Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Ini bukan Mimpi


__ADS_3

Pagi yang cerah matahari bersinar dengan malu-malu. Burung berkicau dengan segala nyanyian sukacita. Canal yang menembus kelautan bergemericik riang tersapu hembusan angin ringan.


Semuanya indah dan ceria. Aktivitas di mansion masih berjalan dengan normal dan celoteh riang dari Conrad yang akan berangkat ke sekolah terdengar di ruang makan.


Di meja makan dengan menikmati panekuk yanh beroleskan madu dia tak henti-hentinya bertanya pada Lia, " unty kenapa mommy tidak bangun-bangun?"


"Iya sayang mommy masih sakit."


"Kapan mommy akan bangun?"


"Kalau Conrad selalu menjadi anak yang baik dan sayang sama adik."


"Conrad kan selama ini jadi anak yang baik. Conrad juga sayang sama baby Aaron."


"Iya, mommy pasti tau itu. Kita banyak berdoa ya supaya Tuhan membuat mommy bangun segera."


"Conrad juga sudah banyak berdoa kok unty, di dalam mobil mau ke sekolah juga Conrad berdoa."


"Anak baik, Tuhan pasti mendengar doa kita semua."


"Kalau mommy gak bangun-bangun berarti Tuhan belum baik ya sama kita."


"Loh... tidak boleh bilang begitu. Semua pasti indah pada waktunya."


"Hemmh.. iya deh. Maaf ya Tuhan, Conrad salah omong." ucap bocah berumur hampir sembilan tahun itu dengan lucu nya.


Lia tersenyum.


"Ayo, sekarang Conrad berangkat ke sekolah."


"Sebentar, Conrad mau pamitan dulu sama mommy."


"Buruan ya..."


"Oke unty."


Conrad berlari kecil menuju kamar Diana yang sementara ini menempati lantai bawah bersama Andrew dan baby Aaron. Andrew bersikeras tinggal sekamar dengan bayi nya .


Pria metropolitan yang biasanya berhati dingin dengan lawan bisnisnya dan tidak pernah perduli pada wanita kini amat sangat berubah.


Saat ini dia berubah menjadi pria penyayang dan lembut bahkan setia hanya pada satu wanita yang sudah melahirkan anak dan memberinya perubahan hidup.


Conrad mendapati Andrew masih tertidur dengan memeluk Diana. Dengan perlahan dan mengendap-endap bocah itu berlutut di sisi tempat tidur kemudian berbisik pada Diana.


"Mommy, Conrad mau sekolah dulu ya. Mommy cepat bangun, kasihan daddy menjaga mommy dan adik siang dan malam sendirian. Oh iya mommy, dua minggu lagi di sekolah Conrad ada pentas seni. Mommy datang ya. Conrad akan berperan sebagai rusa yang menarik kereta sinterklaus. Conrad jadi rusa paling depan loh mommy."


Bocah kecil itu mengecup pipi Diana dan kembali berbisik.


"Cepat bangun ya mommy."


Kemudian dia berputar dan mengecup kening Andrew sebelum akhirnya pergi ke sekolah.


**********

__ADS_1


Tuan besar tampak duduk di kursi di depan taman. Dia menikamti pagi dengan santainya. Tuan besar meskipun masih memegang saham pada perusahaan tapi dia sudah lama sekali tidak campur tangan dengan urusan perusahaan.


Andrew yang sudah selesai mandi, bergabung dengan ayahnya menikmati segelas kopi dan omlet.


"Apa Diana sudah sadar?" tanya tuan besar tanpa memalingkan wajahnya dari koran bisnis.


"Belum." jawab Andrew singkat.


"Heh... Kau terlalu lama menghilang dari perusahaan. Banyak meeting yang dilalui tanpa dirimu. Hal itu sangat mengkhawatirkan. Kalau saja wartawan sampai mencium masalah ini, bisa berpengaruh pada saham." ujar tuan besar sambil melipat korannya dan menyeruput kopi.


"Aku dan daddy masih dalam keadaan sehat dan bugar. Apa yang perlu di takutkan." ujar Andrew tidak perduli.


"Benar, tapi gosip dari tidak munculnya kau di setiap rapat penting bisa berpengaruh. Mereka akan mengira bila Kau dalam keadaan tidak stabil." ujar Arthur yang mengkhawatirkan sesuatu buruj terjadi pada perusahaan.


"Jangan khawatir, Briant bisa mengatasinya. Aku tidak bisa meninggalkan Diana dan anakku sendirian. Mereka melalui banyak hal karena diriku." ujar Andrew sendu.


"Aku megerti. Tapi ingat perusahaan juga harus kau perhatikan. Hadiri rapat meskipun online. Kau tidak bisa memperhatikan anak, istri dan keluargamu jika sesuatu buruk terjadi pada perusahaan." nasihat Arthur.


Andrew terdiam. Dia mendesah panjang. Memang benar semua perlu biaya. Masa depan anak-anaknya pun perlu biaya dan jaminan.


Tapi meninggalkan Diana sendiri... ah.. berat rasanya. Dia ingin menjadi orang pertama yang Diana lihat ketika wanita itu sadar.


"Lia ada disini Andrew. Dia gadis yang baik. Heh... bahkan aku berpikir, seandainya hal buruk terjadi, Lia cukup pantas mendampingi mu." ucap Arthur sambil melirik Andrew melihat reaksi pria itu.


"Kau berbica melantur pria tua. Tidak ada yang bisa menggantikan ibu dari anakku. Dia bahkan masih bernafas dan kau sudah berpikir terlalu jauh." sahut Andrew kesal.


"Maafkan ayah. Aku hanya berpikir seandainya... Ah, sudahlah... Otak tuaku ini memang banyak berpikir tidak menentu." kata Arthur sambil mengetuk-ngetuk gagang kursi.


"Banyak lah berdoa untuk anak, menantu dan cucumu ayah, agar kau lebih tenang." kata Andrew dengan kesal dan pergi meninggalkan ayahya sendirian.


**********


"Ayo mommy, bangun. Baby Aaron sudah harum. Aaron mau digendong mommy. Ini mommy, cium Aaron ya."


Lia menempelkan kepala Aaron di bibir Diana. Tidak ada reaksi.


Kemudian dengan satu tangannya, Lia menggendong Aaron dan tangan satunya mulai membuka kancing baju tidur Diana.


Setelah terbuka lebar. Lia meletakan Aaron terlungkup di dada Diana. Bayi mungil itu bergerak- gerak perlahan bagaikan tau kalau dia berada di dada ibunya.


Kepala dan mulutnya bergerak mencari sesuatu. Dia terus bergerak turun hingga bibirnya menemukan pu*ing s*su Diana dan menghisapnya seakan dia menemukan Surga air susu ibu.


Lia melihatnya dengan terharu. Dia tidak menyangka hal yang pernah dia baca di internet ternyata benar adanya. Bayi bisa mencari lokasi asi ketika diletakan di dada ibunya.


"Kakak lihat anakmu merindukanmu." ucap Lia dengan lirih.


"Apa yang terjadi?"


Andrew yang baru saja masuk, mendengar isak tangis Lia dan dia segera menghampiri mereka.


Andrew melihat bagaiman Aaron menyesap dada Diana sementara satu tangan Diana yang tidak mengenakan selang infus, telah dikalungkan oleh Lia untuk memeluk Aaron.


"Sayang, rasakan betapa kami semua merindukanmu." ucap Andrew lirih sambil mengecup bibir Diana dalam. Sesaat dia membiarkan bibir nya menempel lama di bibir wanita yang dia cintai.

__ADS_1


Saat itu Lia yang hendak memalingkan wajahnya melihat reaksi di tubuh Diana.


Jemari tangan Diana yang berada di punggung Aaron bergerak. Kelima jari itu bergerak bergantian.


Bukan hanya itu ketika dia hendak memanggil Andrew tampak Andrew sudah memandang wajah Diana dengan tegang.


"Sayang... ayo... berjuanglah. Kau bisa merasakan kami bukan?" ucap Andrew yang segera mengangkat wajahnya ketika dia merasakan aliran air hangat membasahi wajahnya.


Air mata menetes dari mata Diana yang masih terpejam.


Sementara Andrew sibuk memanggil Diana, Lia mengangkat baby Aaron dan menutup kembali pakaian Diana kemudian Lia mulai memencet bel memanggil dokter jaga yang sudah mereka bayar khusus untuk merawat Diana.


Dokter tersebut segera bertindak dan melihat pada pupil dan denyut nadi Diana.


"Bagaimana?" tanya Andrew ta sabar.


"Kondisinya mulai membaik tuan, terus berikan rangsangan, saya rasa hal itu baik untuk membawa kembali kesadaran nyonya." ucap dokter tersebut dengan percaya diri.


"Terimakasih Tuhan." ucap Andrew yang semakin yakin bahwa hari-hari bahagianya akan segera hadir.


*********


Sore hari itu Andrew terlelap di sofa dengan bayi Aaron dalam pelukannya. Bayi itu yang sudah mengenal kehangatan dan aroma maskulin ayahnya tampak tenang dalam pelukan Andrew.


Andrew bermimpi dia sedang bermain bersama Diana, Conrad dan Aaron.


Dalam mimpinya mereka berada di sebuah halaman yang luas dengan udara yang segar bermandikan cahaya sinar matahari yang lembut. Conrad asyik bermain bola dengan dirinya sementara baby Aaron sedang asyik merangkak menggoda Diana.


Pemandangan dalam mimpi itu terasa nyata bagi nya. Setelah bebrapa saat, Diana memanggil, "Conrad... Andrew... ayo berhenti dan makan dulu."


Kemudian Diana menoleh pada Aarron yang sedang merangkak menjauh.


"Aaron kemarilah. Lihat mommy punya apa." panggil Diana sambil mengacungkan buah pisang dan strawberry kesukaannya.


Bayi itu tertawa dan merangkak mendekat dan kemudian duduk disisi Diana seraya menggapai buah ditangan ibunya.


Pemandangan yang indah.


"Andrew... ayo minumlah ini." Diana memberikan padanya blended pisang strawberry youghurt susu padanya.


Saat itu Andrew terbangun. Dia meneteskan air mata. Siapa bilang pria tidak boleh menangis. Tangisan adalah bukti seseorang masih memiliki hati dan perasaan. Tapi, pria tidak boleh cengeng. Hal itulah yang selalu dikatakan Diana pada dirinya.


Mimpinya terasa nyata, bahkan manisnya milkshake buah itu terasa di lidahnya. Mengingatkannya saat pertama kali dia bertemu dengan Diana diatas kaoal lesiar. Saat pertama kali dia tertarik dan menyukainya.


"Andrew..." lirih suara Diana terasa nyata didengar saat ini.


mimpi ini terasa nyata, bahkan daddy masih bisa mendengar suara mommy saat ini.


ucap Andrew sambil membelai tangan anaknya.


"Andrew..." suara itu muncul lagi. Saat ini lebih jelas.


"Andrew..." Andrew tersentak. Dia segera berdiri dari duduknya.

__ADS_1


INI BUKAN MIMPI.


__ADS_2