
Conrad bangun dengan segar hari ini. Dia berencana untuk menjemput Ruby siang nanti untuk bersama-sama menuju ke Riverview squere. Francesca dan Aaron akan bermain musik nanti nya disana. Conrad yakin hari ini akan sangat menyenangkan.
Conrad teringat saat semalam Ruby di panggulan nya. Badan Ruby terasa hangat dan ringan. Aroma rambut Ruby sangat harum. Conrad meraba detak jantungnta yang berdebar. Dia masih mengingat setiap kata yang mereka perbincangkan.
Conrad mengambil handphone, dia berniat menghubungi ibunya, agar jangan sampai identitas diri nya terbongkar. Conrad masih mengira jika Ruby akan menjauhinya dan merasa minder, jika mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya. Sunggu pemuda yang masih naif.
"Mom, " Conrad menghubungi Diana.
"Hai boy, kamu sudah sarapan?" Ingat! Jangan makan mie instant terus. " Tegur Diana.
"Ah, mommy. Baru saja Conrad telphone sudah di omelin. "
"Habisnya Conrad jarang pulang ke rumah."
"Kan Conrad kuliah dan kerja, mom." sahutmya sambil tersenyum.
"Sayang mommy, lain kali kalau mau kerja, Cari magang di pusat kesehatan. Jadi, kamu bisa lebih mendalami ilmu yang kamu minati. " ujar Diana lagi
"Hehehe.. Benar juga mom. Tapi, Conrad masih memiliki tujuan." sahut Conrad sambil menerawang jauh.
"Jangan sampai tujuan utama mu gagal karena niatan lain. Ingat apapun itu kau harus fokus pada tujuan utama. Cita-citamu, karena itu masa depanmu. Jangan sampai kau kecewa suatu saat nanto." Lagi Diana menasehati Conrad.
Meskipun dia bukan anak yang dilahirkan. Tapi, Diana yang membesarkan anak itu sedari kecil. Keberadaannya begitu berarti bagi Diana. Dia merasa sangat khawatir setiap kali tidak mendapatkan khabar dari Conrad.
"Iya mommy ku tersayangg. Mom, nanti Conrad akan dataang ke riverview, bersama tiga orang teman Conrad."
"Wanita semua? "
"Tidak. Satu pria. Robert kakak dari Jasmine dan Ruby juga akan datang."
"Kau mau memperkenalkan Ruby ke mommy? "
"Hahhaha, iya sebagai teman."
"Kalian belum berpacaran?"
"Belum, mom. Untuk itu, tolong nanti jangan memakai pakaian berlebihan, dan untuk pengawal, minta mereka untuk bersikap normal. Pleaseee... Mereka semua hanya tahu jika orang tua ku adalah orang biasa dan aku mantan supir dari keluarga Knight." Ujar Conrad penuh harap.
"Dasar anak nakal. Orang tua sendiri kau akui sebagai majikan."
"Bukan mom... Aku pasti akan tetap memperkenalkan mommy sebagai orang tua ku. Tetapi bukan sebagai nyonya Knight."
"Baiklah. Mommy mengerti. Jadi jam berapa kalian akan datang? "
"Jam tiga mom. "
Setelah berbincang dengan Diana, Conrad turun untuk membeli sandwich di mini market dan dia juga berniat membeli salep untuk kaki Ruby yang keseleo.
Sesampainya di mini market, Conrad segera membeli sandwich dam segelas coffee. Meskipun cofee instant tak seenak, cofee pilihan di mansion, tapi Conrad mulai terbiasa. Conrad memakan sandwich nya di kursi dalam dekat dengan kaca pembatas.
Jalanan pagi masih lenggang. Conrad melihat seorang wanita asia yang sudah setengah baya, masuk ke dalam mini market dan nampak membeli sesuatu. Pelayan disana tampak sudah mengenal dia akrab. Conrad memperhatikan wanita itu, karena dia merasa wanita itu mirip seseorang.
Setelah wanita itu pergi, seorang pegawai toko mendekati Conrad.
"Hallo... Kau yang semalam disini kan? Bagaimana keadaan temanmu, apa dia sudah baikan?"
__ADS_1
"Ah iya, kejadian semalan kan. Aku yakin dia baik- baik saja sekarang."
"Ah iya. Aku harap dia baik- baik saja. Kasihan kaki ya terluka."
"Iya. Kaki nya keseleo. Tapi, dia bilang sudah membaik semalam. " Sahut Conrad.
"Keseleo?"
"Iya, karena terkejut tersiram kuah mie yang panas. "
"Ah... Bukan dia tuan. Yang satunya. Bukan Ruby. Yang American tulen. "
"Kau mengenal Ruby? "
"Tentu saja. Dia sering berbelanja disini, tadi yang baru saja pergi ibunya, miss Regina."
"Ah... Pantas saja. " Conrad mengerti sekarang, kenapa dia merasa wanita itu mirip dengam seseorang.
"Tadi apa kau bilang, temanku yang satu nya terluka? " Conrad teringat lagi dengan perkataan pegawai toko tersebut.
"Iya benar. Kedua lutut nya memar begitu juga kening nya. Dia berjalan dengan terseok-seok, tapi masih tetap tersenyum." cerita wanita pegawai mini market tersebut.
Wanita itu kemudian meninggalkan Conrad sendiri yang termenung. Semalam dia bertanya pada Jasmine, tapi kenapa gadis itu mengatakan dia baik-baik saja. Kenapa Jasmine tidak mau jujur saja jika dia sakit. Kenapa harus berbohong.
Apakah Jasmine memang tipe orang yang beda luar dan dalam. Berbeda dengan Ruby yang selalu bersikap apa adanya. Ruby tidak malu mengatakan jika dia merasa sakit dan memerlukan pertolongan. Di keluarganya, dia sudah diajarkan untuk selalu bersikap jujur dan apa adanya.
Pikiran Conrad dipenuhi dengan tanda tanya. Bagi seorang pria muda yang belum berpengalaman akan hidup, baginya apa yang dia lihat adalah apa yang dia percayai. Saat ini Conrad melihat kejujuran pada Ruby dan kebohongan pada Jasmine.
"Karena kau bilang, jika kau baik-baik saja, maka aku tidak akan membelikan obat untukmu, dan tidak akan bertanya bagaimana keadaanmu." Ujar Conrad dengan geram, saat membeli obat untuk Ruby di apotek.
Dengan membawa kantong berisi salep untuk keseleo dan beberapa cokelat, Conrad menuju ke flat Ruby. Di luar gedung, Conrad menghubungi Ruby.
"Hai Conrad. Ada apa kau menghubungiku sepagi ini?" Tanya Ruby dengan suara serak.
"Aku ada di luar gedung flat mu. Bisakah kau turun? Aku membawakanmu obat." Pinta Conrad denga penuh harap.
"Oh Conrad, kau sugguh perhatian. Aku akan turun sekarang. " Sahut Ruby bersemangat.
"Pelan-pelan saja. Hati-hati dengan kaki mu." Ujar Conrad dengan penuh perhatian.
Tak lama kemudian, Ruby sudah berada di bawah. Dia tersenyum bahagia melihat Conrad yang berdiri dengan gagah, dengan senyuman cerah dibawah sinar mentari pagi, menanti nya dindepan gedung flat.
"Hai.. Conrad, terimakasih sudah memperhatikanku. Maaf jika aku merepotkanmu. " Ujar Ruby dengan malu-malu.
"Tidak merepotkan kok. Bagaimana kaki mu, masih sakit?"
"Sudah baikan. Lihat, aku sudah bisa berdiri dengan tegak." Sahut Ruby dengan tersenyum.
Senyuman Ruby terlihat sangat manis di mata Conrad. Dia sangat menyukai senyum ceria Ruby dengan sikap malu-malu nya. Begitu lah seharusnya wanita bersikap menurut Conrad. Apa adanya tanpa harus menutupi apapun.
"Jadi, nanti sore aku bisa menjemputmu?" tanya Conrad.
"Tentu saja. Melihat performences adikmu?"
"Benar. Aku akan menjemputmu pukul dua?"
__ADS_1
" Okey, pukul dua ya. " Sahut Ruby.
"Baiklah. Beristirahatlah dulu, kau pasti lelah menjaga ayah mu semalaman. Bye Ruby."
"Bye, Conrad"
Conrad meninggalkan gedung flat Ruby. Disaat Conrad pergi, Rose turun.
"Siapa dia, Ruby?" tanya Rose.
"Teman kuliah."
"Dia membawakanmu itu?" Rose melihat kantong belanjaan ditangan Ruby.
"Iya."
"Perhatian sekali."
"Hemh.. Itu sebabnya aku menyukai dia." ujar Ruby.
"Eh...Bagaimana dengan Joseph, kalian masih berhubungan kan?" tanya Rose dengan heran.
"Aku sudah memutuskan dia." sahut Ruby ringan.
"Tapi... kenapa?" Bagi Rose, Joseph sosoknyang baik dan perhatian. Dia bukan saja perhatian dengan Ruby, tapi juga dengan semua anggota keluarga mereka.
"Tidak apa-apa."
Ruby masuk ke dalam flat, meninggalkan Rose yang termangu sendiri. Hubungan Joseph dan Ruby sudah berlangsung lebih dari setahun. Joseph cukup mapan menurut Rose. Dan pemuda itu juga cukup perhatian pada Ruby. Rose memilih diam dan tidak ikut campur, lagi pula... Ruby sudah dewasa.
Di dalam kamarnya, Ruby melihat apa yang di berikan oleh Conrad. Dia merasa senang sekali. Meskipun hanya coklat batangan kecil dan sebuah salep. Ruby tersenyum-senyum sendiri, hingga suara ibu nya memanggil.
"Rubyyyy!!!"
Ruby keluar dari kamar.
"Ya mom?"
"Temani daddy mu disini, mommy lelah. Aku mau tidur dulu. Katakan pada Ryan untuk membersihkan jendela."
"Baik mom."
Ruby duduk disiilsi dekat ayahnya. Pria itu menatap Ruby dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia merasa sangay tidak berguna sehingga menyusahkan seisi keluarganya. Dia menyesal karena kurang menjaga diri.
Romeo, ayah Ruby adalah seorang pekerja keras. Dia adalah kuli panggul dari sebuah pabrik makanan. Setiap hari dia bekerja lembur, untuk mendapaykan uang ekstra, mencukupi kebutujan keluarga.
Hari itu, Ruby dan Ryan bertengkar. Karena Ryan sudah merusakan handphone yang Ruby miliki. Handphone itu tanpa sengaja jatuh ketika dipegang Ryan. Mereka bertengkar hebat. Membuat Romeo berjanji untuk bekerja lebih keras, agar memperoleh uang extra untuk membelikan handphone untuk Ruby dan Ryan.
Romeo setiap hari bisa meminum lebih dari dua kaleng red bull ( sejenis kratindaeng atau extra joss), agar tidak mudah lelah dan mengantuk. Di usia nya yang sudah setengah baya, dia seharusnya tidak mengkonsumsi sebanyak itu dan bekerja lebih dari sepuluh jam.
Dan akibatnya, Romeo jatuh pingsan. Tekanan darahnya meninggi. Romeo stroke. Beruntung saja, pembuluh darah di otak nya tidak pecah. Bukan uang extra yang di dapatkan Romeo untuk membeli handphone, tetapi justru uang itu habis untuk pengobatannya. Biaya asuransi pun tak mencukupi pengobatan yang harus dia jalankan.
Karena itu lah, semenjak kelas dua belas, Ruby sudah harus kerja magang untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Untuk membeli apapun yang dia inginkan. Gaji nyonya Regina hanya cukup untuk membayar sekolah dan kebutuhan pokok. Pengobatan Romeo pun mendapatoan bantuan dari rumah sakit tempat nya bekerja.
Air mata Romeo menetes melihat anak gadis nya yang cantik, tertidur di sisinya. Dengan susah payah dia mengangkat tangan untuk diletakan di kepala Ruby. Dia hendak membelai rambut putri nya. Gadis ini seharusnya menghabiskan banyak waktu untuk bergaul dengam banyak teman. Tetapi, karena dirinya, dia harus bekerja dan menjadi pengasuh dirumah ini.
__ADS_1
Romeo menyesal. Seharus nya dia tidak perlu memaksa diri saat itu. Seharusnya dia bisa memberi pengertian pada Ryan dan Ruby, agar mereka bersabar. Ah.. mungkin seharusnya Romeo menghabiskan masa muda dengan lebih bekerja giat untuk mendapatkan karier lebih bagus.
Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Masa muda yang dia habiskan dengan bermabuk-mabukan, membuat daya pikir nya menjadi lambat. Sehingga hanya pekerjaan sebagai tukang panggul lah yang bisa dia kerjakan.