dan putri nya mermbawa dirinya ke kota. Dia memilih menghukum Caroline dengan membiarkan wanita itu merawatnya dengan pikiran warisan kekayaan Manuel akan jatuh ke tangannya.
Ketika kenyataan dia terima di saat kematian Manuel, Caroline menjadi marah dan melampiaskan kemarahannya dengan menghukum Francesca. Dia menjambak Francesca dan menyeret gadis kecil itu kemudian mengikatnya di tiang.
Mata hati Caroline telah buta. Saat itu dia tidak menghiraukan tangisan Francesca yang memilukan. Tidak ada satupun yang perduli dan menyelamatkan si kecil Francesca dari amarah Caroline.
Bahkan ketika kakak-kakak tirinya mengetahui jika Francesca diperlakukan dengan buruk, mereka tidak perduli. Mereka meninggalkannya dan kembali ke Milan tanpa Francesca.
Hanya Lena yang bertahan di sisi Francesca. Wanita setengah baya yang sebatang kara itu bagaikan seorang ibu bagi Francesca. Dia selalu mendampingi gadis kecil itu dan menjaganya dari amukan Caroline.
Lena kembali dari rumah utama dan membawakan segelas susu untuk Francesca. Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Semenjak tuan Manuel meninggal, Francesca berubah menjadi pendiam dan jarang berbicara.
"Malam ini, Francesca tidur dengan bibi ya. Besuk pagi, Frances harus bangun pagi dan sekolah. Jangan dipikirkan perkataan mommy ya. Besuk mommy juga pasti baikan," ucap Lena menenangkan.
Francesca mengangguk.
"Bibi, apakah Francesca anak yang tidak membawa keberuntungan dan selalu membuat mommy sedih?" tanya gadis itu polos.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Lena dengan terkejut.
"Aku mendengar mommy bilang begitu. Juga kata mommy aku punya kakak yang membawa keberuntungan buat mommy." celoteh Francesca dengan sendu.
Lena membelai kepala Francesca dengan lembut. Air matanya menetes perlahan dan drngan segera dihapusnya. Dia tidak ingin menambah kesedihan di hati gadis kecil itu, dengan melihat air matanya yang menetes.
"Frances tidur ya. Semua tadi adalah mimpi buruk. Besuk ketika bangun, bibi berjanji semuanya akan lebih baik lagi." ucap Lena dengan memeluk Francesca dan menepuk bahu bocah itu hingga terlelap.
__ADS_1