Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
92. Aku membenci wanita itu


__ADS_3

Sosok wanita itu tampak gemetaran, tetesan keringat mengalir dengan deras ditubuhnya ketika dua orang pria berbadan kekar menyeretnya kerumah keamanan. Dia sudah berhenti berteriak memohon dan memberontak. Semuanya sia-sia saja. Mereka terlalu kuat dan tangguh untuk terkelabui oleh trik murahan.


Mata wanita itu sudah dibanjiri oleh air mata. Saat ini di sudah didudukan di sebuah kursi dalam ruangan kosong. Sekujur tubuhnya sudah di basahi peluh. Tangannya saling menggenggam rapat dan matanya berputar kesana kemari mencari celah untuk kabur. Di ruangan itu dia sendirian. Jendela kaca besar membuatnya melihat betapa kacau keadaanya saat ini.


Seseorang pria setengah baya masuk. Wanita itu memandang dengan penuh harap.


"Tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak bersalah. Aku tidak bersalah."


Pria itu duduk dengan tenang, wajahnya tampak berwibawa dan dengan kasihan dia memandang wanita dihadapannya yang tampak berantakan.


"Kalau kau tidak bersalah, kenapa kau ketakutan seperti ini?" tanya pria itu dengan tenang. Cukup miris rasanya melihat keadaaan wanita dihadapannya dengan borgol membelenggu kedua tangan.


"Karena mereka mengurungku seperti ini, mereka menyeretku seperti pencuri."


"Itu karena kau bertingkah seperti pencuri."


"Tidak. Tidak. Itu tidak benar."


"Lalu kenapa kau hendak kabur?"


"Aku tidak kabur."


"Apa yang telah kau lakukan sehingga mereka memperlakukan mu seperti ini?"


"Aku hanya sedang menikmati bulan di taman. Ya menikmati bulan." ucap wanita itu dengan mata berputar, dia hanya mengucapkan apapun yang melintas dipikirannya.


"Menikmati bulan sambil berusaha memanjat pagar?"


"Itu...itu karena... aku melihat ada burung hantu di pagar. Iya burung hantu. Aku ingin menyentuhnya."


"Hentikan omong kosong mu Sandra!"


"Itu kenyataan butler Jhon. Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menikmati bulan dan hendak menangkap burung hantu." wanita itu yang tak lain adalah Sandra bersikukuh dengan argumentasinya yang menggelikan.


"Kau pikir para pengawal itu bodoh? Kau pikir di halaman depan tidak ada cctv?" Butler Jhon menggelengkan kepalanya mendengar dusta yang dilontarkan mulut pelayan wanita tersebut.


"Tidak kau harus mempercayaiku. Kau harus menolongku. Bawa aku keluar dari tempat ini." rengek Sandra dengan wajah yang frustasi.


"Katakan dengan jujur, kenapa kau hendak kabur?"


"Aku tidak kabur."


"Berhentilah berbohong Sandra. Pikirkan anak dan ibu mu. Lebih baik kau jujur kepadaku sebelum kepala pengawal datang dan menginterogasimu." Butler Jhon sudah diambang kesabarannya.


Dia sangat kecewa dengan sikap Sandra. Sesungguhnya meskipun dia sudah menaruh curiga dengan tindak tanduk Sandra, tapi dia tidak menyangka kalau wanita ini benar-benar menaruh obat hingga membuat celaka nona rumah ini.


Tapi kenyataannya cctv rumah memperlihatkan kalau dari awal hingga akhir, Sandralah yang menyediakan makanan dan minuman di taman. Tinggal menunggu hasil test dari lab saja untuk mencocokannya.


Sandra kebingungan dia takut dengan keadaannya saat ini. Dia melirik ke saku celana, disana masih tersimpan rapi botol obat pemberian Rachel. Dia berencana membuang botol itu setelah kabur dari rumah, namun tindakan bodoh dengan mengira pengawal akan tertidur ketika dini hari membuatnya tertangkap. Ditempat inilah dia saat ini berakhir.

__ADS_1


Keringat membasahi tubuh Sandra, dia menggunakan punggung tangannya untuk mengusap keringat di dahi nya. Perkataan butler Jhon menyadarkannya. Apa yang akan terjadi dengan anak dan ibunya ketika mereka mengetahui bahwa dirinya lah yang mencampur minuman dengan obat berbahaya itu. Kenapa nyonya Rachel menipunya. Apakah benar mereka sudah menemukan buktinya?


"Katakan padaku Sandra kenapa kau melakukan itu, siapa yang memerintahkanmu?"


"Aku membencinya butler. Aku membencinya. Tapi kenapa dia begitu baik?" suara Sandra lemah disela isak tangisnya.


"Kenapa kau membencinya Sandra?"


"Karena... Karena dia mengingatkanku pada wanita yang sudah membuat suamiku mencampakan ku mencampakan keluarganya. Mencampakan anaknya." mata Sandra terpejam, ingatannya melayang disaat dia menemukan suaminya berselingkuh. Hatinya hancur saat melihat bagaimana suami yang dia cintai mendekap dan mencumbu wanita itu bahkan di tempat tidur dalam rumah mereka.


Saat itu suaminya dengan kejamnya lebih memilih wanita itu. Wanita itu memang jauh lebih muda dan bertubuh aduhai. Dan tanpa belas kasihan pria itu mengusir Sandra juga anaknya. Wanita simpanan itu bahkan tega mendorong anak semata wayang Sandra yang hendak memeluk ayahnya.


Sandra sangat membenci hal itu. Saat dia mengetahui Andrew memiliki wanita lain, Sandra yang baru saja bekerja di rumah Rachel langsung menyetujui ketika Rachel menawarinya menjadi mata-mata dengan imbalan yang luar biasa banyak bagi dirinya. Dia tidak berpikir panjang, baginya semua wanita ketiga adalah pengacau. Wanita ketiga adalah terdakwa.


"Kebencianmu telah membutakan mata hatimu, Sandra." ucap butler Jhon lirih. Dia memahami kepedihan Sandra tapi tidak menyetujui tindakannya. Tidak semua orang itu sama.


"Apakah nyonya Rachel yang mengutusmu kemari?"


Sandra diam. Dia masih takut membuka mulut. Dia takut dengan ancaman Rachel. Dia takut Rachel akan mencelakakan keluarganya jika dia berkhianat.


"Kau harus berhenti memihak yang salah, Sandra." Butler Jhon menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Kau tahu, akibat perbuatanmu kau bisa mendekam di penjara untuk percobaan pembunuhan."


Mata Sandra terbelalak.


"Jadi benar nyonya Rachel yang mengutusmu."


"Tidak. Tidak. Oh apa yang akan terjadi dengan keluargaku bila aku berkhianat."


Rachel memukul-mukul keningnya dengan frustasi.


"Seharusnya kau berpikir panjang sebelum campur tangan dengan kehidupan orang lain. Apalagi sampai mencelakakan orang tersebut." Butler Jhon tampak sangat berwibawa dan bijaksana. Pengalaman hidupnya membuat dia bisa berpikir lebih masak.


Saat ini tanpa Sandra ketahui ada kamera yang merekam pembicaraan mereka. Kepala pengawal mengawasi dan merekam percakapan mereka dari baik jendela kaca yang besar. Mereka mengacungkan jempol dengan kesabaran butler Jhon menginterogasi Sandra. Cara yang tidak akan pernah mereka lakukan. Sandra beruntung, nyonya rumah tidak menyerahkan dirinya ketangan para pengawal.


"Kenapa kau mencelakakan nona Lia? Kenapa nona Lia, apa salah dia kepada kalian?"


"Bukan begitu butler..Oh Tuhan apa yang telah aku lakukan. Aku mohon tolong aku, berjanjilah untuk menjaga anakku. Dan aku akan menceritakan semua. Tolong bersumpahlah butler Jhon kalau kau akan menjaga anak dan ibuku. Aku mohonnn."


Sandra tersedu-sedu sambil menundukan wajahnya dalam-dalam.


"Aku akan memohon pada nyonya Diana untuk mengasihani keluargamu." janji butler Jhon.


"Benarkah? Kau sudah berjanji. Kau harus menepatinya."


Butler Jhon mengangguk. Sandra sudah pasrah, dia tahu detik ketika pengawal itu menangkapnya, nyawa dan kebebasannya telah hilang. Pertaruhan telah dimulai. Yang sangat dia takutkan adalah nasib anak dan ibunya yang sudah tua. Hidup mereka bergantung pada dirinya.


"Minuman itu sebenarnya untuk nyonya Diana." ucap Sandra lirih.

__ADS_1


"Kau sudah gila Sandra! Kau ingin membunuh bayi tidak berdosa?" bukan saja butler Jhon yang terkejut. Tapi kepala pengawal dan beberapa orang yang menonton dari balik jendela kaca mulai mengepalkan tangan mereka. Disatu sisi mereka marah disisi lain mereka menyesal karena telah lalai.


"Aku memang bodoh butler Jhon. Dia mengatakan kalau tidak akan ada kematian. Dia menyakinkanku kalau semua hanya untuk membuat nyonya Diana jera." Sandra berhenti sejenak mata nya terpejam.


"Aku sudah akan membuang minuman itu, tapi terlambat nona Lia sudah menghabiskannya. Aku... aku terlambat." Tangisan Sandra pecah kembali.


Dia benar-benar menyesal.


"Kau tahu akibat perbuatanmu, nona Lia menderita. Banyak orang yang menderita."


"Maafkan aku. Maafkan aku."


"Sebaiknya kau berdoa tuan Andrew akan memaafkanmu." ucap Butler Jhon dengan tegas.


"Aku mohon, katakan pada nyonya Diana kalau aku mengaku salah. Aku menyesal. Tolong katakan padanya. Aku mohon."


Sandra berdiri dari kursinya kemudia berlutut dihadapan butler Jhon.


"Nasi sudah menjadi bubur, Sandra. Kau harus bersiap menerima konsekuensi dari perbuatanmu."


Sandra sesegukan di lantai dengam posisi masih bersujud.


Ketika butler Jhon membuka pintu hendak keluar, Sandra berteriak.


"Ingat janjimu butler Jhon. Kau harus menjaga anak dan ibuku."


Butler Jhon diam sesaat di pintu dengam membelakangi Sandra, kemudian dia keluar dan menutup pintu, membiarlan Sandra menangis meraung-raung menyesali perbuatannya.


Butler Jhon meninggalkan rumah keamanan dan kembali masuk kedalam Mansion. Disana dia memerintahkan pelayan wanita untuk membereskan barang- barang Sandra.


Sementara itu Sandra yang menangis di lantai, tangannya menyentuh pada botol kecil di saku celananya. Dengan susah payah dia mengeluarkan botol itu dan membuka tutupnya.


Pikirnya dengan menegak habis cairan bening itu cukup untuk membayar semua dosa yang telah dia lakukan.


Sayang sekali hal itu tidak terjadi. Seorang pengawal sudah masuk ke dalam dan merebut botol itu dari tangan Sandra.


"Aku simpan ini sebagai bukti. Enak saja kau mau menyusahkan kami dengan menegak ini. Kalau kau sakit atau mati, kau justru merepotkan kami. Merepotkan tuan Andrew. Dasar wanita tidak tahu malu!" Setelah puas menghardik Sandra, pengawal itu meninggalkan Sandra yang terpaku di lantai dengam lemas.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hai guyssss terimakasih yaaa yang sudah like dan mendukung karyaku.


Terimakasih juga buat pembaca setia yang sudah bermurah hati mendukung dengan memberikan Vote pada karyaku ini.


Sekali lagi terimakasih banyakkkk ya buat kalian yang sudah Vote.


Yukkk dukung terus, biar Author makin semangat update.


Salam manis πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2