
"Daddy... daddy... bagunnn. I miss youu... muah."
Si kecil Aaron meloncat di atas kasur diantara kedua orang tuanya. Dia menyelinap masuk kedalam selimut dan diantara pelukan Andrew pada Diana.
Andrew menggeliat dan membuka sebelah matanya. Dia tersenyum melihat Aaron sudah berada diantara mereka. Bocah kecil itu memandang ayahnya dengan penuh kerinduan. Tapi, tunggu. Bagaimana anak ini bisa masuk ke dalam kamar? Seingat Andrew, mereka selalu mengunci pintu kamar jika akan melakukan olah raga malam.
"Aaron sayang i miss you too. Kog bisa masuk ke kamar?" Andrew bertanya sambil membelai kepala anaknya.
"Tadi Alon panggil-panggil daddy dan mommy gak bangun. Telus Alon dolong pintu nya, ternyata ndak di tutup. Sekalang udah ditutup sana nanny Malia." Celotehnya sambil mengusap-usap wajah ayahnya.
"Hemm begitu ya," ujar Andrew dengan lemah.
Dia masih mengantuk. Dia masih merasa lelah.
"Kenapa baju daddy sama mommy belantakan. Jolok tau. Kata mommy kan gak boleh belantakin baju."
Aaron masih penasaran, Karena begitu dia masuk ke dalam kamar, pemandangan yang dia lihat adalah pakaian ayah dan ibu nya bertebaran dimana-mana. Bahkan pakaian dalam Diana ada diatas lampu tidur.
"He eh, daddy dan mommy tadi malam sudah capek sekali, belum sempat beresin. Maaf ya Aaron sayang."
Andrew menggumam dengan tersenyum lirih. Dia melirik, sudah jam delapan pagi. Berarti mereka baru tertidur selama empat jam. Dan Diana tampaknya pun tidak menyadari kehadiran putra bungsunya.
Semalam, Andrew dengan buas menerkam istrinya. Tidak membiarkan sedetik pun wanita itu lolos dari pelukannya. Setiap titik tubuh itu sudah dia sentuh, raba dan dia cium dengan buas. Erangan Diana bagaikan ekstasy. Semakin dia mengerang, semakin Andrew bergairah.
Dia dengan tidak sabarnya melucuti oakaian yang menemoel di tubuh mereka. Jangan kan itu tampaknya menutup rapat pintu kamar pun sudah terlupakan. Hanya tiga hari tidak bertemu dan menyentuh tubuh istrinya, gairah itu sudah tidak dapat di tahan.
Meskipun durasi semalam tidak selama biasanya. Tapi tiga jam percintaan mereka sungguh luar biasa. Jikalau saja Diana tidak menghentikannya, dia ingin terus membenamkan dirinya kedalam goa lembab itu.
"Daddy, apa mommy sakit?" Celoteh Aaron kembali membuyarkan lamunan Andrew dengan percintaan mereka semalam.
"Memangnya kenapa sayang."
"Lihat itu, kenapa badan mommy melah-melah semua.. Eh, Kenapa mommy tidak pakai baju?"
Andrew terkejut, dia membuka matanya dengan lebar. Selimut yang menutupi tubuh Diana sudah turun sebagian. Disana jejak cinta yang dia tinggalkan semalam bertebaran di pungggung, lengan, leher dan dada. Untung saja selimut itu tidak terbuka sepenuhnya, karena Diana benar-benar masih telanjang bulat. Dan dapat dipastikan tanda merah ciptaan Andrew ada sampai paha Diana.
"Ah, itu. Mommy kena alergi dingin sayang."
__ADS_1
Andrew memberikan alasan yang lebih mudah dimengerti seorang anak. Tidak mungkin kan dia bilang, jika itu hasil karya daddy. Bisa- bisa Aaron ikut-ikutan menggigiti tubuh ibunya.
"Kasihan mommy. Dingin tapi ndak pakai baju. Nanti bawa pelgi doktel ya daddy." Kata Aaron sambil menepuk-nepuk punggung ibu nya.
"Iya. Kita selimutin mommy ya." Andrew menaikan selimut Diana sampai batas leher.
"Daddy kok tidul lagi. Ayo bangunn. Ayo tulun." Aaron menarik-narik tangan Andrew.
"Hemmm.. bentar lagi yaa sayang. Daddy masih capek. Tadi malam habis lembur."
Andrew memberikan alasan yang begitu saja terlintas di pikirannya.
"Makanya kalau kelja jangan sampai malam-malam. Kata mommy tidul malam itu enam sampai delapan jam, bial sehat." Aaron terus berceloteh tanpa memahami jika ayahnya sedang mengantuk berat.
"Aaron main dulu sama kakak Conrad dan Francesca ya. Sudah bertemu dengan mereka kan?" Kata Andrew dengan suara mengantuk.
Aaron mengangguk.
"Kakak Frances kok diam ya daddy. Alon ajak ngomong cuma diam saja." Cerita Aaron pada ayahnya.
Andrew hendak turun dari tempat tidur, tetapi dia urungkan ketika tersadar jika dia pun tidak memakai sehelai benangpun di bawah selimut.
Akhirnya Andrew memencet bel di kamarnya. Hanya dua menit kemudian ketukan di pintu terdengar.
"Itu pasti Butler Jhon. Aaron main dibawah ya sama kakak mu. Dua jam lagi daddy dan mommy akan turun."
"Baik daddy. Muahhh."
Aaron kemudian turun dari kasur. Dia mengetuk pintu dari dalam, dan butler Bernard membukanya. Kepala pelayan itu sempat tersenyum kecil melihat pakaian yang bertebaran dimana-mana. Sesudah Aaron keluar, butler menutup rapat kamar tuan nya.
Setelah Aaron keluar, Diana membalikan tubuhnya menghadap Andrew. Wanita itu ternyata sudah bangun dari tadi. Dia hanya pura-pura tidur dan membiarkan Aaron berkomunikasi dengan ayahnya.
"Kau membuatku malu pada Aaron." Diana menggosokan kepala nya di dada Andrew. Andrew mendekap istrinya dengan lembut.
"Hemmhhh..." gumam Andrew manja.
"Alergi, momny alergi sama daddy." Gumam Diana lirih di bawah dagu Andrew, menggoda suaminya.
__ADS_1
"Jangan menggodaku. Meskipun mataku mengantuk tetapi naga ku siap terjaga." Ujar Andrew dengan arrogant.
Diana langsung melepaskan dirinya dari pelukan Andrew. Dia bergeser menjauh dan kembali tidur dengan menelungkupkan badannya. Sementara tangan Andrew bergerak di bawah selimut dan berhenti di atas pantat istrinya, meremasnya sebentar, sebelum akhirnya dia kembali terlelap.
Rasanya baru saja Andrew terlelap, ketika dia merasakan ciuman hangat di pipinya dan cicitan suara Aaron. Bocah kecil itu kembali berkocau di telinga Andrew.
"Daddy bangun... ini Aalon bawa salapan pagi buat daddy." Celoteh Aaron disisi Andrew. Tampaknya sudah lebih dari dua jam berlalu semenjak Aaron masuk kedalam kamarnya.
Andrew menggeliat bangun dan tersenyum lebar. Senyuman pria tampan itu di pagi hari benar-benar luar biasa memabukan. Diana sangat suka melihat suaminya saat bangun tidur dan tersenyum seperti itu.
"Aaron. Wow... terimakasih sayang."
Tampaknya Diana sudah terlebih dahulu bangun dan sudah memakaikan boxer pada suaminya. Kemudian dia turun dan menyapa ke tiga anak nya yang sedang sarapan pagi di taman.
Francesca mulai sudah mulai sedikit bisa beradaptasi dengan orang-orang di sekitarnya. Para pelayan menerima kehadiran Francesca dengan tangan terbuka. Mereka semua mengagumi tuan dan nyonya muda yang begitu berbesar hati. Merawat anak malang musuh mereka sendiri. Luar biasa.
Diana hendak membawa makanan pagi untuk Andrew. Dan Aaron yang melihatnya langsung ikut. Dia masih sangat merindukan ayahnya. Dia masih ingin berceloteh dan bermanja dengan Andrew.
"Ayo daddy, makan ini mommy dan Aalon yang buat loh." Aaron dengan bangga menujuk pada sarapan pagi di hadapan Andrew.
"Hemm enak sekali ya. Ayo Aaron disini dekat dengan daddy."
"Alon mau lihat oddbods juga ya mommy, boleh yaaa, pleasse."
Aaron merayu Diana untuk mengizikannya menonton kartun di kamar bersama Andrew. Balita itu mengucapkan please sambil meletakan kedua jari telunjuknya di masing-masing pipi dan sedikit memiringkan kepalanya.
Menggemaskan sekali.
"Okey boleh. Sini cium mommy dulu."
Aaron berjalan diatas tempat tidur dan mencium Diana. Kemudian bocah itu berjingkat menghampiri ayahnya. Mencomot satu potong roti, Aaron mulai fokus menonton kartun bersama Andrew.
Kisah Lia dan Jason di novel satunya yaaa
__ADS_1